Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Belanja
Moment ini terulang kembali. Dalam boncengan Panji.
Tapi alis Ivy mengkerut ketika melihat beberapa pejalan kaki yang justru hampir bisa menyamai laju motor yang ia tumpangi, kenapa laju motornya lamban sekali ngomong-ngomong....
"Ini kecepatannya ngga bisa ditambah ya? Perasaan lambat bener?! Ini motor apa becak kayuh?" Ivy sampai memiringkan kepalanya demi bisa bicara dengan Panji. Sekali lagi, yang ternotice oleh Ivy adalah aroma dari jaket Panji, sama dengan aroma seragam loreng miliknya pagi kemarin.
"Apa? Udah segini, emang udah cepet...lagian jangan ngebut-ngebut lah nanti celaka." Jawab Panji tersenyum jahil.
Ck! Memilih untuk tak mengindahkan jawaban Panji serta segala protes yang hampir ia muntahkan lagi, Ivy diam dengan lenguhan berat yang lagi-lagi membuat Panji menahan tawanya.
Bahkan Ivy sempat meniup-niup rambutnya, melihat dan membaca papan reklame sampai dua kali tapi laju mereka seperti berada di sekitar 20-40 km/jam.
"Shhhh! Gue jalan aja deh!" protesnya gatal jika tak ia utarakan. Ia tipe manusia yang tak anteng menyimpan isi pikiran.
Panji mendengus, "seriusan? Mau turun? Masih jauh, sebentar lagi gelap..." tunjuknya dengan dagu ke arah depan, dimana langit sudah mulai gelap.
Ucapan Panji itu membuatnya bingung, "ya udah gue aja kalo gitu yang bawa motornya." Usul Ivy justru disetujui Panji pada awalnya, ia menepi dan turun sementara Ivy maju ke arah depan, tapi baru saja Panji memutuskan duduk di boncengan dan menaruh kedua tangannya di pinggang Ivy, gadis itu langsung tergelonjak kaget, "kyaaaa!"
"Ah ngga jadi, Lo aja yang di depan!" sewotnya menyalak.
Sepanjang jalan Ivy mengomel dengan Panji yang selalu menjawab penuh intrik, jawaban klise dan usil.
Ivy turun setelah Panji membawanya sampai di sebuah toserba, masih ramai tentu saja masih belum terlalu larut, bahkan ketika Panji melirik jam tangan, "saya cari masjid dulu sebentar, mau ikut atau langsung belanja disini?"
"Lo ke masjid, gue----"
"Ya udah kalo mau ikut. Sekalian kamu juga magrib." Angguk Panji mantap memotong ucapan Ivy.
ASTAGA PANCIIII!
"Panji, gue mau..."
Panji sudah menarik tangan Ivy lalu menunjuk masjid terdekat yang tak begitu jauh dari sana, "lagian kalo ditinggal nanti takut hilang susah carinya. Kamu ngga ngerti daerah sini."
"Panji gue bukan bocah!" bentaknya dalam genggaman Panji. Lelaki ini astaga!
Dari tempatnya Ivy menunggu Panji, melihat setiap gerak gerik lelaki itu dari arah luar masjid. Tak tau bacaan surat apa yang ia baca hanya saja, lama sekali...Ivy saja sudah selesai sejak tadi.
"Dia baca surat Al Baqarah kali ya?" monolognya menatap sekeliling, memang tak seramai di pulau Java yang notabenenya mayoritas muslim, disini warganya mayoritas nonis.
Langkah mendekat Panji dalam balutan seragam lorengnya dan wajah telah terbasahi air justru membuat Ivy mematung merasakan sesuatu di hatinya. Mendadak saja jantungnya itu geli dan berdebar, "ampun deh.." ia memalingkan wajahnya dari si Samson timur itu dan memilih menatap ujung-ujung sepatunya, so sibuk demi menutupi gelagat aneh, apakah ia aneh dan salah tingkah sekarang?
Loreng abu, biru, kenapa nampak jadi pink, kuning dan hijau semarak sekarang di matanya? not bad. Terlebih ia melinting lengan baju sampai ke bawah siku menunjukan tangan-tangan yang kokoh, tak semenakutkan bayangan tokoh Hulk. Justru terlihat ----gagah. Ke laut aja Sono, Vy!
"Sekarang?" Panji memakai kembali sepatunya.
"Taun depan! Sekarang lah, ini udah gelap mau nyampe jam berapa di posko, aduhhh ampun deh!" Ivy bahkan sudah berjalan duluan.
"Vy," tegur Panji tak membuat Ivy menoleh ia justru, "buruan ah...molorrr nih elah! Lebih cepetan motor sewaan Gabriel."
"Maksudnya arah toserba ke kanan."
