NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 ~ Dia Alasannya

Beberapa jam kemudian...

Pesawat pribadi milik keluarga Kingston akhirnya mendarat mulus di landasan pacu bandara internasional kota itu. Tak lama setelah roda pesawat berhenti berputar, tangga khusus segera didorong mendekati pintu kabin.

Begitu pintu terbuka, Garra melangkah keluar lebih dulu. Ia mengenakan jas hitam yang rapi, postur tubuhnya tegap, tatapannya tajam dan penuh wibawa dari balik kacamata hitam yang ia kenakan, persis seperti seorang pemimpin perusahaan besar yang biasa dikenal banyak orang. Di belakangnya, Ervan mengikuti sambil membawa tas kerja berisi dokumen penting.

Di bawah sudah menunggu beberapa orang pengawal dan sopir yang langsung memberi hormat begitu melihat tuannya turun.

"Selamat datang kembali, Tuan," ucap salah satu pengawal dengan nada hormat.

Garra hanya mengangguk singkat tanpa banyak bicara. Matanya melirik sekeliling, seolah sudah terbiasa dengan penyambutan seperti ini, namun hari ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya ada ketegangan yang tersembunyi, seolah ada tujuan khusus yang ingin segera ia capai.

"Semua kendaraan sudah siap, Tuan. Kita bisa langsung berangkat ke kantor atau ke rumah sesuai keinginan Anda," lanjut Ervan di sampingnya.

Garra melangkah menuju mobil sedan hitam mewah yang sudah terparkir tepat di depan. Sebelum masuk, ia berhenti sejenak dan menoleh ke kanan.

"Ke kantor dulu." jawabnya singkat.

"Baik." jawab Ervan cepat.

"Satu hal lagi, cari tahu alamat lengkap apartemen yang ditempati Hezlin. Aku ingin tahu persis di mana dia tinggal sekarang," perintahnya dengan suara rendah namun tegas, hanya terdengar oleh Ervan.

Wajah Ervan sedikit berubah, namun ia segera mengangguk paham. "Siap, Tuan. Saya akan pastikan data itu didapatkan paling lambat sore ini juga."

Setelah pintu mobil ditutup, kendaraan itu segera melaju meninggalkan area bandara, diikuti oleh satu mobil lain yang berisi pengawal untuk menjaga keamanan.

Di dalam mobil, Garra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menurunkan kacamatanya lalu menatap keluar jendela. Pemandangan kota yang mulai ramai terlewati begitu saja, namun pikirannya tidak terfokus pada jalanan itu.

Pikirannya terus melayang pada Hezlin pada keputusannya mengembalikan semua fasilitas, pada langkahnya mencari pekerjaan sendiri, pada kenyataan bahwa wanita itu kini bekerja di perusahaan saingannya.

Di satu sisi, ada rasa kesal yang belum hilang merasa seolah-olah ia ditolak dan dianggap tidak dibutuhkan lagi. Namun di sisi lain, ada rasa ingin tahu yang semakin kuat, tanpa sadar mulai tumbuh melihat ketegasan hati istrinya itu.

••

••

Malam ini, sekitar pukul delapan malam, Hezlin masih duduk di depan meja kerjanya. Ia fokus meneliti daftar kebutuhan dan jadwal pertemuan kerja sama dengan beberapa perusahaan lain, memastikan tidak ada satu pun hal yang terlewat atau salah tulis.

Tak lama kemudian, Kael yang baru saja keluar dari ruang kerjanya bersama asisten pribadinya melintas di lorong. Matanya langsung menangkap sosok wanita itu yang masih sibuk di balik tumpukan berkas.

Langkahnya terhenti, lalu ia melangkah mendekat.

"Hezlin? Kamu masih di sini?" tanyanya dengan nada terkejut.

Hezlin mendongak, lalu tersenyum tipis. "Iya... aku masih butuh beberapa menit lagi untuk menyelesaikan semuanya. Sebentar lagi selesai."

Kael menggeleng pelan, menatap jam di pergelangan tangannya. "Tidak perlu buru-buru sampai begini. Lebih baik kamu pulang sekarang saja, besok bisa dilanjutkan lagi."

