Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suasana di Balai Seratus Harta mendadak sunyi. Debu tipis melayang di antara rak-rak kayu yang dipenuhi barang antik. Arga tanpa sadar memegang batu giok di pinggangnya.
"Kenapa, Kakek?"
Pria tua itu perlahan berdiri. Tubuhnya tampak renta, namun sepasang matanya menatap sangat tajam. "Tunjukkan batu itu."
Guru Tian segera memperingatkan dengan berbisik, "Jangan langsung percaya."
Arga mengangguk pelan. Ia tidak menyerahkan batu giok tersebut, melainkan hanya mengangkatnya agar dapat dilihat.
Pria tua itu mengamati ukiran di permukaannya dengan tangan yang sedikit bergetar. "Benar... Ini benar-benar Giok Penunjuk Makam."
Arga dan Nara saling berpandangan. "Kakek mengenalnya?"
Pria tua itu menghela napas panjang. "Lebih dari sekadar mengenalnya. Dulu... aku adalah salah satu penjaganya."
Mata Guru Tian langsung menyipit. "Penjaga?"
Pria tua itu menatap Arga. "Anak muda, siapa gurumu?"
Arga terdiam. Pertanyaan itu terlalu berbahaya untuk dijawab, sehingga ia hanya menggeleng. "Aku tidak bisa memberitahunya."
Pria tua itu tidak marah, ia justru tersenyum. "Bagus. Kalau kau langsung bercerita kepada orang asing, aku justru akan kecewa."
Ia berbalik menuju rak paling belakang. Dari sebuah laci tersembunyi, ia mengeluarkan gulungan kulit yang telah menguning dimakan usia. Di atas gulungan itu tergambar simbol yang sangat familiar: **Pedang Penjaga Langit**.
Arga membelalak. "Itu..."
Pria tua itu mengangguk. "Selama ratusan tahun, keluargaku menjaga catatan ini." Ia membuka gulungan itu perlahan. Di dalamnya tergambar lima simbol kuno yang mengelilingi sebuah gunung. "Pegunungan Naga Hitam. Di sanalah Makam Penjaga Pertama berada. Tetapi... makam itu tidak bisa dibuka hanya dengan giok."
Arga langsung bertanya, "Lalu dengan apa?"
Pria tua itu menatap Pedang Penjaga Langit. "Dengan pewaris yang diakui oleh pedang."
Guru Tian tersenyum kecil. "Ternyata dugaanku benar."
Namun, raut wajah pria tua itu kembali berubah serius. "Masalahnya... sudah ada orang lain yang mencari makam itu."
"Siapa?"
"Lima kekuatan besar. Mereka telah mencarinya selama ratusan tahun."
Nara menelan ludah. "Lima sekaligus?"
Pria tua itu mengangguk. "Mereka percaya... siapa pun yang memperoleh warisan Penjaga Pertama akan mampu menguasai seluruh Benua Timur."
Arga terdiam. Ia tidak pernah menginginkan kekuasaan; ia hanya ingin mencari jawaban tentang ayahnya.
Pria tua itu seolah dapat membaca pikirannya. "Tidak semua orang mengejar warisan karena keserakahan. Kadang... karena mereka mencari kebenaran."
Ucapan itu membuat Arga sedikit lega. Pria tua tersebut kemudian menyerahkan gulungan tadi. "Simpanlah. Ini lebih berguna di tanganmu daripada di tokoku."
Arga menerimanya dengan hormat. "Terima kasih, Kek."
"Sekarang... pergilah melalui pintu belakang."
Arga mengernyit. "Kenapa?"
Belum sempat pria tua itu menjawab—
BRAK!
Pintu depan Balai Seratus Harta hancur berkeping-keping. Lima orang berjubah hitam melangkah masuk. Pemimpin mereka mengangkat sebuah gulungan buronan, lalu tatapannya tertuju lurus kepada Arga.
"Ini dia orangnya!!."
Di belakang Arga, Nara perlahan menarik busurnya, sementara Guru Tian berbisik pelan, "Pertarungan di dalam kota... akan jauh lebih rumit daripada di hutan."
