"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.
Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.
Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.
Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Ditemani Bunda
Setelah pintu tertutup rapat, suasana langsung berubah lebih hening.
Lisa menarik napas pelan, menepuk kedua tangannya untuk memastikan sudah kering. Dia menggantung lap dapur kembali ke tempat semula, merapikannya sedikit. Setelah itu, dia mengambil gelas bersih dari rak.
Tangannya bekerja tenang, menuang teh hangat ke dalam gelas. Uap hangat naik pelan dari gelas.
Setelah memastikan minumannya tidak terlalu panas, Lisa berbalik, berjalan melewati meja makan yang sudah rapi, lalu menuju arah balkon. Langkahnya pelan.
Begitu tiba di depan pintu kaca geser, Lisa berhenti sebentar.
Dari sana, dia bisa melihat punggung Alana yang masih tegak diam di kursi, rambutnya sedikit bergerak karena angin malam.
Lisa membuka pintu pelan-pelan.
“Lana…” panggilnya lembut sambil keluar membawa gelas yang mengepul hangat.
“Bunda buatin kamu teh hangat biar kamu nggak dingin,” ucap Lisa sambil meletakkan gelas itu di atas meja kecil di samping Alana.
Alana hanya melirik sebentar, lalu kembali menatap jauh ke bawah kompleks apartemen yang dipenuhi lampu.
Lisa tersenyum.
“Boleh Bunda duduk disini?” tanya Lisa lembut.
Alana tidak menjawab.
Lisa tetap tersenyum, menunggu beberapa detik, lalu mengangguk ke dirinya sendiri.
“Kalau kamu keberatan, nggak apa-apa,” ucapnya lembut.
Lisa sempat memutar badan, hendak kembali masuk.
Alana cepat menoleh. “Boleh.”
Alana terbiasa dengan Rayyan yang selalu menganggap diamnya adalah iya. Tidak tahu jika Lisa akan pergi jika Alana tidak menjawab iya.
Lisa berhenti, menoleh dengan senyum lembut yang lebih hangat dari sebelumnya. Dia duduk di kursi sebelah Alana, jarak dibatasi meja kecil. Lisa menoleh ke samping.
Posisi Alana sama sekali tidak berubah. Dia tetap menatap lurus ke depan.
“Bunda nggak tahu kamu suka teh atau enggak. Bunda buatnya teh. Atau kamu mau yang lain? Bunda buatkan?” tanya Lisa.
Alana menatap Lisa sebentar, lalu melihat ke gelas. Dia mengambilnya, meniup permukaan airnya sedikit, lalu menyeruput. Rasa hangat dari teh itu mengalir dari tenggorokan ke perutnya membuat otot bahunya sedikit mengendur tanpa dia sadari.
Lisa tersenyum, lalu menoleh ke depan. “Pemandangannya bagus ya dari sini.”
Alana tidak menjawab.
Lisa menoleh pada Lisa. “Kamu lebih suka Bunda ngomong atau diem aja temenin kamu, nak?”
“Diem,” jawab Alana spontan.
Lisa mengangguk. Dia duduk dengan nyaman lalu diam. Benar-benar diam, hanya menemani Alana duduk disana.
Setelah beberapa saat, Alana menoleh pada Lisa. Dia tidak menyangka Lisa akan benar-benar diam. Alana menatap Lisa beberapa detik, raut wajahnya tetap datar, tapi ada sedikit keheranan.
Lisa merasakan tatapan itu dan menoleh perlahan. “Kamu kenapa, Nak? Kamu pengen Bunda pindah?”
Alana menggeleng cepat. “Enggak.”
Keheningan kembali. Tapi kali ini bukan hening yang canggung, lebih seperti hening yang nyaman.
Waktu berjalan cukup lama. Angin malam bergerak pelan, menyapu bagian bawah meja kecil dan menggoyangkan ujung rambut Alana.
Lisa meletakkan kedua tangannya di pangkuan, menggosok-gosok ibu jarinya pelan seperti kebiasaan seorang ibu yang sedang menahan diri untuk tidak bertanya terlalu banyak.
“Kenapa nggak ngomong?” tanya Alana tanpa menoleh.
