NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Suara Irwan hilang seperti kabel dipotong.

Nana tidak membuang waktu memanggil namanya lagi. Pergelangan tangannya masih dicengkeram pria berjaket cokelat. Cengkeraman itu tidak terlalu keras untuk membuatnya menjerit, tapi cukup kuat untuk memberi tahu bahwa ia tidak akan dibiarkan pergi.

"Saya tidak tahu maksud Bapak," kata Nana.

"Kau pikir aku tidak sadar?" Pria itu tersenyum tanpa suara. "Anak kecil dari mana kau? Siapa yang kirim?"

Nana menunduk, sengaja membiarkan rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Di pasar, orang dewasa sering lengah jika anak yang mereka pegang terlihat takut.

"Saya cuma menumpahkan minuman."

"Dan mengambil sesuatu."

"Kalau Bapak kehilangan barang, panggil satpam."

Mata pria itu menyipit. Tangannya yang lain bergerak ke arah saku jaket Nana.

Nana langsung menjatuhkan tubuhnya setengah berjongkok, seperti lututnya mendadak lemas. Gerakan itu membuat cengkeramannya tertarik ke bawah. Pria itu mengumpat, tapi tidak melepaskan.

Beberapa orang menoleh.

"Pak, sakit," kata Nana lebih keras. "Saya tidak kenal Bapak."

Kalimat itu bekerja.

Di tempat ramai, laki-laki dewasa yang mencengkeram pergelangan gadis muda selalu menarik perhatian. Dua pembeli berhenti. Pegawai toko pakaian mengangkat kepala dari kasir.

Pria itu sadar. Wajahnya berubah cepat, dari marah menjadi ramah palsu.

"Adik ini salah paham. Dia tadi menumpahkan minuman ke saya."

"Saya sudah minta maaf," kata Nana. "Tapi Bapak tetap pegang tangan saya."

Pegawai toko berjalan mendekat. "Ada masalah, Pak?"

Pria itu tersenyum. "Tidak ada."

Namun jari-jarinya belum lepas.

Nana merasakan adaptor kecil masih aman di lipatan jaket dekat pergelangan kanan. Terlalu dekat dengan tangan pria itu. Kalau ia mencari sedikit saja, habis.

Ia harus membuat barang itu pindah.

Tangan kirinya bergerak pelan ke arah karet rambut di pergelangan kanan. Steven benar. Orang akan mencari di saku, bukan di tangan. Tapi sekarang tangan itulah yang sedang ditahan.

Di luar toko, salah satu pria penjaga dari pilar eskalator muncul di lorong.

Waktu Nana habis.

"Lepaskan dia."

Suara itu datang dari pintu belakang toko.

Steven berdiri di sana, memakai masker hitam dan topi polos. Jaketnya berbeda dari tadi pagi. Kalau Nana tidak tahu suaranya, ia mungkin tidak akan mengenalinya.

Pria berjaket cokelat menoleh. "Ini urusan saya."

"Sekarang bukan lagi."

Steven masuk tanpa terburu-buru. Ia tidak menyentuh Nana. Justru karena itu, posisinya lebih berbahaya. Ia berdiri cukup dekat untuk memotong jalan pria itu ke pintu belakang, cukup jauh agar tidak terlihat menyerang duluan.

Pegawai toko semakin bingung. "Pak, kalau ada masalah, saya panggil keamanan mal."

"Panggil," kata Steven.

Pria berjaket cokelat langsung melirik ke arah lorong. Ia tidak ingin keamanan mal datang. Nana melihatnya.

Steven juga melihat.

"Aneh," ucap Steven datar. "Orang biasa yang bajunya ditumpahi minuman biasanya senang kalau satpam membantu. Kenapa Bapak terlihat ingin cepat pergi?"

"Kau siapa?"

"Orang yang membayar baju itu kalau perlu."

Jawaban itu terdengar malas, bahkan agak sombong. Tapi Nana menangkap tangan Steven yang bergerak sedikit, memberi tanda ke bawah.

Jatuhkan.

Perintah Irwan tadi.

