NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Tidak satu pun dari mereka menarik diri.

Pagi setelah malam listrik padam, Keira turun ke ruang makan dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.

Richard juga begitu.

Itu membuat suasana lebih berbahaya.

Di meja makan, Jason melaporkan agenda hari itu. Lim Group mengadakan acara apresiasi internal untuk beberapa divisi di hotel kawasan Sudirman. Keira wajib hadir sebagai bagian dari tim proyek yang baru dibersihkan. Arief akan diperkenalkan sebagai manajer interim, Siska mendapat rekomendasi perlindungan saksi internal, dan beberapa direksi akan hadir.

"Dress code cocktail formal," kata Jason.

Keira mengangguk. "Saya sudah punya gaun."

Richard yang sedang minum kopi hitam berhenti sepersekian detik. "Gaun apa?"

"Kevin pernah mengirim satu sebelum wisuda. Belum pernah saya pakai."

Udara meja makan langsung berubah.

Jason menatap tablet seolah mendadak menemukan laporan perang. Staf yang menuang air putih melambat, lalu cepat mundur.

Richard meletakkan cangkir. "Pakai yang lain."

"Kenapa?"

"Aku tidak suka."

Keira mengangkat alis sedikit. "Om tidak suka modelnya atau pengirimnya?"

Richard menatapnya.

Keira menunduk, menyembunyikan senyum. "Baik. Saya lihat lemari dulu."

Namun sore itu, ia tetap memakai gaun dari Kevin.

Gaun itu berwarna hijau pucat dengan motif bunga kecil, potongan bahu halus, dan pinggang yang pas. Tidak terlalu terbuka. Tidak murahan. Justru karena cukup elegan, ia lebih menyebalkan. Kevin memang pengecut, tetapi seleranya tidak buruk saat ingin terlihat seperti tunangan ideal.

Keira berdiri di depan cermin kamar, menyemprotkan sedikit parfum lily of the valley, lalu menatap dirinya sendiri.

Ia tahu Richard akan marah.

Ia juga tahu kemarahan itu akan berguna.

Ketika turun, Richard sudah menunggu di foyer. Ia mengenakan setelan gelap, manset jade di pergelangan tangan kanan. Begitu melihat gaun itu, wajahnya tidak berubah, tetapi mata di balik kacamatanya menjadi dingin.

"Ganti."

"Acara mulai satu jam lagi."

"Aku bilang ganti."

"Saya tidak punya gaun lain yang sesuai."

"Jason."

Jason yang berdiri di samping pintu langsung menoleh. "Boss."

"Plaza Indonesia."

Keira pura-pura terkejut. "Sekarang?"

"Sekarang."

Di mobil, tidak ada yang bicara. Rolls-Royce B 1 RIC melaju melewati jalan Jakarta yang padat sore hari. Keira duduk di kursi belakang, menjaga jarak sopan, tetapi kain gaunnya sesekali menyentuh celana Richard ketika mobil berbelok. Setiap kali itu terjadi, rahang Richard menegang sedikit.

"Om benar-benar tidak suka gaun ini?"

"Tidak."

"Kevin memilihnya cukup mahal."

"Aku tidak peduli harganya."

"Lalu?"

"Aku tidak suka sesuatu dari dia menempel di tubuhmu."

Keira menoleh ke jendela, membiarkan pantulan kaca menyembunyikan senyumnya.

Di Plaza Indonesia, butik yang dipilih Jason sudah siap menerima mereka sebelum mobil berhenti. Manajer butik menyambut dengan wajah profesional yang terlalu terlatih.

"Selamat sore, Pak Lim. Ruang fitting VIP sudah siap."

Richard hanya mengangguk.

Keira dibawa ke deretan gaun. Richard memilih tanpa banyak bicara. Hitam satin? Tidak. Merah wine? Terlalu mencolok. Biru tua? Terlalu dingin. Akhirnya tangannya berhenti pada gaun putih gading dengan potongan leher sederhana, lengan tipis, dan detail bordir halus di pinggang.

"Ini."

Keira menyentuh kainnya. "Om memilih seperti memilih kontrak."

"Kontrak lebih mudah."

"Saya tersinggung."

"Masuk."

Di ruang fitting VIP, Keira mengganti gaun. Kainnya memang pas, terlalu pas di bagian punggung. Resleting berhenti di tengah.

Ia menatap cermin.

Ini kesempatan yang terlalu baik untuk dilewatkan.

