NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Kerusuhan di Rumah Sakit

“Ardi, panggil polisi! Sekarang!”

Perintah Dokter Fajar terdengar tajam, menembus suara alarm yang berputar di koridor.

Ardi tidak membuang waktu.

Ia menekan nomor darurat, lalu menyetel ponselnya ke mode rekam video dengan kamera belakang tetap menghadap ke arah IGD. Di layar kecil itu, pintu kaca ruang gawat darurat terlihat terbuka kasar. Belasan orang masuk sambil berteriak, sebagian memakai jaket hitam, sebagian lagi membawa spanduk yang tulisannya sengaja dibuat besar.

RSUD SOETOMO LINDUNGI DOKTER MALPRAKTIK!

Seorang satpam mencoba menahan mereka di depan meja triase, tetapi dua pria langsung mendorong bahunya. Map pasien jatuh ke lantai. Seorang ibu yang sedang menunggu anaknya diperiksa menjerit dan memeluk tasnya.

“Polres Surabaya?” kata Ardi ketika panggilan tersambung. Suaranya rendah, jelas, tanpa panik. “Ini dr. Ardi Pratama dari RSUD Soetomo. Ada kerusuhan di Instalasi Gawat Darurat. Sekitar lima belas sampai dua puluh orang memaksa masuk, mendorong petugas keamanan, mengganggu pelayanan pasien. Mohon kirim unit segera.”

Di sebelahnya, Rudi sudah berlari ke arah ruang tindakan.

“Perawat! Pasien yang belum stabil pindahkan ke zona dalam! Tutup pintu tindakan, jangan ada keluarga masuk dulu!”

Fajar maju ke depan, kedua tangannya terbuka, berusaha menjadi batas antara massa dan pasien.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, ini rumah sakit. Di dalam ada pasien kritis. Kalau ada laporan, kita bisa bicara di ruang pengaduan.”

Pria paling depan, berbadan besar dengan topi hitam, menunjuk wajah Fajar.

“Jangan banyak aturan! Dokter kalian bunuh orang!”

“Kasus siapa?” tanya Fajar. “Sebutkan nama pasien, tanggal perawatan, nomor rekam medis. Kita cek.”

Pria itu tidak menjawab.

Ia justru menoleh ke belakang, memberi isyarat. Dua orang membuka spanduk lebih lebar, sementara seorang perempuan mulai menangis keras dengan suara yang terlalu dibuat-buat.

“Ayah saya mati karena dokter di sini! Kalian tutup-tutupi!”

Ardi mendekat satu langkah, tetap merekam.

Kamera ponselnya menangkap wajah mereka satu per satu. Ia sengaja tidak menyembunyikan gerakannya.

“Saya sedang merekam,” kata Ardi. “Semua kekerasan, ancaman, dan gangguan pelayanan pasien akan menjadi bukti.”

Pria bertopi hitam menoleh.

Matanya langsung menyipit. “Nah, itu dia! Itu dokter yang katanya hebat itu!”

Beberapa orang bergerak mendekati Ardi.

Rudi muncul lagi dari ruang tindakan, napasnya cepat. “Di, pasien stroke sudah masuk zona aman. Anak demam tinggi juga sudah dipindah.”

“Bagus. Kunci pintu tindakan dari dalam. Jangan ada yang terpancing.”

Rudi mengangguk, lalu berteriak ke perawat, “Dengar Dokter Ardi! Semua tetap di belakang garis merah!”

Garis merah di lantai IGD biasanya hanya penanda area kerja medis. Malam itu, garis itu berubah menjadi batas hidup.

Pria bertopi hitam berdiri hanya dua langkah dari Ardi. Bau rokok menempel kuat dari jaketnya.

“Kamu yang namanya Ardi?” tanyanya.

“Saya dr. Ardi Pratama.”

“Mantan napi, kan?”

Beberapa orang di belakangnya tertawa kasar.

Fajar hendak maju, tetapi Ardi mengangkat tangan sedikit.

Jangan.

Itu yang mereka mau.

Mereka tidak datang untuk mencari keadilan. Mereka datang untuk membuat potongan video: dokter marah, dokter memukul, dokter arogan. Satu detik reaksi salah bisa menjadi senjata Rangga untuk menghancurkan semua yang baru saja Ardi bangun.

“Kalau Anda punya pengaduan medis, sebutkan identitas pasien,” kata Ardi. “Rumah sakit punya jalur komplain. Ada rekam medis, ada komite mutu, ada mediasi, ada laporan resmi.”

Pria itu menyeringai. “Jangan sok pintar.”

Lalu ia meludah.

Ludah itu mengenai dada jas dokter Ardi.

IGD mendadak hening setengah detik.

Rudi mengepalkan tangan. “Anjing, lo—”

“Rudi.”

Satu kata dari Ardi membuat Rudi berhenti.

Ardi menatap noda di jasnya, lalu kembali mengangkat ponsel. Wajahnya tidak berubah.

“Tindakan meludah kepada tenaga medis yang sedang bertugas sudah terekam,” katanya. “Lanjutkan kalau Anda ingin menambah bukti.”

Pria bertopi hitam kehilangan senyum.

Ia berharap Ardi meledak. Ia berharap mantan narapidana itu kembali menjadi gambar yang bisa dijual: kasar, berbahaya, tidak layak memakai jas putih.

Tapi Ardi hanya berdiri.

Tenang.

Lebih tenang dari orang yang merasa benar, lebih dingin dari orang yang sudah pernah kehilangan segalanya.

Seorang pria lain mendorong meja triase hingga menabrak dinding.

“Keluar semua dokternya! Biar warga lihat!”

