NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 "Cahaya Pelangi"

Chapter 12

Enam jam sebelum operasi, Diperpustakaan Lei membaca buku lalu tak lama Elas masuk. “Lei? Membaca buku lagi?” ucap Elas. “sudah ku bilang, walau begini aku ini juga suka baca buku lho..” jawab Lei. Mereka berdua membaca buku diperpustakaan yang hening. “Elas.. kau ingat dongeng burung Elang dan Gagak?” tanya Lei. “ah dongeng itu.. sangat sering diceritakan oleh suster di Birdcage… seekor gagak yang jatuh cinta pada elang namun tidak bisa terbang. Elang itu membantu gagak untuk bisa terbang dengan membawanya terbang dengan mencengkramnya, mereka berdua terbang bebas dengan indah diangkasa” ucap Elas. “namun hal itu berakhir tragis, cakar elang itu menyakiti tubuh gagak membuatnya terluka.. elang yang malang..” ucap Lei, Elas menatap buku dongeng itu.. “apa kah itu yang justru diinginkan sang gagak?” gumamnya dalam hati

Di perpustakaan yang sunyi, derit pintu terdengar pelan ketika Elas masuk, mendapati Lei tengah duduk membaca buku tebal. “Lei? Membaca buku lagi?” ucap Elas sambil tersenyum tipis. Lei menoleh singkat. “Sudah kubilang, walau begini aku ini juga suka baca buku lho…” jawabnya ringan. Mereka akhirnya duduk bersebelahan, tenggelam dalam keheningan yang hanya diisi suara halaman kertas yang berbalik. Setelah beberapa saat, Lei menutup bukunya perlahan. “Elas… kau ingat dongeng burung Elang dan Gagak?” tanyanya. Elas tersenyum kecil, matanya sedikit menerawang. “Ah, dongeng itu… sering sekali diceritakan suster di Birdcage. Seekor gagak yang jatuh cinta pada elang, namun tak bisa terbang. Elang itu menolong gagak, membawanya dengan mencengkeram tubuhnya, lalu mereka berdua terbang bebas indah di angkasa.” Lei mengangguk pelan, wajahnya serius. “Namun, itu berakhir tragis. Cakar elang melukai tubuh gagak, membuatnya terluka… elang yang malang…” bisiknya. Elas menatap sampul buku dongeng itu, diam sejenak, lalu dalam hatinya muncul pertanyaan yang tak terucap. “Apakah itu justru yang diinginkan sang gagak?” gumamnya dalam hati, tenggelam dalam kerumitan perasaan yang tak ia bagi.

Di malam hari, saat seharusnya mereka beristirahat, para pilot berdiri tegak menatap ke depan, barisan siluet mereka diterangi cahaya redup dari lampu station. Dari kejauhan, Cataclysm raksasa itu bergerak perlahan, tubuhnya menjulang bagai bayangan maut yang semakin mendekat. Semua pilot, baik siap maupun tidak, sadar bahwa pertempuran ini bukan hanya akan menguji fisik, tetapi juga jiwa mereka. Keheningan terasa berat, hanya napas yang terdengar. “Di sini kita tidak tahu… apakah besok kita masih bisa bercanda tawa…” batin Lei, menatap monster itu dengan getir. Begitu pun para pilot tim 01, 03, dan 05 yang diam seribu bahasa, seolah menyerahkan isi hati mereka pada malam itu. Shin menggenggam erat pikirannya sendiri, sebelum kalimat kelam menyelinap. “Cepat atau lambat… kita semua akan mati.” Namun, di tengah gelap itu, sesuatu terjadi untuk pertama kalinya, Belial meraih tangan Shin, genggaman dingin namun tegas. Shin terkejut, tapi belum sempat berkata apa-apa, Belial menatapnya dengan mata yang tak biasa, lalu berbisik lirih. “Aku… akan menjadi sayapmu.” Shin membalas tatapan itu, lalu mengangguk yakin.

