NovelToon NovelToon
Dilahirkan Kembali: Nenek Tua Tak Kenal Takut

Dilahirkan Kembali: Nenek Tua Tak Kenal Takut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Surat Cinta

Mas Tono, aku sudah lama menunggu...

Bu Yati berdiri di ruang depan dengan kertas itu di tangan. Rumah masih gelap. Hanya lampu kecil dekat dapur yang menyala, membuat bayangan kursi tampak panjang di lantai. Bau parfum murahan dari surat itu terasa manis berlebihan, seperti bunga plastik yang disemprot minyak wangi.

Ia membuka lipatan kertas sampai penuh.

Tulisan perempuan itu rapi, sedikit miring, seolah setiap huruf sengaja dibuat lembut.

Mas Tono, aku sudah lama menunggu kabar darimu. Setelah sekian tahun, ternyata Allah masih mempertemukan kita lewat jalan yang aneh. Aku sering ingat masa muda kita. Waktu itu aku bodoh, kamu juga terlalu takut. Sekarang aku sendiri, kamu juga sering bilang hidupmu sepi. Kalau suatu hari kamu ingin minum teh dan bicara tanpa dihakimi, rumahku terbuka.

Di bawahnya ada nama.

Lastri.

Bu Yati membaca sekali lagi. Tidak ada kata cinta. Tidak ada ajakan terang-terangan. Justru karena itu, surat itu lebih licin. Perempuan yang menulisnya tahu cara berdiri di tepi, satu kaki di jalan kenangan, satu kaki di pintu rumah orang.

Lastri.

Nama itu membuka ingatan seperti pintu tua yang dipaksa. Dalam hidup yang lalu, setelah Bu Yati mati, ia tidak tahu semua hal. Tetapi sebelum mati, ia pernah mendengar bisik-bisik tentang Pak Tono yang dekat dengan janda beranak tiga. Perempuan itu tampak lembut, rajin mengaji, pandai membawa makanan ke tetangga. Lalu ketika masuk rumah, ia mengunci beras, menghitung uang, dan membuat Pak Tono yang sudah tua hidup seperti buruh di rumah sendiri.

Mungkin bukan orang yang sama.

Mungkin juga inilah awalnya.

Pagi harinya, Bu Yati menunggu sampai anak-anak selesai sarapan. Tari berangkat kerja. Guntur ke sekolah. Bagus menjemput Melati karena Riani masuk shift pagi. Rumah tinggal ia dan Pak Tono.

Pak Tono sedang mencari kunci motor ketika Bu Yati meletakkan surat itu di meja.

"Ini siapa?"

Wajah Pak Tono berubah seketika.

Ia tidak langsung menjawab. Matanya turun ke surat, naik ke wajah Bu Yati, turun lagi. Gerakan kecil itu cukup bagi Bu Yati. Orang yang tidak bersalah biasanya bertanya dulu. Orang yang bersalah mencari cerita.

"Itu..." Pak Tono berdeham. "Teman lama."

"Namanya."

"Lastri."

"Aku bisa baca."

Pak Tono mengusap tengkuk. "Dia dulu tetangga waktu aku masih muda. Sudah lama tidak ketemu. Kemarin kebetulan bertemu di pasar. Dia baru pindah ke dekat sini."

"Dekat mana?"

"Perumahan kecil belakang terminal."

"Status?"

Pak Tono tampak tersinggung. "Bu'e, kamu seperti polisi."

"Kalau kamu lebih jujur, aku tidak perlu seperti polisi."

Ia diam, lalu menjawab lebih pelan. "Janda. Punya tiga anak. Suaminya sudah lama meninggal."

Bu Yati menatap surat itu. "Rudi, Wawan, Yanto?"

Pak Tono terkejut. "Kamu tahu dari mana?"

Bu Yati hampir tertawa. Jadi benar. Nama-nama itu pernah lewat dalam kabar buruk masa depan. Tiga anak lelaki yang kelak membuat rumah Pak Tono penuh suara asing, penuh tuntutan, penuh penguncian makanan. Tetapi ia tentu tidak bisa berkata begitu.

"Lastri menulisnya di bagian bawah," kata Bu Yati datar.

Pak Tono buru-buru membaca. Memang ada satu kalimat kecil tentang anak-anaknya. Ia tampak lega karena punya alasan.

"Kami cuma ngobrol. Dia susah. Anak-anaknya butuh arahan. Aku kasihan."

"Kasihanmu selalu mahal untuk rumah ini."

"Jangan samakan dengan Sri."

"Aku belum menyamakan. Kamu sendiri yang menyebut Sri."

Pak Tono terdiam.

"Bedanya memang ada," lanjut Bu Yati. "Sri datang dengan tangisan yang kelihatan. Dia minta beras, minta uang sekolah, minta tolong bayar listrik. Semua orang bisa melihat dia sedang mengulurkan tangan."

Pak Tono menatap lantai.

"Lastri lebih rapi. Dia tidak langsung minta. Dia membuat kamu merasa dibutuhkan dulu. Dia bilang kamu sepi. Dia bilang kamu tidak dihakimi. Besok-besok dia akan cerita anaknya susah cari kerja. Lusa dia akan bilang kontrak rumah naik. Setelah itu kamu sendiri yang merasa harus menolong, lalu pulang ke rumah ini dengan wajah orang paling berjasa."

