Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020
Nadia tidak keluar kamar sampai pagi.
Dimas mengetuk pintu tiga kali sebelum subuh, dua kali setelah mandi, lalu sekali lagi ketika Bu Marni mulai sengaja mengeraskan suara piring di dapur.
“Nad, buka. Kita harus bicara.”
Nadia duduk di lantai dengan punggung bersandar ke lemari. Semalaman ia tidak tidur. Di hadapannya ada tiga tumpukan barang. Dokumen pribadi, pakaian kerja, dan benda-benda yang perlu difoto sebagai bukti.
Kotak perhiasan kosong terletak di tengah karpet.
Pintu diketuk lagi.
“Nadia.”
Ia berdiri, merapikan jilbab, lalu membuka pintu. Dimas tampak kusut. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau marah.
“Kenapa kamu kunci pintu?”
“Aku perlu aman.”
Dimas terdiam. “Aman dari siapa?”
Nadia menatapnya. “Kamu mau jawab dengan jujur?”
Bu Marni muncul dari arah dapur. “Pagi-pagi sudah mulai lagi? Perempuan kalau bangun tidur langsung ribut, rezeki suami bisa seret.”
Nadia mengambil kotak perhiasan dan menunjukkannya. “Di mana isinya?”
Wajah Bu Marni tidak berubah, tetapi tangan yang memegang spatula berhenti bergerak.
Dimas mengerutkan kening. “Perhiasan apa?”
“Cincin emas dari Mama, gelang kecil dari almarhum Nenek, dan kalung seserahan. Semua hilang.”
“Mungkin kamu lupa menyimpan,” kata Bu Marni cepat.
“Saya tidak lupa. Kotaknya ada di laci bawah sejak kami pindah ke sini. Kunci laci saya simpan di dompet. Dompet saya pernah Ibu pinjam minggu lalu untuk ambil uang belanja.”
“Kamu menuduh saya mencuri?”
“Saya bertanya.”
“Nada kamu menuduh.”
Nadia memandang Dimas. “Kamu tahu?”
Dimas mengusap wajah. “Nad, jangan langsung berpikir buruk.”
Kalimat itu membuat Nadia tersenyum pahit. “Berarti kamu tahu.”
“Aku tidak tahu detailnya.”
“Detail apa yang tidak kamu tahu? Barangku hilang dari laci. Rekening bersama transfer ke Ibumu. Jamu dipaksa masuk ke tubuhku. Sekarang kamu bilang jangan berpikir buruk.”
Bu Marni menaruh spatula di meja dengan keras. “Perhiasan itu masih bagian dari keluarga. Kalau dipakai untuk kebutuhan rumah, apa salahnya?”
Nadia menoleh. “Dipakai?”
Dimas memejamkan mata. “Ibu gadaikan sementara.”
Udara di ruang tamu seakan habis.
Nadia hampir tertawa karena terlalu sakit. “Sementara?”
Bu Marni mengangkat dagu. “Untuk bantu saudara. Nanti ditebus.”
“Tanpa izin saya?”
“Kamu menantu. Apa pun yang masuk rumah ini untuk keluarga.”
“Perhiasan itu pemberian ibu saya sebelum saya menikah.”
“Ibumu lagi, ibumu lagi,” Bu Marni membentak. “Sejak dia bangkit dari kafan itu, rumah ini tidak tenang. Dia merasa paling benar karena mau cerai. Sekarang kamu ikut-ikutan melawan.”
Nadia menekan tombol rekam di ponsel yang ia pegang sejak membuka pintu.
Dimas melihat gerakan itu. “Kamu merekam?”
“Iya.”
“Matikan.”
“Tidak.”
Dimas maju, tetapi Nadia mundur ke ambang kamar. “Jangan sentuh aku.”
Bu Marni berteriak, “Lihat! Lihat istrimu! Dia mempermalukan ibu mertuanya sendiri.”
“Yang mempermalukan Ibu adalah mengambil barang saya,” kata Nadia. Suaranya bergetar, tetapi jelas. “Saya mau surat gadai dan alamat tempat gadai. Hari ini.”
“Tidak bisa,” kata Bu Marni.
“Kenapa?”
Bu Marni diam.
Dimas menjawab pelan, “Karena bukan di pegadaian resmi.”
Nadia menutup mata.
Lebih buruk.
Jauh lebih buruk.
“Ke siapa?”
Dimas tidak menjawab.
Nadia membuka ponsel dan menunjukkan foto kotak kosong, mutasi rekening, juga rekaman singkat dari malam sebelumnya.
“Aku sudah simpan semuanya,” katanya. “Kalau kalian mengira aku masih bisa dibuat bingung sampai lupa, kalian salah.”
Bu Marni mendesis. “Kamu sudah menyiapkan perang dengan keluarga sendiri?”
“Saya menyiapkan bukti karena keluarga sendiri mengambil barang saya.”
Dimas menatap layar ponsel itu dengan wajah pucat. “Nad, hapus. Kita bicarakan baik-baik.”
“Baik-baik dimulai dengan mengembalikan barang dan berhenti memaksa aku minum apa pun.”
“Kamu mau membuat aku dipanggil polisi?”
“Aku mau kamu memilih berdiri di mana.”
Untuk sesaat, Dimas terlihat hampir bicara sebagai suami. Nadia menunggu. Ia masih menyisakan satu pintu kecil di hatinya, pintu yang bodohnya belum mau ia kunci.
