Deskripsi Sweet marriage
Nadia dihamili bos sekaligus kekasihnya. Pada malam di mana mereka merayakan hari jadian di sebuah kamar hotel, karena pengaruh alkohol dan rayuan kekasihnya yang membuat Nadia terlena, sampai akhirnya mereka menghabiskan malam bersama. Rasya meminta maaf, dan berjanji akan menikahi Nadia.
Namun saat Rasya meminta izin pada orang tuanya, mereka menolak. Mamahnya mengira jika Nadia sengaja menjebak putranya, agar bisa menikahinya. Akankah rasya bisa mendapatkan restu. Apakah mereka bersatu dan keluarga masing - masing akan menerima pernikahan mereka?
Ikuti kisah mereka berdua dalam judul "Dihamili rival SMA"
Jangan lupa like, komen, subscribe agar tidak ketinggalan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Sambil berjalan menuju kamarnya Asih yang masih emosi menggerutu tidak jelas.
“Apa sudah pagi?” Darman yang sudah tidur sedikit terganggu dengan ocehan istrinya dia mengira hari sudah pagi karena biasanya istrinya selalu ngomel saat membangunkannya.
“Belum masih jam dua belas malam,” jawab Asih sinis yang sudah duduk di tepi ranjang
Darman membuka matanya pelan melihat ke arah jam dan benar saja baru pukul dua belas malam, pria paruh baya itu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan.
“Lalu kenapa kamu menggerutu tengah malam begini,” tanya sang suami sambil menguap karena masih mengantuk.
“Anak mu itu loh pah terlalu memanjakan istrinya, mereka makan malam di mana sih sampai pulang tengah malam begini? Jika terjadi apa-apa dengan kehamilannya bagaimana pah, memang ya anak zaman sekarang kurang paham dengan yang namanya pantangan,” dengus Asih. Kesal.
“Mereka itu sudah menikah, ma! Jadi jangan terlalu ikut campur apa yang mereka lakukan itu kita sudah tidak berhak ma!” jelas Darman sambil menarik selimutnya kembali.
“Tapi aku hanya khawatir itu saja, kenapa kamu yang jadi marah-marah pah,” tanya asih berbalik ke arah Darman lalu menarik selimut suaminya itu.
“Khawatir? Sejak kapan?” tanya darman balik.
“Kok papa nanya nya gitu sih, maksudnya apa?” Asih merasa bingung pada suaminya kenapa dia bertanya seperti itu, sebagai mama nya tentu saja dia khawatir dengan putra semata wayangnya itu apa lagi dengan calon cucunya, namun dengan Nadia, Asih masih merasa takut jika dia akan menguasai Rasya.
“Pikir saja sendiri aku ingin tidur lagi malas berdebat dengan mu yang keras kepala!” ujarnya sambil menarik selimutnya kembali dan kali ini Darman menarik satu bantal untuk menutup telinganya agar tidak mendengar ocehan istrinya tersebut.
“Papa … kamu keterlaluan! Jelaskan dulu jangan tidur lagi! Kamu dengar aku tidak?” masih sambil mengoceh Asih menarik bantal yang menutupi telinga suaminya.
“Aku tidak peduli silahkan mengoceh sampai pagi,” gerutu Darman.
***
Seperti biasa pagi hari nya keluarga wijaya berkumpul untuk sarapan pagi. Tapi kali ini Asih tidak ikut sarapan bersama sambil menyantap sarapannya Nadia celingukan mencari keberadaan mama mertuanya kenapa dia tidak ikut sarapan apa sudah pergi atau mama mertuanya itu marah besar padanya atas kejadian semalam.
“Bagaimana ini kalau begini terus apa aku bisa meluluhkan hati mama Asih, jika apa yang aku lakukan selalu salah,” batin Nadia yang sangat khawatir.
Darman memperhatikan sang menantu yang sedang melamun sambil memainkan makanannya.
“Nadia kenapa tidak dimakan nasi gorengnya? Sedang memikirkan apa? Kelihatannya papa lihat kamu sedang mengkhawatirkan sesuatu?” tanya Darman.
Mendengar ucapan papa nya Rasya langsung menoleh ke arah istrinya itu, sebelumnya dia tengah sibuk dengan ponselnya, Rasya mendapat pesan dari Yuli untuk jadwal kerjanya karena pagi ini dia tidak ke kantor dulu melainkan langsung menuju lokasi pembangunan mall dengan Danil.
“Tidak pah aku hanya bingung kenapa mama tidak ikut sarapan?” ucap Nadia.
“Jangan terlalu banyak pikiran sayang kamu ingat kan kata dokter jangan stress,” ucap Rasya.
“Nadia, papa harap kamu tidak sakit hati atas sikap mama, karena aku tahu mama hanya takut kehilangan perhatian putranya, walaupun dia sangat sibuk jarang memperhatikan Rasya, tetapi saat dia mendengar Rasya meminta izin untuk menikah saat itu juga dia selalu gelisah takut putranya diambil istrinya pergi,” jelas Darman yang di angguki Nadia, dia mencoba memahami apa yang baru saja di ucapkan papa mertuanya itu.
“Dan aku yakin suatu saat nanti kamu dan mama akan dekat bahkan sangat dekat. Tapi untuk saat ini kamu mau kan bersabar menghadapi sikap mama dan berusaha lagi meluluhkan hati mama!” timpal Rasya dan di angguki juga oleh Nadia.
