NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Tiba di Pelabuhan Bawah Tanah

​Lautan di wilayah North Blue perlahan kehilangan kabut tebalnya. Sinar matahari siang mulai menembus gumpalan awan abu-abu yang menggantung di langit.

​Kapal kayu yang mengibarkan layar tanpa bendera itu terus membelah ombak dengan ritme yang tenang. Burung-burung laut berteriak di angkasa, berputar-putar mencari mangsa di sekitar perairan yang mulai dipenuhi oleh karang-karang tajam.

​Di ruang kemudi, Nico Robin berdiri dengan postur tegak. Matanya yang berwarna biru gelap menatap lurus ke depan. Tangan kanannya memegang sebuah peta navigasi yang sudah terlihat usang, sementara tangan kirinya memegang kompas penunjuk arah.

​Sebuah daratan mulai terlihat di ujung cakrawala.

​Pulau itu tidak memiliki pesisir pantai berpasir putih. Sepanjang garis pantainya didominasi oleh tebing-tebing batu berwarna gelap dan pepohonan liar yang tumbuh tidak beraturan. Di balik tebing tersebut, terlihat asap hitam mengepul dari cerobong-cerobong bangunan industri yang padat.

​“Kita hampir sampai,” ucap Robin memecah keheningan. Suaranya terdengar jernih mengalahkan suara deburan ombak.

​Mantan kapten bajak laut yang berdiri tidak jauh dari ruang kemudi segera menatap ke arah depan. Wajahnya yang gemuk seketika berubah menjadi pucat pasi. Keringat dingin mulai sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya.

​Mantan kapten itu menelan ludah. Tangannya gemetar saat dia mencengkeram pagar pembatas kapal.

​“Nona Robin,” panggil mantan kapten itu dengan suara bergetar. “Apakah Anda yakin kita harus berlabuh di tempat ini? Pulau ini tidak ada di dalam peta resmi Angkatan Laut.”

​Robin melipat peta navigasinya dengan tenang. Dia memasukkan peta itu ke dalam saku mantelnya.

​“Justru karena tempat ini tidak terdaftar, kita bisa mendapatkan pasokan logistik tanpa perlu menarik perhatian pihak berwenang,” jawab Robin dengan nada datar.

​Robin menoleh sedikit ke arah mantan kapten yang ketakutan itu.

​“Tempat ini dikenal dengan nama Pulau Rogue. Sebuah surga persembunyian bagi para penyelundup, pedagang senjata gelap, dan aliansi keluarga mafia di North Blue. Kita membutuhkan air bersih, makanan, dan bahan medis. Pelabuhan resmi akan melaporkan kedatangan kapal tanpa identitas seperti kita kepada markas Angkatan Laut setempat.”

​Mantan kapten itu semakin gemetar. Giginya bergemeretak pelan. Dia tahu reputasi Pulau Rogue. Bagi bajak laut kelas teri seperti dirinya, masuk ke pulau yang dikuasai mafia tanpa koneksi yang kuat sama saja dengan menyerahkan nyawa secara sukarela.

​“Tetapi mafia di sana sangat kejam. Mereka memeras siapa saja yang bersandar,” keluh mantan kapten itu, mencoba mencari jalan keluar.

​Sebelum Robin bisa menjawab keluhan tersebut, suara langkah kaki yang elegan terdengar mendekat.

​Vinsmoke Reiju berjalan keluar dari arah kabin bawah. Gadis berambut merah muda itu kini mengenakan pakaian kasual yang dia temukan di ruang penyimpanan. Kemeja gelap yang rapi dan celana panjang yang memudahkan pergerakannya.

​Reiju berdiri di samping Robin. Dia menatap pulau berbatu di depan mereka dengan senyuman tipis yang dingin.

​“Jangan menjadi pengecut yang memalukan,” tegur Reiju kepada mantan kapten itu. Nada suaranya lembut namun mengandung racun keangkuhan yang nyata.

​“Kita memiliki monster terkuat yang sedang duduk di geladak belakang. Mafia jalanan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang bisa dilakukan kapten kapal ini jika dia merasa terganggu.”

​Mantan kapten itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Dia melirik ke arah pintu kayu yang memisahkan mereka dengan geladak belakang. Ingatannya kembali memutar pemandangan saat pemuda berarmor merah itu melelehkan besi baja menggunakan api dari mulutnya pagi tadi.

​Pria gemuk itu menelan ketakutannya. Reiju benar. Monster sesungguhnya ada di kapal ini, bukan di pulau sana.

​Kapal kayu itu terus melaju memasuki area teluk yang tersembunyi di balik tebing batu.

