NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

​Brak!

​Pintu kaca ruangan itu ditutup rapat dari luar.

​Aditya Pratama hanya bisa berdiri kaku di depan meja kayu besar berpoles gilap itu.

​"Maaf, Dit, keputusan dari manajerial pusat sudah tidak bisa diganggu gugat."

​Laki-laki paruh baya berkacamata tebal di hadapannya menghela nafas pelan.

​"Perusahaan sedang melakukan efisiensi besar-besaran, dan nama kamu ada di daftar teratas."

​"Tapi, Pak Frans, saya sudah bekerja lembur setiap hari selama tiga tahun terakhir ini," sahut Adit dengan suara yang sedikit bergetar.

​"Saya tahu, Dit, saya sangat paham kerja keras kamu."

​Pak Frans mengusap wajahnya yang tampak lelah.

​"Tapi ini bukan keputusan saya pribadi, ini perintah jajaran direksi."

​"Tolong berikan saya waktu satu bulan lagi, Pak, saya butuh uang ini untuk membayar sewa kontrakan."

​"Tidak bisa, Dit, surat PHK kamu sudah ditandatangani hari ini."

​Pak Frans menyodorkan selembar kertas putih ke atas meja.

​"Kamu bisa mengambil sisa pesangon kamu di bagian keuangan sore ini."

​Adit menatap kertas di hadapannya dengan pandangan kabur.

​Dunia seolah runtuh tepat di atas kepalanya saat itu juga.

​Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak dia masih duduk di bangku SMA.

​Pekerjaan ini adalah satu-satunya pegangan hidup yang dia miliki di kota metropolitan yang kejam ini.

​Dengan jemari gemetar, Adit mengambil kertas itu dan melangkah keluar dari ruangan.

​Langkah kakinya terasa amat berat menyusuri lorong kantor yang dingin.

​Beberapa rekan kerjanya hanya menatapnya dengan tatapan kasihan tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.

​Adit membereskan barang-barang di atas mejanya ke dalam sebuah kardus bekas.

​Kring! Kring!

​Ponsel di saku celananya berdering nyaring.

​Nama Siska tertera di layar ponsel pintarnya.

​Adit mengusap dadanya yang terasa sesak, mencoba mengulas senyum tipis.

​"Halo, Siska, kamu sudah jalan ke cafe?" tanya Adit mencoba menahan getaran suaranya.

​"Adit, kita perlu bicara sekarang, aku sudah tunggu di cafe depan kantor kamu," jawab suara wanita di ujung telepon.

​"Iya, ini aku baru saja mau turun ke bawah."

​"Cepat ya, aku tidak punya banyak waktu."

​Tut... tut... tut...

​Panggilan ditutup secara sepihak sebelum Adit sempat membalas ucapan kekasihnya.

​Adit menghela nafas panjang lalu berjalan menuju lift membawa kardus barangnya.

​Lima menit kemudian, Adit sudah berada di dalam cafe ber AC yang cukup ramai.

​Seorang gadis berparas cantik dengan pakaian modis duduk di sudut ruangan sambil menatap layar ponselnya.

​"Siska," panggil Adit pelan sambil mendudukkan diri di kursi kayu di hadapan gadis itu.

​Siska melirik kardus bekas yang ditaruh Adit di samping kursi.

​"Kamu beneran di PHK hari ini, Dit?" tanya Siska tanpa basa-basi.

​Adit menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Iya, Sis, hari ini hari terakhir aku kerja di kantor."

​"Astaga, Dit, kenapa bisa sih?" suara Siska terdengar sangat kecewa.

​"Perusahaan lagi pengurangan karyawan, aku salah satu yang terkena dampaknya."

​"Lalu bagaimana dengan rencana kita?"

​"Rencana yang mana?" Adit menatap mata Siska dengan penuh kebingungan.

​"Rencana kita buat menikah tahun depan, Dit!" Siska menaikkan nada bicaranya.

​"Aku akan cari kerjaan baru secepatnya, Sis, kamu tenang saja."

​"Cari kerjaan baru kamu bilang?" Siska tertawa sinis.

​"Di zaman sekarang cari kerjaan itu susah, Dit, kamu mau kasih aku makan apa?"

​"Aku punya sedikit simpanan dari pesangon, kita masih bisa bertahan sebentar."

