Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah semua perlengkapan salon tersusun rapi di dalam mobil dan urusan belanja selesai, mereka berdua sepakat untuk beristirahat sejenak sambil menikmati makan siang di sebuah kafe yang nyaman dan tenang tidak jauh dari sana.
Sambil menunggu pesanan makanan datang, Suci membuka kembali akun media sosialnya. Matanya seketika membelalak tak percaya melihat jumlah notifikasi yang menumpuk.
"Wah, Sam! Lihat ini!" seru Suci sambil menyodorkan ponselnya ke arah Samantha. "Ternyata baru sebentar aku unggah, tapi sudah sangat banyak sekali orang yang berminat melamar pekerjaan di salon kita. Komentar dan pesan masuknya sampai memenuhi layar!"
Samantha tersenyum puas melihat antusiasme itu. "Syukurlah kalau begitu. Berarti usaha kita sudah mulai dikenal dan menarik minat orang baik sejak awal."
Lalu Samantha menatap Suci dengan arahan yang jelas. "Baik, Suci. Balaslah pesan mereka satu per satu atau buat pengumuman balasan. Sampaikan kepada para pelamar untuk datang langsung ke alamat ruko kita pada hari dan jam yang sudah kita tentukan. Jelaskan juga bahwa mereka akan mengikuti tahap wawancara dan seleksi kemampuan, supaya mereka pun bersiap dengan baik."
"Baik, Sam. Aku akan segera melakukannya," jawab Suci patuh.
Ia pun segera mengetik pesan balasan yang sopan dan jelas, menyampaikan undangan serta keterangan seleksi tersebut sesuai petunjuk Samantha. Hati mereka semakin berbunga-bunga, menyadari bahwa langkah demi langkah menuju pembukaan salon impian ini berjalan jauh lebih lancar dari yang dibayangkan.
Sambil menunggu hidangan tersaji, mereka duduk santai sambil terus berdiskusi menata rencana kegiatan apa saja yang akan disiapkan untuk pembukaan nanti mulai dari penataan dekorasi, daftar layanan perawatan, hingga promosi sederhana untuk menarik pelanggan pertama. Suasana meja mereka terasa hangat dan riuh penuh ide.
Tiba-tiba pintu kafe terbuka, dan dua orang pria berpenampilan rapi melangkah masuk. Saat suara langkah kaki itu terdengar mendekat, Samantha dan Suci serentak menoleh. Mata mereka terbelalak tak menyangka ternyata yang datang adalah Samuel dan Gio.
Samuel langsung menatap lekat ke arah meja mereka, matanya tak lepas dari wajah Samantha. Ia lalu melangkah mendekat dengan perlahan, membuat jantung Samantha berdegup kencang dan kata-kata yang hendak terucap seketika tertahan di tenggorokan. Suci pun ikut terdiam, menyadari kehadiran pria yang selama ini diam-diam dicintai sahabatnya itu.
Samuel berhenti tepat di samping meja mereka, menyapa dengan nada yang terdengar sedikit canggung namun tetap sopan.
"Selamat siang... kebetulan sekali bertemu kalian di sini," ucap Samuel pelan, matanya menatap Samantha sejenak sebelum beralih ke Suci.
Samantha tersentak sejenak, lalu segera mengumpulkan keberaniannya untuk membalas sapaan itu. Wajahnya terasa sedikit hangat, namun ia berusaha tersenyum tenang.
"Selamat siang, Samuel. Iya, benar-benar kebetulan yang tidak terduga," jawab Samantha lembut.
Samuel menarik napas pelan, lalu menatap mereka berdua dengan penuh harap. "Bolehkah saya dan Gio ikut duduk bersama kalian sebentar? Kami baru saja tiba dan belum menentukan tempat duduk."
"Tentu saja boleh," jawab Samantha segera sambil mengangguk. "Silakan duduk, jangan sungkan."
Suci pun ikut tersenyum ramah dan menggeser sedikit kursinya agar mereka memiliki ruang yang cukup. Samuel dan Gio pun duduk berhadapan dengan mereka, suasana di meja itu kini terasa lebih hidup meski masih ada sedikit rasa canggung yang menyelimuti.
Setelah memanggil pelayan kafe dan memesan hidangan serta minuman untuk mereka berdua, Samuel kembali menatap ke arah Samantha dan Suci dengan rasa ingin tahu.
"Dari tadi kami melihat kalian tampak sangat serius dan bersemangat mengobrol," ucap Samuel lembut. "Bolehkah saya tahu apa yang sedang kalian bahas?"