​Pemandangan pelabuhan bawah tanah mulai terlihat dengan jelas. Dermaga-dermaga kayu yang kotor membentang di sepanjang garis pantai. Puluhan kapal dengan bentuk yang aneh dan mencurigakan bersandar saling berdesakan. Tidak ada satu pun bendera resmi yang berkibar.

​Aroma tidak sedap langsung menyengat hidung. Bau mesiu, minuman keras murahan, dan karat besi bercampur menjadi satu di udara pelabuhan.

​Orang-orang dengan penampilan sangar berlalu-lalang di dermaga. Ada yang memanggul peti kayu, ada yang sedang membersihkan senjata tajam, dan ada pula yang bertransaksi dengan suara berbisik di sudut-sudut gelap.

​Robin memberikan isyarat dengan tangannya.

​Para kru bajak laut segera berlarian menurunkan layar dan melempar sauh jangkar. Suara rantai besi yang bergesekan dengan badan kapal terdengar nyaring.

​Kapal Bajak Laut Taring Berkarat perlahan merapat ke salah satu dermaga kayu yang kosong. Papan titian kayu diturunkan hingga menyentuh permukaan dermaga dengan suara benturan yang keras.

​“Kita bagi tugas,” perintah Robin kepada para kru.

​Gadis arkeolog itu berjalan menuruni tangga dari ruang kemudi. Dia mengambil sebuah tas kain berukuran sedang.

​“Sebagian dari kalian bawa tong kayu kosong untuk mengisi persediaan air bersih. Sisanya ikut denganku untuk membeli persediaan gandum, daging awetan, dan buah-buahan.”

​Reiju melangkah mengikuti Robin dari belakang.

​“Aku akan ikut denganmu,” kata Reiju. “Aku membutuhkan beberapa bahan kimia spesifik dan tanaman herbal untuk melengkapi peralatan medisku. Tempat kotor seperti ini biasanya memiliki pasar gelap yang menjual barang-barang langka.”

​Robin tidak menolak. Dia hanya memberikan anggukan kecil. Dinamika di antara kedua wanita ini masih dipenuhi oleh persaingan diam-diam, namun mereka tahu kapan harus bekerja sama demi efisiensi tugas.

​Mereka berdua berjalan menuruni papan titian kayu, diikuti oleh lima orang kru bajak laut yang memanggul peti kayu kosong di punggung mereka. Mantan kapten berjalan di barisan paling belakang dengan langkah yang sangat ragu-ragu.

​Di atas kapal, geladak belakang tetap sunyi. Madara tidak keluar dari areanya. Dia masih fokus memoles dan menyempurnakan bentuk senjata baru yang baru saja dia selesaikan.

​Langkah kaki Robin dan Reiju menyentuh permukaan batu dermaga.

​Kehadiran mereka berdua langsung menarik perhatian orang-orang di sekitar pelabuhan. Di tempat yang dipenuhi oleh kriminal berwajah kasar, kedatangan dua wanita dengan kecantikan yang luar biasa elegan tentu saja menjadi anomali yang sangat mencolok.

​Tatapan lapar dan penuh perhitungan mengarah kepada mereka dari berbagai sudut.

​Robin tidak memedulikan tatapan tersebut. Dia sudah terbiasa hidup dalam pelarian dan dikelilingi oleh niat jahat. Reiju juga tetap mempertahankan senyuman dinginnya. Sebagai mantan pembunuh kerajaan, tatapan preman jalanan tidak memberikan tekanan apa pun pada mentalnya.

​Mereka baru saja melangkah sejauh dua puluh meter dari kapal mereka menuju jalan utama pelabuhan.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan terkoordinasi terdengar dari arah depan.

​Kerumunan kriminal di jalanan pelabuhan langsung menyibak ke sisi kiri dan kanan. Mereka menundukkan kepala dan mundur dengan teratur, seolah-olah sedang memberikan jalan untuk seorang raja yang ditakuti.

​Dari ujung jalan, sekelompok pria berjalan mendekat dengan formasi yang rapat.

​Jumlah mereka sekitar belasan orang. Mereka tidak mengenakan pakaian lusuh seperti bajak laut biasa. Mereka mengenakan setelan jas berwarna gelap yang dijahit dengan rapi, dipadukan dengan kemeja putih dan dasi hitam. Sepatu kulit mereka berderap seirama di atas jalanan berbatu.

​Namun, yang membuat mereka berbahaya bukanlah pakaian mereka.

​Setiap pria berjas itu membawa senapan mesin laras panjang. Jari mereka berada di dekat pelatuk. Ekspresi wajah mereka kaku dan memancarkan aura membunuh dari orang-orang yang sudah terbiasa mencabut nyawa tanpa ragu.