Lalu Bu Marni berkata, “Dimas, jangan tunduk.”
Dimas menunduk.
Pintu kecil itu tertutup sendiri.
Nadia mengambil tas kerja. “Aku berangkat.”
“Kita belum selesai.”
“Justru karena belum selesai, aku tidak mau terlambat kerja. Aku masih punya hidup selain dipermalukan di rumah ini.”
Bu Marni menunjuknya. “Kalau kamu keluar dari rumah ini sambil membawa masalah ke ibumu, jangan harap bisa masuk lagi dengan mudah.”
Nadia berhenti di pintu.
Dimas menatap ibunya dengan panik. “Bu.”
Nadia berbalik. “Terima kasih sudah menjelaskan posisi saya di rumah ini.”
Ia keluar sebelum air matanya jatuh.
Di depan pagar, ia memesan ojek online. Tangannya dingin. Ia ingin menelepon Sari, tetapi takut kalau mendengar suara ibunya, pertahanannya runtuh di pinggir jalan.
Ponselnya berdering lebih dulu. Sari.
Nadia mengangkat.
“Kamu sudah keluar rumah?” tanya Sari.
Nadia terisak. “Ma, perhiasanku digadaikan. Bukan resmi. Mereka ambil tanpa izin.”
Sari diam beberapa detik. “Kamu di mana?”
“Depan rumah.”
“Jangan tunggu di situ. Jalan ke warung terdekat yang ramai. Aku jemput.”
“Aku harus ke rumah sakit.”
“Aku antar. Sekalian kita simpan rekamanmu.”
“Mama tahu aku merekam?”
“Kamu anakku. Akhirnya belajar juga.”
Nadia tertawa kecil di antara tangis. Ojek datang lebih cepat dari Sari. Ia naik dan mengirim lokasi warung kopi dekat perempatan.
Sari sampai lima belas menit kemudian dengan wajah tanpa riasan, jilbab tergesa-gesa, dan sandal yang berbeda warna. Nadia hampir menangis lagi melihatnya.
“Masuk mobil,” kata Sari.
Nadia duduk di kursi penumpang dan baru sadar ibunya membawa map plastik bening.
“Apa itu?”
“Map kosong,” kata Sari. “Untuk semua bukti yang kamu pikir tidak penting.”
“Mama datang seperti mau sidang.”
“Dulu Mama datang ke masalah keluarga dengan tangan kosong. Hasilnya kamu lihat sendiri.”
Di dalam mobil, Nadia menyerahkan ponsel. Sari memutar rekaman. Wajahnya tidak berubah sepanjang mendengar suara Bu Marni mengaku barang itu dipakai untuk keluarga dan Dimas menyebut tempat gadai tidak resmi.
Setelah rekaman selesai, Sari berkata, “Kirim ke emailmu. Kirim ke aku. Kirim ke folder awan. Jangan cuma simpan di ponsel.”
Nadia mengangguk.
“Hari ini kamu kerja seperti biasa. Jangan ribut di rumah sakit. Setelah dinas, kita ke Pak Surya.”
“Ini urusan rumah tanggaku. Apa perlu pengacara Mama?”
“Perlu orang yang mengerti hukum. Bukan untuk langsung bercerai, tapi untuk memastikan kamu tidak dipermainkan.”
Nadia menatap map bening di pangkuannya. Di dalamnya baru ada fotokopi KTP, tangkapan layar mutasi, dan catatan singkat yang ia tulis dengan tangan gemetar. Kelihatannya tipis. Tapi semalam, semua itu terasa seperti satu-satunya dinding antara dirinya dan rumah yang mulai asing.
“Aku malu sekali,” bisiknya dengan suara nyaris hilang.
“Malu itu milik orang yang mengambil barangmu,” kata Sari. “Bukan milikmu.”
Nadia menyeka pipi. “Dimas membiarkan semua itu.”
“Orang yang membiarkan juga memilih.”
Kalimat itu menancap dalam hati Nadia.
Sari mengantar Nadia sampai pintu samping rumah sakit. Sebelum turun, Nadia memegang tangan ibunya.
“Ma, kalau nanti aku gagal mempertahankan rumah tangga...”
“Kamu tidak gagal karena menolak diinjak.”
Nadia mengangguk, lalu turun. Ia berjalan masuk dengan langkah masih berat, tetapi tidak lagi membungkuk.
Sari memandangi putrinya sampai hilang di balik pintu kaca. Baru setelah itu ia mengambil ponsel dan menelepon Pak Surya.
“Pak, saya butuh jadwal hari ini. Ada masalah baru. Bukan tentang saya, tentang anak saya.”
Pak Surya bertanya singkat di seberang.
Sari menjawab, “Pengambilan barang pribadi tanpa izin, tekanan keluarga, dan kemungkinan penggelapan rekening bersama.”
Ia mendengar Pak Surya menghela napas.
“Baik. Saya datang sore.”
Sari menutup telepon.
Pesan baru masuk dari nomor tidak dikenal.
Foto Nadia dan Sari di depan kios kemarin.
Di bawahnya tertulis:
Jangan terlalu bangga jadi janda pembangkang. Anakmu bisa ikut hancur.
Sari menatap pesan itu lama.
Lalu ia meneruskan tangkapan layar ke Pak Surya.
Setelah itu, ia menyalakan mesin mobil.
“Satu per satu,” gumamnya. “Aku akan hadapi kalian satu per satu.”
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??