NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Percobaan Gagal

William datang bukan untuk melayat. Dia datang membawa orang untuk mengukur rumah.

Keiko masih berdiri di bawah kanopi supermarket, jemarinya menyentuh ujung lengan jaket Kelvin. Hujan di depan mereka turun lebih rapat, membuat lampu jalan tampak kabur. Dari dalam toko, suara kasir memanggil nomor antrean terdengar terlalu jauh.

"Mengukur rumah?" ulang Keiko pelan.

Kelvin menatap motornya yang basah. "Rumah itu ternyata atas nama perusahaan keluarga Susanto. Oma tinggal di sana karena dulu William yang membelikan. Setelah Oma nggak ada, dia bilang rumah itu harus dikosongkan."

Keiko tidak langsung mengerti bagaimana seseorang bisa mengucapkan kalimat semacam itu setelah pemakaman ibunya sendiri.

Kelvin mengerti dari wajahnya. Sudut mulutnya bergerak tipis.

"Jangan pakai logika orang normal buat memahami William."

Hari itu, kata Kelvin, rumah kecil Oma Lim masih bau bunga duka dan dupa tipis dari meja sembahyang. Kursi plastik belum dibereskan. Gelas-gelas bekas tamu masih berjajar di dekat dapur. Kelvin yang berumur empat belas duduk di bangku kayu belakang rumah, menatap pohon jambu yang daunnya basah karena hujan malam sebelumnya.

Dia belum tahu harus menangis di mana.

Di kamar, bantal Oma masih cekung. Di dapur, panci kecil untuk memasak bubur masih tergantung. Di rak piring, ada mangkuk retak yang selalu dipakai Oma untuk menyuapinya obat saat demam. Semua benda di rumah itu seperti menunggu pemiliknya kembali.

Lalu William masuk dengan dua orang berbaju rapi dan seorang sopir membawa map.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada pertanyaan apakah Kelvin sudah makan.

William hanya melihat sekeliling rumah, mengernyit seolah baru pertama kali sadar tempat itu begitu sempit.

"Berapa lama pengosongan?" tanya William kepada salah satu orang itu.

"Kalau dokumennya lengkap, dua minggu cukup, Pak."

Kelvin berdiri di dekat pintu dapur. "Ini rumah Oma."

William menoleh padanya. Tatapannya sama seperti saat melihat perabot tua. Bukan benci yang meledak, melainkan penilaian dingin atas sesuatu yang dianggap tidak berguna.

"Oma kamu sudah meninggal."

Kalimat itu membuat Kelvin berhenti bernapas beberapa detik.

"Barang yang perlu disimpan, pilih. Sisanya dibuang," kata William.

"Aku tinggal di sini."

"Tidak lagi."

"Aku nggak mau ikut."

William mendekat. Saat itu Kelvin baru empat belas, tingginya belum seperti sekarang, tapi matanya sudah belajar tidak menunduk.

"Kamu pikir kamu punya pilihan?"

Kelvin tidak menjawab.

"Kamu hidup karena orang dewasa di sekitarmu masih merasa kasihan." William berbicara cukup pelan agar orang lain tidak mendengar jelas, tetapi cukup keras agar setiap kata masuk ke kepala Kelvin. "Ibumu membuangmu. Oma kamu memungutmu. Saya membiarkan karena tidak mau urusan kecil merusak nama keluarga. Jangan salah paham dan merasa dirimu penting."

Keiko mendengar cerita itu dengan tangan makin dingin.

Kelvin di sampingnya tetap tenang, seolah dia hanya menceritakan seseorang kehilangan payung, bukan rumah.

"Aku akhirnya ikut," katanya. "Bukan karena patuh. Karena aku masih anak SMP dan semua surat ada di tangan dia."

William membawanya ke rumah besar di Jakarta. Rumah itu punya kamar lebih banyak daripada jumlah penghuni, tetapi tidak ada satu pun yang terasa disiapkan untuk Kelvin. Dia diberi kamar tamu di lantai dua, lemari kosong, meja belajar tanpa lampu, dan jadwal baru yang disusun orang lain.

Hari ketiga di rumah itu, Kelvin melihat Ethan untuk pertama kali.

Ethan masih sangat kecil, baru belajar berlari dengan kaki pendek. Dia mengejar mobil mainan di ruang tengah dan tertawa ketika hampir menabrak kaki Kelvin. Anak itu tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bahwa kakak tirinya baru saja kehilangan rumah. Tidak tahu bahwa orang dewasa di sekitar mereka sedang menentukan fungsi masing-masing anak seperti memilih alat di gudang.

William berdiri di dekat tangga, memperhatikan Ethan dengan ekspresi yang tidak pernah Kelvin terima.

"Dia penerus keluarga ini," kata William.

Kelvin tidak bertanya kenapa kalimat itu diarahkan kepadanya.

William melanjutkan, "Kamu tidak punya posisi untuk mewarisi apa pun. Tapi darah Susanto tetap mengalir di tubuhmu. Setidaknya kamu bisa berguna."

"Berguna bagaimana?"

"Belajar. Jangan buat masalah. Masuk jurusan yang saya pilih. Nanti kamu bantu Ethan. Jadi orang yang memastikan dia tidak direpotkan hal-hal kecil."

