Seorang gadis yang pernah terpuruk karena masa lalunya, kini datang kembali untuk membalaskan dendamnya.
Ia tidak akan menyerah sampai tujuannya itu belum tercapai.
Dengan tekatnya, ia akan berusaha merebut dan menghancurkan hubungan dari sosok yang pernah dengan begitu jahat menggoreskan luka dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clara Dasella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Berbeda dengan Reiner yang saat ini tengah mengalami koma, disis lain di kota London tepatnya di sebuah perumahan elit disana, justru nampak terlihat dengan jelas bagaimana Nara yang begitu bahagia saat bisa kembali dipertemukan dengan Kania, sahabat baiknya.
Keduanya saling berpelukan melepas rindu seolah sudah bertahun-tahun tidak berjumpa, padahal hanya selang beberapa hari saja mereka berdua terpisah.
Seolah lupa dengan apa yang sempat terjadi diantara dirinya dan Reiner, baik Nara atau Kania tidak ada dari salah satunya membicarakan atau menyebut nama Reiner lagi.
Mereka berdua hanya berbincang dan makan berdua dikamar seraya rertawa setiap membicarakan hal yang sekiranya terdengar lucu.
Sampai tiba malam hari tepatnya di jam dua malam, Nara yang kala itu belum bisa terlelap memutuskan untuk keluar ke taman yang tepatnya tidak jauh dari perumahan yang ia tinggali.
Gadis itu terduduk termenung di kursi kayu seraya menikmati angin malam yang berhembus cukup kencang. Tanpa sadar setetes air matanya menetas dibalik pipinya. Entah kenapa, tapi rasanya ada sesak yang tertinggal dihatinya.
"Kenapa tiba-tiba aku menangis? Aneh sekali." Nara mengusap air matanya lalu menghela nafas sedikit panjang.
"Aku sudah disini dan aku sudah melakukan apa yang aku inginkan sejak awal. Mempermainkannya lalu meninggalkannya." Ucapnya.
"Mulai saat ini aku harus bisa benar-benar melupakannya dan--"
"Kau menang, Nara."
Terdengar suara yang tidak asing bagi Nara yang seketika membuatnya berhenti untuk bicara. Ia berdiri kemudian memutar tubuhnya menatap kearah sumber suara.
"Melly?" Mata Nara seketika terbelalak. Bagaimana bisa Melly berada ditempat yang sama dengannya? Dan bagaimana mungkin gadis itu bisa mengetahui keberadaannya saat ini?
Ya, semua pertanyaan demi pertanyaan itu seketika muncul dalam benaknya yang tidak bisa ia lontarkan pada istri Reiner itu.
Melly melangkah dengan senyum miris dibibirnya mendekat kearah Nara, sedangkan Nara, gadis itu masih berdiri dengan menatap penuh kebencian pada Melly.
"Bagaimana bisa kau tau aku ada disini!" Tanya Nara dengan nada dinginnya.
Melly tidak menjawabnya, ia tetap melangkah perlahan demi perlahan mendekat kearah Nara. Sampai tepat dihadapan Nara, tiba-tiba Melly menjatuhkan dirinya dan berlutut dihadapan Nara.
Nara yang kaget sontak langsung mundur selangkah menjaga jarak. Rasa trauma yang dimana dirinya pernah dilukai oleh Melly, membuatnya sedikit mawas diri jika sewaktu-waktu Melly akan melakukan hal buruk lagi padanya.
Terlebih lagi karena hubungan Melly dan Reiner saat ini yang sedang tidak baik lantaran perbuatannya. Ya, perbuatannya yang disengaja hanya untuk bisa membalaskan dendam dan rasa sakit hatinya dulu.
"Maafkan aku, Nara. Maafkan aku..." Ucap Melly yang dengan tiba-tiba menangis berlutut dihadapan Nara.
"Tolong kembalilah, kembalilah untuk Reiner." Kata Melly lagi.
Nara yang tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Melly hanya menggelengkan kepalanya. Gadis itu kemudian memilih beranjak pergi meninggalkan taman lantaran malas menanggapi atau bahkan mendengarkan ucapan Melly yang dianggapnya hanya omong kosong belaka.
"Reiner mengalami koma saat ini, Nara! Teriak Melly yang langsung membuat Nara menghentikan langkahnya.
"Ya, Nara! Reiner mengalami kecelakaan dan sekarang dia koma!" Mendengar hal itu lantas Nara perlahan memutar tubuhya menatap kearah melly yang masih duduk bersimpuh.
"Aku mohon kembalilah. Aku sudah menyetujui perceraian kami dan aku juga mengaku kalah karena sampai saat ini kau lah pemenang sebenarnya yang masih bertahta tinggi dihatinya, Nara." Kata Melly.