"Tidak, Kael. Aku sudah berjanji tidak akan mengecewakanmu, apalagi ini tugas yang dipercayakan langsung padaku," jawab Hezlin tegas namun sopan, tangannya masih terus memeriksa satu per satu catatannya.

Melihat ketegasan wanita itu, Kael hanya bisa mengangguk mengerti. "Baiklah. Kalau begitu jangan terlalu memaksakan diri."

Ia terdiam sejenak, lalu bertanya lagi, "Ngomong-ngomong... kamu membawa mobil sendiri ke kantor hari ini?"

Hezlin menggeleng pelan. "Tidak. Aku akan naik angkutan umum saja nanti."

"Angkutan umum?" Kael mengulang kalimat itu dengan nada terkejut, alisnya terangkat.

Dia sangat mengenal Hezlin wanita yang tidak berasal dari kalangan biasa. Baginya, melihat Hezlin memilih naik angkutan umum terasa agak aneh.

Namun tidak demikian bagi Hezlin sendiri. Ia sudah bertekad tidak mau lagi bergantung pada fasilitas siapa pun, bahkan keluarganya sekalipun. Jalan hidup yang dipilihnya, akan ia jalani dan tanggung jawabi sepenuhnya.

"Hmm," jawab Hezlin singkat sambil tersenyum menatap wajah Kael.

Kael mendekat lagi, suaranya terdengar lebih perhatian. "Hezlin, tapi ini sudah malam... tidak baik jika kamu pulang sendirian. Lagipula angkutan umum pada jam begini juga sudah tidak banyak lewat, dan jalannya pun tidak terlalu aman untuk seorang wanita pulang sendirian."

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada menawarkan bantuan, "Kalau begitu bagaimana jika aku yang mengantarmu pulang?"

Hezlin menggeleng. "Tidak perlu repot-repot, Kael. Aku bisa pulang sendiri."

"Hezlin... Anggap ini bukan penawaran, tapi perintah."

Setelah beberapa detik mencoba mempertimbangkan, akhirnya Hezlin menyetujuinya.

"Baiklah."

Akhirnya setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Hezlin mengikuti Kael menuju ke bestmen. Pria itu membukakan pintu mobil untuknya dengan sopan, baru kemudian melangkah ke sisi pengemudi dan menyalakan mesin kendaraan yang siap melaju.

Di dalam mobil yang bergerak perlahan meninggalkan area kantor, suasana terasa tenang sesaat, sampai Kael memecah keheningan.

"Apa suamimu tidak akan marah jika aku mengantarmu pulang seperti ini?" tanyanya sambil sesekali melirik ke samping, nada suaranya terdengar sedikit khawatir.

Hezlin menatap ke luar jendela, senyum tipis terukir di bibirnya, namun terasa getir. Ia menggeleng perlahan.

"Kami akan segera bercerai."

Kael menoleh cepat, matanya terbelalak kaget. "Bercerai? Kenapa?"

Hezlin menarik napas panjang, seolah menimbang-nimbang kata yang akan diucapkannya. "Hidup yang tidak pernah memberi kebebasan, hanya menjadi pelengkap dan bayangan orang lain. Lebih baik berpisah daripada terus terjebak dalam perasaan hampa dan tidak dihargai."

Kael terdiam mendengar penjelasan itu, tapi dalam hatinya muncul dugaan sendiri. Dugaan itu membuatnya merasa semakin perlu melindungi Hezlin yang menurutnya sedang terluka dan membutuhkan tempat bersandar.

Tanpa sadar, nada bicaranya menjadi lebih lembut dan penuh perhatian, seolah memberi kode bahwa ia siap mendukung apa pun keputusan wanita itu.

"Kalau begitu... mulai sekarang jangan ragu untuk meminta bantuan apa pun padaku. Kamu tidak sendirian, Hezlin."

Ucapan itu terdengar sangat akrab dan dekat, sebagai seorang sahabat Kael tidak ingin melihat Hezlin memikul bebannya seorang diri.

••

Di sisi lainnya...

"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Ervan.

Mobil mereka berhenti tak jauh dari gedung apartemen tempat Hezlin tinggal saat ini. Garra tidak langsung turun. Ia lebih memilih duduk diam di dalam mobil, mengamati suasana di depan sana dari balik kaca jendela yang gelap, seolah ingin memastikan segala sesuatunya dengan matanya sendiri.

