Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di depan sana, Bu Broto dan Aris sedang menyambut tamu mereka dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan luar biasa. Aris bahkan sedang menggendong anak perempuan kecil berumur tiga tahun yang mengenakan gaun merah—anak yang sama yang kemarin siang dia lihat di depan salon. Dan di samping Aris, berdiri wanita cantik berambut bergelombang yang tidak lain adalah Linda, wanita selingkuhan suaminya.
Ternyata, 'saudara jauh' yang dikatakan Aris semalam adalah istri simpanan dan anak haramnya sendiri, yang kini dengan sangat tidak tahu diri dibawa masuk ke dalam rumah untuk tinggal bersama di bawah satu atap dengan Rena.
Ternyata Aris memang sudah tidak memiliki urat malu lagi. Pria itu tampaknya tidak ingin menyembunyikan wanita simpanannya lebih lama lagi di luar sana. Dia sengaja memanfaatkan dalih 'rumah kontrakan digusur' agar bisa membawa selingkuhannya masuk, bermain terang-terangan di hadapan Rena dan di bawah atap rumahnya sendiri.
Namun, ada sebuah pemikiran yang mendadak melintas di benak Rena hingga membuat darahnya berdesir dingin. Tunggu... Keluarga...?
Rena menatap bagaimana Bu Broto merangkul pundak Linda dengan sangat akrab, bahkan mencium pipi anak perempuan kecil itu dengan penuh kasih sayang. Sesuatu yang tidak pernah wanita tua itu lakukan kepada Dio. Apakah Linda ini benar-benar masih memiliki hubungan saudara jauh dengan mereka, ataukah sebenarnya... seluruh keluarga ini sudah tahu dan mendukung kebusukan Aris selama ini?
Seketika, niat Rena untuk langsung menyeret tas ranselnya dan pergi dari rumah itu tertahan. Sepertinya, Rena harus bertahan dan tinggal sedikit lebih lama lagi di rumah ini, hanya untuk menggali dan mengetahui kebenaran menjijikkan yang sesungguhnya di sembunyikan keluarga ini.
"Linda, Amel ayo duduk dulu. Pasti kalian lelah di jalan," ujar Bu Broto dengan suara yang teramat manis, menuntun Linda menuju sofa ruang tengah.
Aris menurunkan anak kecil itu dari gendongannya, lalu menoleh ke arah Rena yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar. Dengan raut wajah yang mendadak canggung namun berusaha terlihat berwibawa, Aris berdeham.
"Ren, sini sebentar," panggil Aris. Begitu Rena mendekat dengan langkah lambat, Aris langsung memperkenalkannya. "Ini Linda, sepupu yang aku ceritakan semalam. Dan ini anaknya, mumpung mereka di sini, tolong dibantu selama mereka tinggal di rumah kita."
Linda mengulas senyum manis yang tampak sangat dipaksakan. Dia mengulurkan tangannya yang dihiasi cat kuku merah cerah ke arah Rena. "Halo, Mbak Rena. Maaf ya kalau kedatangan saya dan anak saya merepotkan Mbak di sini untuk sementara waktu."
Rena menatap uluran tangan itu dengan pandangan hambar, lalu menyambutnya sekilas tanpa membalas senyuman itu. "Ya."
Melihat sambutan Rena yang teramat dingin, Bu Broto langsung mendelikkan matanya. Dia menepuk meja kaca dengan pelan namun penuh penekanan. "Rena! Tamu baru datang itu disambut yang baik! Cepat kamu ke dapur, siapkan minuman dingin yang manis dan sekalian buatkan makan siang untuk mereka! Mereka pasti lapar setelah menempuh perjalanan jauh!"
"Iya, Rena. tolong masak sesuatu. Sekalian buat kiya nanti, ya." pinta.
Rena tidak membantah. Dia berbalik melangkah ke dapur dengan ekspresi robotnya. Namun, alih-alih membuatkan sirup manis atau es teh seperti perintah mertuanya, Rena hanya mengambil satu teko berisi air putih dingin biasa dari dalam kulkas. Dia menuangkannya ke dalam gelas, lalu membawanya kembali ke ruang tengah dan menyuguhkannya tepat di hadapan Linda.
Tuk.
