~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7 PERASAAN YANG ANEH
***
Fajar baru menyusup pelan di balik tirai tebal kamar utama Kastil Ravengard. Cahaya keemasan dari celah jendela perlahan menari di atas lantai marmer, menyentuh ujung seprai tempat dua sosok manusia terbaring dalam diam.
Darian dan Iris.
Untuk pertama kalinya, mereka tertidur dalam satu ranjang tanpa saling menyentuh secara sengaja, namun perlahan, di dalam lelapnya tidur, tubuh mereka saling mendekat.
Darian tidur miring ke kanan, lengan kekarnya terlingkar lembut di pinggang dan perut istrinya yang mulai membuncit, seolah ingin melindungi sesuatu yang tak bisa ia pahami sepenuhnya. Dahi Iris menghadap keluar, rambut panjang peraknya menjuntai indah di atas bantal, sesekali bergerak seiring embusan napasnya yang masih sedikit gelisah dalam tidur.
Namun, ketenangan pagi itu tak bertahan lama.
Wajah Iris sedikit mengernyit. Lalu tangannya bergerak, menyingkirkan lengan suaminya perlahan. Semakin detik berlalu, ekspresinya berubah; rasa mual dan tidak nyaman mulai menjalari ulu hatinya.
Gejolaknya tak tertahankan.
Dengan cepat, ia bangkit dari ranjang, menyingkap selimut tebal, dan berjalan terhuyung-huyung ke arah kamar mandi.
Darian menggeliat, masih setengah sadar saat tangannya kehilangan sandaran. Ia membuka mata perlahan, mendengar langkah tergesa dan bunyi pintu kamar mandi yang terbuka.
Sejenak ia menahan napas. Lalu terdengar suara muntahan.
Tubuhnya langsung tegang.
Tanpa pikir panjang, ia bangkit dari ranjang dan menyusul.
Ruangan mandi marmer hitam itu terasa cukup dingin di pagi hari. Embun masih menggantung di cermin perak. Dan di depan wastafel, Iris bersandar lemah. Bahunya bergerak naik-turun, dan suara batuk kecil terdengar memantul di antara dinding batu.
Darian berdiri di ambang pintu. Napasnya tercekat.
Iris tampak begitu rapuh. Wajahnya sangat pucat. Rambut peraknya kusut, sebagian menutupi pipinya yang memerah karena tekanan.
Tanpa bersuara, ia melangkah mendekat. Tangan besarnya menyibakkan helai-helai rambut perak dari wajah istrinya dengan lembut, lalu menahan bahunya, membungkuk dan memijat perlahan punggung Iris yang bergetar.
“Iris...” gumamnya, suara baritonnya terdengar serak dan rendah. “Tenang. Aku di sini.”
Iris hanya mengangguk kecil, lalu batuk pelan sebelum kembali bersandar, kelelahan yang luar biasa meremukkan tenaganya.
Darian menatapnya dengan rahang mengeras. Ia merasa... gagal. Bodoh. Dan untuk pertama kalinya sebagai seorang panglima, ia merasa tak berguna.
Setelah beberapa menit, saat rasa mual itu mereda, ia mengangkat tubuh istrinya dengan hati-hati. “Kita kembali ke tempat tidur.”
Iris tak menjawab, hanya membiarkan dirinya bersandar sepenuhnya dalam pelukan hangat sang suami.
Saat mereka kembali ke ranjang, Darian meletakkan Iris perlahan di atas kasur dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah istrinya yang sangat lelah.
“Apakah... ini sering terjadi?” tanyanya pelan, nadanya tersirat rasa bersalah.
Iris membuka matanya setengah, lalu menjawab lemah, “Ya... hampir setiap pagi. Tapi pagi ini tidak seburuk biasanya.”
Darian menatapnya, tercengang. “Kalau ini yang ringan... lalu seperti apa saat parahnya?”
Iris memejamkan mata, tersenyum kecil pahit. “Pernah... sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Lisa... sering kewalahan.”
Darian mengepalkan tangannya di atas paha. Ada luka dalam di hatinya yang tak bisa ia tunjukkan. Ia tak tahu. Selama ini, ia benar-benar mengabaikan kondisi istrinya karena kesibukan militer.
Suaranya rendah penuh sesal. “Kenapa tak pernah kau katakan?”