Seorang pasien tua yang berbaring di brankar tersentak. Monitor portabelnya berbunyi cepat. Perawat muda yang menjaga brankar itu memucat.

Mata Ardi langsung berubah.

Ada batas yang tidak boleh disentuh.

Ia bergerak ke depan, bukan ke arah massa, melainkan ke arah brankar pasien. Tubuhnya menutup sisi pasien dari kerumunan.

“Pak Fajar, pasien hipertensi krisis itu pindahkan ke ruang resus. Rudi, bantu perawat. Sekarang.”

Nada Ardi tidak keras, tetapi semua tenaga medis bergerak.

Pria bertopi hitam mencoba menghalangi.

“Eh, jangan kabur!”

Ardi memiringkan tubuh, membiarkan kamera ponselnya tetap merekam tangan pria itu yang meraih lengan perawat.

“Lepaskan,” kata Ardi.

“Kalau tidak?”

“Anda menyentuh petugas medis dan menghalangi pemindahan pasien kritis. Itu bukan lagi demonstrasi. Itu tindak pidana.”

Pria itu tertawa, tetapi tawanya mulai kering.

Dari arah pintu luar, suara langkah berat terdengar serempak.

Enam pria berjas gelap masuk, tidak berteriak, tidak membawa spanduk. Mereka bergerak rapi, membuka jalur di depan pintu IGD. Di belakang mereka, seorang pria tinggi dengan kemeja lengan panjang memberi hormat singkat kepada Ardi.

“Dokter Ardi. Kami dari tim keamanan Pak Hartono. Beliau minta kami memastikan tidak ada pasien atau tenaga medis yang disakiti.”

Massa langsung ragu.

Pria bertopi hitam mundur setengah langkah. “Siapa kalian? Preman?”

Pria berjas itu menunjukkan kartu identitas perusahaan keamanan terdaftar. “Keamanan pribadi berlisensi. Kami tidak akan menyentuh siapa pun yang tidak menyerang. Tapi kami akan menjadi saksi.”

Ardi baru sempat menarik napas ketika sirene polisi terdengar dari luar.

Wajah pria bertopi hitam berubah total.

“Bubar!” teriak seseorang dari belakang.

Terlambat.

Dua anggota Polres Surabaya masuk lebih dulu, diikuti beberapa petugas lain. Fajar langsung mendekat sambil menunjuk kamera CCTV dan ponsel Ardi.

“Pak Polisi, semua terekam. Mereka mendorong satpam, mengganggu pasien, meludahi dokter, dan menghalangi pemindahan pasien kritis.”

Pria bertopi hitam mencoba bicara lebih keras. “Kami keluarga korban!”

Ardi menatapnya. “Nama korban?”

Pria itu diam.

“Tanggal perawatan?”

Tidak ada jawaban.

“Nomor rekam medis?”

Keringat muncul di pelipis pria itu.

Seorang polisi memandangnya tajam. “Jawab.”

Perempuan yang tadi menangis mulai menunduk. Tangisannya hilang seketika, seperti lampu yang dimatikan.

Satu per satu, massa itu dibawa ke sisi koridor untuk diperiksa. Beberapa mencoba menutup wajah dari kamera. Rudi, yang baru selesai memindahkan pasien, menatap mereka dengan napas panas.

“Tadi berani teriak. Sekarang malu direkam?”

Ardi menurunkan ponselnya hanya setelah petugas menguasai keadaan.

Noda ludah masih menempel di jasnya.

Fajar melihat noda itu. Rahangnya mengeras. “Kamu baik-baik saja?”

“Saya baik-baik saja. Pasien?”

“Aman,” jawab Rudi. “Yang hipertensi sudah masuk resus. Perawat tidak cedera, cuma kaget.”

Ardi mengangguk.

Baru saat itu Hendro muncul dari ujung koridor.

Jasnya rapi. Wajahnya dibuat cemas. Terlalu rapi untuk orang yang baru kembali dari keadaan darurat.

“Ada apa ini?” katanya. “Saya tadi ada urusan sebentar di luar. Kok bisa sampai ramai begini?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Fajar menatapnya lama.

Tatapan itu lebih tajam daripada teguran.

Hendro berdeham. “Saya benar-benar tidak tahu.”

Rudi mendengus. “Pas sekali, Dok. Kerusuhan datang, Anda hilang. Polisi datang, Anda muncul.”

Wajah Hendro menegang. “Jaga mulut kamu, Rudi.”

Ardi menyimpan video ke cloud sebelum memasukkan ponsel ke saku.

“Pak Hendro,” katanya datar, “nanti kita lihat rekaman CCTV. Jam berapa Anda keluar, lewat pintu mana, dan siapa yang menelepon Anda sebelumnya.”

Hendro membeku.

Di luar IGD, salah satu polisi menerima laporan singkat dari anggotanya. Ia lalu mendekati Fajar dan Ardi.

“Dokter, beberapa orang ini akan kami bawa untuk pemeriksaan. Ada satu yang mulai bicara. Katanya mereka dibayar untuk datang malam ini.”

Fajar bertanya, “Dibayar siapa?”

Polisi itu melirik catatannya.

“Dia bilang, orang yang mengatur memakai nama Pradana.”

Koridor yang tadi penuh teriakan mendadak terasa dingin.

Ponsel Ardi bergetar.

Nama Hartono muncul di layar.

Ardi mengangkat.

Suara Hartono terdengar rendah, tetapi setiap katanya seperti palu yang sudah memilih sasaran.

“Ardi, sudah saatnya kita selesaikan urusan dengan keluarga Pradana. Saya sudah siapkan tim pengacara.”

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!