Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Kartu Terakhir yang Berdarah
Malam itu, hujan turun dengan sangat deras di kota, seolah langit ikut merasakan hawa dingin yang menyelimuti sisa-sisa kejayaan Baskoro Corp. Di dalam ruang kantor CEO yang kini gelap gulita karena seluruh aliran dana operasional telah diputus, Baskoro duduk di lantai dengan tumpukan botol minuman keras yang kosong.
"Baskoro... kita harus pergi. Polisi akan datang pagi ini untuk menyita apartemen kita," tangis Elena terdengar dari sudut ruangan. Wanita itu tampak sangat mengenaskan; rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, dan matanya bengkak karena terus menangis.
"Pergi ke mana, Elena?!" bentak Baskoro dengan suara parau yang dipenuhi kegilaan. "Ke jalanan? Ke penjara? Semuanya habis! Jalang kecil Chelsea itu telah merampas setiap jengkal hidupku!"
Baskoro berdiri dengan goyah, matanya berkilat penuh dendam yang meluap-luap. Ia mengambil sebuah kunci brankas kecil yang masih tersembunyi di balik lukisan dinding. Di dalamnya, tersimpan sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat: rekaman suara asli Nadia Kirana sesaat sebelum ia jatuh dari atap. Rekaman itu adalah bukti bahwa Nadia "mengakui" kesalahannya (yang sebenarnya adalah hasil paksaan Baskoro).
"Jika aku harus hancur, maka aku akan menarik Chelsea bersamaku ke neraka," desis Baskoro. "Aku akan mempublikasikan rekaman ini dan memutarbalikkan fakta bahwa Chelsea adalah orang yang selama ini memeras Nadia. Biarkan dunia membencinya sesaat sebelum aku mengakhiri hidupnya."
Di sisi lain kota, di dalam kehangatan perpustakaan mansion Latief, Nadia sedang menatap layar laptopnya dengan tenang. Adrian baru saja mengirimkan laporan bahwa Baskoro terdeteksi mencoba menghubungi beberapa jurnalis media kuning untuk menjual sebuah "berita besar" besok pagi.
"Dia ingin melakukan character assassination," gumam Nadia sembari menyesap teh camomile-nya.
"Dia tidak akan punya kesempatan untuk melakukan itu, Chelsea."
Suara berat Reynald terdengar dari ambang pintu. Pria itu masuk dengan langkah santai, melepas jasnya dan duduk di sebelah Nadia. Tatapannya sangat intens, seolah ia sedang mengamati sebuah karya seni yang paling berharga.
"Apa yang akan Anda lakukan, Tuan Reynald?" tanya Nadia sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Aku sudah membeli seluruh stasiun media yang dia hubungi," jawab Reynald datar, seolah-olah membeli perusahaan media hanyalah seperti membeli secangkir kopi. "Dan lebih dari itu, Barra baru saja melaporkan bahwa Baskoro sedang menuju ke gudang logistik pelabuhan... tempat di mana Nadia Kirana dulu menyimpan arsip aslinya."
Nadia seketika menegang. Gudang logistik itu... di sana tersimpan buku harian asli Nadia Kirana yang ia sembunyikan di balik dinding palsu. Jika Baskoro menemukannya, dia bisa menggunakan informasi pribadi di dalamnya untuk menyerang identitas Chelsea.
"Kita harus ke sana sekarang," ucap Nadia tegas.
Reynald berdiri, meraih tangan Nadia dan mengecup punggung tangannya dengan lembut namun posesif. "Aku akan menemanimu. Malam ini, kita akan menutup bab sejarah Baskoro untuk selamanya."
Gudang logistik di pelabuhan tampak sunyi di bawah guyuran hujan. Baskoro masuk dengan membawa senter, membongkar setiap tumpukan debu untuk mencari rahasia Nadia. Namun, saat ia berhasil menemukan dinding palsu tersebut, lampu gudang tiba-tiba menyala terang secara serempak.
Baskoro tersentak, menutupi matanya yang silau. Begitu penglihatannya pulih, ia melihat Chelsea dan Reynald berdiri di depan pintu keluar, dikawal oleh puluhan pengawal bersenjata lengkap.
"Mencari sesuatu, Tuan Baskoro?" suara Nadia menggema, terdengar sangat jernih dan penuh wibawa.
"Chelsea! Kau... kau benar-benar iblis!" teriak Baskoro sembari mengangkat sebuah buku kecil yang berhasil ia temukan. "Aku punya buku harian Nadia! Di sini tertulis semua rahasianya! Aku akan memberitahu dunia bahwa kau hanyalah penipu yang mencoba meniru Nadia Kirana!"
Nadia melangkah maju, perlahan melepas payungnya. Ia berdiri tepat di hadapan Baskoro, tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Buka halaman terakhir buku itu, Baskoro," bisik Nadia.
Baskoro dengan tangan gemetar membuka halaman terakhir. Matanya terbelalak saat melihat tulisan tangan di sana. Tulisan itu masih basah, seolah baru saja ditulis beberapa jam yang lalu.
'Baskoro, hadiah terakhirmu sedang menunggu di balik pintu.'
"T-tulisan ini... ini bukan tulisan Nadia yang lama... tapi ini gaya tulisannya..." Baskoro mulai kehilangan akal sehatnya. Kepalanya berputar hebat. "Bagaimana bisa... siapa kau sebenarnya?!"
Nadia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Baskoro dengan suara yang hanya bisa didengar oleh pria itu. "Aku adalah orang yang kamu dorong malam itu, Baskoro. Dan hari ini, aku datang untuk memastikan kamu jatuh jauh lebih dalam daripada aku."
Baskoro menjerit histeris, menjatuhkan buku itu seolah-olah itu adalah bara api. Ia mencoba menyerang Nadia, namun dalam hitungan detik, Reynald sudah menerjang maju. Pukulan telak Reynald menghantam wajah Baskoro hingga pria itu tersungkur ke lantai beton yang keras.
Reynald menginjak tangan Baskoro yang mencoba meraih senjata di sakunya. "Permainanmu selesai, pecundang. Polisi sudah berada di luar gudang ini untuk membawamu atas tuduhan penggelapan dana, percobaan pembunuhan, dan pencucian uang."
Polisi menyerbu masuk dan menyeret Baskoro yang meronta-ronta gila keluar dari gudang. Elena yang sejak tadi bersembunyi di dalam mobil di luar juga ikut ditangkap.
Di tengah keheningan gudang yang kini kosong, Reynald berbalik menatap Nadia. Ia melihat ada air mata yang mengalir di pipi gadis itu—bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Beban dendam yang selama ini menghimpit jiwanya akhirnya terangkat.
Reynald menarik Nadia ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin melindungi seluruh rapuh dan tangguhnya. "Semuanya sudah berakhir, Chelsea. Nadia Kirana... dia sudah bisa beristirahat dengan tenang sekarang."
Nadia menyembunyikan wajahnya di dada Reynald, meresapi kehangatan yang akhirnya ia izinkan untuk masuk ke dalam hatinya. "Terima kasih, Reynald. Untuk segalanya."
Malam itu, di bawah guyuran hujan pelabuhan, sejarah kelam Nadia Kirana resmi terkubur, dan babak baru kehidupan Chelsea Latief yang penuh dengan cinta sejati bersama Reynald baru saja dimulai.