NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023

Undangan Keluarga Prawira

Pesan dari Baskara datang saat Bunga sedang membungkus ulang scarf pesanan ketiga.

Nomornya belum pernah mengirim pesan pribadi sebelumnya. Selama ini semua komunikasi melewati Melati, grup, atau acara. Karena itu, ketika nama `Baskara Prawira` muncul di layar ponsel pinjaman, Bunga hampir menjatuhkan pita kecil yang sedang ia ikat.

`Melati bilang kamu membantu beberapa orang mencari barang untuk acara. Kamu bisa datang ke rumah besok sore? Ada makan malam keluarga. Sekalian mungkin ada yang membutuhkan bantuanmu.`

Bunga membaca pesan itu dua kali.

Rangga membaca bersama matanya dan langsung berkata, "Jangan jawab terlalu cepat."

"Aku tahu."

Tiga detik kemudian, Bunga mengetik.

"Itu terlalu cepat."

"Aku belum kirim."

Ia menghapus pesan, menulis lagi, menghapus lagi. Mendekati Baskara sebagai jalur ke Hartono sudah terasa rumit sebelum ini. Sekarang undangan itu bukan lagi tea gathering atau auction. Itu makan malam keluarga. Ruang yang lebih pribadi, lebih berbahaya, dan lebih dekat pada pusat kekuasaan Prawira.

Ponsel bergetar lagi.

`Paman saya juga akan hadir. Kamu pernah bertanya soal proyek Kalimantan, kan? Mungkin kamu akan mendengar hal menarik.`

Bunga tidak bernapas selama beberapa detik.

"Paman," katanya pelan.

"Hartono," jawab Rangga.

Nama itu membuat kamar kos berubah. Rak plastik, kasur tipis, tumpukan paket scarf, semua mendadak terasa jauh dari tanah Desa Kemuning yang basah setelah hujan. Bunga melihat lagi lantai rumah Nenek Ratna dalam ingatan, darah dekat mulut, tangan tua yang tidak bergerak.

Ia meremas pita sampai kusut.

"Bunga," panggil Rangga.

"Aku tahu. Jangan gegabah."

"Saya belum mengatakan apa-apa."

"Tapi kamu akan."

"Karena kamu sekarang menatap ponsel seperti ingin menggigitnya."

Bunga meletakkan pita. "Dia akan ada di sana."

"Ya."

"Dalam satu ruangan."

"Ya."

"Makan malam. Orang itu makan malam."

Kalimat itu terdengar bodoh, tetapi kemarahan memang sering berhenti di hal-hal kecil. Hartono makan malam. Hartono duduk di meja keluarga, memakai jas, menerima hidangan, mungkin tertawa. Sementara banyak orang kehilangan rumah, kehilangan keluarga, kehilangan kemampuan makan tenang.

Rangga tidak memotong pikirannya.

Setelah beberapa saat, ia berkata, "Ini kesempatan. Tapi bukan untuk menyerang."

"Aku tahu."

"Kita datang untuk membaca. Siapa yang dekat dengannya, siapa yang takut, bagaimana Baskara memosisikan diri, apakah map Garuda Perkasa di ruang baca terkait makan malam ini."

"Dan kalau aku ingin menancapkan garpu ke tangannya?"

"Pakai garpu dessert. Lebih kecil. Lebih mudah dihentikan."

Bunga menatap kosong.

"Itu bercanda?"

"Upaya buruk."

Untuk pertama kalinya sejak pesan itu datang, Bunga tertawa pendek. Tawa itu kering, tetapi cukup untuk membuat tangannya tidak gemetar.

Ia membalas Baskara:

`Saya bisa datang. Kalau ada yang perlu dibantu untuk acara, kirim detailnya.`

Baskara membalas:

`Datang sebagai tamu. Bukan staf.`

Bunga menatap kalimat itu lebih lama dari seharusnya.

"Dia sedang memperjelas posisi," kata Rangga.

"Posisi apa?"

"Bahwa kamu tidak datang untuk melayani."

"Atau dia tidak mau kelihatan mengundang penyedia jasa ke meja keluarga."

"Mungkin."

"Kamu selalu memberi kemungkinan yang bikin kepala penuh."

"Karena satu kemungkinan saja terlalu berbahaya."

Sore itu Bunga pergi ke rumah Melati untuk mengembalikan beberapa baju yang sudah bersih. Melati sedang duduk di ruang keluarga, memeriksa daftar menu dengan wajah kesal.

"Kamu sudah dapat pesan dari Kak Bas?" tanya Melati bahkan sebelum Bunga duduk.

