NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Penolakan Sentuhan

Hari demi hari bergulir di balik dinding putih steril ruang perawatan VVIP Rumah Sakit Harapan Bangsa, namun waktu seolah berhenti bagi Arka Pratama. Selama seminggu penuh, pria itu menepati sumpahnya untuk tidak beranjak dari sisi istrinya. Ponsel flagship yang dulunya tidak pernah lepas dari genggamannya kini dibiarkan tergeletak mati di atas nakas, dipenuhi ribuan notifikasi kantor yang diabaikan begitu saja. Segala urusan operasional Pratama Tower ia limpahkan secara paksa kepada para wakil direktur, sementara ia memilih menetap di ruangan berbau disinfektan ini, mengenakan kemeja yang sama selama dua hari berturut-turut demi menjaga Kirana.

Namun, kehadiran fisik Arka di sana sama sekali tidak mengubah apa pun. Justru, hal itu semakin mempertegas jurang pemisah yang terbentang di antara mereka.

Pagi itu, jarum jam baru menunjukkan pukul delapan. Sinar matahari pagi menembus celah tirai jendela kaca, memantulkan cahaya pucat ke atas lantai pualam. Di atas brankar, Kirana berbaring dengan posisi setengah duduk. Luka di pelipisnya mulai mengering, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan kulit wajahnya yang masih kehilangan rona sehatnya.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan Arka melangkah masuk membawa sebuah nampan kecil dari pantri rumah sakit. Di atas nampan itu tertata mangkuk porselen berisi bubur hangat encer, segelas air putih, dan semangkuk kecil sup kaldu bening yang baru saja ia ambilkan dari dapur bawah. Wajah Arka tampak letih, matanya dihiasi lingkaran hitam legam akibat kurang tidur, namun ada secercah harapan kecil yang dipaksakan tersungging di bibirnya saat ia mendekati ranjang.

"Kirana... selamat pagi," sapa Arka dengan suara lembut dan serak. Ia menarik kursi kecil mendekat ke sisi ranjang, lalu meletakkan nampan tersebut di atas meja dorong khusus pasien. "Kamu harus makan pagi ini, ya. Perawat bilang kondisimu sudah jauh lebih baik, tapi tubuhmu masih butuh banyak asupan nutrisi untuk mempercepat pemulihan."

Arka mengambil mangkuk bubur tersebut, meraih sendok stanlis di sebelah piring, lalu mengaduknya perlahan untuk mengurangi uap panas. Dengan gerakan hati-hati penuh keraguan, ia menyendok sedikit bubur tersebut, lalu mengarahkannya mendekati bibir Kirana.

"Mari, aku suapi sedikit. Biar aku bantu..." bujuk Arka dengan nada penuh permohonan.

Kirana, yang sejak tadi menatap lurus ke arah dinding kosong di seberang ranjang, perlahan menoleh. Pandangan matanya begitu datar, dingin, dan hampa. Tidak ada ekspresi kesal, tidak ada amarah, bahkan tidak ada cibiran di wajahnya. Wanita itu hanya menatap sendok yang disodorkan di hadapannya selama beberapa detik lamanya, seolah benda itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak berarti.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kirana mengangkat tangan kanannya yang masih terpasang jarum infus secara perlahan. Dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh ketegasan absolut, ia mendorong pelan pergelangan tangan Arka, menjauhkan sendok itu dari wajahnya.

Sentuhan fisik itu begitu ringan, namun bagi Arka, rasanya bagaikan hantaman petir yang membakar kulitnya.

Arka tertegun. Sendok di tangannya hampir tumpah. Ia menatap wajah Kirana dengan mata berkaca-kaca. "Kirana... setidaknya makanlah barang beberapa suap. Kamu sudah menolak makan sejak kemarin malam. Kalau kamu terus begini, tubuhmu tidak akan pernah pulih..."

"Saya tidak lapar," jawab Kirana singkat. Suaranya sangat tenang, datar, dan bernada dingin yang menusuk tulang. "Dan saya bisa makan sendiri jika memang membutuhkannya. Anda tidak perlu repot-repot melakukan ini, Mas."

"Aku suamimu, Kirana! Ini bukan kerepotan!" rintih Arka, suaranya pecah di ujung kalimat. Rasa frustrasi, penyesalan, dan rasa sakit bercampur aduk di dadanya, mendesak air mata hampir tumpah dari pelupuk matanya. "Biarkan aku melakukan sesuatu untukmu... biarkan aku menebus semua kesalahanku, walau hanya dengan menyuapimu..."

Kirana memalingkan wajahnya kembali menatap ke arah luar jendela, mengabaikan sepenuhnya kepedihan yang terpancar di mata suaminya. "Apa yang ingin Anda tebus? Waktu yang sudah terbuang? Atau rasa sakit yang sudah telat untuk disesali? Semuanya sudah tidak ada artinya lagi, Arka. Jangan membuang tenaga untuk hal yang tidak bisa diperbaiki."