Lisa menoleh, sedikit terkejut mendengar Alana berbicara lebih dulu.
“Kamu bilang lebih suka diem. Jadi Bunda diem.”
Alana mengerutkan kening. “Biasanya orang tetep ngomong.”
Alana teringat lagi Rayyan yang selalu bicara banyak hal ketika Alana duduk di balkon, bercerita tentang harinya walau Alana tidak pernah mendengarkan. Bahkan saat sekolah, Rayyan juga selalu membantah dan mengganggu ketenangannya dengan semua ocehannya.
Lisa tersenyum kecil, kembali melihat lampu-lampu kota. “Itu karena mereka butuh ngobrol. Ada orang yang nggak bisa tahan kalau terlalu lama diem. Contohnya Rayyan.”
Lisa tersenyum. “Tapi sepertinya, kamu lebih suka suasana yang tenang.”
Alana menoleh pada Lisa lagi. Alana tidak mengubah ekspresinya hanya diam menatapnya lama, mencari sesuatu dalam tatapan matanya.
Lisa justru tertawa kecil. “Tapi dulu, Rayyan juga pendiem kayak kamu. Pas masih kecil. Sekarang boro-boro mau diem.”
Tanpa sadar, Alana mengangguk pelan.
Lisa melirik gelas teh yang tinggal sepertiga. “Gimana teh nya? Kemanisan nggak? Soalnya kalau Bunda buat minum Rayyan selalu bilang kemanisan. Dia nggak suka manis-manis. Kalau kamu?”
“Udah pas,” Alana menjawab datar.
Senyum Lisa semakin lebar melihat Alana mau menjawab pertanyaannya.
“Berarti kamu lebih suka manis daripada Rayyan ya,” komentarnya.
“Rayyan malah kalo minum sukanya americano double shot. Bunda pernah cobain… pahitnya amit-amit. Nggak ketelen.”
Lisa tertawa hangat. “Kalau kopi, kamu sukanya apa, nak?”
“Latte,” jawab Alana datar. Tapi dia sudah menatap sepenuhnya kepada Lisa.
“Bunda juga suka latte tapi yang brown sugar.”
Alana mengangguk tipis. “Itu enak.”
Lisa tersenyum. “Kopi sukanya latte, kalau makanan, kamu suka apa, Nak?”
“Creamy chicken soup,” jawanya jujur.
“Kayak yang tadi?”
Alana menggeleng pelan. “Beda.”
Lisa sedikit condong mendekat, penasaran. “Bedanya apa?”
“Tadi sop ayam bening. Lana suka yang creamy,” ucap Alana tenang.
Lisa mengerutkan kening sebentar, mencoba membayangkan. “Creamy? Yang kental. Kuahnya putih. Ada cream atau susu itu?”
Alana mengangguk singkat.
“Ohh…” Lisa mengangguk pelan, matanya sedikit membesar seperti baru paham. “Yang kayak… soup luar negeri ya?”
Alana mengangguk. “Western style.”
Lisa tersenyum makin hangat. “Pantesan kamu tadi makan sop Bunda tetap habis, tapi nggak kelihatan excited. Karena bukan yang kamu suka.”
Alana diam.
“Tapi makasih ya, Nak. Udah tetap dihabiskan padahal itu bukan selera kamu.”
Alana menatap Lisa lagi. “Emang enak. Cuma bukan favorit.”
Lisa mengulas senyum lebar.
Angin malam bertiup kencang. Hawa dinginnya mulai menusuk, lebih dingin dari sebelumnya.
Lisa mengusap lengannya. “Anginnya tambah dingin,” ucapnya pelan.
Lisa menoleh pada Alana. “Mau masuk sekarang?”
Alana menoleh ke sekitar, lalu mengangguk.
...*** ...
Rayyan baru sampai rumah sekitar jam tiga pagi. Begitu pintu terbuka, dia langsung menahan napas dan melangkah pelan melewati foyer, berusaha agar kakinya tidak membuat suara di lantai.
Begitu masuk lebih dalam, Rayyan terhenti. Lisa sudah berdiri di ruang tengah, lengkap dengan blazer dan tas kerja di tangan.