​"Aku tidak mau hidup susah sama kamu, Dit!"

​Siska menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapan dingin.

​"Kita putus saja."

​Kalimat singkat itu meluncur begitu saja dari bibir merah Siska.

​Jantung Adit rasanya berhenti berdetak seketika.

​"Kamu bercanda kan, Sis? Kita sudah jalan tiga tahun."

​"Aku tidak bercanda, Dit, aku butuh kepastian dan masa depan yang jelas."

​"Tapi aku pasti bakal bangkit lagi, Sis, tolong kasih aku kesempatan."

​"Kesempatan apa lagi?" Siska berdiri dari kursinya sambil merapikan tas mewahnya.

​"Lagipula kamu itu sudah yatim piatu, tidak punya tabungan banyak, sekarang malah jadi pengangguran."

​"Siska, tolong jangan bicara seperti itu..."

​"Realistis saja, Dit, jangan temui aku lagi mulai hari ini."

​Siska membalikkan badannya dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

​Adit duduk terpaku di kursinya, memandangi sosok wanita yang sangat dicintainya itu menjauh dan menghilang di balik pintu kaca cafe.

​Dalam kurun waktu kurang dari dua jam, dia telah kehilangan pekerjaan dan wanita yang ingin dinikahinya.

​Tes... tes...

​Setetes air mata jatuh menembus permukaan meja kayu cafe yang dingin.

​Adit mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kuku jarinya memutih.

​"Kenapa hidupku harus serendah ini?" bisiknya pada diri sendiri.

​"Kenapa takdir selalu tidak adil padaku?"

​Malam harinya, Adit duduk sendirian di dalam kamar kontrakan sempitnya yang berantakan.

​Semua barang-barangnya sudah dimasukkan ke dalam dua buah tas pakaian besar.

​Uang pesangon di rekeningnya hanya tersisa beberapa juta rupiah setelah dipotong tunggakan sewa dan utang harian.

​Dia tidak mungkin bisa bertahan hidup di Jakarta dengan sisa uang sekecil ini tanpa pekerjaan tetap.

​Adit memandangi sebuah foto lama yang terpajang di dinding kamar.

​Di dalam foto itu, kedua orang tuanya tersenyum lebar sambil merangkul Adit kecil di depan sebuah rumah panggung kayu.

​Di belakang rumah itu terhampar tanah perkebunan dan area kosong yang sangat luas di kampung halamannya.

​"Ibu... Bapak..." suara Adit terdengar serak.

​"Adit gagal di kota."

​Tanah warisan di Desa Sukamaju adalah satu-satunya harta peninggalan orang tuanya yang belum pernah dijual.

​Tanah itu sangat luas, mencakup beberapa hektar ladang dan bekas area peternakan tua yang sudah lama terbengkalai.

​"Mungkin sudah waktunya aku pulang," gumam Adit pelan.

​"Aku akan mengolah tanah warisan Bapak dan Ibu di desa."

​"Daripada aku mati kelaparan di kota orang tanpa tujuan."

​Adit mengusap air matanya dan menarik nafas dalam-dalam.

​Tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan segala kenangan buruk di kota ini besok pagi.

​Dia tidak tahu apa yang akan menunggunya di kampung halaman nanti.

​Apakah tanah tua itu bisa menyelamatkan hidupnya, atau justru membawa kegagalan baru yang lebih menyakitkan.

​Adit mematikan lampu kamar dan memejamkan matanya di atas kasur tipis.

​Kegelapan malam itu menyelimuti tubuh pemuda yang telah kehilangan segalanya tersebut.

1
Astiana 💕
cerita mu sungguh keren Thor, walaupun aku lagi sibuk nulis juga, tapi nyempetin banget baca cerita mu yang ini.😁
kiyoe: heheh harus semangat terus pokoknya kak
total 3 replies
adib
saran dikiit...

hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.

sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
kiyoe: terimakasih kak adib untuk saran nya ☺️🙏
total 1 replies
adib
beneran udah bucin ma riana..ayam grade SS cm dihargai 150rb.. telur jg cm segitu.. hadeehh
kiyoe: heheh iyaa kak soalnya dia yang membantu Adit dari 0 hingga menjadi sangat sukses 😂
total 1 replies
Astiana 💕
mampir Thor,
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.
kiyoe: hehehe makasih kak udah mau mampir hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!