"Om?"

Di luar tirai, suara Richard terdengar kaku. "Apa?"

"Resletingnya tersangkut."

"Panggil staf."

"Stafnya sedang ambil sepatu."

Diam.

"Om, acaranya hampir mulai."

Tirai terbuka sedikit. Richard masuk dengan wajah seperti orang yang tahu ia sedang berjalan menuju perangkap tetapi tetap masuk karena perangkap itu memanggil namanya.

Keira berdiri membelakangi cermin. Rambutnya disampirkan ke satu sisi, memperlihatkan tengkuk dan garis punggung yang belum tertutup sempurna. Resleting gaun berhenti di pertengahan, menyisakan kulit putih yang hangat oleh lampu fitting.

Richard berdiri di belakangnya.

"Jangan bergerak."

"Baik."

Ujung jarinya menyentuh kepala resleting.

Keira menahan napas.

Richard menarik pelan. Sangat pelan. Gigi resleting naik sedikit demi sedikit, menutup kulit yang baru saja dilihatnya. Namun sebelum tertutup, punggung tangan Richard sempat menyentuh tulang belakang Keira.

Sentuhan itu membuat tubuh Keira bergetar kecil.

Richard melihat dari cermin.

"Dingin?"

"Sedikit."

Bohong.

Ruangan itu hangat.

Richard menarik resleting sampai atas, lalu memasang kait kecil di tengkuk. Jarinya hampir menyentuh leher Keira. Hampir. Keira menatapnya lewat cermin. Untuk satu detik, mereka tampak seperti pasangan yang sedang bersiap menghadiri acara, bukan pria yang masih dipanggil Om dan gadis yang masih bermain di tepi jurang.

"Selesai," kata Richard.

Keira berbalik. "Bagus?"

Richard menatapnya terlalu lama. "Lebih baik."

"Daripada gaun Kevin?"

"Jangan sebut namanya saat memakai gaun yang kubeli."

Keira tersenyum kecil. "Baik, Om."

Malam itu, Keira datang ke acara kantor memakai gaun pilihan Richard. Gaun Kevin dilipat rapi oleh staf butik dan dimasukkan ke garment bag.

Di ballroom hotel, perubahan gaun itu langsung terbaca oleh orang-orang yang memang hidup dari membaca tanda. Siska memutar mata begitu melihat Keira.

"Lo diganti pakaiannya sama Boss?" bisiknya.

"Aku diganti oleh dress code."

"Dress code punya kartu kredit sendiri?"

Keira tersenyum tanpa menjawab.

Arief memperkenalkan tim proyek dengan cara singkat dan profesional. Beberapa direksi menyalami Keira, menyebut namanya dengan hati-hati, seolah ia bukan lagi sekadar anak magang setelah Pak Dharma tumbang. Di sudut ruangan, beberapa staf perempuan memperhatikan gaun Keira, lalu memperhatikan manset jade Richard yang sesekali terlihat saat ia mengangkat gelas.

Warna jade di pergelangan Richard dan bordir halus di pinggang Keira tidak sama.

Tetapi entah kenapa, keduanya terlihat seperti dipilih oleh tangan yang sama.

"Nona Tan," kata salah satu direktur senior, "selamat atas kontribusinya di proyek. Pak Arief bilang dokumentasi Anda sangat membantu audit."

"Terima kasih, Pak. Tim yang membantu banyak."

Richard berdiri tidak jauh, mendengar jawaban itu. Ia tidak memuji. Ia hanya menatap Keira sebentar, cukup untuk membuat Siska menyikut lengan Keira pelan.

"Itu bukan tatapan atasan ke anak magang," gumam Siska.

"Fokus makan."

"Gue sedang fokus menyelamatkan diri."

Keira hampir tertawa. Namun saat ia melihat garment bag gaun Kevin berada di tangan Jason di dekat pintu, tawanya menghilang. Richard juga melihatnya. Mata pria itu kembali dingin.

Sepanjang acara, Richard tidak pernah menyentuh Keira. Namun setiap kali ada pria mendekat terlalu lama, Jason selalu muncul dengan alasan administrasi. Perlindungan itu begitu rapi sampai hampir tidak terlihat, dan justru karena itu Keira merasa lebih sulit bernapas.

Keira mengira garment bag itu akan dibuang.

Namun ketika acara selesai, ia melihat Richard mengambilnya sendiri dari tangan Jason dan membawanya pulang.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!