NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Berikut versi yang lebih emosional, lebih mengalir, dan memperlihatkan perubahan perasaan Zilia dari rindu menjadi benci.

Menulis

Di dalam kamar, Zilia duduk bersandar di tepi tempat tidur. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang.

Sejak tadi, ponsel yang berada di atas nakas terus berdering.

Layar ponsel berkali-kali menampilkan nama yang sama.

Vio

Zilia hanya menatapnya tanpa berniat mengangkat panggilan itu.

Dering pertama...

Ia diam.

Dering kedua...

Masih ia biarkan.

Hingga dering kelima, Zilia akhirnya meraih ponselnya.

Bukan untuk menerima telepon.

Melainkan mematikan suara deringnya.

Air matanya kembali jatuh.

"Jadi... selama ini aku hanya perempuan bodoh yang percaya pada semua ucapanmu."

Tatapannya kosong menatap layar ponsel.

"Katamu kamu pulang untuk membantu perusahaan keluargamu."

"Katamu setelah semua urusan selesai, kamu akan kembali menjemputku."

"Katamu kamu akan melamarku..."

Suara Zilia mulai bergetar.

"Lalu... wanita itu siapa?"

Ia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga hingga menahan isak yang hampir pecah.

"Jadi, izinmu untuk kembali ke kota... semua itu hanya tipuan."

"Kamu sudah tahu kalau kamu akan menikah."

"Kamu sudah tahu kalau kamu punya istri."

"Tapi kenapa..."

"...kenapa kamu masih berani berjanji di hadapanku?"

Air mata terus mengalir tanpa bisa dibendung.

"Aku kira... janjimu tidak akan membuatmu menjadi seorang pendusta."

"Ternyata aku salah."

Bibirnya bergetar hebat.

"Kamu bukan laki-laki yang selama ini aku kenal."

"Kamu... hanyalah seorang pengkhianat."

Brak!

Zilia melempar ponselnya ke atas kasur.

Kedua tangannya mengepal kuat.

Seluruh beban yang selama ini ia pendam seolah meledak dalam satu waktu.

"Aaaaaaa...!"

Ia berteriak sekencang-kencangnya.

Suara itu menggema di dalam kamar yang kedap suara, teredam oleh dinding-dinding tebal mansion tersebut.

Tak seorang pun di luar kamar mendengar jeritannya.

Zilia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tangisnya pecah tanpa bisa lagi ditahan.

Malam itu, bukan hanya hatinya yang hancur.

Melainkan juga seluruh impian yang selama ini ia bangun bersama seorang pria yang ia yakini akan menjadi pendamping hidupnya.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu membuyarkan tangis Zilia.

"Zil?"

Suara Davin terdengar dari balik pintu.

"Zilia, kamu sudah tidur?"

Mendengar itu, Zilia buru-buru mengusap air mata yang masih membasahi pipinya. Ia menarik napas panjang beberapa kali, berusaha mengendalikan isaknya.

Setelah merasa sedikit tenang, ia berdiri dan berjalan menuju pintu.

Klik.

Pintu perlahan terbuka.

Di hadapannya, Davin berdiri sambil menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celana. Namun, senyum tipis di wajahnya seketika memudar saat melihat kondisi Zilia.

"Kamu kenapa, Zil?"

Zilia menggeleng pelan.

"Nggak kenapa-kenapa."

Davin mengangkat sebelah alisnya.

"Terus kenapa matamu sembab begitu?"

"Aku..."

"Bilang sama Kakak."

Tatapan Davin begitu teduh.

"Kamu habis nangis?"

Zilia kembali menggeleng, meski air matanya nyaris kembali jatuh.

"Nggak."

"Jangan bohong."

Davin menghela napas pelan.

"Kakak kenal kamu dari kecil. Kalau kamu habis nangis, wajahmu selalu begini."

Zilia menundukkan kepalanya.

Davin kembali menebak.

"Atau..."

Ia berhenti sejenak.

"...ada hubungannya sama pacarmu?"

Tubuh Zilia langsung menegang.

Ia tidak menyangka Davin bisa menebaknya.

Namun, beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan.

"Nggak."

"Bener?"

"Iya."

Jawaban itu terdengar lirih.

Sebenarnya ia ingin sekali menceritakan semuanya.

Tentang Vio.

Tentang pertemuan sore tadi.

Tentang wanita yang mengaku sebagai istri Vio.

Namun, harga dirinya menahan semua itu.

