NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Arga menatap pedang tua di genggamannya. Tidak ada sensasi magis apa pun; ia hanya merasakan gagang besi yang dingin, berkarat, dan terasa begitu berat.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Arga bingung.

Guru Tian, yang biasanya selalu bersikap tenang dan acuh tak acuh, kini terdengar sangat tergesa-gesa di dalam benaknya. *"Jangan biarkan siapa pun merebut pedang itu!"*

"Senior, pedang ini sebenarnya apa?"

"Nanti saja kujelaskan! Sekarang, lari!"

Namun, peringatan itu sudah terlambat.

Bum!

Sesosok pria berjubah merah melompat turun dari kereta perangnya, mendarat dengan dentuman keras puluhan meter di depan Arga. Hantaman itu begitu kuat hingga membuat tanah retak dan membentuk kawah kecil.

Seketika, seluruh kota mendadak sunyi senyap. Bahkan para murid Sekte Bayangan Darah menghentikan pembantaian mereka. Dengan tubuh gemetar, mereka serentak menundukkan kepala dalam-dalam.

"Salam kepada Tetua Agung!" seru mereka serempak.

Pria berjubah merah itu sama sekali tidak memedulikan bawahannya. Tatapan matanya yang tajam bak elang hanya tertuju pada satu objek: pedang tua di tangan Arga.

"Serahkan pedang itu," ucapnya tenang.

Meski suaranya datar, kata-kata itu membawa tekanan spiritual luar biasa yang membuat dada Arga terasa sesak, seolah dihantam batu besar.

Arga tidak mundur. Ia justru menggenggam gagang pedangnya lebih erat. "Ini peninggalan ayahku!"

"Kalau begitu..." Tatapan Tetua Agung seketika berubah sedingin es. "...ayahmu seharusnya sudah lama mati."

Ucapan itu langsung membakar amarah di dada Arga. "Ayahku bukan urusanmu!"

Tetua Agung menggelengkan kepalanya pelan, tampak meremehkan. "Anak muda memang mudah diprovokasi. Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil pedang itu dari mayatmu."

Ia mengangkat satu jari telunjuknya. Hanya satu jari. Namun, aura tekanan spiritual yang dilepaskannya begitu masif hingga membuat atap-atap rumah di sekitar mereka mulai retak dan runtuh.

Arga terengah-engah. Kakinya gemetar hebat dan tangannya bergetar hebat. Perbedaan kekuatan di antara mereka berdua terlalu jauh—bagaikan bumi dan langit.

Di dalam kesadarannya, Guru Tian menggertakkan gigi dengan geram. *"Sialan! Kalau saja jiwaku masih utuh, orang lemah seperti dia bahkan tidak layak menjadi penjaga gerbang rumahku!"*

Tetua Agung mulai melangkah maju dengan santai.

Sepuluh meter...

Lima meter...

Tiga meter...

Tepat saat jemari pria itu hampir menyentuh bilah pedang, tiba-tiba—

Deng!

Pedang tua itu bergetar hebat dengan sendirinya. Karat yang menempel di bilahnya mulai rontok satu per satu, digantikan oleh cahaya keemasan silau yang memancar ke langit, membelah kegelapan malam.

Dari dalam kilatan cahaya itu, seekor naga emas raksasa termanifestasi. Makhluk legendaris itu melayang di udara, lalu melepaskan raungan dahsyat yang mengguncang seluruh penjuru Kota Awan Biru.

ROOOAARR!!

Gelombang kejut dari raungan itu membuat seluruh kultivator di kota spontan berlutut ke tanah. Bahkan Tetua Agung yang perkasa pun terdorong mundur beberapa langkah, menahan dada.

"W-warisan roh?!" Wajah Tetua Agung yang semula angkuh seketika berubah pucat pasi.

Saat itulah, sebuah suara tua yang agung dan berwibawa bergema dari dalam pedang:

"Pedang ini hanya akan dihunus oleh orang yang berhati lurus. Siapa pun yang berniat merebutnya dengan paksa... akan menerima hukuman."

Sepasang mata vertikal milik naga emas itu langsung mengunci tubuh Tetua Agung.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, sang Tetua Agung merasakan kembali sebuah emosi yang hampir dilupakannya: rasa takut yang amat sangat.

Di sebelah Arga, Guru Tian berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar, penuh keterkejutan.

"Jadi begitu... Bocah, sepertinya ayahmu bukan orang biasa."

Raungan naga emas mengguncang kubah langit. Awan hitam pekat yang sejak tadi menutupi Kota Awan Biru seketika terbelah menjadi dua, membiarkan cahaya bulan menerobos masuk.

Di bawah, seluruh kultivator yang hadir berlutut tanpa sadar. Bukan karena keinginan mereka sendiri, melainkan karena jiwa mereka dipaksa tunduk oleh tekanan absolut dari sang naga emas.

Tetua Agung Sekte Bayangan Darah menggertakkan giginya hingga berdarah.