​Di barisan paling depan, berjalan seorang pria berpostur tinggi besar. Dia mengenakan mantel bulu binatang yang mahal di atas jasnya. Wajahnya dipenuhi oleh bekas luka sayatan melintang. Dia sedang menghisap sebatang cerutu tebal yang mengeluarkan asap berbau tajam.

​Pria itu adalah salah satu pemimpin cabang dari aliansi mafia yang menguasai Pulau Rogue.

​Langkah kelompok bersenjata itu berhenti tepat sepuluh meter di depan Robin dan kelompok kecilnya. Mereka memblokir satu-satunya jalan menuju pasar bawah tanah.

​Mantan kapten bajak laut di belakang Robin langsung lemas. Kakinya terasa seperti agar-agar. Peti kayu kosong di punggungnya nyaris terjatuh.

​“I-Itu klan mafia Capone,” bisik mantan kapten itu dengan gigi bergemeretak. Kepanikan total menguasai suaranya. “Mereka adalah penjaga pintu masuk pelabuhan ini. Kita tamat.”

​Robin menghentikan langkahnya. Dia berdiri dengan tenang, menatap pria bermantel bulu itu tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun. Reiju berdiri di sebelah kanannya, menyilangkan tangan dengan postur yang sangat santai.

​Pria bermuka codet itu menghembuskan asap cerutu dari mulutnya. Asap tebal itu mengepul ke udara.

​Mata pria itu menyapu kelompok Robin dari atas ke bawah. Tatapannya berhenti lebih lama pada sosok Robin dan Reiju. Sebuah seringai mesum dan penuh keserakahan terbentuk di bibirnya yang tebal.

​“Selamat datang di Pulau Rogue, para pendatang tanpa nama,” sapa pria itu. Suaranya serak dan berat, bergema di tengah keheningan jalanan pelabuhan.

​Pria itu melangkah maju dua langkah. Tangannya merogoh ke dalam saku mantel bulunya, mengeluarkan sebuah pemantik api logam yang dia mainkan dengan jari-jarinya. Suara klik dari pemantik api itu terdengar nyaring.

​“Kami dari aliansi mafia memberikan pelayanan perlindungan terbaik di perairan ini,” lanjut pria itu dengan nada arogan. “Kapal mana pun yang bersandar di dermaga kami, dijamin tidak akan diganggu oleh Angkatan Laut atau bajak laut bodoh lainnya.”

​Pria itu memiringkan kepalanya sedikit. Seringainya semakin lebar.

​“Namun, tentu saja, perlindungan tingkat tinggi seperti itu tidak datang dengan gratis. Hukum di pulau ini sangat sederhana. Siapa pun yang menginjakkan kaki di dermaga kami, harus membayar pajak pelabuhan.”

​Robin tetap mempertahankan ekspresi datarnya.

​“Berapa jumlah yang kau minta untuk sebuah kapal kayu kecil seperti milik kami?” tanya Robin dengan nada negosiasi yang tenang. Dia tahu aturan dunia bawah. Membayar sedikit uang masuk adalah hal yang wajar demi menghindari keributan yang tidak perlu.

​Pemimpin mafia itu tertawa pelan. Tawanya diikuti oleh kekehan merendahkan dari belasan anak buahnya di belakang.

​“Kalian terlihat seperti kelompok yang tidak memiliki banyak uang. Kapal kalian juga terlihat sangat menyedihkan,” ejek pria itu. Dia menunjuk ke arah kapal Madara dengan ujung cerutunya.

​Lalu, mata pria itu kembali menatap tajam ke arah Robin dan Reiju.

​“Oleh karena itu, aku akan memberikan harga perkenalan yang sangat murah. 10 Juta Berries secara tunai. Bayar sekarang, dan kalian bisa berbelanja dengan tenang di pulau ini.”

​Mantan kapten bajak laut di belakang langsung tersedak ludahnya sendiri.

​10 Juta Berries. Itu bukan pajak pelabuhan. Itu adalah perampokan terang-terangan. Total harta rampasan mereka saat merampok kapal dagang beberapa waktu lalu bahkan tidak mencapai setengah dari jumlah tersebut.

​“Itu tidak masuk akal,” jawab Robin dingin. Suaranya mulai kehilangan nada kompromi. “Bahkan pelabuhan termewah di Grand Line tidak memungut pajak sebesar itu untuk sebuah kapal tanpa kargo.”

​Pria bermantel bulu itu membuang cerutunya ke tanah. Dia menginjak cerutu itu dengan ujung sepatu kulitnya hingga hancur.

