"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Melupakan
Malam makin larut saat Nio dan Nora melangkah keluar menembus gerimis tipis yang mengguyur trotoar.
Nora berjalan amat rapat di samping Nio, napasnya memburu dan matanya terus bergerak liar menyapu tiap sudut gelap.
'Cewek ini jangankan berhadapan dengan peretas, kena hembusan angin malam saja sudah gemetaran seperti anak kucing,' batin Nio keheranan.
Nio menghentikan langkahnya di depan gerbang besi berkarat menuju komplek kontrakan kumuh.
"Berhenti menempel padaku dan tunjukkan di mana letak pintunya," tegur Nio dengan nada mengintimidasi.
Nora tersentak kaku, merapikan mantelnya lalu mengangguk penuh kepatuhan di bawah tatapan tajam Nio.
"P-pintu nomor tiga di lorong bawah, Nio," jawab Nora terbata-bata sambil menunjuk ke arah lorong remang.
Mereka meniti lorong semen yang lembap, diselimuti senyap yang menekan dada.
Pintu kayu bernomor tiga berdiri membisu di ujung lorong, terkunci rapat tanpa pendar cahaya sedikit pun dari dalam.
Nio memutar knop pintu yang ternyata tidak terkunci, lalu mendorongnya perlahan hingga berderit nyaring.
Udara dingin bercampur aroma pembersih kimia menyengat langsung menyambut hidung mereka begitu pintu terbuka.
"A-aneh... kenapa baunya seperti pembersih ruangan rumah sakit?" bisik Nora bingung seraya meraba sakelar lampu.
Lampu neon di langit-langit berkedip dua kali sebelum menyala terang memancarkan pendar putih dingin.
Nora mendadak memekik pelan, menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan yang bergetar hebat.
Kamar kontrakan itu terlihat sangat rapi, tetapi terasa asing dan terasing dari kehidupan manusia biasa.
Kasur busa di sudut ruangan terbalut seprai polos tanpa kerutan, seolah-olah baru saja dibeli dari toko.
Meja belajar kayu yang seharusnya penuh dengan buku-buku kuliah Milo kini bersih melompong tanpa menyisakan satu berkas pun.
"S-semuanya hilang... poster musiknya, gantungan kuncinya, pakaian di kapstok... semuanya lenyap!" rintih Nora histeris.
Nio melangkah tenang melintasi ruangan, meneliti permukaan meja belajar dengan teliti.
Tidak ada debu, tidak ada goresan, dan tidak ada residu sidik jari yang tertinggal di permukaan kayu tersebut.
'Gila, tempat ini bukan cuma dirapikan, tapi disterilkan sampai ke tingkat mikro,' batin Nio dengan pelipis meneteskan keringat dingin.
Nio meraba tekstur kertas kosong di dalam saku jaketnya untuk menenangkan debar jantung yang mendadak terpacu kencang.
Kertas polos itu menjadi jangkar emosi Nio, meyakinkan presensinya sendiri di tengah ruangan yang telah dicabut sejarahnya.
'Zero tidak membunuh tubuh; dia mencabut sejarah dari dada manusia,' gumam Nio teringat pada pola kekejaman sang musuh.
Nio membuka lemari pakaian yang pintunya berderit kaku.
Di dalam lemari, hanya ada sepuluh gantungan baju kosong yang berjejer rapi tanpa meninggalkan selembar kain pun.
Nora jatuh berlutut di samping kasur, air matanya menetes meresap ke dalam kain seprai yang bersih.
"Gila... ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin seseorang bisa membersihkan seluruh hidup Milo dalam hitungan jam?" tangis Nora pecah.
"Hentikan tangisanmu dan berdiri," perintah Nio dingin, tidak memberi ruang sedikit pun untuk keputusasaan.
Nora mendongak kaku, matanya yang sembap menatap Nio dengan rintih pasrah.
"Ka-kamu tidak punya perasaan sedikit pun, ya?" cicit Nora pelan, meski akhirnya tetap berusaha berdiri sesuai perintah Nio.
"Perasaan tidak akan mengembalikan adikmu dari sistem," balas Nio tajam. "Penghilangan di sini dilakukan sangat rapi, tapi pelaku pasti melewatkan sesuatu."
Nio berjongkok di dekat sudut meja belajar, menatap sebuah kotak kontak listrik di dinding.
Sebuah penutup plastik tempat kontak itu menunjukkan bekas cungkilan halus yang masih sangat baru.
Nio mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, lalu menyisipkan mata pisau ke celah plastik tersebut untuk membukanya.
Di balik penutup plastik, sebuah perangkat pemancar sinyal berukuran mikro menempel pada kabel utama dengan pendar lampu hijau yang berkedip instens.
