" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Tidak menyalahkan orang lain
"Kenapa harus ada pendamping dari perusahaan?" tanya Ara.
Sean menjelaskan semuanya dengan mendetail agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai alasan Shania ikut menjadi pendampingnya.
"Tapi jika kamu keberatan, aku bisa mencari pendamping yang lain," ucap Sean.
"Jika memang begitu kata Ayah, ya sudah, Ayang didampingi Tante Shania saja," ucap Ara tiba-tiba.
"Baby, kamu kok malah setuju sama Ayah, sih?" ucap Sean dengan rasa kesal.
"Kamu pacarku, jadi kamu yang akan menjadi pendamping aku," tegas Sean.
"Sayang, ini bukan soal status atau hubungan, tetapi ini bisnis. Jika itu alasannya, maka memang Tante Shania yang pantas mendampingi Ayang karena Ara tidak punya skill dan kualitas yang sama sepertinya," kata Ara realistis, bukan justru tersinggung ketika Sean menjelaskan.
Ara tidak marah atau ngambek jika Sean didampingi Shania karena memang Ara belum bisa seperti Shania yang menguasai dunia bisnis, tata krama, dan beberapa bahasa.
"Baby, kamu kok gitu, sih?" Sean tidak percaya dengan keputusan Ara.
"Tadinya Ara pikir Ayah nyuruh Tante Shania jadi pendamping Ayang karena nggak suka Ara. Tapi kalau alasan Ayah karena untuk memperkuat relasi bisnis dan kemajuan perusahaan, itu adalah hal yang tepat," kata Ara yang selektif dan berpikir tentang substansinya.
"Tapi, Baby—"
"Ayang, jika soal itu Ara nggak bakalan marah, kok. Lagian, Ara memang belum punya skill dan pengetahuan bisnis seperti Tante Shania," kata Ara dengan lapang dada.
"Yang penting cinta dan hati Ayang untuk Ara," kata gadis polos yang sebenarnya memiliki hati seluas samudra.
"Baby, kamu memiliki kualitas layaknya Nyonya Besar," senyum lebar Sean menatap pacar kecilnya yang mulai mempercayai dan mendukung Sean untuk mencapai tujuannya.
"Ara percaya kok sama Ayang dan bakalan datang juga sebagai tamu untuk mendukung Ayang," kata Ara tanpa sadar bahwa keputusan mereka malam itu akan mengubah segalanya ketika Daddy-nya tahu.
.......
Keesokan harinya.
Setiap kali Sean ingin bertemu dengan orang tua Ara, selalu saja mereka berselisih waktu, sama seperti sekarang.
"Ini salahku karena terlambat," ucap Sean menatap jam di pergelangan tangannya. Walaupun hanya terlambat lima menit, Daddy sudah pergi.
"Tidak apa-apa. Ayang kan bisa ketemu lain waktu. Lagian, tadi Daddy juga buru-buru," kata Ara membuka toples makanan ringan untuk Sean yang duduk di ruang tamunya.
"Tapi pas Ara nunjukin undangan, Daddy bolehin Ara pergi, kok, nanti malam," kata Ara dengan senang.
"Baby, nanti malam aku ingin kita berpakaian senada. Jadi, kamu pakai gaun ini, ya," kata Sean memberikan paper bag yang dibawanya kepada Ara.
"Wahhhh, terima kasih, Ayang," kata Ara senang ketika membuka paper bag itu dan terpesona melihat gaun mewah berwarna hitam dengan payet rose gold.
"Kamu menyukainya?" tanya Sean sambil mengelus-elus kepala Ara yang sangat bersemangat mengembangkan gaun untuknya.
"Suka, ini cantik banget, kayak gaun putri," kata Ara memeluk Sean.
Muachhhh.
"Baby, aku berjanji setelah acara di perusahaanku selesai, aku akan mengajakmu jalan-jalan dan kamu bisa belanja sepuasnya," kata Sean mencubit hidung Ara yang tidak terlalu mancung.
"Janji, ya, Ayang?" kata Ara mengangkat kelingkingnya yang langsung ditautkan Sean dengan cepat.
"Iya, Baby," kata Sean yang sangat menyayangi pacar kecilnya, namun terkadang situasi dan kondisi seperti tidak berpihak pada mereka.
Namun, selagi mereka bisa saling percaya dan menjaga hati, hubungan mereka akan baik-baik saja.
.....
