Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Penolakan keras.
Tanpa menunggu jawaban dari Laila, Arjuna langsung mengangkat tubuh gadis itu dengan gaya menggendong ala bridal style. Laila terkejut bukan main, tangannya secara refleks melingkar erat di leher Arjuna.
“Jun, turunin gue! Gue masih bisa jalan sendiri!” protesnya dengan suara sedikit gemetar.
Namun Arjuna hanya diam, raut wajahnya dingin dan serius seolah tidak mendengar protes itu. Melihat ekspresi laki-laki yang biasanya santai itu berubah begitu tegas, rasa takut dan segan sedikit menyelimuti hati Laila. Akhirnya ia memilih memejamkan mata, tidak sanggup menatap tatapan mata siswa lain yang menyaksikan mereka lewat.
Kabar itu menyebar cepat. Ada yang tertegun dan diam-diam merasa pemandangan itu romantis, tapi tak sedikit pula yang menatap iri dan kesal termasuk Salsabila beserta dua sahabatnya.
“Sialan! Ternyata cewek cupu itu benar-benar nggak kapok!” geram Salsabila sambil mengepal tangannya kuat.
“Tenang aja Sal, gue yakin dia cuma jadi mainan Arjuna. Paling beberapa hari juga pasti udah dibuang gitu aja,” hibur Ita.
“Iya bener tuh… kayak lu dulu yang dibuang Arjuna juga,” ceplos Gita tanpa pikir panjang.
Seketika Salsabila dan Ita menatapnya tajam, membuat Gita langsung menutup mulutnya dengan tangan. “Ups… hehe, maaf salah ngomong ya,” cengirnya canggung.
Sementara itu, Arjuna sudah sampai di ruang UKS. Ia mendudukan Laila perlahan di atas ranjang perawatan. Petugas kesehatan segera datang membersihkan dan membalut luka di lutut serta tangan Laila, namun tangannya sempat gemetar melihat tatapan dingin Arjuna yang tak beralih sedetik pun dari gadis itu. Begitu selesai, Arjuna memintanya keluar ruangan dan mau tidak mau petugas itu pun menurut.
Kini hanya tersisa mereka berdua di ruangan yang sunyi itu.
“Jawab,” ucap Arjuna singkat namun tegas.
Laila mengerutkan kening bingung. “Hah? Jawab apa?”
“Kenapa lu nekat lompat dari tempat setinggi itu? Kalau lu punya masalah, cerita sama gue. Apa pun itu, gue pasti bakal bantu La,” katanya. Nada bicaranya melembut, dan sorot matanya perlahan berubah menjadi penuh perhatian, meski masih tersisa sisa-sisa kekhawatiran yang tajam.
Laila terdiam lama. Berpikir sejenak dalam hati: Apa gue jujur aja ya soal Salsabila? Tapi pasti bakal makin panjang urusannya Atau… lebih baik gue tuduh dia aja ya? Biar dia menjauh, hidup gue jadi tenang lagi.
“Kenapa malah melamun? Ayo jawab,” panggil Arjuna sambil menepuk pelan pundaknya.
“M-masalahnya ya itu… lu sendiri,” jawab Laila pelan namun tegas.
Arjuna mengerutkan kening makin dalam. “Maksud lu?”
Laila menghela napas panjang, lalu melontarkan kata-kata yang sudah disiapkannya dengan nada pedas. “Iya, gara-gara lu yang selalu nempel terus ke gue kemana-mana! Gue risih setiap kali lu ngedeketin gue. Gue udah usir lu baik-baik, tapi lu malah makin batu. Gue tahu lu cuma anak orang kaya yang suka gonta-ganti pacar sembarangan. Dan gue nggak mau jadi salah satu di antara daftar panjang mantan lu nanti. Dan hidup gue di sekolah jadi ngga tenang gara-gara lu. Puas kan sekarang?”
Kata-kata itu terucap begitu tajam, membuat Arjuna terpaku diam beberapa saat seolah baru saja ditampar keras.
“Jangan bercanda La… masa gara-gara gue?” tanyanya pelan, masih belum percaya.
“Gue nggak bercanda. Jadi sekarang… tolong jauh-jauh dari gue,” usir Laila dengan wajah yang dipaksakan sedatar mungkin, menahan rasa bersalah yang mulai menggerogoti hati.
Hening sejenak. Arjuna akhirnya terkekeh pelan, namun tawanya terdengar getir dan pilu. Matanya mulai berkaca-kaca...baru kali ini dalam hidupnya ia ditolak mentah-mentah dan dihina sedemikian rupa oleh seorang gadis.
“Yaudah… kalau itu mau lu,” ucapnya singkat. Tanpa menoleh lagi, Arjuna langsung beranjak pergi dan menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.
Laila menghela napas panjang, lalu memeluk lututnya yang diperban. "Kayaknya… gue tadi terlalu kasar ya,” gumamnya pelan. Rasa tenang yang diharapkannya tak kunjung datang, berganti dengan rasa gelisah dan penyesalan yang makin menguasai hatinya.