Nana mengerti.

Ia menekuk pergelangan kanan seolah kesakitan. Adaptor kecil meluncur dari lipatan jaket ke telapak tangan, lalu jatuh ke lantai, tepat di bawah rak baju panjang. Benda itu tidak berbunyi karena jatuh di atas karpet tipis.

Pria berjaket cokelat merasakan gerakannya. Matanya turun.

Saat itulah Steven maju satu langkah.

"Kalau masih pegang, saya buat ini ramai," katanya.

Nada suaranya tidak naik, tapi dinginnya membuat orang lebih mendengar.

Pria itu melepaskan Nana.

Nana langsung mundur. Pergelangan tangannya panas. Ia ingin menunduk mengambil adaptor, tapi Steven bahkan tidak melihat ke lantai. Itu berarti jangan.

Dari luar toko, keributan kecil terdengar. Irwan muncul bersama dua petugas keamanan mal. Salah satu penjaga target mencoba pergi, tapi Irwan menahan bahunya dengan gerakan singkat. Tidak kasar. Cukup membuat orang itu berhenti.

"Ada laporan pengunjung mengganggu anak di bawah umur," kata Irwan kepada petugas keamanan.

Nana hampir protes bahwa ia bukan anak di bawah umur, lalu sadar kata itu sengaja dipakai.

Membuat pihak lawan terlihat lebih buruk.

Pria berjaket cokelat mengutuk pelan. "Kalian tidak tahu dengan siapa berurusan."

Steven menatapnya. "Kami justru sedang mencari tahu."

Irwan melirik Nana. "Keluar."

"Barangnya..."

"Keluar."

Kali ini Nana patuh. Ia keluar lewat pintu belakang toko, masuk lorong servis yang bau kardus basah dan cairan pel. Baru beberapa langkah, Steven menyusul. Di tangannya ada adaptor kecil itu.

Nana berhenti.

"Kapan kau ambil?"

"Saat semua orang sibuk melihat tanganmu."

Ia menyerahkan adaptor itu kepada Irwan yang muncul dari belokan lain. Irwan memasukkannya ke kotak kecil berlapis busa.

"Komunikasi hilang," kata Nana.

"Mereka pakai jammer kecil," jawab Irwan. "Sinyalmu diputus saat masuk toko."

"Kenapa tidak bilang dari awal mereka bisa begitu?"

"Karena kami belum tahu."

Jawaban Irwan jujur, tapi tidak membuat Nana lebih tenang.

Steven menatap pergelangan tangan Nana. "Sakit?"

Nana spontan menyembunyikannya di belakang tubuh. "Tidak."

"Bohong."

"Tidak parah."

"Itu bukan jawaban yang sama."

Irwan berpura-pura memeriksa kotak adaptor, padahal jelas mendengar semuanya.

Steven melepas saputangan hitam dari saku jaketnya, lalu melemparkannya ke Nana. "Tekan. Jangan digosok."

Nana menangkap saputangan itu dengan tangan kiri.

"Tadi katanya kalau gagal saya lari."

"Tadi kau tidak lari."

"Karena barangnya belum aman."

"Karena kau keras kepala."

Nana menekan saputangan ke pergelangan tangannya. Kain itu dingin, mungkin karena terkena AC mal. Bekas jari pria tadi mulai memerah.

"Kalau aku lari tanpa barang, kalian marah."

"Kalau kau tidak lari lalu tertangkap, aku lebih marah."

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Nana mendongak.

Steven sudah memalingkan wajah ke arah Irwan. "Bawa dia ke mobil. Aku bereskan sisanya."

"Saya bisa jalan sendiri," kata Nana.

"Tidak ada yang bilang kau tidak bisa."

"Tapi semua orang terus menyuruh."

Steven kembali menatapnya. "Karena kau baru saja hampir membuat tiga orang dewasa mengejarmu di lorong servis."

"Hampir."

"Itu bukan prestasi."

Namun kali ini, dingin di suaranya tidak sama seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang ditahan di bawahnya, sesuatu yang lebih mirip takut daripada marah.