Nara menunduk senyum seolah apa yang diinginkannya semua sudah didapatnya. Hancurnya rumah tangga Reiner dan Melly juga bagaimana kondisi Reiner yang sangat menyedihkan saat ini.
"Aku berjanji padamu, aku akan pergi sejauh mungkin setelah ini. Tapi berjanjilah padaku untuk kembali dan menemui Reiner. Dia sangat membutuhkanmu, Nara." Melly menangis sejadi-jadinya dihadapan Nara.
Tidak dipungkiri, dalam senyum yang dilontarkan oleh Nara, ia pun juga menitihkan air matanya. Tapi mengingat bagaimana ia menderita saat dulu dan mengingat bagaimana saat ia kehilangan bayinya, seolah semua itu menutup rapat mata dan hatinya untuk tidak akan pernah kembali pada Reiner meski pria itu mati sekali pun.
"Humph, untuk apa kau mengemis padaku? Bukankah kalian orang-orang yang hebat? Dan ada kedua orangtua Reiner yang juga memiliki banyak kekuatan untuk menyadarkan putra kesayangan mereka, kan?" Kata Nara.
"Pergilah, Melly. Aku tidak ada hubungan apapun lagi dengan Reiner juga keluarga Alexander." Nara memutarkan tubuhnya kembali dan melangkah pergi namun suara lain menghentikkan langkahnya kembali.
"Jika karena kejahatanku yang membuatmu enggan menolong putraku, maka bunuhlah aku." Ucap Ayah Reiner yang tiba-tiba saja ada disana.
Nara yang juga mengenal suara itu langsung kembali memutar tubuhnya. "Tuan Xander."
Tidak disangka oleh Nara, pria paling kaya dan paling berkuasa itu dengan sangat memalukannya menangis dan berlutut memohon pada Nara. Ya, gadis yang sudah dihinanya dan yang sudah dibuatnya menderita lantaran dipisahkan oleh putranya.
"Jika nyawaku bisa membuatmu kembali pada putraku, maka bunuh saja aku Nara." Kata ayah Reiner seraya menangis dihadapan Nara.
"Jika kau ingin mati maka matilah sendiri. Tidak usah memintaku untuk membunuhmu karena aku bukan pembunuh sepertimu." Kata Nara.
Ucapan Nara sontak membuat ayah Reiner terdiam dari tangisnya. Ya, benar apa yang dikatakan Nara, pembunuh yang sebenarnya adalah dia sendiri. Karean keegoisannya ia tidak hanya menghancurkan kebagaiann Nara tapi juga memisahkannya dari janin yang dikandungnya.
Muak dan tidak ingin lagi menatap wajah ayah Reiner, kemudian Nara pun beranjak pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Dan ayah Reiner sendiri, pria paruhbaya itu hanya terdiam menatap kepergian Nara.
"Nara..." Ucap Kania yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu rumah dan menyaksikan semuanya.
Nara mengusap air matanya lalu masuk kedalam rumah. Dan Kania menatap bagaimana menyedihkannya wajah dua orang yang sudah pernah dengan dalam melukai hati sahabatnya itu.
"Tuan Xander, ada baiknya kau kembali karena mungkin Nara tidak akan mau menuruti keinginganmu." Ucap Kania yang kemudian menutup rapat pintu rumahnya.
Didalam kamar, Nara menangis dengan kerasnya. Perasaannya benar-benar tidak karuan saat ini. Sedih, marah dan kecewa semua bercampur menjadi satu.
"Kenapa denganku ini! Bukankah harusnya aku senang jika melihatnya seperti ini! Tapi kenapa aku malah menagis dan merasakan sakit yang begitu luar biasa, kenapa!" Teriaknya dengan keras.
Brak!
Mendengar teriakan dan tangisan Nara lantas Kania membuka pintu kamar dengan keras dan langsung memeluk sahabatnya itu. "Cukup, Nara, Hentikan tangismu ini aku mohon."
"Kenapa, Kania? Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Dia sudah berada diambang kehancuran dan kematiannya tapi kenapa aku justru menagisinya? Kenapa, Kania? Kenapaaaa!!!"
Kania menangkup pipi Nara dan meminta agar sahabatnya itu untuk bersikap lebih tenang. "Nara, dengarkan aku. Kau tidak bersalah dalam hal ini, hanya saja kau masih mencintainya."
"Apa?"
Kania mengangguk dan mengusap air mata Nara yang sudah begitu membanjiri kedua pipinya. "Ya, kau masih mencintainya maka itulah kau juga merasa terluka. Sama halnya denganmu, dia juga tidak akan sadar jika kau terus membencinya."
Nara terdiam, gadis itu menatap wajah Kania dan mendengarkan dengan baik setiap apapun yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
Entah berapa lama, tapi yang pasti Kania masih mencoba menenangkan Nara dari perasaan yang terus menggunjang emosinya saat ini.
Lanjut Thor say..💪💪🖐️