Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Hak yang Harus Direbut Kembali
Semburat jingga di ufuk barat perlahan menghilang, berganti dengan malam yang mulai menyelimuti langit. Arini baru saja menyelesaikan salat Magrib. Setelah melipat mukenanya dengan rapi, dia duduk sejenak di atas sajadah, melangitkan doa dengan khusyuk.
Meski badai sedang menerpa hidupnya, setiap selesai salat selalu ada ketenangan yang menyusup ke dalam hati. Setidaknya, untuk beberapa saat, beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Baru saja Arini hendak berdiri, ponselnya yang berada di atas nakas berdering. Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya terangkat.
Hani.
Sahabat yang telah menemaninya sejak mereka sama-sama tinggal di Panti Asuhan Al Amanah. Mereka tumbuh bersama, berbagi cerita, tangis, dan tawa hingga menganggap satu sama lain sebagai saudara kandung. Kini Hani telah menikah dengan Omar dan tinggal di Bandung Barat, tetapi hubungan mereka tetap sedekat dulu.
Arini segera menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Rin, aku lagi di perjalanan menuju toko online-mu. Jangan ke mana-mana, ya. Aku sudah tahu semuanya dari Ibu."
Arini langsung tahu siapa yang dimaksud Hani.
"Ibu" yang mereka maksud adalah Bu Khadijah, pemilik dan pengasuh Panti Asuhan Al Amanah yang telah merawat dan membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang. Bagi Arini dan Hani, Bu Khadijah bukan sekadar pengasuh, melainkan sosok ibu yang selama ini mengisi kekosongan dalam hidup mereka.
"Eh, Han... nanti suamimu enggak apa-apa?"
"Kebetulan Mas Omar lagi tugas luar. Aku juga sudah izin sama beliau buat nemuin kamu."
Arini tersenyum tipis. Hatinya terasa hangat mengetahui sahabatnya rela datang malam-malam hanya untuk menemaninya.
"Oke, kalau begitu aku tunggu. Nanti langsung saja ke kamarku di lantai atas."
"Siap. Sebentar lagi sampai."
"Hati-hati di jalan, gak usah ngebut!"
"Siap."
Sambungan telepon pun berakhir. Arini meletakkan ponselnya di atas nakas. Untuk pertama kalinya sejak hari itu, dia merasa tidak benar-benar sendirian. Masih ada orang-orang yang tulus mengkhawatirkannya.
Tak sampai satu jam kemudian, terdengar suara ketukan pelan di pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
Arini segera bangkit dan membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka, mata kedua sahabat itu langsung bertemu.
"Hani...'
"Rin..."
Tak ada sapaan panjang ataupun basa-basi. Mereka langsung saling mendekat dan berpelukan erat.
Pelukan itu menjadi tempat berlabuh bagi semua rasa yang selama ini dipendam. Hani mengusap lembut punggung Arini, seolah ingin mengatakan bahwa sahabatnya tidak harus menghadapi semua ini seorang diri.
Arini memejamkan mata. Kehangatan pelukan itu perlahan meruntuhkan ketegarannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi.
"Sudah... aku di sini, Rin," bisik Hani lirih.
Kalimat sederhana itu justru membuat tangis Arini pecah. Kini, setelah sekian lama berusaha terlihat kuat, dia membiarkan dirinya menangis di pelukan sahabat yang telah dianggapnya sebagai saudara sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Hani pelan. Sorot matanya dipenuhi kekhawatiran saat menatap wajah Arini yang tampak jauh lebih pucat daripada biasanya. "Kok kamu ingkar janji?"
Arini mengerutkan kening, seolah tak langsung memahami maksud ucapan sahabatnya itu.
"Apa maksudmu, Han?"
Hani menghela napas panjang. "Dulu kita pernah janji, kan? Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, kita bakal saling cerita. Senang kita bagi berdua, sedih juga kita hadapi berdua. Tapi sekarang... kamu malah memendam semuanya sendirian. Kalau aku gak ke rumah ibu hari ini, mungkin sampai sekarang aku gak akan tahu, apa yang sedang menimpamu."
Kalimat itu membuat dada Arini terasa sesak. Ingatan tentang janji yang mereka buat bertahun-tahun lalu di panti asuhan Al Amanah kembali memenuhi benaknya. Saat itu mereka berdua saling menggenggam tangan, berjanji tak akan pernah membiarkan yang lain menangis sendirian.
