Helena berjuang untuk mendapat hati Edgar, tetangganya. Mencuri perhatian saat pria itu menjadi dosen tamu di kampus, bertingkah lucu saat weekend, atau mencoba melakukan segala cara agar bisa berbicara dengan pria itu.
Apakah Edgar akan luluh?,
Tapi, kenyataan pahit harus diterima Helena. Saat mengetahui bahwa Edgar adalah mantan ibunya.
Bagaimanakah Helena menata Hati saat merelakan Edgar menikahi ibunya.
Helena memilih kuliah di luar negeri, sampai suatu saat kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweet and dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 1_Visual
...BEGINNING...
Weekend ini, Helena terbiasa sendiri di kamar. Ibunya masih tidur karena kelelahan. Ada Art yang membersihkan rumah dari pukul 09.00 sampai 15.00. Ada tukang kebun yang dipanggil saat weekend pukul 09.00. Rumah yang sering sepi, Helena bosan memutuskan untuk jalan sehat pagi ini, di sekitar kompleks.
Menyusuri jalan setapak depan rumahnya menuju jalan keluar kompleks melewati pak satpam,
"Pagi pak, ini ada buah apel 2 sama minuman yogurt" Helena memberikannya pada pak Indra Satpam tua berusia 47 tahun yang sudah lama bekerja di komplek Kamboja ini.
"terimakasih Non Helena, hehe. pagi-pagi gini sudah rajin jalan. apa ndk ke CFD Non. biasanya sama Ibu ke sana kalau weekend bareng tetangga yang lain" tanya pak Indra
"Oh enggak Pak, mama lagi kecapean habis lembur. saya berangkat ya pak" ucap Helena
"Hati-hati Non" balas Pak Indra.
Gang tempat tinggal Helena merupakan Hunian lumayan Elit, beberapa tetangga merupakan pejabat, artis dan pebisnis ternama. Mereka tinggal disitu karena ibunya paham betul tentang relasi dan bisnis. Tetangga mereka juga termasuk berlangganan skincare dan property dengan ibunya.
Saat berjalan, Helena mendengarkan headset bluetooth memutar beberapa lagu tylor Swift dan Olivia Rodrigo favoritnya.
Digang itu, biasa digunakan untuk jogging atau jalan sehat. Kiri dan kanan di tumbuh pohon rindang, namun agak berkurang karena beberapa lokasi akan dijadikan proyek property hunian . Ada beberapa Cafe untuk kaula muda, maklum tak jauh dari sini ada beberapa kampus dan sekolah swasta maupun negri. Helena dan teman-temannya biasa nongkrong kalau malam mingguan atau sendirian aja. Ada juga restaurant-restsurant bernuansa alam istilahnya me lokal, Helena dan ibunya biasanya makan di luar kalau sedang malas untuk masak.
Di jalan dia mampir ke indo****t membeli air mineral dan permen garam Himal****. disitu tak sengaja saat antrian didepannya berdiri seorang lelaki, dari belakang mirip dengan ayahnya tapi badannya bugar, dan lebih muda mungkin sekitar 30 tahunan menurutnya. Saat selesai, Helena bergegas mengikuti pria itu jalan sehat dari arah belakang.
Cukup lama Helena mengikutinya dari belakang, merasakan rindu pada ayahnya. Pria itu berhenti untuk beristirahat dan mengambil beberapa foto sekitar gang, dekat lokasi main badminton.
"Dia mungkin tertarik dengan badminton" pikir Helena.
Helena lalu melewatinya, pria itu tampak bengong memperhatikan wajah Helena yang begitu familiar. Pria itu Edgar, pria yang sudah menempati salah satu rumah di komplek perumahan kamboja, menjadi tetangga baru Helena dan Sandra.
Edgar termangu, mengingat kefamiliaran wajah gadis itu. gadis itu mungkin masih berusia 19 an. Gadis itu betul-betul mirip, layaknya kembali ke 22 tahun lalu saat masa berkuliah. sekarang Edgar sudah berusia 38 tahun. mengingatkannya pada perselingkuhan sang mantan. senyum getir. Sedikit informasi yang ia dengar bahwa Sandra sudah sukses dengan bisnis kosmetik di beberapa kota dan sudah punya banyak cabang.
Helena tiba di rumah, sudah ada Art Bi Titin seorang keturunan Jawa yang baik, anaknya juga sedang kuliah di kampus yang sama seperti Helena. setidaknya itulah yang Helena dengar dari Bi Titin, sudah semester akhir katanya, syukur dapat beasiswa pemerintah.