Lima pria berjubah hitam berdiri memenuhi pintu masuk Balai Seratus Harta. Pemimpin mereka tersenyum tipis. "Serahkan Pedang Penjaga Langit. Kami akan memberimu kematian yang cepat."
Arga perlahan mencabut pedangnya, sementara Nara sudah memasang anak panah pada busurnya. Suasana seketika menegang.
Namun... pria tua pemilik toko justru menghela napas. "Kalian anak-anak muda memang terlalu terburu-buru."
Semua orang menoleh kepadanya. Pria tua itu berjalan santai menuju pintu toko, lalu menunjuk sebuah papan kayu yang tergantung di sampingnya. Di sana tertulis tiga kalimat:
< Dilarang bertarung di dalam Kota Sungai Giok. >
< Pelanggar akan dihukum tanpa memandang asal-usulnya. >
Pemimpin berjubah hitam tertawa meremehkan. "Kakek, peraturan hanya berlaku bagi orang yang lemah."
"Benarkah?" pria tua itu tersenyum tenang.
Tepat saat salah satu anak buahnya melangkah masuk sambil menghunus pedang—
Whoosh!
Sesosok bayangan muncul begitu saja. Tak ada yang melihat dari mana asalnya. Yang terlihat hanyalah seorang pria paruh baya mengenakan zirah perak, menggenggam tombak panjang, dengan lambang sungai berwarna hijau terukir di dadanya.
"Pengawal Kota..." bisik Nara.
Pria berjubah hitam seketika membeku.
Pengawal itu berkata dengan nada datar, "Kalian melanggar hukum Kota Sungai Giok."
Pemimpin berjubah hitam mendengus. "Ini urusan Sekte Bayangan Darah. Bukan urusan kota!"
Pengawal itu menggeleng pelan. "Begitu memasuki kota... semuanya menjadi urusan kami."
Salah satu anak buahnya tertawa sinis. "Kalau begitu... kau mati dulu!"
Ia menerjang ke arah pengawal kota.
CLANG!
Tak ada yang sempat melihat gerakan tombak tersebut. Sesaat kemudian, pedang sang penyerang patah menjadi dua. Pria berjubah hitam itu terpental keluar toko dan pingsan seketika.
Keempat rekannya langsung pucat pasi.
Guru Tian mengangguk pelan. "Alam Inti Emas... Tak heran tak ada yang berani membuat keributan di kota ini."
Pemimpin berjubah hitam mengepalkan tangan menahan geram. Namun, ia akhirnya mundur selangkah. "Baik. Kami akan pergi."
Pengawal kota mengangguk. "Tiga napas. Kalau setelah itu kalian masih berada di depan toko... aku yang akan mengusir kalian."
Tanpa berkata apa-apa lagi, kelima pria itu segera meninggalkan tempat tersebut. Namun sebelum menghilang di tikungan jalan, sang pemimpin sempat menoleh ke arah Arga dengan tatapan dipenuhi niat membunuh.
"Kota ini tidak akan selamanya melindungimu!"
Arga membalas tatapan itu tanpa gentar. "Aku juga tidak berniat bersembunyi selamanya."
Setelah mereka pergi, pengawal kota menoleh kepada Arga. "Kau."
Arga sedikit tegang. "Ya?"
"Kalau punya musuh sebanyak itu... jangan berjalan sendirian di luar kota."
Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan menghilang secepat kemunculannya.
Nara mengembuskan napas panjang dengan lega. "Hampir saja..."
Pria tua pemilik toko tertawa kecil. "Anak muda, kalian sedang menuju Kota Bintang, bukan?"
Arga mengangguk.
"Kalau begitu... ada satu tempat yang wajib kalian datangi sebelum meninggalkan Kota Sungai Giok."
"Tempat apa itu?" tanya Arga.
Pria tua menunjuk ke arah sebuah gunung kecil di luar tembok bagian timur. "Pasar Malam Kultivator. Di sana... kau bisa membeli barang, menjual hasil buruan, dan yang terpenting... mendapatkan informasi yang bahkan tidak dimiliki sekte-sekte besar."
Guru Tian tersenyum kecil. "Sepertinya... perjalanan kita akan semakin menarik."