Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.
Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.
Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.
Melainkan kesepakatan.
Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.
Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.
Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.
Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?
Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara di Malam Kematian
Wajah Ratih Mahesa berubah pucat.
Bukan pucat karena luka tembak yang masih menguras tenaganya.
Bukan pula karena kelelahan setelah malam panjang yang penuh rahasia.
Melainkan pucat karena ketakutan.
Ketakutan yang selama bertahun-tahun berhasil ia sembunyikan.
Dan itu membuat seluruh ruangan membeku.
Aruna menatap wanita itu tanpa berkedip.
Jantungnya berdetak sangat keras.
Karena ia tidak ingin mempercayainya.
Setelah semua yang terjadi malam ini, satu-satunya orang yang masih terlihat tulus kepadanya adalah Ratih.
Wanita itu berkali-kali melindunginya.
Berkali-kali mempertaruhkan diri demi keselamatannya.
Namun sekarang...
Dimas baru saja menunjuknya.
Dan ekspresi Ratih membuat semuanya semakin buruk.
"Bu..."
Suara Adrian terdengar pelan.
Untuk pertama kalinya malam itu, pria itu terlihat benar-benar kehilangan pijakan.
Ratih tidak menjawab.
Matanya hanya tertuju kepada Dimas.
Tatapan dua orang yang sama-sama memikul beban masa lalu.
Sama-sama menyimpan luka.
Sama-sama menyimpan rahasia.
Dan itu membuat suasana semakin menyesakkan.
"Apa maksudmu?"
tanya Adrian lagi.
Kali ini lebih tegas.
Lebih keras.
Lebih mendesak.
Namun Ratih masih diam.
---
"Dimas."
Jonathan menyilangkan tangan.
Nada suaranya penuh rasa ingin tahu.
"Ini menarik."
Tatapannya tajam.
"Sangat menarik."
Dimas tidak memedulikannya.
Ia hanya menatap Ratih.
Lalu perlahan berkata,
"Malam itu aku datang terlambat."
Ruangan langsung sunyi.
Karena semua orang tahu.
Mereka sedang mendengar cerita yang selama enam belas tahun tersembunyi.
Cerita tentang malam ketika Alya meninggal.
Cerita yang menjadi awal dari seluruh tragedi.
"Aku menerima telepon dari Alya."
Suara Dimas mulai bergetar.
Matanya memerah.
Kenangan lama kembali menyerangnya.
Kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
"Dia terdengar ketakutan."
Aruna langsung menahan napas.
"Alya bilang dia harus bertemu seseorang."
"Seseorang yang akhirnya bersedia memberitahukan kebenaran."
Ratih perlahan memejamkan mata.
Seolah sudah tahu ke mana cerita ini akan menuju.
"Aku memintanya menunggu."
kata Dimas.
"Tapi dia menolak."
"Kenapa?"
bisik Aruna.
Dimas tersenyum pahit.
"Karena ibumu keras kepala."
Meski situasi begitu berat, Aruna merasakan dadanya menghangat sesaat.
Entah kenapa.
Kalimat sederhana itu membuat ibunya terasa hidup.
Terasa nyata.
Bukan sekadar korban.
Bukan sekadar nama dalam cerita.
Melainkan seorang wanita dengan keberanian luar biasa.
---
"Aku menyusulnya."
lanjut Dimas.
"Tapi aku terlambat."
Ruangan kembali sunyi.
Karena bagian itulah yang paling menyakitkan.
Selalu.
"Aku tiba beberapa menit setelah semuanya terjadi."
Tangannya mulai gemetar.
"Dan saat aku sampai..."
Suaranya pecah.
"...Alya sudah tergeletak."
Aruna langsung menunduk.
Air mata kembali memenuhi matanya.
Meski tidak melihat kejadian itu secara langsung, rasa sakitnya tetap terasa.
Karena korban itu adalah ibunya.
Dan luka itu masih hidup sampai sekarang.
"Aku mencoba menolongnya."
kata Dimas.
"Tapi sudah terlambat."
Air mata mulai mengalir di wajah pria itu.
"Sudah terlambat."
---
Keheningan memenuhi ruangan.
Tidak ada yang memotong.
Tidak ada yang menginterupsi.
Karena bahkan Jonathan pun tampak mendengarkan.
"Aku tidak melihat wajah orang yang pergi dari tempat itu."
kata Dimas.
"Hanya bayangannya."
"Lalu bagaimana kau tahu itu Ratih?"
tanya Reza.