Ivy menghentikan langkahnya, dengan wajah yang kaku, lalu menepuk-nepuk keningnya, "duhhh.."
Ia menoleh, "bilang dong ah!"
Panji kembali mengu lum senyumnya, "lah, tadi kan dari sana...masa udah lupa."
Ivy melihat daftar belanja yang di tulis Raudhah, lalu menenteng keranjang ke arah rak-rak dan mencari sesuai klasifikasi.
"Kalo cari selotip hitam dimana ya?"
Panji menunjuk, "mungkin di deket rak peralatan atk..." tunjuknya pada rak pojok sebelah kanan, Ivy mengangguk dan berjalan fokus sambil menenteng keranjang plastik.
Tapi Panji dengan usilnya mengarahkan kamera ke arah Ivy yang ada di depan sana.
Klan Ananta gen 2
(Panji) take a picture 📷 langkah pertama anter belanja kebutuhan KKN, sebelum nanti belanja kebutuhan RT.
(Cle) 😳 ini gue ngga mimpi kan omnya Serra begini?
(Russel) wkwkwkwk gasss, Ry, Ga...belut udah ambil start.
(Ryu) gue datang sekarang. Gue tau titik dimana Lo sama Ivy, Nji. Tunggu Abang Pravita👻👻
(Kalingga) gue baru print out muka Ivy, nanti malem mau ke Banten. Bawa kelapa, ayam cemani sama menyan.
(Russel) Hahahahaha sarav. Cara start berbeda dari 3 cowok kacroeett.
(Zea) 🚣🚣🚣 abangggg!!! Adek adek Abang nih.
(Gala) Ya ampun hahahah. Tapi berkelas lah, bang Ucel dulu cuma modal air mineral doang.
(Cle) hahahah buka kartu.
(Russel) kamu ngga tau La, di dalem air mineralnya udah aku kasih mantra plus air campuran keringet aku.
(Panji) 🙊🙊🙊 mo nyet.
Ivy tak menyadari Panji yang sempat berbalas pesan di tempatnya sebab lelaki itu seperti sedang memilih barang, ia lantas menghampiri Panji dan cukup terkejut melihat benda yang sedang dipegang Panji adalah pembatas buku dengan tokoh cinnamoroll, "lagi milih apa?"
"Ini mau beli ini." Ucap Panji cukup gelagapan memasukan ponselnya sebab tadi ia memotret Ivy.
Ivy tertawa, "suka cinnamoroll?"
Panji cukup terkejut juga dengan barang yang ia pegang, asal saja....
"Eh."
Tapi ia tak begitu malu, justru... Mengangkat pembatas kertas itu di dekat wajah dan menggoyangkan, "lucu kan? Ngga ada yang salah kan laki-laki suka yang begini?"
Ivy masih saja tertawa dengan itu, menggeleng, "engga."
Mau tak mau, Panji membeli barang itu dengan beberapa pulpen serupa lalu membayar bersama Ivy.
"Keberatan kalo saya ajak makan?" tanya Panji, "ada kedai seafood enak disekitar sini, lapar ngga?" Saat langit gelap sudah kembali menyapa mereka.
Ivy mendongak menatap Panji, untuk kemudian menatap jam tangan yang sudah menunjukan pukul 7 malam, "ini kita bakalan kemaleman sampai ke basecamp ngga kira-kira?"
Panji langsung bersikap, "siap engga! Saya usahakan cepat." Ia tersenyum, Ivy mengangguk. Aneh sekali....kali ini seolah ia tak memiliki daya untuk menolak ajakan Panji itu. Meski kemudian Ivy merasa aneh sendiri, ada apa dengan dirinya sekarang? Mau mau saja saat Panji menyebalkan dan usil, ia tau jika sepanjang perjalanan tadi, Panji sengaja melambatkan laju motornya, tapi usahanya untuk marah justru hanya---*segitu doang*.
"Seafood mana nih?! Ditraktir ga?! Atau bayar masing-masing?!"
Panji menggantungkan kresek besar berisi peralatan yang telah dibeli, "saya yang ajak saya yang bayar. Abis ini kita ke swalayan tadi ketitipan apa?"
"Oh iya. Pencuci muka. Lupa..."
Panji mengangguk dan meminta Ivy naik ke boncengan.
.
.
.
setau gw dr dl smp skrg sebagian besar dr mreka justru biangnya, biang penyengsara rakyat, krn mreka ga prnah mikir berapa banyak masyarakt indo yg hancur n mati sia2 krn nafsu serakah mreka
sekarang di kota bangun rumah pasirnya warna putih, beda banget sama jaman dulu pasir itu warna hitam karena ambil dari sungai. beda sama sekarang pasir putih karena dari laut