Bagaimana mungkin ia mengakui bahwa lelaki yang begitu ia banggakan ternyata telah mengkhianatinya?

Rasanya terlalu memalukan.

Davin memperhatikan raut wajah sepupunya yang berusaha terlihat tegar.

Ia tahu, Zilia sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun, ia juga paham bahwa tidak semua luka bisa dipaksa untuk diceritakan.

"Baiklah."

Davin tersenyum tipis.

"Kalau memang belum mau cerita, Kakak nggak akan maksa."

Zilia mengangkat wajahnya.

"Maaf, Kak."

"Nggak perlu minta maaf."

Davin mengusap pelan kepala Zilia.

"Kamu tahu, kan? Di rumah ini kamu nggak sendirian."

"Kalau suatu hari nanti kamu merasa sudah siap bercerita..."

"...Kakak akan jadi orang pertama yang mendengarkan."

Kalimat sederhana itu kembali membuat mata Zilia berkaca-kaca.

Ia hanya mengangguk pelan.

"Iya, Kak."

Davin tersenyum hangat.

"Ya sudah, istirahatlah. Besok Om mau mengajakmu berkeliling perusahaan."

Zilia sedikit terkejut.

"Besok?"

"Iya."

"Jadi tidur yang cukup."

Setelah mengucapkan itu, Davin berbalik meninggalkan kamar.

Sementara Zilia masih berdiri di ambang pintu.

Menatap punggung sepupunya yang perlahan menjauh.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah itu, ia merasakan kehangatan keluarga yang selama ini tidak pernah ia bayangkan.

Namun, kehangatan itu tetap belum mampu menghapus luka yang ditinggalkan oleh seorang pria bernama Vio.

Menulis

Makan malam pun berakhir.

Para pelayan segera membereskan meja makan, sementara Adrian memilih kembali ke ruang kerjanya. Masih ada beberapa dokumen perusahaan yang harus ia selesaikan malam itu.

Davin melirik jam tangan di pergelangan tangannya.

"Sepertinya Kakak juga harus pulang."

Zilia yang berdiri di dekat kursi hanya mengangguk pelan.

"Iya, Kak."

Davin melangkah mendekati Zilia. Senyum hangat tak pernah lepas dari wajahnya.

"Mulai sekarang kamu tinggal di sini. Kalau masih belum terbiasa, anggap saja rumah ini rumahmu sendiri."

Zilia tersenyum tipis.

"Masih terasa aneh."

"Wajar. Pelan-pelan saja."

Davin lalu mengangkat tangannya dan mengusap pelan puncak kepala Zilia, seperti seorang kakak kepada adiknya.

"Kalau butuh sesuatu atau ada apa-apa, kamu bisa hubungi Kakak."

Zilia mengangguk.

"Iya, Kak."

"Nggak usah sungkan."

"Aku tahu."

"Nomor Kakak jangan cuma disimpan. Dipakai juga."

Ucapan itu berhasil membuat Zilia terkekeh kecil.

"Iya, cerewet."

"Nah, gitu dong. Dari tadi mukanya murung terus."

Senyum Zilia memang belum sepenuhnya kembali, tetapi setidaknya kini terlihat lebih baik daripada sebelumnya.

Davin merasa sedikit lega.

Ia tahu, luka di hati Zilia tidak mungkin sembuh dalam semalam.

"Ya sudah, Kakak pulang dulu."

"Hati-hati di jalan."

"Iya."

Davin melangkah menuju pintu utama. Sebelum benar-benar keluar, ia sempat menoleh sekali lagi.

"Zil."

"Iya?"

"Selamat datang kembali."

Kalimat sederhana itu membuat hati Zilia terasa hangat.

Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di rumah itu, ia merasa benar-benar diterima sebagai bagian dari keluarga.

"Terima kasih, Kak."

Davin mengangguk sambil tersenyum, lalu masuk ke mobilnya dan perlahan meninggalkan halaman mansion.

Zilia berdiri cukup lama di teras, memandangi mobil Davin yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Semoga... semuanya akan baik-baik saja."

Meski begitu, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa badai yang sebenarnya baru saja dimulai.

Zilia baru saja hendak masuk ke kamarnya ketika ponselnya kembali berdering.

Kali ini bukan Vio.

Nama Rara terpampang jelas di layar ponselnya.

Senyum tipis langsung menghiasi wajah Zilia.

"Halo, Ra."

"Ziliaaaa! Akhirnya diangkat juga teleponnya."