"Kamu menuduh orang yang belum kamu kenal."

"Aku mengenal pola. Orangnya boleh ganti."

Bu Yati duduk di depannya. Tidak ada piring terbang. Tidak ada tamparan. Justru ketenangan itu membuat Pak Tono makin gelisah.

"Lastri menghubungi kamu malam-malam. Lastri menulis surat wangi. Lastri bilang kamu sepi. Lastri bilang rumahnya terbuka. Menurutmu itu cuma teman lama?"

"Memang tidak ada apa-apa!"

"Belum."

"Bu'e."

"Jangan panggil aku seperti tidak terjadi apa-apa." Bu Yati menyentuh surat dengan ujung jari. "Perempuan itu sedang mengetuk pintu. Bukan pintu rumah ini, tapi pintu lemah di kepalamu. Dia tahu kamu suka merasa jadi laki-laki baik. Dia tahu kamu suka dikasih tempat untuk mengeluh. Dia memberi kamu teh, telinga, dan rasa kasihan. Setelah itu apa? Uang? Kerja untuk anaknya? Rumah?"

Pak Tono berdiri. "Kamu terlalu jauh."

"Aku justru melihat dari jauh."

Ia ingin mengatakan, aku sudah melihat akhir hidupmu. Aku sudah melihat bagaimana orang yang kamu beri kasihan akan menghisapmu sampai kering. Tetapi kalimat itu tertahan. Ada hal-hal yang tidak perlu dibuktikan dengan membuka rahasia langit.

Pak Tono melemah sedikit. "Aku cuma merasa... di rumah ini semua orang menyalahkanku. Lastri cuma mendengar."

Bu Yati menatapnya lama.

Dulu, kalimat seperti itu mungkin membuatnya merasa bersalah. Ia akan memasak lebih enak, bicara lebih pelan, meminta anak-anak jangan membantah bapaknya. Sekarang ia hanya merasa lelah.

"Kalau kamu ingin didengar, bicara jujur. Kalau kamu ingin dikasihani perempuan lain, pergilah."

"Kamu mengusirku?"

"Belum."

Pak Tono menelan ludah.

"Terserah kamu," kata Bu Yati. "Tapi ingat, kalau kamu berani macam-macam, bukan aku yang rugi."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, aku sudah belajar hidup tanpa bergantung pada kamu. Anak-anak juga mulai belajar. Yang belum belajar cuma kamu."

Pak Tono menggenggam kunci motor sampai buku jarinya putih. "Aku tidak akan menemui dia."

"Jangan janji kepadaku. Janji pada dirimu sendiri kalau masih punya malu."

Ia mengambil surat itu kembali, melipatnya, lalu memasukkannya ke laci meja. Bukan untuk disimpan sebagai kenangan, melainkan sebagai bukti bahwa setiap kebohongan selalu punya tanggal lahir.

Hari itu Bu Yati tidak memaki lebih jauh. Ia juga tidak bercerita kepada Tari atau Guntur. Ia pergi bekerja seperti biasa, pulang, memasak, mencuci, lalu tidur lebih awal. Pak Tono menghabiskan malam dengan duduk di teras, menatap jalan seperti orang menunggu hukuman turun dari langit.

Di dalam kamar, Bu Yati membuka buku catatan kecil yang ia simpan di bawah tumpukan kain.

Halaman pertama masih kosong.

Ia mengambil pulpen.

Tangannya tidak bergetar saat menulis satu kata.

Cerai.

Bu Yati menatap kata itu lama. Bukan sebagai ancaman kosong. Bukan sebagai drama untuk menakut-nakuti Pak Tono. Kata itu seperti pintu yang baru ia gambar di dinding. Belum dibuka, tetapi sudah ada.

Ia menutup buku, lalu menyelipkannya di bawah bantal.

1
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya yang banyak memberi hikmah yang bisa dipetik,sehat selalu thor
Dewiendahsetiowati
selamat jalan Bu Sumirah,part ini bikin mewek😭😭😭
Dewiendahsetiowati
pasti banyak yang dukung Bu Yati salah satunya aku ☺️
Dewiendahsetiowati
apakah Parman suka sama Wulan
Dewiendahsetiowati
mantab Bu Sumirah kalau perlu tendang Danang atau pukul otaknya buat waras
Dewiendahsetiowati
Oalah Parman kok pelit men to,tapi bikin ngakak minta kacang dilempar kulit🤣🤣🤣
Dewiendahsetiowati
bagus Bu Yati
Dewiendahsetiowati
semoga bunga tidak terjadi apa2 sama bunga
Dewiendahsetiowati
kasihan lestari
Dewiendahsetiowati
bagus Bu Yati hajar para benalu itu
Dewiendahsetiowati
hadir thor,bab awal sudah nyesek bacanya
neng ade
semangat ya Tur 💪😁
neng ade
kasihan Melati.. lalu kabar Bunga gimana ya 🤔
neng ade
setelah cerai, Bu Yati punya karir yang bagus
neng ade
waduh,, bahaya tuh kalau sampai terjerat sama Danang
neng ade
Bagus ga bisa tegas..
neng ade
siapa lagi itu 🤔
neng ade
baka8ada perang dunia ke 7 nih ..😁
neng ade
waduh .. ga nyangka nih pak Tono ternyata masih ada selingkuhan nya
neng ade
kenapa ga di selesai kan dulu masalah itu .. 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!