Ini adalah spin off dari Novel Pengantin yang Ditukar. Selamat membaca
Resya dan Dean. Sepasang nama yang sudah tersemat di buku nikah dan cerita cinta yang indah. Namun, apakah itu cukup?
Hubungan yang terjalin cukup lama mulai menemui titik jenuh hingga pertengkaran kecil sering terjadi karena keduanya belum sepenuhnya mengetahui satu sama lain.
Hingga, seseorang masuk ke dalam hidup mereka dan membuat Resya mulai berpikir jika Dean menikahinya bukan karena cinta, melainkan tanggung jawab.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dihujat
"Dean, bukankah ini akun istrimu?" tanya Satria sambil memperlihatkan postingan story milik Resya.
Dean yang melihat foto rumah sakit pun tertegun. Dia pun segera mengecek ponselnya dan terkejut karena banyak sekali panggilan dan pesan dari Resya. Sialnya, ponselnya dalam keadaan silent dan tidak bergetar sehingga dia tidak tahu jika sejak tadi ponselnya terus berbunyi.
Dia membuka pesan Resya dan ada beberapa pesan yang masuk dengan berbagai kalimat berbeda.
[Dean, kau pulang jam berapa? Mike demam.]
[Angkat teleponku sebentar.]
[Antar kami ke rumah sakit.]
[Dean, aku dan Mike sudah di rumah sakit.]
[Kau dimana?]
[Apa susahnya melihat ponselmu sebentar?]
[Sudahlah, lupakan saja. Bersenang-senanglah di luar.]
"Aku sama sekali tidak tahu jika istriku menelepon sejak tadi."
"Apa kau tidak memberitahunya jika kita akan mengadakan meeting dan makan malam?"
"Aku hanya memberitahunya bahwa aku akan pulang malam."
"Astaga, Dean, kasihan sekali dia harus membawa anak kalian sendiri ke rumah sakit," imbuh temannya yang lain.
"Kau jangan tidak peduli seperti itu pada istrimu. Kau kan bisa membatalkan meeting ini. Kami tidak keberatan jika kau lebih memihak keluargamu."
"Dean, jangan jadikan pekerjaan sebagai penghalang kedekatanmu dengan keluarga."
"Pasti saat ini istrimu sangat khawatir. Bagaimana kau bisa membiarkannya ke rumah sakit sendirian?"
"Ya ampun, Dean, kalau aku jadi kau, pasti aku akan malu jika istriku memposting hal ini. Astaga, kau kenapa jadi begini, Dean?"
"Jangan pernah mengabaikan istri demi pekerjaan, Dean. Jangan jadi laki-laki payah."
"Jadilah ayah dan suami yang baik, jangan mengabaikan keluarga seperti ini."
"Sudahlah, kalian jangan banyak bicara. Sekarang sebaiknya kau pergi saja ke rumah sakit." Satria menepuk punggung Dean.
"Maaf, aku harus pergi." Dean pun langsung bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Beberapa kali dia menelepon Resya, namun panggilannya tak juga diangkat. Membuatnya semakin gusar keadaan anak satu-satunya mereka.
Sedangkan Resya yang sedang menunggu di sofa ruangan Mike memilih untuk mengabaikan ponselnya dan melihat buku-buku kesehatan yang ada di atas meja. Sesekali dia memperhatikan Mike jika sewaktu-waktu anak itu bergerak karena tidurnya yang kurang nyaman.
Hingga lima belas menit kemudian, Dean pun sudah sampai di rumah sakit itu. Dia segera pergi ke ruangan yang sudah diberitahu oleh resepsionis sebelumnya. Postingan Resya membuatnya mengetahui di mana rumah sakit itu berada. Jadi, meski Resya tidak mengangkat teleponnya, dia tetap bisa melacak keberadaan rumah sakit itu.
"Mike! Mike!" Dean yang baru saja masuk ke ruangan itu pun langsung menghampiri ranjang pasien dan melihat keadaan Mike. Dia menyentuh kening dan dada Mike. Sudah tidak panas, bahkan sudah keluar keringat dan tidur nyenyak disertai dengkuran halus.