"Iya, maaf. Tadi lagi banyak urusan."

"Urusan apaan? Kamu pergi ke kota nggak bilang-bilang. Aku sama Edo sampai nyariin kamu ke rumah Bu Retno."

Zilia tersenyum canggung.

"Maaf. Berangkatnya mendadak."

"Parah kamu. Sahabat sendiri ditinggal."

Terdengar suara lain dari seberang telepon.

"Iya, Zil. Minimal kasih kabar, kek," sahut Edo.

Zilia terkekeh pelan.

"Iya, iya. Aku salah."

"Nah, gitu dong ngaku."

"Tapi... kalian kok bisa bareng?"

Rara langsung menjawab dengan nada riang.

"Ya iyalah. Aku sama Edo lagi liburan di kota juga."

"Hah? Serius?"

"Iya. Kebetulan acara kampus sudah selesai, jadi sekalian jalan-jalan."

Mata Zilia langsung berbinar.

"Berarti kita bisa ketemu?"

"Makanya kami telepon."

"Edo udah nyiapin tempat nongkrong nih."

Edo langsung menyela.

"Besok siang gimana?"

"Boleh!"

Jawaban Zilia terdengar begitu bersemangat.

Sudah lama ia tidak merasakan antusiasme seperti itu.

Bertemu kedua sahabatnya mungkin bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari luka yang ditinggalkan Vio.

"Oke. Besok kami kirim lokasi."

"Siap."

Setelah mengobrol beberapa menit, panggilan pun berakhir.

Keesokan harinya.

Zilia turun ke lantai bawah dengan pakaian kasual berwarna krem dipadukan celana jeans panjang.

Ia tampak jauh lebih segar dibanding semalam.

Adrian yang sedang menikmati kopi pagi langsung menatap putrinya.

"Mau ke mana?"

"Aku mau ketemu Rara sama Edo, Pa."

"Mereka di kota?"

"Iya."

Adrian mengangguk pelan.

"Baik."

Zilia sempat merasa lega.

Namun, beberapa detik kemudian Adrian kembali berkata,

"Nanti Rudi yang mengantarkanmu."

Seorang pria bertubuh tegap yang sejak tadi berdiri tak jauh dari ruang tamu segera melangkah maju.

"Siap, Tuan."

Zilia langsung mengernyit.

"Pa, nggak usah dikawal segala."

"Bukan dikawal."

"Terus?"

"Diantar."

"Kan sama aja."

Adrian tersenyum tipis.

"Papa hanya ingin memastikan kamu aman."

"Pa... aku bukan anak kecil."

"Papa tahu."

"Kalau tahu, biarin aku pergi sendiri."

Adrian menggeleng pelan.

"Itu tidak bisa."

"Kenapa sih?"

"Kamu baru kembali ke rumah ini."

"Justru itu."

Zilia mengembuskan napas panjang.

"Aku jadi nggak bebas."

"Biasakan."

Jawaban Adrian terdengar tenang, tetapi tidak bisa dibantah.

"Mulai sekarang, ke mana pun kamu pergi, akan ada orang yang menemanimu."

Zilia memijat pelipisnya.

"Ya ampun..."

Ia melirik pria bernama Rudi yang hanya berdiri tegak dengan wajah datar.

"Mas, nanti jangan nempel terus ya."

Rudi tersenyum sopan.

"Saya hanya menjalankan perintah Tuan."

"Tuh, kan."

Zilia mengembuskan napas pasrah.

Rasa risih mulai menyelimuti hatinya.

Selama tinggal bersama Bu Retno, ia terbiasa pergi ke mana saja sendirian.

Kini, setiap langkahnya seolah diawasi.

Meski tidak nyaman, Zilia sadar bahwa menolak hanya akan memicu perdebatan baru dengan ayahnya.

"Ya sudah."

Ia mengambil tas yang sudah disiapkan.

"Aku berangkat dulu, Pa."

"Hati-hati."

"Iya."

Zilia melangkah keluar rumah.

Di belakangnya, Rudi mengikuti dengan jarak beberapa langkah.

Zilia hanya bisa menggeleng pelan.

"Beginikah rasanya jadi anak konglomerat?"

"Ke mana-mana harus ada pengawal."

Ia menghela napas panjang.

"Semoga Rara sama Edo nggak ngeledekin aku nanti."

Tanpa ia sadari, pertemuan dengan kedua sahabatnya hari itu akan menjadi awal dari kejutan lain yang tidak pernah ia duga.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!