Tim 01 mulai maju ke depan, barisan Gear mereka bergerak serentak menghadang langkah Cataclysm raksasa itu. Peacock, Arctic Tern, dan Royal Tern melesat cepat, menembakkan tali pengikat ke kedua lengan monster itu. Tali-tali baja menegang, bergetar keras menahan tarikan, namun tubuh raksasa itu hanya sedikit melambat, seakan tali hanyalah benang rapuh baginya. Dove melompat tinggi, tombaknya berkilat saat menusuk salah satu kaki Cataclysm, namun raungan rendah yang keluar hanya terdengar seperti seekor hewan yang terusik nyamuk. Tidak berhenti, monster itu menyeret kakinya ke depan, langkahnya tetap menghantam tanah dengan gemuruh. Military Macaw, Cockatiel, Redhead, dan Lovebird menyerbu bagian bawah tubuhnya, menusukkan senjata mereka ke kaki sang raksasa, namun hasilnya nyaris tak berarti luka kecil menganga, tapi tidak mampu memperlambat gerakan. Dari kejauhan, Monk Parakeet dan Ostrich menembakkan rudal bertubi-tubi, ledakan mengguncang udara, nyala api sesaat membakar kulit Cataclysm itu. Namun ketika asap mereda, luka itu hanya berupa goresan dangkal di tubuh besarnya, tak lebih dari guratan kecil pada dinding baja hidup yang terus melangkah maju.

Tim 03 akhirnya masuk ke lokasi, deru mesin Gear mereka menggema di tengah kegelapan. Black Francolin dan Red Lory melesat dari dua arah berlawanan, melemparkan tombak bertali yang menancap dalam di dada Cataclysm, menariknya dari dua sisi. Whimbrel dan Snipe menyusul dari belakang, menusuk bagian punggung raksasa itu, sementara Chinese Monal dan Snowcock bergerak cepat mengikat lengan besarnya. Serentak, seluruh mesin menegang, tarikan maksimum membuat rangka Gear berderit nyaring, hampir patah oleh beban luar biasa. Dengan gemuruh keras, tubuh Cataclysm itu akhirnya roboh menghantam tanah, getarannya membuat tanah bergetar bagai gempa kecil. Namun kejatuhan itu bukan tanda kelemahan melainkan ejekan. Perlahan tubuhnya bergetar, kulitnya terbelah, dan dalam sekejap wujud humanoid itu berubah, merunduk menjadi bentuk Quadrupedal raksasa, tanduk kasar mencuat seperti monster badak. Suara raungannya memekakkan telinga, gelombang tekanan menghantam semua pilot. Dalam sekejap, seluruh pasukan hanya bisa terdiam, menatap dengan tatapan ngeri, antara takut, tak percaya, dan pasrah seolah malaikat maut baru saja turun di hadapan mereka.

Tim 05 akhirnya turun tangan setelah lama bertahan di garis belakang. Feng Huang melompat tinggi, menancapkan kakinya di punggung Cataclysm, mencoba menembus lapisan baja hidup itu untuk menemukan Core, namun kulit makhluk itu terlalu keras, tombaknya hanya memercikkan percikan api di permukaan. Seluruh Gear anggota tim 05 bertarung mati-matian, menyerang dari segala arah tanpa hasil berarti. Tiba-tiba Cataclysm itu melesat maju dengan kecepatan mengerikan, tanah bergetar di bawah langkahnya, namun gerakannya terhenti mendadak di ujung culanya, Exceed Gear Eagle menghadang, tubuh raksasa mesin itu menahan dengan seluruh kekuatannya. Untuk sesaat, waktu seolah membeku, sampai akhirnya Cataclysm itu menghempaskan Eagle dengan brutal, memainkan Gear tersebut seperti mainan yang tak berarti. Benturan itu mengguncang kokpit, dan di dalamnya Belial terlihat berlumuran darah, tubuhnya terguncang keras, wajahnya menahan sakit. Exceed Gear memang terkuat, namun ada harga yang harus dibayar, setiap Exceed Gear terkena serangan, maka rasa sakit itu akan disalurkan pada pilotnya. Belial meringis, napasnya tersengal, darah menetes dari pelipisnya. Sisi iblis dalam dirinya mulai merayap keluar, matanya berkilat liar. “Dasar monster-monster bodoh!! Akan kubunuh kalian semua!!” teriaknya murka, suaranya serak bercampur amarah dan rasa sakit. Dari kejauhan, Shin hanya bisa menatap, wajahnya penuh kecemasan, seakan tahu jurang berbahaya perlahan menarik Belial masuk.