"Sudah."

Melati menggembungkan pipi. "Aku baru tahu dia mengundangmu langsung. Tumben sekali."

"Makan malam itu besar?"

"Tidak besar. Tapi keluarga. Ada Om, Tante, beberapa sepupu, dan..." Melati berhenti.

"Pak Hartono."

Melati menatapnya. "Kamu tahu?"

"Baskara bilang pamannya datang."

Melati mengangguk pelan. "Aku tidak terlalu suka kalau Paman Hartono datang. Rumah jadi terasa seperti kantor keamanan."

Rangga langsung menajam. "Tanyakan kenapa."

Bunga berkata, "Kenapa?"

Melati menurunkan suara. "Semua orang jadi hati-hati. Bahkan Papa. Kak Bas juga lebih diam. Paman Hartono tidak marah-marah, tapi kalau dia masuk ruangan, orang otomatis mengecek kata-kata sendiri."

"Dia sering datang?"

"Tidak sesering dulu. Tapi kalau ada urusan proyek atau keluarga besar, dia muncul."

"Besok urusan apa?"

Melati menggigit bibir. "Katanya soal sponsor, proyek komunitas, dan makan malam biasa. Tapi makan malam biasa tidak perlu daftar tempat duduk seperti rapat."

Bunga menatap daftar menu. Ada kolom nama tamu, posisi duduk, pantangan makanan, catatan singkat. Hartono ditempatkan di sisi tengah, dekat orang tua Baskara. Baskara di seberang. Melati sedikit jauh.

"Aku di mana?"

Melati menunjuk satu kursi. "Sampingku. Aku yang minta."

Bunga merasa sedikit lega.

"Tapi..." Melati ragu. "Ratih juga datang."

Rasa lega itu langsung tipis.

"Kenapa?"

"Keluarga Permata terkait sponsor auction. Lagi pula, Ratih selalu tahu cara membuat dirinya diundang."

Rangga berkata, "Jadi ruangan itu akan berisi Hartono, Ratih, Baskara, dan keluarga Prawira. Risiko tinggi."

Bunga menatap daftar tempat duduk. "Hadiah lengkap."

Melati menangkap nada suaranya. "Bung, kalau kamu tidak nyaman, jangan datang. Aku bisa bilang kamu sakit."

Bunga hampir mengatakan iya. Sakit adalah alasan mudah. Kepala pusing, tubuh lelah, bisnis kecil belum stabil, Rangga masih punya urusan Reno. Banyak alasan untuk tidak duduk satu meja dengan pembunuh Nenek Ratna.

Namun di notes-nya ada kalimat: `Bukti harus dibuat publik dan utuh.`

Ia menarik napas.

"Aku datang."

Melati menatapnya. "Kamu yakin?"

"Tidak. Tapi aku datang."

Melati tidak tersenyum. Ia hanya menggenggam tangan Bunga sebentar. "Kalau ada yang membuatmu tidak aman, lihat aku. Kita keluar."

"Kamu selalu jadi pintu darurat, ya?"

"Teman memang begitu."

Di dalam kepala, Rangga diam dengan rasa hangat yang pelan.

Malamnya, di kos, Bunga menyiapkan pakaian. Ia memilih blouse hijau tua miliknya sendiri di bawah blazer pinjaman Melati. Bukan yang paling mahal. Bukan yang paling aman. Tetapi ada sesuatu dari memakai satu benda miliknya sendiri saat akan bertemu Hartono.

Dari kotak plastik kecil di bawah kasur, ia mengambil wayang kulit miniatur yang dulu dibuat Nenek Ratna dari sisa kulit tipis dan batang bambu. Bentuknya sederhana, warnanya sudah pudar, tetapi Bunga selalu membawanya saat harus melakukan hal yang membuat lututnya ingin mundur.

"Itu dari Nenek?" tanya Rangga.

"Iya. Katanya kalau aku takut, pegang ini, ingat punggung harus tetap tegak."

Ia menyelipkan wayang kecil itu ke dalam clutch.

Ia menyisir rambut, lalu menatap cermin kecil.

"Besok," katanya, "aku duduk satu meja dengan dia."

Rangga menjawab, "Besok kita membaca ruangan, bukan membakar ruangan."

"Aku tahu."

"Bunga."

"Aku tahu."

Ia mematikan lampu.

Namun di dalam gelap, telapak tangannya masih mengingat lantai rumah Nenek Ratna.

Dan undangan keluarga Prawira di ponselnya terasa seperti pintu menuju ruang yang selama ini ia datangi hanya dalam mimpi buruk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!