"Mustahil..." desisnya tak percaya. "Aku sudah mencapai Alam Inti Roh! Bagaimana mungkin jiwaku ditekan sehebat ini hanya oleh seonggok roh pedang?!"

Sambil meraung liar, ia mengerahkan seluruh Qi merah darah dari dalam tubuhnya. Ledakan aura merah pekat langsung menyelimuti wujudnya. Menggunakan sisa-sisa kekuatannya, sedikit demi sedikit ia berhasil menegakkan tubuh.

"Hanya roh yang tersisa dari masa lalu! Tidak mungkin bisa menghentikanku!"

Dengan mata mendelik gila, ia menerjang cepat ke arah Arga.

Namun, naga emas itu hanya membuka matanya sedikit lebih lebar. Sorot matanya begitu dingin, agung, dan penuh wibawa mutlak.

"Berani."

Satu kata. Hanya satu kata yang terucap dari entitas tersebut.

BOOOM!

Tubuh Tetua Agung seketika terpental seperti daun kering yang diterpa badai. Ia menghantam kereta perangnya dengan sangat keras hingga kereta itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu. Darah segar menyembur deras dari mulutnya.

Semua murid Sekte Bayangan Darah terbelalak horor. Tetua Agung mereka yang tak tertandingi... kalah hanya dengan satu kata!

Di dalam kesadaran Arga, Guru Tian menghela napas panjang, separuh takjub separuh ngeri. "Itu bukan sekadar Roh Pedang... Arga, itu adalah sisa kehendak dari pemilik pedang terdahulu."

Arga sendiri masih memegang pedang itu dengan ekspresi bingung. "Tapi... aku bahkan tidak melakukan apa-apa, Senior."

"Tepat sekali," Guru Tian tersenyum pahit. "Sebab pedang itu sebenarnya belum mengakuimu sebagai tuan. Saat ini, ia hanya sedang menjalankan tugasnya untuk melindungimu."

Di kejauhan, Tetua Agung bangkit dengan susah payah dari reruntuhan kereta perangnya. Wajahnya dipenuhi ketakutan yang mendalam, namun sorot matanya masih memancarkan keserakahan yang tak terbendung.

"Warisan sebesar itu... Aku harus mendapatkannya, bagaimanapun caranya!"

Dengan tangan gemetar, ia merobek jubahnya dan mengeluarkan sebuah jimat berwarna hitam legam yang memancarkan aura mengerikan.

Melihat benda itu, ekspresi wajah Guru Tian di alam kesadaran langsung berubah drastis. "Celaka! Itu Jimat Pemanggil Leluhur!"

Tetua Agung menggigit ujung lidahnya sendiri, lalu menyemburkan darah pekatnya tepat ke atas jimat tersebut.

Wussh!

Api hitam pekat langsung berkobar hebat. Langit yang sempat terang kembali berubah menjadi gelap gulita. Sebuah celah raksasa perlahan-lahan terkoyak di udara. Dari dalam celah dimensi itu, muncul sebuah tekanan baru yang begitu masif, bahkan membuat cahaya naga emas di atas mereka mulai meredup.

Guru Tian berteriak panik, "Arga! Pegang pedangmu erat-erat! Lalu lari ke arah utara sekarang juga! Jangan pernah menoleh ke belakang!"

"Tapi... bagaimana dengan warga kota ini?!" Arga bimbang.

"Kalau kau mati di sini, semua ini akan berakhir sia-sia!" bentak Guru Tian keras.

Arga menatap sekelilingnya—pada kota yang kini dikepung api, lalu tatapannya jatuh pada Paman Darma. Orang tua yang terluka parah itu tampak mengangguk sambil tersenyum tenang, meski air mata mengalir di pipinya yang keriput.

"Pergilah, Nak," ucap Paman Darma parau. "Hidupmu jauh lebih penting dari kami."

Arga menggigit bibirnya begitu keras hingga berdarah, menahan gejolak emosi yang membakar dadanya. Dengan berat hati, ia membungkuk hormat sedalam-dalamnya kepada Paman Darma.

"Terima kasih... untuk semuanya, Paman."

Setelah itu, ia berbalik. Sambil menggenggam erat Pedang Penjaga Langit, Arga mengerahkan seluruh sisa tenaganya dan berlari sekuat mungkin menuju gerbang utara.

Di belakangnya, langit malam terkoyak semakin lebar. Sesosok tangan hitam raksasa perlahan-lahan keluar dari celah dimensi yang retak.

Hanya satu telapak tangan. Namun aura kematian yang dipancarkannya begitu pekat, hingga membuat gunung-gunung di sekitar Kota Awan Biru mulai bergetar hebat seolah bersiap untuk runtuh.

Guru Tian menatap tangan hitam raksasa itu dari dalam kesadaran Arga dengan wajah yang teramat muram.

"Leluhur Sekte Bayangan Darah... Ternyata monster tua seperti kau masih hidup..."

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!