Sebelum Arka sempat merespons atau memohon sekali lagi, pintu ruang perawatan diketuk dua kali dengan sopan, lalu terbuka.

Seorang perawat wanita paruh baya berseragam putih bersih melangkah masuk membawa troli kecil berisi peralatan medis dan kain lap hangat untuk memandikan pasien pagi hari.

"Selamat pagi, Tuan Arka, Nyonya Kirana," sapa perawat itu ramah dengan senyuman profesional. Ia melirik sekilas ke arah nampan bubur yang terbengkalai di atas meja, lalu beralih menatap Arka. "Maaf, Tuan Arka, sepertinya jadwal perawatan rutin dan pembersihan tubuh pagi untuk Nyonya Kirana akan segera dimulai. Apakah Anda bisa menunggu di luar sebentar?"

Biasanya, dalam situasi seperti ini, Arka akan menolak dengan tegas dan bersikeras untuk tetap tinggal mendampingi istrinya seperti yang ia lakukan selama enam hari terakhir. Namun, sebelum Arka sempat membuka mulut untuk menjawab, Kirana mendahuluinya dengan suara yang jelas dan terdengar begitu tegas.

"Tentu saja, Suster," jawab Kirana cepat, menoleh ke arah perawat dengan sorot mata yang sedikit melunak—kontras seratus delapan puluh derajat dari cara ia memperlakukan suaminya. "Tolong bantu saya... saya ingin membersihkan diri, dan saya juga butuh bantuan untuk pergi ke kamar kecil."

Perawat itu mengangguk paham. "Baik, Nyonya Kirana. Mari saya bantu."

Mendengar permintaan itu, Arka serta-merta berdiri dari kursinya. Sebagai seorang suami yang melihat istrinya baru saja pulih dari kecelakaan maut dan kehilangan janin, insting pertamanya adalah menawarkan diri untuk memapah Kirana ke kamar mandi.

"Biar aku yang bantu kamu ke toilet, Kirana," ucap Arka cepat, melangkah maju sambil mengulurkan kedua tangannya untuk merangkul tubuh istrinya. "Kamu masih lemah, biar aku yang membimbingmu—"

Plak.

Bukan tamparan fisik, melainkan sebuah penolakan mutlak yang jauh lebih menyakitkan. Kirana menarik tubuhnya ke belakang secara spontan, menepis uluran tangan Arka dengan gerakan dingin dan sorot mata penuh ketidaksukaan yang amat nyata.

"Jangan sentuh saya," ucap Kirana dengan penekanan di setiap suku katanya, dingin, tajam, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Saya lebih dari mampu meminta bantuan perawat. Silakan Anda keluar, Arka."

Arka tertegun kaku di tengah ruangan. Kedua tangannya yang tadinya terulur kini menggantung di udara, terasa begitu hampa dan kotor. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menatap wajah Kirana—wanita yang dulu selalu menyambutnya dengan pelukan hangat setiap kali ia pulang kerja, wanita yang selalu memegang tangannya dengan lembut dalam suka maupun duka—kini menatapnya seolah ia adalah sebuah ancaman atau bahkan orang asing yang menjijikkan.

Perawat di samping ranjang tampak salah tingkah, menunduk kikuk melihat ketegangan luar biasa yang tersaji di hadapannya.

Arka perlahan menurunkan tangannya. Bibirnya bergetar hebat, mencoba merangkai kata-kata untuk membela diri, namun suaranya seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada lagi ruang bagi dirinya di dalam hidup wanita itu. Setiap inci dari tubuh dan jiwa Kirana telah menutup rapat pintu bagi keberadaannya.

"Baiklah..." bisik Arka parau, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menelan ludah kelat untuk meredakan rasa sesak yang menghantam ulu hatinya. "Aku... aku akan menunggu di luar."

Dengan langkah berat, bahu yang merosot jatuh, dan kehancuran batin yang teramat sangat, Arka berbalik melangkah meninggalkan ranjang. Ia berjalan melewati pintu kamar perawatan, keluar menuju koridor rumah sakit yang sunyi.

Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, Arka menyandarkan punggungnya pada dinding putih pualam di luar ruangan. Ia memejamkan matanya erat-erat, membiarkan pertahanan terakhirnya runtuh seketika. Di balik pintu itu, ia bisa mendengar sayup-sayup suara perawat membimbing Kirana turun dari tempat tidur menuju kamar kecil—sebuah tugas merawat yang seharusnya menjadi hak dan kewajibannya sebagai suami, kini harus direlakan berpindah kepada orang lain, karena sentuhannya sendiri telah dianggap sebagai racun yang paling ingin dihindari oleh istrinya.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!