Kelvin tertawa saat itu. Tawa pendek, kasar, tidak pantas keluar dari anak empat belas tahun yang baru selesai berduka.

"Jadi gue dibawa ke sini buat jadi asisten?"

William menatapnya. "Kamu ini percobaan gagal, Kelvin. Tapi percobaan gagal pun kadang masih bisa dipakai untuk mendukung produk yang benar."

Hujan di depan supermarket seperti berhenti terdengar.

Keiko melepaskan ujung lengan jaket Kelvin, bukan karena ingin menjauh, tetapi karena tangannya tiba-tiba gemetar. Dia tidak ingin Kelvin merasakan getar itu dan mengira dia takut padanya.

"Kelvin," katanya.

"Jangan lihat aku begitu."

"Begitu bagaimana?"

"Kasihan."

Keiko menatapnya. "Aku bukan kasihan."

Kelvin akhirnya melihat ke arahnya.

"Aku marah," kata Keiko.

Kelvin terdiam.

Keiko jarang mengatakan kata semacam itu. Marah, benci, terluka. Biasanya dia memilih kata yang lebih kecil, lebih aman, lebih mudah diterima orang lain. Namun kali ini, kata itu keluar tanpa sempat dipoles.

"Aku marah karena mereka semua berbicara seolah kamu barang." Suara Keiko tetap pelan, tetapi di bawahnya ada sesuatu yang keras. "Melinda meninggalkanmu seperti itu. William menghitungmu seperti itu. Tapi kamu bukan barang yang bisa ditinggalkan di rak promo, bukan juga alat cadangan untuk Ethan."

Kelvin tidak menunduk. Dia juga tidak membalas.

Di dalam supermarket, rak dekat kasir terlihat dari tempat mereka berdiri. Ada biskuit cokelat kecil tersusun di bagian bawah, kemasannya merah.

Keiko tiba-tiba masuk kembali ke toko.

Kelvin mengerutkan kening. "Keiko."

"Sebentar."

Dia berjalan tidak terlalu cepat agar kepalanya tidak pening, mengambil dua bungkus biskuit cokelat dan satu susu UHT rasa plain dari rak. Saat membayar, kasir menatap seragam mereka sambil tersenyum biasa. Dunia terus berjalan dengan sangat normal, bahkan setelah seseorang membuka luka lama di bawah hujan.

Keiko kembali ke bawah kanopi, menyodorkan satu bungkus biskuit kepada Kelvin.

Kelvin melihat biskuit itu. "Apa ini?"

"Biskuit."

"Aku tahu."

"Kalau begitu ambil."

Kelvin tidak bergerak.

Keiko membuka bungkus miliknya sendiri, mematahkan satu keping kecil, lalu menggigitnya. Rasanya terlalu manis dan sedikit kering. Dia menelan dengan bantuan susu UHT, kemudian menatap Kelvin dengan serius.

"Dulu kamu menunggu sampai biskuitmu habis dan tidak ada yang kembali. Sekarang kamu makan ini, lalu kita pulang."

Kelvin menatapnya lama.

"Kamu suka melakukan hal aneh."

"Aku belajar dari kamu."

"Aku nggak pernah beli biskuit buat mengusir trauma."

"Kamu pernah menyalakan kembang api kawat di kelas saat mati lampu."

Kelvin kehabisan jawaban.

Untuk pertama kali sejak cerita tentang William dimulai, sudut bibirnya bergerak benar-benar seperti ingin tersenyum. Tidak besar. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat napas Keiko sedikit lega.

Kelvin akhirnya mengambil biskuit itu.

Dia membuka bungkusnya, mengambil satu keping, lalu memakannya pelan. Hujan masih turun. Motor masih basah. Jas hujan plastik masih belum dipakai.

Namun kali ini, dia tidak sendirian di depan supermarket.

Ponsel Keiko bergetar. Pesan dari Bagas masuk.

**Bagas**: Kei, lu sama Bang Kel masih hidup kan? Dimas bilang kalau kalian hanyut gue yang disuruh cari.

Keiko menunjukkan layar itu kepada Kelvin.

Kelvin membaca, lalu mengetik balasan di ponsel Keiko tanpa meminta izin.

**Keiko**: Masih hidup. Dimas benar, kalau kami hanyut kamu yang cari.

Tidak sampai lima detik, Bagas membalas dengan deretan stiker panik.

Keiko tertawa pelan. Kelvin mengembalikan ponselnya, lalu mengambil jas hujan.

"Ayo pulang," katanya.

Kata itu sederhana, tetapi Keiko tahu ia tidak sederhana bagi Kelvin.

Dia memakai jas hujan, memasang helm pink, lalu naik ke motor. Kali ini, ketika Kelvin menyalakan mesin, Keiko tidak memegang pegangan belakang. Dia memegang ujung jaket Kelvin seperti biasa.

Kelvin diam.

Tapi bahunya tidak lagi sekaku tadi.

Di sepanjang jalan pulang, Keiko memikirkan anak tujuh tahun yang menunggu di dekat rak promo, remaja empat belas tahun yang kehilangan rumah, dan laki-laki tujuh belas tahun yang masih belajar percaya bahwa ada orang yang tidak akan pergi.

Kata ayahnya, dia cuma `percobaan gagal`.

Tapi di mata Keiko, Kelvin Susanto jauh lebih dari itu.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!