Shin tidak tinggal diam. Dengan nekat ia keluar dari kokpit Gear Raven, tubuhnya berlari menembus guncangan menuju Eagle. Di sekelilingnya, Cataclysm menghantam dinding station yang sekeras baja, dentumannya membuat lapisan logam itu penyok dan bergetar hebat. Di dalam kokpit Eagle, Shin melihat Belial tubuhnya setengah berubah menjadi wujud Cataclysm. Sepasang tanduk mulai mencuat tajam, kulitnya merekah menampilkan pola aksen biru bercahaya, giginya memanjang runcing, dan ekor yang meliuk-liuk liar menghantam sekitarnya. Raungan Belial terdengar bukan hanya marah, tapi juga penuh kesakitan, seolah terjebak di antara dua sisi dirinya. Tanpa pikir panjang, Shin menerobos masuk dan meraih tubuh Belial, memeluknya erat meski darah dan panas menusuk kulitnya. “Kau adalah sayapku, bukan? Aku… akan jadi pelindungmu. Aku akan jadi cakarmu. Aku akan jadi paruhmu. Karena aku… mencintaimu…” Suara Shin bergetar, namun ucapannya menusuk lebih dalam daripada senjata manapun. Seperti obat yang meredam racun, kata-kata itu perlahan meredakan amarah Belial. Cahaya biru di tubuhnya meredup, tanduknya memendek, raungan berhenti diganti helaan napas lemah. Belial menatap Shin dengan mata yang berkabut, tubuhnya kembali ke wujud semula. “Kamu… mencintaiku?” suaranya lirih, hampir tak percaya, penuh kerentanan yang tak pernah ia perlihatkan sebelumnya.

Dari dalam kokpit cahaya emas muncul. Eagle yang awalnya tergeletak rusak tiba tiba berdiri tegak. Kilau emas menyelimutinya, Raven pun secara ajaib juga ikut berdiri tegak kilau emas juga menyelimutinya. Eagle dan Raven terbang berputar, kedua Gear itu bertransformasi bersatu menjadi Prime Gear. Tingginya dua kali lipat dari Gear lainnya, warnanya abu abu putih dengan kilauan pelangi dan dilengkapi Pedang bagai seorang ksatria. Itulah… Bird of paradise.

Bird of Paradise melesat dengan kilatan pelangi, tubuhnya memantulkan cahaya berwarna-warni yang membelah kegelapan. Dengan hentakan dahsyat ia menabrak Cataclysm hingga tubuh raksasa itu terhempas jauh, menghantam tanah dengan ledakan debu dan batu beterbangan. Tak berhenti, Bird of Paradise terbang tinggi ke angkasa, lalu menukik turun bagai meteor bercahaya, tebasannya menghantam tanduk cula Cataclysm hingga patah dan terlempar. Cataclysm meraung murka, tubuhnya kembali ke wujud humanoid, berdiri tegak seakan menantang. Bird of Paradise menyambar lagi, kilatan pelanginya membuat tubuh raksasa itu terhuyung, namun dengan gerakan kasar Cataclysm menepuknya seperti menepuk seekor nyamuk. Semua pilot terdiam ngeri hingga tiba-tiba, dari dalam tangan raksasa itu, muncul kilatan cahaya, jari-jarinya terbelah, dan Bird of Paradise menerobos keluar dengan liar. Pedangnya menancap ke pundak Cataclysm, lalu merobek lengan monster itu, membuatnya meraung tak berdaya. Burung pelangi itu kemudian terbang menjauh, bersiap menutup akhir. Dari kejauhan, dengan cahaya yang makin terang, Bird of Paradise melesat seperti panah surga, menembus dada Cataclysm. Shin dan Belial di dalam kokpit menahan seluruh tenaga mereka, hingga akhirnya ujung senjata menembus Core. Detik berikutnya, cahaya pelangi bercampur keemasan meledak hebat, membelah langit dan bumi. Tubuh Cataclysm hancur berkeping-keping, lenyap dalam kilatan cahaya. Saat debu mereda, Bird of Paradise berdiri tegak di tengah kawah, siluetnya diselimuti cahaya matahari yang mulai terbit di ufuk timur. Sorak kemenangan menggema, para pilot dan komandan berteriak gembira. Dari dalam kokpit, Shin keluar sambil merangkul Belial, wajah keduanya diterangi sinar fajar sebuah pemandangan yang seolah menegaskan akhir dari neraka panjang malam itu, sekaligus awal dari sesuatu yang baru

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!