Nana tidak tahu harus menamai apa, jadi ia diam.

Di mobil, Irwan duduk di depan bersama sopir lain. Steven duduk di belakang, satu kursi dari Nana. Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit. Kota lewat di luar jendela, lampu toko berubah menjadi garis-garis basah di kaca.

Irwan menghubungkan adaptor ke perangkat kecil.

"Datanya ada," katanya akhirnya. "Tiga nama vendor, dua staf audit, satu akses internal. Belum lengkap, tapi cukup untuk memotong jalur mereka malam ini."

Ia memperbesar layar tablet. Nana tidak membaca semua istilahnya, tetapi ia melihat satu nama vendor yang tadi siang disebut di ruang rapat, lalu kode pintu samping yang pernah ia lewati bersama kepala pelayan. Dadanya merapat. Serangan itu bukan sesuatu yang jauh di kantor atau pelabuhan. Jalurnya melewati lorong yang ia sapu, pintu yang ia jaga, orang yang mungkin menyapanya sambil tersenyum.

Nana mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.

Steven bersandar, menutup mata sebentar. Wajahnya terlihat lelah ketika ia lupa memasang topeng.

"Berarti berhasil?" tanya Nana.

Irwan menjawab, "Berhasil."

Nana menatap Steven.

"Kalau berhasil, kenapa wajahmu seperti itu?"

Irwan batuk kecil di depan. Sopir pura-pura tidak mendengar.

Steven membuka mata. "Wajahku memang begini."

"Tidak. Wajahmu yang biasa lebih menyebalkan."

Kali ini Irwan benar-benar menoleh, lalu cepat menghadap depan lagi.

Steven menatap Nana lama. Kemudian sesuatu yang hampir seperti senyum lewat dan hilang.

"Kau punya bakat membuat orang ingin menyesal menyelamatkanmu."

"Tapi tetap diselamatkan."

"Karena kau membawa data."

Nana menatap saputangan di pergelangan tangannya. "Hanya karena itu?"

Steven tidak langsung menjawab.

Mobil melewati jalan layang. Lampu-lampu Surabaya terbentang di bawah mereka, indah dari jauh, berantakan dari dekat. Nana teringat Pecinan, sandal putusnya, dompet yang ia curi, dan pintu mobil Stella yang terbuka seperti jebakan sekaligus jalan keluar.

"Kau mau jawaban yang membuatmu nyaman?" tanya Steven akhirnya.

"Aku mau jawaban yang benar."

"Kalau begitu jangan minta padaku."

Nana mengerutkan kening.

Steven menoleh ke jendela. Bayangan wajahnya terlihat di kaca, setengah gelap, setengah diterangi lampu jalan.

"Aku bukan orang yang cocok untuk memberi kebenaran."

Kalimat itu lebih dingin daripada AC mobil.

Nana ingin bertanya tentang Patrick, tentang kertas kecil, tentang Albert, tentang kenapa ia selalu muncul tepat saat ia hampir celaka. Tapi sebelum ia memilih pertanyaan, Steven sudah berbicara lagi.

"Mulai malam ini, kau akan melihat banyak hal. Orang baik melakukan hal buruk. Orang buruk menolong pada waktu yang tepat. Orang yang tersenyum menyimpan pisau. Orang yang terlihat hancur mungkin sedang bekerja paling keras."

Nana menahan napas.

"Maksudmu Paman Albert?"

Steven tidak menoleh.

"Maksudku semua orang."

Mobil masuk ke halaman Rumah Besar Sie. Di kejauhan, lampu utama menyala hangat seolah rumah itu tidak pernah menyimpan apa pun selain keluarga yang rapi.

Steven membuka pintu sebelum mobil berhenti sempurna.

Nana memegang saputangan hitam di pergelangan tangannya.

"Steven."

Ia berhenti, tapi tidak menoleh.

"Apa yang sebenarnya harus kupercaya?"

Steven diam cukup lama sampai Nana mengira ia tidak akan menjawab.

Lalu ia berkata, rendah dan jelas, "Jangan terlalu percaya pada apa yang kau lihat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!