Dean pun bisa menghembuskan nafas lega karena anaknya baik-baik saja.
"Jangan khawatir, Mike dijaga oleh ibu yang peduli padanya," ucap Resya tanpa menoleh. Tangannya masih membolak-balik buku kesehatan itu seakan merasa sibuk dengan kegiatan itu.
Dean pun segera menghampiri Resya dan duduk di sebelahnya. Dia melihat ponsel yang tergeletak di atas meja. Jelas sekali Resya tahu saat tadi dia menelpon berulang kali.
"Apa kau sengaja tidak mengangkat teleponku?" tanya Dean dengan tatapan serius.
"Aku tidak melihat ponselku berkedip, maaf."
Dean menghembuskan nafas panjangnya. "Tadi ponselku tersilent. Entahlah, biasanya aku mengaktifkan mode getar. Tapi, ternyata mode getar itu tidak aktif sehingga aku tidak tahu jika kau menelponku berulang kali."
"Hmmm, aku tahu. Kau sibuk, aku bisa mengerti itu. Makan malam bersama rekan bisnis adalah hal yang sangat penting, bukan?" Masih tidak menoleh ke arah Dean.
"Lihat aku ketika bicara, Resya."
"Pembicaraan itu didengar, bukan dilihat."
"Kau marah padaku?"
"Tidak, aku tidak marah padamu. Kau kan sedang bekerja keras untukku dan Mike."
"Kenapa kau memposting keadaan Mike di media sosial? Rekan bisnisku berpikir bahwa aku tidak peduli pada keluargaku sendiri. Padahal, aku sama sekali tidak tahu jika Mike sakit," ucap Dean sambil mengusap dahinya.
"Jadi, itu yang membuatmu langsung kesini? Pemikiran mereka dan rasa takutmu dengan tanggapan mereka yang menarik langkahmu kemari?" Resya menyunggingkan senyumannya. Terlihat bahwa dia tertawa dengan pemikiran Dean yang sangat menjengkelkan itu.
"Tidak, tentu saja aku ke sini karena aku khawatir padanya. Aku hanya bertanya kebiasaan yang tidak pernah kau lakukan. Kau sengaja karena ingin membuat aku malu, ya?"
Tap! Resya menutup buku di tangannya dengan keras sambil menatap lurus ke depan. Beberapa detik kemudian, dia pun melirik ke arah Dean. Menatapnya dengan sinis dan penuh emosi.
"Jadi, kau berpikir bahwa aku berusaha mempermalukan mu? Begitu?" ucap Resya sambil tertawa geli. Namun tak ada tatapan senang. Yang ada hanyalah tatapan penuh kekesalan.
"Kalau bukan karena itu lalu karena apa lagi? Semua rekan bisnisku menganggap aku suami dan ayah yang payah karena tidak peduli pada kalian. Padahal kan aku sama sekali tidak tahu. Ponselku notifikasinya mati."
"Ya sudah, katakan saja pada mereka, mengapa padaku? Memangnya pemikiranku penting? Yang penting itu kan pemikiran dan pendapat orang-orang. Sering-seringlah mendengar komentar orang dan kau akan hidup di bawah aturan orang lain."
"Mengapa kau bisa seperti ini? Kau berusaha melawanku, ya? Benar, kan? Kau sengaja melakukan ini."
Resya menatap hampir tak percaya sambil menggelengkan kepalanya.
"Dean, jujurlah, kau menikahi ku bukan karena cinta, kan?"
dan aku masih nungguin lanjutan kisah nya shiren dong kak🤭🤭🤭🤭🤭
sekarang kamu malah jadi lebih belangsak dari Almira,dan Roy selamat bersenang-senang untuk sementara, karena sejatinya uang sebanyak apapun tanpa d kelola pasti akan habis dalam hitungan waktu.....
orang yang terlihat sayang bisa saja malah menusuk d belakang....
tolong shiren dilanjutkan lg