Suaminya menjadi tukang kebun kami, rekomendasi dari Bi Titin awalnya. karena tukang kebun sebelumnya telah meninggal.
Rumah sudah rapi, makanan sudah dibuatkan bi Titin.
"harumnya... " ucap Helena
Bi Titin yang sedang memasak sup ayam merasa senang atas pujian anak majikannya.
"Non Helena bisa aja, Non Helena mau sarapan apa Non pagi ini. bibi buatin? " tanya bi Titin
"Saya bikin sendiri aja bi, lagi kangen bikin salad" jawab Helena
Helena cukup dekat dengan Bi Titin, sering mengobrol tentang kesehariannya di kampus, maupun hal hal random lainnya.
"Bi tadi pagi saya ketemu laki-laki, terus dari belakang kayak papa" ungkap Helena agak sendu
"sabar ya Non, mudahan nanti bisa temu kangen sama papa Non" ucap bi Titin.
Sejak pergi dari rumah, papanya Bram sulit dihubungi. mamanya bilang papanya pergi ke Belanda, ke pedesaan. Dia sedang menulis buku barunya di sana.
"Helena seneng, setidaknya bisa lihat papa dari belakang lewat orang itu" Helena tersenyum getir
Papa Helena cukup kaya, karena keberhasilannya menulis buku fiksi. Helena sering didongengkan ayahnya, beberapa cerita fiksi sastra. Papanya adalah penulis hebat, karya dengan gaya bahasa yang unik membuat beberapa bukunya dikenal di manca negara. Beberapa buku diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Belanda
Helena kadang jika merindukan papanya, dia akan membaca buku pria itu, walaupun ia sebetulnya agak marah dengan keputusannya meninggalkan mereka berdua hanya memberi kabar saat akhir bulan selama kepergiannya ke Belanda.
Sayu mata Sandra, melampiaskan kesepiannya pada kesibukan kerja. wajah yang kian menua walau sibuk ia akali dengan skincare dan perawatan mahal. tempat tidurnya berantakan, sejarah kelelahan tadi malam membuatnya tidur sembarang asal nyaman.
notifikasi handphone membangunkan ketermenenungannya.
"Weekend no work, no stress. self reward" ucapnya..
ia mengabaikan pesan itu, weekend adalah waktunya bersama Helena. Sadar kalau dia bangun kesiangan, tidak ada CFD, sarapan bubur dipinggir jalan, atau lomba siapa yang jalannya paling jauh jaraknya.
"Ya ampun, maafin Mama Helena" dia tersadar
Sandra membasuh wajah, dan mandi di bathup yang hangat, busa melimpah. Lalu menemui Helena, lihatlah bibirnya mengerucut seperti tikus.
"Mama capek banget kak, nggak sadar ini udah jam 10, kita nonton yuk.. ada film romantis gitu" ucapnya menghibur si gadis yang menuju dewasa itu dengan genre kesukaan kebanyakan remaja
"ma, siang sampe sore ini Helena ada janji sama temen. Kita udah booking lapangan Badminton dan Sekalian mau ngerujak bareng. Malam aja gimana ma? " jawab Helena mengunyah salad
Sandra mengambil sendok dan ikut mengunyah salad di mangkok yang sama.
"Ma, Papa nikah lagi apa gimana. Helena kangen papa" ucap Helena
"Papa kamu katanya lagi fokus nulis" itu jawaban template Sandra pada Helena.
"Papa nggak suka Helena ya ma, makanya papa nggak hubungi Helena, kan Helena anaknya ma" ucap Helena
"Iya kamu anak Papa, tapi papa juga butuh waktu untuk nyembuhin dirinya. Kan selama 2 tahun ini ada ngabarin kamu pas akhir bulan" jawab Helena
"iya tapi kurang banyak telponnya, awas aja kalau Papa nikah lagi terus punya anak" jawab Helena kesal
"Ya namanya juga Duda Lena, kalau ketemu yang cocok ya nikah. ada-ada aja kamu" ucap mamanya ringan
"Ma, mama mau nikah lagi? sama siapa? jangan-jangan pria tua banyak uang, warisannya banyak terus buncit" menggoda ibunya
"Yang ganteng dong, kan enak di tenteng ke mana-mana tu nay" jawab ibunya, mereka tertawa bersama
🤭
Bintang lima untuk mu. Semangat