“Loh Bunda mau kemana?” tanya Rayyan cepat, heran.
Lisa tersenyum kecil sambil memperbaiki letak syalnya. “Bunda mau ke bandara. Ada meeting sama client dari luar kota. Tadinya Bunda mau berangkat pagi, tapi client nya minta buat meeting pagi, jadi Bunda harus berangkat sekarang.”
Rayyan langsung mengusap tengkuknya, merasa tidak enak. “Loh Rayyan jadi ngerepotin Bunda buat jaga Alana dong.”
Lisa menggeleng, ekspresinya lembut. “Enggak lah, Ray. Masa Bunda direpotkan sama anak sendiri. Lagipula Bunda seneng disini. Bunda jadi bisa quality time sama menantu Bunda.”
Rayyan menghela napas pelan.
Lisa menepuk lengan Rayyan ringan. “Jadwal Bunda meeting aja hari ini. Jadi nanti siang Bunda udah pulang. Nanti Bunda kesini lagi ya.”
Rayyan mengangguk semangat. “Bunda mau tiap hari kesini juga boleh.”
Lisa tersenyum.
“Ohya, Bun. Rayyan mau minta tolong lagi, boleh?”
Lisa menaikkan sedikit alisnya. “Kenapa, nak?”
“Kemarin kata dokter, Alana harus mulai minum susu ibu hamil. Rayyan tadi udah cari di toko, tapi ada banyak banget. Rayyan nggak tahu yang mana yang bagus.”
Rayyan menggaruk belakang kepala. “Bunda bisa beliin nggak? Yang cocok buat Alana.”
Lisa tersenyum penuh pengertian. “Iya, nanti Bunda bawakan, ya.”
“Makasih, Bunda.”
“Kalau gitu Bunda pergi dulu.”
“Ray anterin Bun.”
Lisa menolak halus sambil mengulas senyum. “Nggak perlu. Kamu di sini aja. Temani Alana.”
“Tapi, Bun—”
“Bunda bisa sendiri, Ray. Kamu temani istri kamu.” Nada Lisa lembut, tapi tegas.
Rayyan akhirnya mengangguk.
Rayyan meraih tangan Lisa dan mengecup punggung tangannya. “Hati-hati di jalan, Bun. Kalau udah sampe bandara sama sampai sana jangan lupa kabarin Rayyan.”
“Iya, nak. Bunda pergi dulu.”
Lisa berjalan ke pintu, memakai sepatunya, lalu menoleh pada Rayyan yang berdiri di ujung foyer.
Begitu pintu tertutup, Rayyan menghela napas. Dia menunduk sebentar, merilekskan bahunya, lalu masuk ke kamar.
Kamar masih remang, hanya diterangi satu lampu tidur. Rayyan menatap ke ranjang.
Alana masih terlelap, bernapas pelan. Alana tidur miring membelakanginya seperti biasanya. Poppo masih setia dipeluk di dada.
Rayyan melepas jaket dan meletakkannya di sandaran kursi. Dia mendekat, berdiri di sisi ranjang Alana. Rayyan menaikkan selimut yang menutupi Alana hingga ke bahunya. Perempuan itu tidak bergerak, hanya menghembus napas panjang dalam tidurnya. Rayyan tersenyum kecil.
Setelah memastikan Alana nyaman, Rayyan mundur perlahan. Dia masuk ke kamar mandi untuk membasuh muka. Air dingin sedikit membantu mengurangi rasa berat di kepalanya.
Begitu keluar, Rayyan tidak menuju ranjang.
Dia menarik kursi pelan, hampir tanpa suara, lalu duduk. Dia membuka laptop, menyalakan lampu meja kecil, dan menatap file desain yang belum selesai.
Deadline-nya pagi ini. Dia tidak punya pilihan.
Rayyan menghela napas panjang, menggerakkan mouse, lalu mulai bekerja lagi dalam senyap, sementara Alana tidur damai di balik punggungnya.
...----------------...
Aku dah tunggu setiap hari,TPI belum up² juga.
Ko lanjutan nya belom juga ada.🤭🤭🤭
semangat thor