Dimas perlahan mengangkat kepala.
"Karena aku mendengar suaranya."
Ratih langsung menutup mata.
Sementara Adrian membeku.
"Aku mendengar seorang wanita."
Dimas melanjutkan.
"Dia sedang menangis."
"Tidak mungkin..."
bisik Adrian.
Namun Dimas terus berbicara.
"Aku tidak terlalu memikirkannya saat itu."
"Karena pikiranku hanya tertuju pada Alya."
"Tapi bertahun-tahun kemudian..."
Tatapannya berhenti pada Ratih.
"...aku mendengar suara yang sama."
Ruangan terasa kehilangan udara.
"Aku mengenalinya."
Suara Dimas bergetar.
"Dan sejak saat itu aku tidak pernah bisa melupakannya."
---
"Jadi menurutmu aku membunuh Alya?"
Ratih akhirnya berbicara.
Suaranya pelan.
Sangat pelan.
Namun justru itu membuat semua orang semakin tegang.
Dimas tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia berkata,
"Aku tidak tahu."
Jawaban itu mengejutkan semua orang.
Termasuk Aruna.
"Apa?"
tanya Adrian.
Dimas menggeleng.
"Aku tidak pernah melihat wajahnya."
"Sampai hari ini aku tidak tahu siapa pembunuhnya."
"Lalu kenapa menunjuk Ibu?"
bentak Adrian.
Emosinya mulai pecah.
Karena ini menyangkut ibunya.
Dan siapa pun akan bereaksi sama.
Dimas menarik napas panjang.
"Karena Ratih ada di sana malam itu."
Ruangan kembali sunyi.
Dan kali ini...
Ratih tidak membantah.
---
Jantung Aruna terasa seperti diremas.
Karena diamnya Ratih adalah jawaban.
Jawaban yang tidak ingin ia dengar.
"Benarkah?"
Suara Aruna hampir tidak terdengar.
Ratih perlahan membuka mata.
Menatapnya.
Tatapan penuh rasa bersalah.
Penuh kesedihan.
Dan itu membuat dada Aruna semakin sesak.
"Ya."
Hanya satu kata.
Namun cukup membuat seluruh ruangan membeku.
"Aku ada di sana."
Air mata mulai mengalir dari mata Ratih.
"Aku bertemu ibumu malam itu."
Adrian langsung mundur selangkah.
Seolah dunia baru saja menghantamnya.
"Bunda..."
Ratih tidak mampu menatap putranya.
Karena selama bertahun-tahun, inilah rahasia yang paling ingin ia kubur.
Rahasia yang menghantuinya setiap malam.
Setiap hari.
Setiap kali ia menutup mata.
---
"Kenapa?"
tanya Aruna.
Ratih menelan ludah.
Lalu menjawab,
"Karena Alya menghubungiku."
Semua orang terdiam.
"Apa?"
tanya Mahendra.
Bahkan pria itu tampak terkejut.
Ratih mengangguk pelan.
"Dia menemukan sesuatu."
Tatapannya menjadi jauh.
Kembali ke malam enam belas tahun lalu.
"Malam itu dia memintaku datang sendirian."
"Kenapa tidak memberitahuku?"
Suara Mahendra terdengar terluka.
Ratih tersenyum pahit.
"Karena aku tidak percaya siapa pun."
Jawaban itu membuat Mahendra terdiam.
Karena ia tidak bisa menyalahkannya.
Pada masa itu, tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya.
---
"Alya menunjukkan foto kepadaku."
kata Ratih.
Jantung semua orang langsung berdegup lebih cepat.
Foto lagi.
Foto yang sama.
Foto tentang Surya Atmadja.
"Apa yang ada di foto itu?"
tanya Aruna.
Ratih memejamkan mata.
"Seorang pria."
"Dan?"
Ratih membuka matanya perlahan.
"Ayah ibumu."
Ruangan kembali membeku.
"Tapi bukan itu yang mengejutkan."
lanjut Ratih.
"Yang mengejutkan adalah siapa yang berdiri di sampingnya."
Keheningan.
Mencekam.
Penuh ketegangan.
"Siapa?"
bisik Aruna.
Ratih menatap Jonathan.
Lama.
Sangat lama.
Lalu berkata,
"Jonathan."
---
Jonathan tidak terlihat terkejut.
Tidak juga marah.
Ia hanya diam.
Dan diam itu terasa lebih mengerikan daripada reaksi apa pun.