"Perangkat manipulasi frekuensi," analisis Nio sambil mengamati komponen tersebut. "Alat ini menyebarkan sinyal penghapus gelombang otak jarak pendek."
"A-apa maksudmu gelombang otak?" tanya Nora dengan suara yang makin gemetar.
"Alat ini tidak cuma membersihkan data fisik, tapi menyebarkan frekuensi khusus untuk mengacaukan memori orang-orang di sekitar sini," jawab Nio lugas.
Sebelum Nora sempat merespons, suara langkah kaki berat terdengar mendekati pintu kontrakan yang terbuka.
Seorang pria paruh baya bertubuh gempal—pemilik kontrakan—berdiri di ambang pintu dengan dahi berkerut curiga.
"Kalian siapa? Kenapa malam-malam begini masuk ke kamar kosong tanpa izin?" tegur pemilik kontrakan itu galak.
Nora bergegas maju, menatap pemilik kontrakan itu dengan mata membelalak penuh harapan.
"Pak Mardi! Ini saya, Nora! Saya datang untuk mencari Milo, adik saya yang tinggal di kamar ini!" seru Nora heboh.
Pak Mardi mengerutkan dahi lebih dalam, menatap Nora seperti sedang melihat orang gila.
"Milo? Milo siapa?" tanya Pak Mardi polos. "Kamar nomor tiga ini sudah kosong sejak tiga bulan lalu, tidak ada yang menempatinya."
"Jangan bercanda, Pak! Adik saya bayar sewa ke Bapak tiap bulan! Kemarin lusa Bapak bahkan ngobrol dengan Milo di depan!" teriak Nora makin emosional.
"Mbak, jangan ngarang ya," sahut Pak Mardi mulai sewot. "Saya ingat betul kamar ini tidak pernah ada penghuninya sejak penyewa lama pindah. Nggak ada yang namanya Milo di sini."
Nora terhuyung mundur, wajahnya memucat pasi saat mendengar penyangkalan langsung dari orang yang mengenal adiknya.
Ekpresi kebingungan di wajah Pak Mardi terlihat sangat alami, bukan seperti orang yang sedang berbohong atau bersandiwara.
'Sinyal dari alat mikronya benar-benar sudah merusak ingatan pria ini,' batin Nio mengamati dengan cermat. 'Eksistensi Milo benar-benar telah tereliminasi tanpa preseden.'
Nio melangkah maju, berdiri di antara Nora dan pemilik kontrakan untuk mengambil kendali situasi.
"Maaf mengganggu malam-malam, Pak. Teman saya cuma salah kamar," ujar Nio tenang seraya menyodorkan beberapa lembar uang kertas. "Kami akan segera keluar."
Pak Mardi menerima uang itu, tatapan matanya yang tadi galak mendadak berubah agak linglung.
"O-oh... begitu. Ya sudah, kalau keluar tolong pintunya ditutup rapat," kata Pak Mardi singkat lalu berbalik pergi menelusuri lorong.
Nora merebahkan dirinya ke dinding semen, napasnya tersengal-sengal menahan guncangan jiwa yang teramat dahsyat.
"Dia... dia benar-benar lupa pada Milo..." bisik Nora dengan vokal yang hancur total.
Nio mencengkeram lengan Nora dengan kuat, menarik wanita itu agar menatap matanya secara langsung.
"Kuatkan dirimu jika tidak ingin bernasib sama seperti adikmu," tegur Nio dengan intonasi rendah dan sarat intimidasi.
Nora mengangguk pasrah, seluruh keangkuhan dan gengsinya runtuh sepenuhnya di bawah cengkraman Nio.
"A-aku tunduk padamu, Nio... tolong jangan tinggalkan aku di tempat gila ini," rintih Nora memohon bantuan.
'Bagus, setidaknya sekarang dia sadar bahwa cuma aku satu-satunya pegangannya di dunia ini,' batin Nio mantap.
Nio melepaskan cengkramannya, lalu mematikan perangkat mikro di dinding menggunakan ujung pisau lipatnya.
Seketika itu juga, lampu neon di ruangan berkedip kencang dan sebuah suara desisan halus muncul dari dinding.
Tulisan berwarna merah darah mendadak merembes dari balik cat tembok polos di atas tempat tidur:
"REKONSTRUKSI HANYA AKAN MEMPERCEPAT PENYANGKALAN."
Nio dan Nora menatap tulisan cair itu dengan napas tertahan.
Pendar merah dari tulisan tersebut mendadak memancarkan gelombang elektromagnetik tinggi yang membuat seluruh lampu jalan di luar mendadak meledak bersamaan.
Di tengah kegelapan pekat yang tiba-tiba menyelimuti kamar, suara tawa berdistorsi terdengar jelas dari peninggi suara di lorong luar:
"Selamat datang kembali di tabula rasa, Nio."