Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016: Belum Selesai
Kevin kembali dua puluh menit kemudian dengan map obat, struk administrasi, dan wajah yang terlalu tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mencium orang lain di kamar rumah sakit.
Meilin duduk di tepi ranjang, sudah mengganti baju dengan pakaian yang Kevin ambil dari kos. Ketika pintu terbuka, dia refleks menurunkan pandangan ke map di tangan Kevin, lalu ke bibirnya sendiri, lalu cepat-cepat ke lantai.
Kevin berhenti sebentar.
"Kamu masih sakit?"
"Tidak."
"Kenapa wajahmu merah?"
Meilin menatapnya.
Kevin menatap balik dengan wajah datar yang sangat tidak membantu.
"Rumah sakitnya panas," jawab Meilin.
Kevin melirik pendingin ruangan yang menyala tepat di atas pintu.
"Iya," katanya. "Panas."
Meilin ingin melempar bantal.
Proses pulang dari rumah sakit berjalan lebih lambat daripada yang dia bayangkan. Kevin memeriksa obat satu per satu, memastikan jadwal minum tertulis jelas, lalu menyuruh Meilin duduk lagi ketika dia ingin membantu membawa tas.
"Aku bisa bawa buku sketsa."
"Kamu bisa jalan pelan dan tidak pingsan. Itu saja dulu."
"Kamu jadi galak setelah cium..."
Meilin berhenti tepat sebelum kata itu selesai.
Kevin juga berhenti.
Udara di antara mereka langsung berubah.
Perawat yang lewat di koridor membuat Meilin pura-pura membetulkan tali tas kecilnya. Kevin menatap ke depan, tapi telinganya kembali sedikit merah.
"Setelah apa?" tanyanya pelan.
"Setelah jadi manajer pasien."
"Hmm."
Nada itu jelas tidak percaya.
Di mobil pulang, mereka duduk berdampingan di kursi belakang. Tidak ada yang membicarakan ciuman itu. Sopir memutar radio pelan. Jalanan Tangerang sore itu macet, dan setiap kali mobil berhenti mendadak, Kevin mengulurkan tangan di depan Meilin, menahan tubuhnya agar tidak terdorong.
Awalnya Meilin berkata, "Aku tidak apa-apa."
Pada kali ketiga, dia berhenti protes.
Tangan Kevin tidak menyentuhnya lama. Hanya sebentar, cukup untuk memastikan dia tidak terguncang. Tapi setiap kali itu terjadi, jantung Meilin kembali mengingat kamar rumah sakit, map obat, suara Kevin yang bertanya boleh.
Sesampainya di kos, kamar sempit mereka tampak lebih kecil daripada sebelumnya.
Kevin membuka jendela, menyalakan kipas, lalu menyuruh Meilin duduk di kasur. Dia memanaskan bubur yang dibeli dari kantin rumah sakit dan menuangkan air hangat.
"Obat pertama setelah makan," katanya.
"Aku tahu."
"Aku ulang karena kamu suka lupa."
"Aku tidak lupa. Aku hanya..."
"Menunda."
Meilin menutup mulut.
Kevin meletakkan mangkuk di depannya. "Makan."
Dia makan dengan patuh. Bukan karena takut, tapi karena Kevin duduk di depannya dengan map obat terbuka seperti pengawas ujian.
Setelah obat diminum, Kevin baru membuka laptop. Dia membaca email beberapa menit, lalu wajahnya berubah. Tidak banyak. Hanya alis yang bergerak sedikit dan jari yang berhenti di trackpad.
"Ada apa?" tanya Meilin.
"Kantor minta aku datang besok."
"Kamu baru sembuh."
"Bukan untuk kerja lapangan. Meeting."
"Meeting apa?"
Kevin membaca lagi. "Kontrak."
Meilin tidak langsung mengerti. "Kontrakmu diperpanjang?"
"Mungkin."
Ada sesuatu yang dia tahan dalam suaranya. Bukan senang, bukan juga takut. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu sering tidak berharap, jadi ketika kesempatan datang, dia tidak tahu cara menerimanya.
Meilin ingin bertanya lebih jauh, tapi ponselnya sendiri berbunyi. Pembeli yang semalam tertunda membalas pesan Kevin.
Pembeli: Tidak apa-apa, Kak. Kesehatan dulu. Saya tunggu besok siang ya.
Meilin menunjukkan layar pada Kevin. "Lihat. Klienku baik."
"Karena pesannya jelas."
"Karena kamu yang tulis."