“Karena... tak ada yang bertanya,” bisik Iris lirih, suaranya nyaris tenggelam. “Lagipula, kau... sibuk mengurus perang dan wilayah.”
Darian ingin membantah, tapi bibirnya membisu. Ia tidak punya alasan untuk membela diri.
Lalu, tiba-tiba—
Duk! Duk! Duk!
Pintu kamar diketuk keras dari luar, disusul suara panik yang tercekat.
“Y-Yang Mulia?! Apakah Nyonya ada di dalam?!” terdengar suara Lisa, gemetar ketakutan. “Tolong... maafkan saya... tapi saya tidak menemukan beliau di kamarnya tadi pagi!”
Darian berdiri dan membuka pintu lebar-lebar. Wajah Lisa yang penuh air mata dan napas terengah-engah langsung terpampang di hadapannya.
Pelayan muda itu sempat terdiam dan membeku saat melihat Grand Duke sendiri yang membukakan pintu tanpa jubah kebesarannya, hanya mengenakan kemeja gelap yang masih setengah terbuka di bagian atas dada bidangnya.
“Lisa,” ucap Darian cepat, nada suaranya berubah tegas namun tidak membentak. “Dia ada di sini. Baru saja muntah.”
Lisa langsung menunduk dalam-dalam. “M-maaf, Yang Mulia. Saya seharusnya berjaga—”
“Bukan salahmu,” potong Darian lugas.
Lisa menatap Darian dengan heran; ada sesuatu yang berubah. Wajah tuan Grand Duke yang biasanya sedingin es itu tampak... khawatir.
Darian menyingkir dari ambang pintu. “Masuklah. Dia membutuhkanmu.”
Lisa segera melangkah masuk dan menghampiri Iris yang masih terbaring pucat di atas ranjang.
“Yang Mulia... saya di sini sekarang,” ucap Lisa cemas sambil menggenggam tangan nyonyanya.
Iris membuka mata perlahan, menatap Lisa dengan senyum hangat. “Kau datang...”
Lisa mengangguk, air matanya menetes lagi. “Maaf... saya ketiduran. Saya takut terjadi apa-apa pada Anda. Saya berlari mencarinya ke dapur, ke taman...”
“Ssst…” Iris memotong dengan senyum lemah. “Tak apa. Sekarang kau di sini, jangan nangis mulu.”
Darian berdiri mematung di dekat jendela, membelakangi mereka berdua.
Namun diam-diam... ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya. Perasaan asing yang tak bisa ia namai—marah pada kebodohan sendiri, rasa iba, dan... dorongan kuat untuk melindungi lebih dalam lagi.
Ia menatap cahaya matahari pagi yang kini perlahan menembus kaca patri jendela kastil.
Dan di belakangnya, dua wanita yang merawat satu sama lain. Satu adalah istrinya. Yang lain pelayannya.
Tapi bagi Darian... entah bagaimana, kehadiran mereka mulai terasa seperti rumah yang selama ini tak pernah ia sadari ia butuhkan.
Iris bersandar di bantal tinggi, rambut peraknya disisir rapi oleh Lisa yang duduk di sisi ranjang. Wajah pucatnya mulai tampak sedikit segar, meski kantung matanya masih menghitam karena kurang tidur.
Lisa memiringkan kepalanya pelan, bertanya dengan nada hati-hati, “Yang Mulia... apakah ada yang Anda inginkan? Apakah perlu saya panggilkan Tabib Eldric? Atau—”
Iris menggeleng pelan, matanya menyapu jendela tempat cahaya pagi menyusup masuk.
“Aku ingin sesuatu yang segar... mungkin buah potong dingin. Atau... puding mangga,” katanya sambil mengusap perutnya yang sedikit bergejolak. “Sepertinya si kecil di dalam sini ingin sesuatu yang manis lagi...”
Lisa tersenyum, hendak bangkit untuk segera memanggil pelayan dapur.
Namun suara berat nan tegas Darian mendadak memotong langkah itu.
“Tidak.”
Lisa membeku di tempat.
Iris menoleh pelan, kaget bercampur gugup. “A-apa maksudmu, Yang Mulia?”
Darian melangkah maju dari tempatnya berdiri di dekat jendela. Tatapannya lurus, bukan dengan nada menghardik, melainkan penuh pertimbangan matang seorang pemimpin.