Malam harinya, acara anniversary perusahaan Brisbane dilangsungkan dengan sangat megah dan meriah di dalam gedung perusahaan itu sendiri dan dihadiri ribuan tamu.
"Maaf, Tuan Muda. Sebentar lagi acara inti akan segera dimulai," ucap seorang bodyguard menghampiri Sean yang masih berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
"Aku sedang menunggu pacarku," ucap Sean yang tidak akan naik ke atas panggung sebelum Ara datang.
Namun, tidak lama kemudian, Ara terlihat turun dari mobil didampingi beberapa bodyguard-nya.
"Cantik."
Itulah kata pertama yang Sean ucapkan ketika Ara berdiri di hadapannya.
Sean terlalu terpesona menatap Ara!
"Terima kasih, Ayang. Maaf, Ara sedikit terlambat," kata Ara yang berdandan cukup lama.
"Aku pikir kamu tidak akan datang, Baby," suara kecil Sean yang pikirannya sudah ke mana-mana sejak tadi karena Ara tak kunjung datang.
"Ara pasti datang. Kan sudah janji mau dukung Ayang," kata Ara yang berjalan beriringan dengan Sean memasuki ruangan acara.
Sean tidak langsung mengantar Ara untuk duduk di kursi tamu karena acara akan dimulai, tetapi membawanya menghampiri Ayah dan Ibu.
"Bersalam," kata Sean mengelus kepala Ara yang malah bengong menatap Ibu.
"Selamat malam, Ayah, Ibu," sapa Ara sambil bersalaman dengan Ayah, namun Ibu lebih dulu memeluknya.
"Cantik, ini untuk kamu, Nak," ucap Ibu sambil melepas gelang dari tangannya dan memasangkannya ke tangan Ara.
"Ini adalah gelang pemberian Nenek Sean. Sekarang gelang ini menjadi milikmu," ucap Ibu sambil mengecup kening Ara.
"Tumben tidak gelang giok," ucap Ara dengan polos sambil memandangi gelang emas berlapis berlian di tangannya yang terlihat *limited edition*.
"Hehhhh," ucap Sean yang hampir menyemburkan tawanya mendengar kata gelang giok.
Keluarga Sean memang punya aturan tata krama khusus layaknya keluarga kerajaan, namun bukan berarti barang-barang peninggalan keluarga kuno juga demikian.
"Ehhh, maaf, Ibu. Terima kasih gelangnya," kata Ara senang sambil memeluk Ibu lagi.
"Ibu cantik banget," kata Ara yang sebenarnya sejak awal terpana melihat pesona Ibu Sean yang sangat karismatik, benar-benar memiliki aura bangsawan.
"Kamu lebih cantik," ucap Ibu sambil mengecup anak gadis itu sekali lagi.
"Ini untuk Ayah," kata Ara memberikan permen kepada Ayah Sean yang hanya diam sedari tadi.
Karena Ara tulus memberikannya, walaupun hanya satu buah permen, Ayah tetap menerimanya. Namun, perlahan Ayah mulai menyukai Ara yang ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Terima kasih," kata Ayah singkat sambil membuka bungkusan permen itu dan langsung memakannya, lalu pergi menyapa tamu-tamu yang lain.
"Sepertinya Ayahmu sudah lupa dengan tata kramanya," senyum lebar Ibu Sean melihat suaminya yang tanpa sadar makan sambil berjalan, walaupun hanya sebuah permen.
"Baiklah, Baby. Aku akan mengantarmu ke tempat duduk. Sebentar lagi acara dimulai," ucap Sean yang menyiapkan tempat duduk khusus untuk Ara di bagian depan yang cukup dekat dengan panggung.
"Ayang, Ibu kasih Ara gelang," kata Ara dengan senang sambil berjalan dengan ceria di sebelah Sean dan memandangi gelang mewah di tangannya.
"Iya. Selain karena cantik, kamu adalah calon menantunya," ucap Sean yang tahu aturan dalam keluarganya bahwa barang-barang peninggalan tidak boleh diberikan kepada sembarang orang.
"Duduk di sini, ya. Aku akan selalu menatapmu dari atas panggung," ucap Sean sambil mengelus-elus kepala Ara yang sudah duduk di kursinya.
"Bodyguard, jaga Ara. Jangan biarkan orang lain yang tidak berkepentingan mendekatinya," perintah Sean yang bahkan menugaskan bodyguard pribadinya sekalipun Ara juga membawa bodyguard.