NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Pelacak dalam Safir

"Bagaimana kamu tahu?"

Rayhan masih memeluk Keira di tepi gerbang tol ketika pertanyaan itu keluar. Sirine polisi menyala di belakangnya. Pak Kurniawan sudah diborgol, Bu Kurniawan menangis sampai suaranya serak, dan beberapa pengendara melambat untuk melihat keributan sebelum polisi mengusir mereka.

Rayhan tidak langsung menjawab.

Keira menatapnya dari jarak sangat dekat. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, tetapi matanya tetap tajam. Di lehernya, kalung safir biru menyentuh kulit seperti es kecil.

"Aku punya sistem keamanan," kata Rayhan akhirnya.

"Sistem keamanan apa?"

"Nanti."

"Rayhan."

"Kamu hampir diculik keluar Jakarta." Suaranya rendah, tertahan. "Sekarang kamu mau berdiri di tol dan menginterogasiku?"

"Ya."

Untuk sesaat, wajah Rayhan tampak antara ingin marah dan ingin jatuh berlutut. Lalu tubuh Keira melemas. Semua adrenalin yang menahannya sejak bagasi terbuka runtuh sekaligus. Rayhan menangkapnya sebelum lututnya benar-benar menyerah.

"Kei!"

Pertanyaan itu tertunda.

Di mobil Rayhan, Keira duduk bersandar dengan selimut darurat di bahu. Tim medis di lokasi sudah memeriksa tekanan darah dan denyutnya, tetapi Rayhan tetap memanggil Dr. William Wongso melalui video call. William, yang wajahnya masih kusut seperti baru keluar dari ruang praktik, menyuruh mereka membawa Keira pulang jika tidak ada perdarahan atau cedera kepala berat, lalu mengawasi suhu tubuhnya.

"Kalau demam di atas tiga puluh sembilan, hubungi aku lagi. Jangan sok jadi dokter, Ray."

"Aku tahu."

"Justru karena lo bilang tahu, gue khawatir."

Keira ingin tertawa, tetapi tenggorokannya sakit. Ia menutup mata. Mobil bergerak pelan. Di sampingnya, Rayhan menggenggam tangannya seolah jika dilepas satu detik saja, ia akan hilang lagi.

Malam itu, demamnya naik.

Tiga puluh sembilan koma enam.

Rayhan mengganti kompres di dahi Keira setiap beberapa menit. Ia memasak bubur dengan instruksi video dari Steven, lalu membuang mangkuk pertama karena terlalu asin. Mangkuk kedua terlalu encer. Mangkuk ketiga akhirnya bisa disebut makanan, meski Steven di telepon berkata, "Itu lebih mirip air yang punya ambisi jadi bubur."

Rayhan tidak peduli. Ia duduk di sisi ranjang, menyuapkan satu sendok kecil saat Keira setengah sadar membuka mata.

"Sedikit saja."

"Tidak mau."

"Kalau tidak makan, obatnya bikin mual."

"Kamu cerewet."

"Aku bisa lebih cerewet kalau kamu tidak nurut."

Keira menatapnya lelah. "Kamu mengancam pasien?"

"Aku memohon dengan nada salah."

Kalimat itu membuat sudut bibir Keira bergerak sangat tipis. Rayhan melihatnya dan hampir lupa bernapas.

Menjelang tengah malam, Keira menggigil. Rayhan mengambil jaketnya, tetapi Keira malah menarik selimut lebih tinggi dan bergumam, "Bau rumah sakit."

Rayhan berhenti.

Ia tahu penciuman Keira terlalu peka. Bau antiseptik dari ruang perawatan Safira, bau obat di pos medis tol, semua masih menempel di memori tubuhnya. Rayhan keluar ke balkon, menyalakan sigaret ringan, hanya dua tarikan, cukup untuk meninggalkan aroma asap yang lembut, bukan cerutu berat yang biasa ia pakai di Velvet.

Ketika kembali, Keira membuka mata setengah.

"Kamu merokok?"

"Sedikit."

"Untuk apa?"

Rayhan duduk di tepi ranjang. "Supaya kamarmu tidak hanya berbau obat."

Keira terlalu lelah untuk menjawab. Rayhan menunggu beberapa detik, lalu menunduk.

"Boleh aku cek panasmu?"

Keira tidak membuka mata, tetapi mengangguk kecil.

Bibir Rayhan menyentuh dahinya sebentar. Cara lama yang tidak ilmiah, tetapi lebih lembut daripada termometer. Setelah itu ia langsung menempelkan termometer digital di sisi pelipis, seolah takut Keira bangun dan menuduhnya memanfaatkan sakit.