“Perintahkan dapur untuk membuat bubur halus. Hangat. Bukan makanan yang terlalu manis atau dingin,” ucap Darian pada Lisa dengan mantap. “Dia butuh sesuatu yang lembut untuk lambungnya. Bukan buah asam atau makanan segar yang bisa memicu rasa mualnya kembali.”
Lisa menunduk cepat. “S-segera, Yang Mulia.”
Namun sebelum Lisa benar-benar melangkah pergi, Darian menambahkan, suaranya melunak tipis.
“Dan... siapkan puding mangga untuk hidangan penutupnya nanti, setelah ia makan bubur.”
Iris menoleh cepat, mata violetnya membelalak tak percaya.
“Kau... mengingatnya?” bisiknya, bibirnya bergetar tipis.
Darian menahan napas sejenak, lalu mengangguk kaku.
“Sulit melupakan sesuatu... yang membuatmu menangis histeris di lorong istana,” jawabnya singkat namun jujur.
Iris tertawa kecil, lalu menunduk. Air matanya kembali menggenang di pelupuk mata. Namun kali ini, bukan karena kecewa, melainkan karena ada kehangatan yang merayap di dada di tengah dinginnya udara Ravengard.
Lisa tersenyum lebar, ikut terharu melihat sisi lain sang Grand Duke, lalu membungkuk hormat. “Segera saya siapkan, Yang Mulia. Mohon tunggu sebentar.”
Lisa pun berlalu keluar, meninggalkan pasangan suami istri itu dalam keheningan yang mulai mencair.
Iris menatap perutnya, sesekali mengelusnya pelan. Darian berdiri beberapa langkah di dekat ranjang, tampak agak canggung, seolah ada kalimat yang ingin ia ucapkan namun lidahnya kelu.
Akhirnya, Darian yang memecah diam.
“Apakah...” Ia menarik napas dalam. “Apakah kehamilanmu... begitu menyiksa?”
Iris mendongak pelan. Matanya bertemu dengan tatapan kelabu suaminya yang... untuk pertama kalinya, tidak memancarkan hawa membunuh atau dingin.
“Kenapa tiba-tiba nanya begitu?” gumam Iris.
Darian menunduk sejenak, lalu mendekat dan duduk di kursi kayu di samping tempat tidur dengan jarak yang terjaga. “Karena aku tidak pernah tahu. Dan pagi ini... aku merasa seperti baru melihatmu untuk pertama kali.”
Iris terdiam. Perasaannya campur aduk antara senang, sebal, dan gugup.
“Aku tidak ingin menyusahkanmu,” jawabnya akhirnya. “Dari awal... pernikahan ini bukan tentang perasaan. Aku tahu tempatku, Yang Mulia.”
Darian menoleh cepat, alisnya bertaut. “Tempatmu?”
Iris tersenyum pahit. “Ya. Tempat sebagai istri hasil aliansi politik. Grand Duchess di atas kertas. Yang penting bagi istana cuma stabilitas kekaisaran, bukan keberadaanku.”
Darian membuka mulut ingin menyangkal, tapi tak bisa. Semua itu... memang kenyataan yang ia bangun selama ini.
“Aku tidak tahu... apakah ini diriku yang asli atau memori tubuh ini,” lanjut Iris lirih, menatap lurus mata Darian. “Tapi luka dan rasa kesepian itu nyata. Dan itu tumbuh bersama anak kita.”
Darian ingin bicara, namun ketukan pintu dari Lisa yang membawa nampan makanan menghentikan momentum itu.
“Yang Mulia, maaf... makanannya sudah siap.”
Darian berdiri cepat dan membantu membukakan pintu. Lisa masuk membawa troli berisi semangkuk bubur hangat, sup bening, dan semangkuk kecil puding mangga beraroma harum.
Iris makan dengan lahap, meskipun perlahan. Dan setelah selesai, suasana kembali tenang. Lisa pun pamit keluar.
Sebelum benar-benar menutup pintu, Lisa sempat menoleh sekilas pada Iris dengan senyum penuh arti, ‘Kalau Yang Mulia ingin dimengerti, sepertinya air mata dan puding mangga adalah kuncinya.’
Iris merona malu, sementara Darian hanya berdiri bersedekap dada, menatap istrinya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Namun di dalam hatinya, sang panglima perang tahu: benteng es di Ravengard telah resmi runtuh, dan ia tak berniat membangunnya kembali.
Bersambung....