Samantha tersenyum, lalu menjelaskan dengan rinci. "Kami sedang membicarakan persiapan pembukaan salon kecantikan kami. Tadi pagi kami baru saja mendapatkan ruko yang sangat cocok, lalu membeli semua perlengkapannya. Sekarang kami menyusun rencana kegiatan dan seleksi calon karyawan untuk usaha ini."
Mendengar penjelasan itu, mata Samuel menatap Samantha dengan penuh kekaguman yang tulus. Ia tak menyangka wanita yang ia cintai ternyata begitu cekatan, mandiri, dan memiliki visi yang jelas.
"Kamu memang hebat , Samantha," puji Samuel dengan nada tulus. "Kau mampu mengurus segalanya dengan begitu rapi dan cepat. Aku sangat kagum melihat semangat dan kemampuanmu mewujudkan rencanamu sendiri. Kamu benar-benar wanita yang hebat."
Pujian tulus itu membuat wajah Samantha merona malu, namun hatinya terasa hangat dan senang.
Tak lama kemudian, hidangan yang dipesan pun tersaji rapi di atas meja. Mereka menikmati makanan masing-masing dengan tenang, sesekali diselingi obrolan ringan yang mencairkan suasana. Setelah perut terisi dan piring kosong tersusun rapi, Samuel menatap Samantha dengan tatapan yang sedikit lebih serius namun tetap lembut.
"Samantha, bolehkah aku meminta izin untuk berbicara berdua saja denganmu sebentar? Ada hal yang ingin aku sampaikan secara pribadi," pinta Samuel perlahan.
Samantha terdiam sejenak, matanya melirik ke arah Suci. Ragu mulai menyelimuti hatinya. "Ehm... aku sebenarnya tidak ingin meninggalkan Suci sendirian di sini," jawabnya pelan.
Samuel tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah sahabatnya. "Tidak perlu khawatir soal Suci. Nanti Suci akan pulang ditemani oleh Gio."
Seketika itu juga, Suci dan Gio serentak menoleh dengan mata terbelalak tak percaya. Wajah mereka sama-sama menampakkan keterkejutan. Mereka berdua masih ingat betul sejak masa sekolah dulu, mereka hampir tidak pernah saling berbicara, bahkan sekadar menyapa pun jarang terjadi.
"Eh... maksudmu aku yang mengantar Suci pulang?" tanya Gio terbata-bata, tak menyangka akan ditugaskan demikian. Ia hendak menolak pelan, "Tapi Samuel, kita kan..."
Belum sempat Gio menyelesaikan kalimatnya, Samuel menatapnya sekilas dengan pandangan yang seolah meminta tolong sekaligus menegaskan. Melihat tatapan itu, Gio seketika menelan kata-katanya dan mengangguk pasrah. "Maksudku... tentu saja. Tidak masalah. Aku akan mengantar Suci pulang dengan selamat."
Suci yang masih terkejut pun hanya bisa tersenyum canggung namun mengangguk sopan. "Terima kasih, Mas Gio... kalau begitu aku tidak keberatan."
Melihat persetujuan itu, keraguan di hati Samantha pun perlahan hilang. Ia menatap Samuel dan mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi ."
Begitu sosok Samuel dan Samantha menghilang di balik pintu kafe, suasana di meja itu seketika menjadi hening. Suci menunduk memainkan ujung serbet di tangannya, sementara Gio menatap ke arah jendela, sama-sama merasakan kecanggungan yang luar biasa. Dulu saja mereka jarang berpapasan apalagi mengobrol, kini harus berjalan dan pulang bersama—rasanya terasa sangat asing.
Gio berdehem pelan beberapa kali untuk memecah keheningan itu, lalu menoleh ke arah Suci dengan senyum yang berusaha terlihat santai.
"Ehm... sepertinya kita juga harus segera berangkat pulang ya," ucap Gio dengan suara yang terdengar sedikit kaku. "Jangan khawatir, aku akan mengantarmu sampai ke depan pintu rumah dengan selamat."
Suci mendongak perlahan, lalu tersenyum canggung sambil mengangguk. "Iya... terima kasih banyak, Mas Gio. Maaf ya merepotkanmu."
"Sama sekali tidak merepotkan," jawab Gio cepat, lalu berdiri menuntun langkahnya. "Ayo kita berangkat."
Mereka pun berjalan berdampingan keluar dari kafe, langkah kaki mereka terasa hati-hati seolah takut salah bicara, namun perlahan mulai berusaha menyesuaikan diri dengan kehadiran satu sama lain.
Bersambung...