​Suara logam bergesekan terdengar serentak dari arah belakang pria itu. Belasan anak buah berjas rapi menarik tuas pelatuk senapan mesin mereka secara bersamaan. Laras senjata hitam legam kini terarah lurus ke arah kelompok Robin.

​Ketegangan di udara melonjak drastis. Para kriminal jalanan yang sedang menonton dari kejauhan mulai mundur perlahan, mengetahui bahwa pertumpahan darah akan segera terjadi.

​“Kau sepertinya salah paham, Nona manis,” ucap pemimpin mafia itu dengan nada mengancam. Hawa membunuh mulai menguar dari tubuhnya.

​“Aku tidak sedang bernegosiasi. Jika kau tidak memiliki 10 Juta Berries di dalam tas kainmu itu, maka ada cara lain untuk melunasi hutang pajak pelabuhan kalian.”

​Pria itu menunjuk tepat ke arah wajah Robin, lalu menggeser telunjuknya ke arah Reiju.

​“Kalian berdua. Tinggalkan para kru bodoh ini dan ikut denganku ke markas. Wanita dengan kualitas tinggi seperti kalian pasti bisa menghasilkan lebih dari 10 Juta Berries jika dijual di pelelangan pasar gelap malam ini.”

​Mantan kapten bajak laut jatuh berlutut. Keputusasaan menenggelamkan sisa-sisa keberaniannya. Menghadapi belasan senapan mesin dari jarak sedekat ini, tubuh mereka akan berlubang seperti saringan sebelum mereka sempat menarik pedang.

​Namun, reaksi yang sangat berbeda ditunjukkan oleh kedua wanita yang menjadi target ancaman tersebut.

​Di sebelah kiri, Nico Robin melepaskan pegangannya dari tas kain. Dia mengangkat kedua lengannya secara perlahan. Dia menyilangkan kedua lengannya di depan dada dalam sebuah postur khas yang mematikan.

​Di sebelah kanan, Vinsmoke Reiju melebarkan senyumannya. Senyuman itu bukan lagi senyuman sopan. Itu adalah seringai seorang pembunuh berdarah dingin. Reiju mengangkat tangan kanannya perlahan. Ujung jari-jarinya mulai berubah warna menjadi ungu pekat, memancarkan racun mematikan yang siap mengubah udara di sekitar mereka menjadi gas beracun.

​Mereka berdua tidak membutuhkan perlindungan dari siapa pun. Belasan preman berjas ini bisa mereka habisi dalam waktu kurang dari satu menit.

​Namun, sebelum Robin memunculkan kelopak bunga ilusinya, dan sebelum Reiju menyemburkan racunnya.

​Sebuah suara siulan tajam membelah udara pelabuhan.

​Suara itu terdengar sangat nyaring, seperti sesuatu yang melesat dengan kecepatan tinggi memotong angin dari arah belakang mereka. Sesuatu yang meluncur dengan momentum yang sangat mengerikan.

​Syuuuut.

​Udara di sekitar mereka terasa mendadak panas. Gelombang hawa panas itu menyapu wajah Robin dan Reiju, membuat rambut mereka berkibar ke depan.

​Brak.

​Sebuah benda logam berwarna hitam pekat menancap dengan sangat keras ke dalam tanah berbatu, tepat di sela-sela sepatu kulit milik pemimpin mafia bermantel bulu tersebut.

​Benda itu menancap sangat dalam hingga meretakkan bebatuan di sekitarnya.

​Semua mata langsung tertuju ke arah bawah.

​Itu adalah sebuah sabit besi hitam berukuran sedang. Bilahnya melengkung dengan sangat tajam dan presisi. Besi sabit itu masih memancarkan warna merah menyala di bagian ujungnya, tanda bahwa benda itu baru saja dikeluarkan dari dalam tungku tempa api yang sangat panas.

​Asap putih tipis mengepul dari bilah sabit tersebut. Hawa panas yang ekstrem langsung melelehkan bagian pinggir sol sepatu kulit milik pemimpin mafia itu.

​Pemimpin mafia itu tersentak mundur satu langkah karena kaget. Jantungnya berdetak liar. Sabit panas itu mendarat hanya berjarak beberapa milimeter dari kakinya. Jika benda itu bergeser sedikit saja, kakinya pasti sudah terpotong dan hangus terbakar.

​Belasan anak buah berjas rapi yang sedang menodongkan senapan mesin langsung mengalihkan pandangan mereka dengan panik. Mereka menatap ke arah pangkal sabit hitam tersebut.