Hingga beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan pintu lobi apartemen itu.

Pintu mobil terbuka, dan Hezlin turun dengan langkah yang tenang. Begitu berdiri tegak, ia menoleh ke dalam mobil dan melambaikan tangan pada pria yang masih duduk di balik kemudi.

"Terima kasih banyak, Kael," ucapnya dengan nada ramah.

Dari dalam mobil, Kael menjawab sambil sedikit mencondongkan badan ke depan.

"Sama-sama. Jangan sungkan jika kamu membutuhkan sesuatu, apa pun itu. Kamu bisa menghubungiku kapan saja."

Hezlin tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Baik. Hati-hati di perjalanan pulang."

Setelah melihat mobil itu melaju pergi, barulah Hezlin berbalik dan masuk ke dalam gedung apartemen.

Namun adegan singkat itu sudah cukup membuat pandangan Garra menggelap tajam. Rahangnya mengeras, dan genggamannya di sandaran kursi mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.

Dari jarak pandangnya, ia hanya melihat Hezlin turun dari mobil pria lain, melambai, dan mendengar nada bicara yang terdengar begitu akrab.

Pikiran negatif langsung memenuhi kepalanya.

Rasa panas membara menjalar di dadanya, campuran antara cemburu, marah, dan rasa terkhianat yang tiba-tiba meledak. Ia tidak tahu percakapan apa saja yang terjadi yang ia lihat hanyalah kenyataan yang membuatnya merasa seolah-olah ia sudah digantikan sepenuhnya.

"Jadi dia alasannya," gumam Garra dengan suara rendah, dingin, dan sarat amarah yang tertahan.

Ervan yang duduk di kursi depan hanya diam, berani menoleh sekilas melihat raut wajah tuannya yang sudah berubah gelap, tahu betul bahwa situasi ini baru saja memicu kemarahan yang sudah lama dipendam.

"Kita pulang." perintah Garra tegas.

❤️

1
Zhao_Xena
bagi yang sudah membaca, author minta maaf ada revisi sedikit didalamnya yakk... tidak banyak tapi cukup mempengaruhi ceritanya.. terimakasih 💋
Siti Amalia
ceritanya bagus banget thor, jgn digantung ceritanya ya ...plisss
Siti Amalia
Novel nya bagusss banget thor ..jgn digantung ceritanya. plisss
Zhao_Xena: terimakasih banyak, selalu author usahakan sampai selesai ya... 🥰
total 1 replies
Emi Sudiarni
krang suka dgn sikat nya hezlin, kok cpat ambil kesimpulan klw garra mau kmbalidgn felicia
Alya Bau
up lagi kak, ceritanya seru😍
Zhao_Xena: di tunggu ya kak../Smile/
total 1 replies
Siti M Akil
lanjut thor
Zhao_Xena: Siap kak 🫡
total 1 replies
You `ka
lanjut 💪
Zhao_Xena: siap!🫡
total 1 replies
You `ka
semoga saja hamil, biar Felicia nggak ada kesempatan ganggu lagi
You `ka
🤣🤣🤣 kode itu.. butuh yang anget-anget
You `ka
jih! dasar ulat bulu. ada aja akalnya si Felicia.
You `ka
mendingan mundur deh, Felicia.. hati Garra udah bukan buat kamu 🤣🤣
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut thor💪
Zhao_Xena: siap🫡
total 1 replies
🥀
laki kayak garra ni perlu dibuang kelaut
Zhao_Xena: buang aja kak.... biar dimakan paus 🤣🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Kalau memang Hezlin beneran hamil, lebih baik tidak bercerai, dan Garra harus memperbaiki diri, jangan terus bersama Felicia..😤😤
Zhao_Xena: Garra harus belajar menjadi lebih romantis dan tidak kaku mungkin ya kak?🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Garra mulai posesif...😝😝😝
Brown choco
Lemah banget cewe nya
You `ka
sampai muak Garra... sampai gumooh...🤣🤣🤣. jangan² Hezlin hamil itu..
You `ka
wahh.. seru ini.../Joyful/
You `ka
mampus! kena mental kan dengan jawaban Hezlin?🤣🤣
You `ka
wahh.. kael, jangan terlalu berharap dulu pada Hezlin.. takutnya nanti patah hati..🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!