"Karena kamu sakit."
"Tetap saja, terima kasih."
Kevin menatapnya sebentar. "Sama-sama."
Dua kata itu terdengar biasa. Tapi setelah ciuman di rumah sakit, bahkan kata biasa pun terasa memiliki lapisan lain.
Malam itu, Kevin tidak membiarkan Meilin menggambar lebih dari tiga puluh menit. Setelah itu buku sketsa ditutup, lampu diredupkan, dan obat kedua diminum tepat waktu.
"Aku seperti anak kecil," protes Meilin.
"Anak kecil biasanya lebih patuh."
"Ko."
"Tidur."
Meilin berbaring di kasur. Kevin kembali ke tikar di lantai. Jarak mereka seperti dulu, tapi rasanya tidak sama. Dulu jarak itu adalah tembok. Sekarang jarak itu seperti garis tipis yang sama-sama mereka lihat, sama-sama belum berani lewati.
Lampu sudah mati ketika Meilin memanggil pelan, "Kevin."
"Hmm?"
"Tentang tadi di rumah sakit..."
Tikar di lantai berdesir. Kevin mungkin menoleh.
Meilin menggenggam ujung selimut. Keberaniannya yang tadi besar di rumah sakit sekarang mengecil di kamar gelap.
"Kamu menyesal?"
Hening.
Terlalu lama.
Meilin hampir menarik selimut sampai menutup wajah.
Lalu suara Kevin terdengar, rendah dan jelas.
"Tidak."
Satu kata itu membuat napas Meilin berhenti.
Kevin melanjutkan, "Kamu?"
"Tidak."
Jawaban itu keluar lebih cepat daripada yang dia sangka.
Di gelap, Meilin mendengar Kevin menghela napas. Bukan lega sepenuhnya. Lebih seperti seseorang yang akhirnya berani menyentuh pintu yang sudah lama dia hindari.
"Meilin."
"Iya?"
"Besok setelah meeting, aku mau bicara."
"Bicara apa?"
Kevin tidak langsung menjawab.
Keesokan harinya, Kevin pergi ke kantor dengan kemeja paling rapi yang dia punya. Meilin menghabiskan pagi dengan patuh makan bubur, minum obat, lalu menyelesaikan sketsa tertunda. Tapi pikirannya terus kembali ke kalimat semalam.
Aku mau bicara.
Menjelang sore, Kevin pulang lebih cepat dari biasanya.
Wajahnya masih tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda. Di tangannya ada amplop dokumen dan kartu akses baru. Kemeja lusuhnya tetap sama, sepatu lamanya tetap sama, tapi cara dia berdiri di depan pintu membuat kamar sempit itu seperti tidak cukup besar menampung kabar yang dia bawa.
"Meetingnya bagaimana?" tanya Meilin.
Kevin menutup pintu.
"Kontrakku diubah."
"Jadi?"
"Full-time. Mulai bulan depan."
Meilin langsung duduk lebih tegak. "Ko, itu bagus!"
"Gajinya tiga kali lipat."
Meilin menutup mulut dengan kedua tangan.
"Ada tunjangan transport, BPJS, dan bonus proyek kalau dashboard mereka berhasil dipakai klien besar," lanjut Kevin, seolah sedang membacakan angka biasa. Tapi jari yang memegang amplop dokumen terlihat sedikit lebih kaku dari biasanya.
Kevin menatap ekspresinya. Untuk pertama kalinya, senyum kecil muncul tanpa dia sembunyikan.
"Kita bisa cari tempat yang lebih layak," katanya.
Kita.
Lagi.
Meilin turun dari kasur terlalu cepat, lalu hampir meringis karena perutnya belum sepenuhnya pulih. Kevin langsung maju.
"Pelan."
"Aku senang."
"Senang juga bisa pelan."
Meilin tertawa kecil. Kevin berdiri sangat dekat sekarang. Dekat seperti rumah sakit. Dekat seperti pertanyaan yang belum selesai.
Dia menatap Meilin cukup lama sebelum berkata, "Tadi aku bilang mau bicara."
Jantung Meilin mulai memukul lagi.
"Iya."
Kevin menarik napas.
"Kamu mau..."
Ponsel Kevin berbunyi keras di meja.
Keduanya menoleh bersamaan.
Di layar, nama supervisor kontraknya muncul, disertai pesan singkat yang membuat suasana langsung berubah.
Supervisor: Kev, bisa angkat sekarang? Ada masalah serius di kantor.