​Sabit itu tidak dilempar begitu saja. Di bagian ujung gagangnya, terdapat sebuah lubang besi yang menyambungkan senjata itu dengan sebuah rantai baja berwarna gelap.

​Rantai baja itu terentang lurus di udara. Melayang menembus jarak puluhan meter.

​Ujung lain dari rantai baja itu mengarah langsung ke atas papan titian kapal kayu yang bersandar di dermaga.

​Suara langkah kaki kayu terdengar sangat pelan di tengah keheningan yang mencekam.

​Tuk. Tuk.

​Setiap langkah kaki itu seolah membawa tekanan yang sangat berat, menekan udara di sekitar pelabuhan hingga membuat napas semua orang terasa sesak.

​Dari balik bayangan kapal, seseorang berjalan menuruni papan titian.

​Itu adalah Uchiha Madara.

​Dia tidak berjalan dengan tergesa-gesa. Postur tubuhnya santai namun memancarkan dominasi mutlak yang tidak bisa dibantah.

​Dia kini kembali mengenakan pelindung dada berwarna merah kebanggaannya. Rambut hitam panjangnya berkibar ditiup angin pelabuhan. Mata hitam kelamnya menatap lurus ke depan dengan ketenangan dari seorang pemangsa puncak yang baru saja dibangunkan dari tidurnya.

​Di lengan kirinya, melilit rantai baja gelap yang tersambung langsung dengan sabit panas di tanah. Rantai itu memancarkan kilau dingin yang sangat kontras dengan hawa panas dari sabitnya.

​Madara melangkah turun dari papan kayu dan menginjakkan kakinya di atas dermaga batu.

​Sisa-sisa rantai baja menjuntai di belakangnya, bergesekan dengan batu dermaga menghasilkan suara gemerincing yang mengerikan.

​Para preman mafia yang memegang senapan mesin tanpa sadar melangkah mundur. Ada sesuatu yang salah dengan pemuda berarmor merah ini. Insting bertahan hidup mereka yang diasah di dunia bawah tanah berteriak memberikan peringatan bahaya tingkat tertinggi.

​Madara tidak memedulikan belasan laras senjata yang kini bergetar mengarah kepadanya.

​Dia berjalan lurus melewati Robin dan Reiju yang telah menurunkan postur bertarung mereka. Kedua wanita itu mundur satu langkah, memberikan jalan kepada sang penguasa untuk mengambil alih panggung.

​Madara menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan pemimpin mafia bermantel bulu.

​Dia berdiri dengan punggung tegak. Tatapan matanya merendahkan pria besar berwajah codet itu dari atas ke bawah.

​Tekanan yang menguar dari tubuh Madara bukanlah sekadar hawa membunuh biasa. Itu adalah aura keangkuhan murni yang ditempa dari ribuan medan pertempuran berdarah. Sebuah bentuk dominasi jiwa yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat daripada logam.

​Madara mengangkat tangan kirinya sedikit. Dia menarik rantai baja yang melilit di lengannya.

​Trak.

​Sabit besi hitam yang menancap di tanah tercabut dengan mudah. Sabit panas itu terbang melayang kembali ke arah Madara. Dia menangkap gagang sabit itu dengan tangan kanannya tanpa sedikit pun kesulitan, memanggul bagian bilahnya yang tidak panas di atas bahu kanannya.

​Asap tipis masih mengepul dari ujung bilah Kama tersebut, menyebar di udara dan menyengat hidung pemimpin mafia di depannya.

​Madara menatap mata pria bermantel bulu itu.

​Tidak ada mata Sharingan yang menyala. Tidak ada pergerakan chakra yang meledak-ledak. Namun tatapan mata hitam kelam itu terasa seperti menembus langsung ke dalam jantung sang pemimpin mafia, membekukan darahnya di dalam nadi.

​Madara membuka mulutnya perlahan. Suaranya keluar dengan nada bariton yang sangat dingin, datar, dan mematikan.

​“Siapa yang memberi kalian izin untuk memalak pelayanku?”

​Pertanyaan itu bergema pelan di tengah jalanan pelabuhan yang mendadak sunyi senyap.

​Bukan sebuah ancaman, melainkan sebuah penghakiman mutlak. Uchiha Madara tidak peduli dengan aturan pulau ini. Dia tidak peduli dengan keluarga mafia mana yang menguasai tempat ini.

​Satu-satunya aturan yang berlaku di sekitarnya adalah aturannya sendiri. Dan siapa pun yang berani mengusik orang-orang yang berada di bawah benderanya, harus membayar harga yang jauh lebih mahal daripada 10 Juta Berries.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!