"Masih tinggi," gumamnya.

Di antara panas dan kantuk, Keira tiba-tiba berkata, "Dulu Fira suka bawa berry liar."

Rayhan membeku.

"Berry?"

"Di belakang panti. Kecil. Merah. Asam."

"Fira itu..." Rayhan berhenti, lalu bertanya dengan suara terlalu hati-hati, "Laki-laki atau perempuan?"

Keira membuka mata. Bahkan dalam demam, tatapannya cukup untuk membuat Rayhan sadar ia baru saja mengatakan sesuatu yang bodoh.

"Perempuan."

Rayhan mengembuskan napas lega terlalu jelas.

"Kamu cemburu pada orang koma?"

"Aku tidak tahu dia koma saat bertanya."

"Kamu cemburu pada kenangan masa kecil?"

"Aku sedang dalam kondisi mental tidak stabil karena kamu baru diculik."

"Itu bukan pembelaan yang bagus."

"Aku tahu."

Keira menutup mata lagi. "Fira kakakku."

Rayhan menyentuh ujung selimut, tidak berani menyentuh wajahnya lagi. "Kalau suatu hari kamu mau cerita, aku dengar."

Keira tidak menjawab. Namun kali ini ia juga tidak menyuruh Rayhan pergi.

Pagi berikutnya, demam turun. Dua hari kemudian, Keira kembali ke kantor HEALER dengan wajah lebih pucat dari biasa dan langkah yang membuat Tari hampir menangis.

"Ci, harusnya istirahat dulu."

"Aku sudah istirahat."

"Diculik bukan cuti."

Keira menandatangani dokumen di mejanya. "Materi Bali?"

"Sudah siap. Tapi..." Tari ragu.

"Tapi apa?"

"Aku masih kepikiran. Waktu Ci dibawa, semua orang panik. Polisi cepat, iya, tapi Pak Rayhan datang terlalu cepat. Bahkan satpam belum selesai ambil rekaman CCTV, beliau sudah tahu posisi mobil."

Tangan Keira berhenti.

Kalimat itu tidak baru. Ia sudah memikirkannya sejak gerbang tol. Namun mendengarnya dari Tari membuat dugaan itu tidak lagi terasa seperti paranoia.

Siang itu juga, Keira melepas kalung safir dari lehernya untuk pertama kali sejak London.

Ia tidak memanggil teknisi dari HEALER. Terlalu banyak mata. Ia meminta Kevin memberi kontak teknisi profesional yang biasa memeriksa perangkat keamanan impor. Mereka bertemu di ruang meeting kecil di kantor HEALER setelah jam kerja. Tari berjaga di luar.

Teknisi itu memakai sarung tangan tipis dan kaca pembesar digital. Ia memeriksa kait, rangka platinum, lalu bagian belakang batu safir. Lima belas menit berlalu tanpa suara.

Keira berdiri di dekat jendela, kedua tangan terlipat.

"Ada sesuatu?" tanya Kevin.

Teknisi mengangkat kepala. "Ada modul mikro di balik dudukan permata. Sangat kecil. Baterainya tipis, kemungkinan aktif saat mendapat gerakan dan terhubung ke sistem GPS atau pemancar jarak jauh."

Ruangan itu menjadi sunyi.

Tari menutup mulut di pintu.

Kevin menatap Keira.

Keira tidak bergerak.

"Bisa dilepas tanpa merusak batu?" tanyanya.

"Bisa, tapi butuh alat presisi. Ini pemasangan kelas tinggi. Bukan pekerjaan toko biasa."

Keira mengambil kalung itu dari meja. Safir biru yang dulu tampak seperti langit London kini terasa seperti mata yang ditanam di kulitnya.

Rayhan menyelamatkannya.

Rayhan juga mengawasinya.

Dua kenyataan itu berdiri saling berhadapan, dan Keira berada di tengahnya dengan rasa dingin yang naik perlahan dari ujung jari.

"Lepaskan," katanya.

Kevin menatapnya. "Keira."

"Lepaskan pelacaknya."

Di balik kaca meeting room, malam Jakarta mulai turun. Untuk pertama kalinya sejak Rayhan memberinya kalung itu, leher Keira terasa kosong.

Ia mengangkat dagu, perlahan, sangat tenang.

Dan anehnya, justru dari kekosongan itu, marahnya menemukan bentuk.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!