Gelas berisi air putih bening itu diletakkan dengan sedikit ketukan di atas meja kaca. Bu Broto dan Aris yang melihat kelakuan Rena itu seketika menatap Rena dengan pandangan tajam yang menghunus, merasa dipermalukan oleh suguhan yang teramat seadanya itu.
"Apa-apaan ini, Rena?! Ibu suruh kamu bikin minuman manis, kenapa cuma air putih?!" protes Bu Broto dengan suara meninggi.
Sebelum Rena sempat menjawab, Linda buru-buru menyentuh lengan Bu Broto, berpura-pura manis dan bersikap tahu diri di depan Aris. "Ah, tidak apa-apa, Tante. Air putih justru lebih sehat dan segar kok. Terima kasih banyak ya, Mbak Rena, sudah repot-repot mengambilkan air ini untuk saya," ucap Linda dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
Rena acuh saja. Dia tidak membalas ucapan terima kasih itu "Kalau kalian ingin aku masak, berikan uang belanja padaku, aku akan memasak yang enak buat kalian nanti. " ucapnya sambil menengadahkan tangan di depan Aris.
"Uang apa? Kan kemarin udah aku kasih uang belanja buat kamu. Dan bahkan setelah kamu dapat uang itu, kamu belum pernah masak sama sekali buat kami. " Jawab Aris penuh dengan nada protes.
"Oh, uang satu juta itu. Aku gunakan untuk membeli makananku sama Dio beberapa hari ini. Terus aku beli baju baru untuk kami juga. Jadi uang itu sudah habis. " balas Rena memberikan rincian pengeluaran yang ia gunakan terhadap uang itu.
"Apa?! kamu boros sekali ya, Rena. Uang itu seharusnya untuk belanja selama satu bulan, dan dibuat makan untuk kami. kenapa kamu habiskan begitu saja. "
"Kenapa? Memangnya tidak boleh, aku memakan hasil kerja keras suamiku, cuma satu juta doang, nggak cukup buat makan orang serumah selama satu bulan. Bukannya mas Aris juga ngasih uang kepada ibu dan siska juga. Harusnya itu juga kalian berikan padaku sebagian kalau ingin makan enak. Dan untuk seseorang yang di transfer dua juta setiap bulannya, silahkan beli makanan sendiri kalau mau tinggal di rumah ini. " Rena langsung membalikkan badan masuk kembali ke dalam kamar.
Aris melotot mendengar kalimat terakhir Rena, begitu juga Linda yang tidak bida menyembunyikan rasa terkejutnya, sedangkan Bu Broto masih merasa geram dengan semua ucapan Rena.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit; sudah waktunya bagi Rena untuk bersiap-siap menjemput Dio pulang dari sekolahnya.
Namun, sebelum dia melangkah keluar dari kamar, sebuah ide cemerlang mendadak muncul di kepala Rena. Dia mengambil ponsel pemberian Ririn yang sejak tadi digenggamnya. Rena membuka aplikasi perekam suara, menekan tombol record, lalu dengan sangat hati-hati meletakkan ponselnya di dalam saku tas kain lusuh miliknya yang tergantung di balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Posisi tas itu sangat strategis tidak terlihat dari luar, namun saku kainnya yang tipis dalam posisi merekam suara akan mampu menangkap semua percakapan yang terjadi di ruang tengah dengan sangat jelas.
Setelah memastikan perangkapnya terpasang dengan aman, Rena keluar dari kamar sambil menenteng kunci sepedanya. Dia melangkah pergi begitu saja melewati ruang tengah menuju pintu depan tanpa berpamitan.
"Rena! Mau ke mana lagi kamu?! Ini tamunya belum dikasih makan siang!" teriak Bu Broto dari sofa, diiringi omelan panjang yang mengatai Rena sebagai wanita yang tidak tahu sopan santun dan tidak punya tata krama sebagai istri.
Rena terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Dia menaiki sepedanya dan mengayuh menjauh dari rumah. Di dalam hatinya, ada rasa tidak sabar yang bergejolak. Dia tahu, begitu punggungnya menghilang dari rumah itu, topeng-topeng manis di ruang tengah pasti akan segera terlepas, dan ponselnya akan merekam seluruh kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.