NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Teman Baru

Instagram story itu hilang setelah dua puluh empat jam, tetapi tatapan orang tidak ikut hilang.

Hari kedua sekolah, Erlyn baru saja duduk ketika dua siswi di baris depan menoleh bersamaan. Mereka tidak mengatakan apa pun. Hanya melihat, lalu kembali berbisik sambil menunduk ke ponsel. Di layar salah satunya, Erlyn sempat menangkap warna hitam mobil Chisen sebelum gambar itu cepat-cepat ditutup.

Ia pura-pura tidak melihat.

Pura-pura adalah keahlian yang ternyata sangat berguna di sekolah baru.

Pura-pura tidak mendengar ketika seseorang berkata, "Itu yang diantar cowok kemarin, kan?"

Pura-pura tidak peduli saat seorang murid laki-laki melewati mejanya dan berdeham terlalu keras.

Pura-pura sibuk membuka buku fisika meski halaman yang ia lihat masih daftar isi.

Di Belitung, orang juga bergosip. Tetapi gosip di sana punya wajah yang jelas. Tante sebelah rumah, pemilik warung, teman sekelas yang bicara terlalu keras. Di sini, gosip punya ponsel, grup WhatsApp, dan tatapan yang berpindah lebih cepat daripada Erlyn bisa membela diri.

"Kursi ini kosong?"

Erlyn mengangkat kepala.

Seorang gadis berdiri di samping mejanya, membawa tas kanvas penuh gantungan kecil berbentuk bulan dan bintang. Rambutnya sebahu, diikat setengah asal-asalan. Di pergelangan tangannya ada gelang manik-manik ungu. Matanya ramah, tetapi bukan ramah yang dibuat-buat.

"Kosong," jawab Erlyn.

Gadis itu langsung duduk. "Aku Tio Angie. Tapi panggil Angie saja. Kamu Tan Erlyn, kan?"

"Iya."

"Pindahan dari Belitung."

Erlyn berhenti membuka buku. "Semua orang tahu?"

Angie tertawa kecil. "Wali kelas yang bilang kemarin. Tenang, yang lebih heboh bukan Belitungnya."

Erlyn menatapnya.

Angie mengangkat kedua tangan, seolah menyerah. "Oke, maaf. Aku terlalu jujur."

Anehnya, kejujuran itu tidak membuat Erlyn kesal. Mungkin karena Angie tidak berbisik di belakangnya. Mungkin karena matanya tidak bergerak menghitung harga sepatu, merek ransel, atau cerita di balik mobil hitam.

"Kalau mau tanya, tanya saja," kata Erlyn.

Angie memiringkan kepala. "Benar boleh?"

"Daripada kamu bikin teori sendiri."

"Cowok di mobil kemarin siapa?"

Langsung sekali.

Erlyn hampir tertawa karena kaget. Ia menutup buku fisika, lalu menatap papan tulis kosong di depan kelas.

"Keluarga."

"Keluarga yang ganteng."

"Angie."

"Oke, oke." Angie menahan senyum. "Kakak?"

Erlyn terdiam sepersekian detik. Kata itu seharusnya mudah. Chisen memang kakak tirinya. Tidak sedarah, tetapi secara keluarga, jawabannya paling aman adalah iya. Namun di telinganya, kata kakak terasa belum menempel pada laki-laki yang lebih sering menutup pintu daripada membuka percakapan.

"Kakak tiri," jawabnya akhirnya.

Alis Angie naik, tetapi ia tidak langsung berseru seperti orang lain mungkin akan berseru. Ia hanya mengangguk pelan. "Oh. Mama kamu menikah lagi?"

"Iya."

"Kamu baru pindah ke rumah mereka?"

"Iya."

"Rumahnya besar?"

Erlyn menoleh.

Angie langsung meringis. "Maaf. Itu bukan urusanku."

"Besar," jawab Erlyn, sebelum gadis itu sempat menarik pertanyaannya. "Terlalu besar."

Angie menatapnya beberapa detik, lalu untuk pertama kalinya senyumnya melembut. "Pasti capek, ya."

Kalimat itu sederhana. Tidak ada nasihat. Tidak ada rasa kasihan yang berlebihan. Hanya pengakuan bahwa pindah rumah, punya keluarga baru, masuk sekolah baru, dan menjadi bahan tatapan orang memang melelahkan.

Erlyn menunduk pada jari-jarinya. "Lumayan."

Bel masuk menyelamatkan mereka dari percakapan yang mungkin terlalu cepat menjadi dalam.

Sepanjang pelajaran pertama, Angie beberapa kali mendorong catatan kecil ke sisi meja Erlyn. Bukan tentang Chisen. Bukan tentang mobil. Hanya gambar kecil guru matematika dengan kepala terlalu besar, tulisan jangan tidur, dan satu lingkaran di soal yang menurutnya penting.

Erlyn tidak ingin tertawa, tetapi sudut bibirnya tetap naik.

Saat istirahat, Angie mengajaknya ke kantin.

"Kalau kamu duduk sendiri, orang bakal makin semangat mengarang cerita," katanya sambil berjalan. "Kalau duduk sama aku, minimal mereka harus mengarang tentang kita berdua. Lebih kreatif."

"Kamu memang selalu begini?"

"Baik hati?"

"Percaya diri."

Angie tertawa. "Itu cara halus bilang cerewet, ya?"

Di kantin, beberapa murid masih menatap. Tetapi bersama Angie, tatapan itu terasa tidak terlalu tajam. Angie memesan mi ayam, Erlyn membeli roti dan teh botol. Mereka duduk di meja dekat jendela.

"Jadi," Angie membuka bungkus sambal, "kamu suka fisika?"

"Lumayan."

"Lumayan sampai buka buku saat orang lain lagi gosip?"

"Daripada dengar gosip."

"Masuk akal."

Percakapan itu ringan. Untuk pertama kalinya sejak pindah ke Surabaya, Erlyn merasa ada seseorang di sekolah yang tidak menuntutnya menjadi versi tertentu. Tidak harus menjadi anak keluarga kaya. Tidak harus menjadi gadis Belitung yang minder. Tidak harus menjelaskan kenapa kakak tirinya mengantar dengan mobil mahal.

Setelah pulang sekolah, Erlyn menemukan Angie sedang memasukkan sesuatu ke dalam tas kanvasnya. Sebuah kotak kecil berwarna hitam, pinggirnya sudah agak aus.

"Itu apa?" tanya Erlyn.

Mata Angie langsung berbinar. "Kartu tarot."

Erlyn mengerjap. "Kamu bawa tarot ke sekolah?"

"Tidak setiap hari. Hari ini saja. Rasanya perlu."

"Perlu untuk apa?"

Angie menepuk kotak itu dengan bangga. "Untuk membaca energi anak baru yang hidupnya kelihatan seperti drama."

Erlyn mendengus. "Hidupku bukan drama."

"Kalau begitu kartunya akan bilang begitu."

Erlyn menggeleng, tetapi ia tidak bisa menahan senyum kecil. Di luar kelas, beberapa murid masih melirik ke arahnya. Di dalam kelas, Angie berdiri dengan kotak tarot di tangan seperti menawarkan payung di tengah gerimis yang belum terlihat.

Angie mencondongkan tubuh sedikit, suaranya turun menjadi setengah bisikan.

"Aku bisa baca kartumu kalau kau mau."

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!