"Kau sudah tahu."
kata Ratih.
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Jonathan tersenyum tipis.
"Tentu saja."
"Jadi kau mengenal Surya."
Ratih menatapnya tajam.
"Jauh sebelum kami mengenalmu."
Ruangan langsung sunyi.
Karena fakta itu mengubah segalanya.
Jika Jonathan mengenal Surya...
Maka hubungan mereka jauh lebih dalam daripada yang pernah dibayangkan.
---
"Alya menyadarinya malam itu."
kata Ratih.
"Dia menyadari bahwa semua cerita yang kita percaya selama ini salah."
Aruna mencoba memahami semuanya.
Namun kepalanya terasa penuh.
Terlalu banyak rahasia.
Terlalu banyak nama.
Terlalu banyak kebohongan.
"Lalu apa yang terjadi?"
tanyanya.
Ratih menunduk.
Tubuhnya mulai bergetar.
Air mata mengalir semakin deras.
Karena bagian inilah yang menghantuinya selama enam belas tahun.
Bagian yang tidak pernah bisa ia lupakan.
"Aku pergi."
katanya pelan.
"Apa?"
"Aku meninggalkan Alya."
Suasana langsung membeku.
"Aku bilang akan kembali."
Tangis Ratih pecah.
"Tapi aku pergi."
"Kenapa?"
teriak Aruna.
Ratih menutup wajahnya.
Karena rasa bersalah itu masih hidup.
Masih tajam.
Masih menyakitkan.
"Karena aku takut."
---
Kalimat itu menggema di ruangan.
Karena pada akhirnya...
Banyak tragedi lahir dari ketakutan.
"Aku takut jika apa yang ditemukan Alya benar."
kata Ratih.
"Aku takut semuanya akan hancur."
"Aku takut keluargaku ikut terlibat."
"Aku takut Adrian kehilangan masa depannya."
Air mata terus jatuh.
Dan untuk pertama kalinya...
Aruna melihat sisi manusia dalam diri Ratih.
Bukan pahlawan.
Bukan penjahat.
Hanya seorang wanita yang ketakutan.
Dan membuat keputusan yang salah.
---
"Aku pergi selama dua puluh menit."
lanjut Ratih.
"Dua puluh menit."
Suaranya pecah.
"Ketika aku kembali..."
Tangisnya semakin keras.
"...Alya sudah tidak ada."
Keheningan langsung menyelimuti ruangan.
Karena itulah inti semuanya.
Ratih memang ada di sana.
Tapi bukan sebagai pembunuh.
Melainkan saksi yang pergi.
Saksi yang meninggalkan temannya sendirian.
Dan penyesalan itu menghantuinya selama enam belas tahun.
---
Aruna tidak tahu apa yang harus dirasakan.
Marah?
Sedih?
Kecewa?
Ia tidak tahu.
Karena semua emosi itu bercampur menjadi satu.
Namun sebelum siapa pun sempat berbicara—
Tiba-tiba suara tepukan tangan terdengar.
Tepuk.
Tepuk.
Tepuk.
Jonathan.
Pria itu berdiri sambil tersenyum.
"Indah."
katanya pelan.
"Sangat indah."
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Rahasia demi rahasia."
"Luka demi luka."
Kemudian senyumnya perlahan menghilang.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Ia terlihat benar-benar serius.
"Sekarang giliranku."
Jantung semua orang langsung menegang.
Karena nada suaranya berubah.
Berbahaya.
Sangat berbahaya.
"Aku sudah cukup mendengarkan masa lalu."
katanya.
"Lalu apa yang kau inginkan?"
tanya Adrian.
Jonathan menatap Aruna.
Tatapan yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
Kemudian ia mengangkat sebuah alat kecil dari sakunya.
Benda logam berukuran tidak lebih besar dari korek api.
Dan saat melihat benda itu...
Wajah Mahendra langsung berubah pucat.
"Tidak..."
bisiknya.
Jonathan tersenyum.
"Oh, ya."
Lalu ia mengangkat alat itu lebih tinggi.
Agar semua orang bisa melihatnya.
"Karena kalau data itu benar-benar ada di dalam tubuh Aruna..."
Senyumnya melebar.
"...aku tidak perlu membawanya pergi."
Keheningan.
Mencekam.
Lalu Jonathan menekan sebuah tombol.
Dan suara bip nyaring langsung memenuhi seluruh ruangan.
Bersambung...