"Aku cuma nggak mau merepotkanmu, Han," ucap Arini lirih, nyaris tak terdengar. "Kamu sekarang sudah punya keluarga. Aku pikir... masalahku nggak seharusnya ikut membebanimu."
Hani langsung menggeleng tegas. "Jangan pernah berpikir begitu. Menikah bukan berarti aku berhenti jadi sahabatmu. Justru karena kamu sahabatku, aku ingin tahu kalau kamu sedang terluka. Siapa tahu aku bisa bantu meringankan bebanmu"
Ia meraih kedua tangan Arini, menggenggamnya erat.
"Harusnya kamu cerita sama aku, bukan dipendam sendirian. Kamu tahu, kan? Luka yang terus disimpan itu nggak akan sembuh. Malah makin dalam."
"Tadi aku ke panti, anak-anak bilang kalau dua hari lalu kamu nginep di sana. Terus aku tanya ibu, awalnya ibu gak mau cerita kenapa kamu nginep di sana selama dua hari. Tapi setelah didesak, akhirnya ibu cerita kalau suamimu membawa istri keduanya tepat di hari ulang tahun pernikahan kalian yang kedua."
Arini tersenyum hambar. Senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan.
"Iya. Paginya, kamu masih sempat ngucapin, 'Happy second anniversary,' kan?" Arini menatap Hani sesaat sebelum kembali menerawang. "Siangnya aku sibuk menyiapkan semuanya. Aku bikin kue sendiri, masak makanan kesukaan Mas Galang dan keluarganya. Aku ingin malam itu menjadi momen spesial untuk merayakan dua tahun pernikahan kami."
Ia menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri. "Tapi ternyata, semua persiapanku sia-sia. Yang datang bukan kebahagiaan, melainkan kehancuran."
Suara Arini mulai bergetar.
"Dengan santainya ibu mertuaku memperkenalkan Mayang sebagai istri kedua Mas Galang. Bayangkan Han. mereka ternyata sudah menikah seminggu sebelumnya, bahkan baru pulang bulan madu. Semua orang tahu, kecuali aku yang masih sibuk menyiapkan pesta ulang tahun pernikahan."
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Coba bilang, siapa yang nggak syok menerima kenyataan seperti itu?"
Hani mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras menahan amarah yang ikut membuncah.
"Makanya, Rin. Jangan cuma menangis. Kamu harus membalas semua rasa sakit yang mereka berikan!"
Arini mengusap air matanya. "Aku sudah mengajukan gugatan cerai, Han."
"Itu baru awal." Hani menggeleng. "Ambil semua yang memang menjadi hakmu. Jangan biarkan mereka hidup enak menikmati hasil kerja kerasmu!"
Arini mengangguk pelan. "Aku sudah mengambil mobil yang selama ini dipakai Mas Galang untuk bekerja."
"Bagus." Mata Hani berbinar puas. "Sekarang ambil juga rumahmu!"
Arini terdiam.
"Enak saja mereka tinggal nyaman di rumah yang kamu beli dengan jerih payahmu, sementara kamu justru harus tinggal di sini."
"Sebenarnya aku juga kepikiran begitu, Han." Arini mengembuskan napas panjang. "Tapi mengusir mereka dari rumah itu pasti nggak semudah yang dibayangkan."
Hani tersenyum tipis, seolah sudah menyiapkan jawabannya sejak tadi. "Gampang."
Arini mengangkat wajahnya.
"Jual saja rumah itu. Toh kamu juga pasti gak mau tinggal lagi di rumah itu, rumah yang banyak meninggalkan kenangan dengan Mas Galang."
"Iya sih, kamu benar. Tapi kamu serius memintaku menjual rumah itu? Kamu tahu sendiri, betapa aku bekerja keras untuk memiliki rumah itu."
"Iya aku serius. Aku tahu, rumah itu sangat berarti bagimu. Tapi, setelah kejadian ini, aku yakin kamu tidak akan mau tinggal lagi di sana. Ya kan?"
"Iya." Arini mengangguk.
"Jadi gini, kalau rumah itu dijual dan sudah berpindah tangan, pemilik barulah yang akan mengurus semuanya. Biar mereka yang meminta Galang, ibu mertuamu, Mayang, dan Vera angkat kaki. Kamu nggak perlu capek-capek menghadapi mereka."
Mata Arini membulat. Ia menatap Hani tak berkedip.
"Apa?" Arini menatap sahabatnya yang masih bicara dengan semangat.
_________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.