“iya, mas aku mengerti!” sahut Nadia lalu melanjutkan sarapannya.
Setelah itu Darman dan Rasya berangkat bersama, sebelum itu Rasya mencium kening sang istri lalu memeluknya secara tiba-tiba membuat Nadia bingung dengan sikap suaminya karena tidak biasanya dia seperti ini.
“Kenapa sayang gak biasanya meluk kayak gini,” dengan gemas Nadia mencubit pipi Rasya.
“Sebulan ke depan aku akan sibuk sayang aku takut gak ada waktu buat kamu,” sikapnya berubah seperti anak kecil yang sedang merengek pada ibunya.
Kelakuan suaminya membuat Nada terkekeh dia mendekati Rasya lalu,-
Cup
“I Love you,” bisik Nadia.
Dengan senyum sumringah dan mata nya yang berbinar dia bergegas ke mobil menghampiri papa nya yang sudah menunggu sambil melihat mereka berdua, membuatnya ikut tersenyum.
Rasya melajukan mobilnya tidak lupa membuka kaca mobil dan berpamitan mereka saling melambaikan tangan.
“Kenapa saat Rasya memelukku perasaan ku jadi tidak enak ya? lagipula tidak biasanya dia begitu manjanya. Ahh mungkin perasaan ku saja atau mungkin hanya bawaan bayi, entahlah!” sambil berjalan masuk ke dalam Nadia menggerutu.
“Papa dan Rasya sudah berangkat, Nadia?” tanya Asih tiba-tiba yang saat ini sedang duduk di meja makan.
“Sudah mah,” jawab Nadia yang menghentikan langkahnya saat menuju ke dapur dia tidak memperhatikan sekitar karena Nadia berjalan sambil menunduk.
“Mama mau sarapan? Aku ambilkan ya tunggu sebentar!” ucap Nadia yang di angguki Asih.
Nadia kembali dengan sepiring nasi goreng buatannya lalu meletakkannya di atas meja makan. Asih langsung menyantapnya dengan lahap karena memang sangat lapar, dia lelah berdebat dengan suaminya sampai pagi walaupun tidak dianggap oleh Darman sampai dia tertidur lelap tetap dengan ocehannya itu.
“Ini buatanmu?” masih sambil mengunyah Asih bertanya.
“Iya, ma! Tidak enak ya?” tanya balik Nadia.
“Hmm lumayan, terimakasih aku sudah kenyang,” ujar Asih sambil memegangi perutnya.
“Ma aku ingin minta maaf atas kejadian semalam karena sudah membuat mama khawatir, aku tahu mama belum bisa menerima ku sepenuhnya. Tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk menjadi menantu yang baik untu mama dan menjadi istri yang baik untuk Rasya,” ujar Nadia memohon.
“Kamu tahu tidak kenapa saya belum bisa menerima kamu sebagai menentu saya!” ucap Asih yang di jawab Nadia dengan gelengan kepalanya.
Asih menarik nafas nya dalam dan menghembuskannya kasar lalu mulai bicara.
“Pada saat Rasya meminta izin untuk menikah aku sangat bahagia akhirnya putraku menemukan pujaan hatinya, yah walaupun aku kecewa pilihannya itu ternyata kamu yang gak sederajat dengan keluargaku. Tapi jika itu alasan utamanya kamu salah besar,” ucap Asih.
“Lalu apa sebenarnya yang membuat mama kecewa? Apa ini tentang kehamilanku?” Nadia tertunduk sambil memegang perutnya yang semakin besar, usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan dan sebulan lagi dia akan melahirkan.
“Iya kamu benar! Aku tidak tahu kejadiannya Rasya sudah pernah cerita kalau itu kesalahannya karena dia pada saat itu dalam keadaan mabuk, tetap kau juga ikut mabuk kan? Lagi pula aku tidak tahu kejadian sebenarnya, itu yang membuat ku kecewa dan berfikir kalau kamu bukan perempuan yang baik,” ujar Asih membuat Nadia makin sakit hatinya mendengar mertuanya mengatakan itu.
Memang Nadia mengakui jika kejadian itu juga salahnya dan sangat menyesalinya, sampai sekarang pun dia merasa bersalah pada orang tuanya, tetapi dia berusaha menerima balasan dari perbuatannya dengan sikap mertuanya yang tidak pernah menganggapnya ada. Nadia berfikir ini adalah konsekuensi dari perbuatannya di masa lalu, maka dari itu dia tidak pernah mengeluh dengan perbuatan mertuanya yang sedikit kasar dalam berkata dan bicara padanya.
Nadia tahu dia sudah membuat malu semua keluarga dan berusaha meminta maaf atas kesalahannya bersama Rasya yang membuat semua keluarga kecewa padanya. Nadia Hanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata apapun lagi sekarang.
“Sudahlah Nadia jangan terlalu dipikirkan kamu sudah meminta maaf aku akan berusaha menerima mu dan melupakan kekecewaanku pada mu, yah ... walaupun itu tidak mudah,” ucap Asih sambil mengangkat bahunya.
Ucapan mama mertuanya membuat Nadia sedikit lega dan senang karena akhirnya mama akan perlahan menerimanya.
Ting tong
Suara bel rumah berbunyi dan Nadia segera menghampiri ke pintu utama, saat membuka pintu dia terkejut melihat seseorang yang sekarang ada di hadapannya.
“Kamu …”
*
*
Bersambung