Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FAKTA MENARIK
Aura mendengus pelan, mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.
"Kenalan lama? Siapa? Aku tidak ingat punya banyak teman di ibu kota selain orang-orang yang mencoba menusukku dari belakang," cibir Aura sinis.
"Katanya... dia membawa informasi penting tentang Pangeran Luis yang dibuang itu, Lady," ucap pelayan itu meyakinkan.
Mendengar nama Luis disebut, kilatan cahaya penuh rasa dendam dan penasaran langsung terpancar di mata Aura.
Aura berdiri dari sofa, merapikan lipatan gaun birunya dengan gerakan anggun.
"Informasi soal Luis, ya?" gumam Aura tersenyum miring.
"Menarik juga. Baiklah, suruh dia menunggu di ruang tamu pribadi, aku akan turun sekarang," perintah Aura tegas.
"Baik, Lady Aura!" jawab pelayan itu sigap, lalu segera berbalik dan pergi meninggalkan kamar.
Sora langsung mendekati majikannya dengan raut wajah penasaran.
"Nona, jangan-jangan itu mata-mata musuh? Atau jangan-jangan pengikut Pangeran Luis, yang mau balas dendam?" bisik Sora cemas.
Aura tertawa kecil, melangkah melewati Sora menuju pintu keluar kamar.
"Kalau memang benar orang-orang Luis, justru itu bagus, Sora," jawab Aura santai.
"Aku malah sedang mencari hiburan gratis untuk sore ini," lanjut Aura dengan langkah anggun keluar dari kamar nya.
Aura melangkah memasuki ruang tamu pribadi dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura seorang pemimpin yang langsung membuat siapa pun di ruangan itu merasa terintimidasi.
Di sudut ruangan, seorang pria ber jubah abu-abu dengan tudung kepala yang ditarik rendah tampak berdiri gelisah, terus-menerus meremas kedua tangannya sendiri.
"Siapa kamu? Dan informasi apa yang kamu bawa sampai berani-beraninya mencari ku ke kediaman Duke Luminar?" tanya Aura langsung to the point, berhenti beberapa langkah di hadapan pria misterius itu.
Pria ber jubah itu perlahan mendongak, lalu membuka tudung kepalanya dengan tangan yang sedikit bergetar.
Aura memicingkan mata nya, saat melihat pria itu, dia adalah salah satu pelayan pribadi Pangeran Luis yang dulu sering terlihat mondar-mandir membawakan dokumen di istana.
Bruk
"L-Lady Aura... ampunilah saya!" ucap pelayan itu langsung menjatuhkan diri berlutut di atas lantai, wajahnya pucat pasi keringat dingin membasahi pelipisnya.
Aura melipat kedua tangannya di dada, menatap pria di depannya dengan senyuman sinis yang teramat dingin.
"Wah, wah... bukan kah kamu pelayan setianya Pangeran Luis yang paling dibanggakan," sindir Aura telak.
"Kenapa? Tuanmu yang bodoh itu sudah di penjara bawah tanah, sekarang kamu mau ikut-ikutan aku masukkan juga ke penjara?" ejek Aura tanpa ampun.
"B-bukan begitu, Lady! Saya datang ke sini untuk menyerahkan sesuatu yang sangat berharga!" seru pelayan itu panik.
Aura menaikkan sebelah alisnya, sedikit tertarik dengan ucapan pria tersebut.
"Sesuatu yang berharga? Jangan bilang kamu mau menjual rahasia busuk tuanmu sendiri padaku?" tebak Aura tajam.
Pelayan itu mengangguk-angguk cepat, lalu merogoh saku jubah bagian dalamnya dengan tangan bergetar.
"B-benar, Lady! Saya punya bukti surat tentang identitas asli Pangeran Luis!" jawab pelayan itu membongkar semuanya.
"Surat itu berisi bukti siapa Ayah kandung Pangeran Luis, bukti yang selama ini di cari oleh Yang Mulia Kaisar..." bisik pria itu, pelan
Seketika itu juga, Aura yang tadinya bersikap santai langsung menegakkan tubuhnya matanya menyipit tajam, menatap lurus ke arah pelayan yang masih berlutut ketakutan di lantai.
"Ayah kandung Pangeran Luis?" ulang Aura dengan nada suara yang mendadak berubah serius dan penuh selidik.
"Apa maksudmu? Bukankah selama ini semua orang tahu kalau Luis adalah darah daging Kaisar Zane?" cecar Aura tajam, meminta penjelasan lebih lanjut.
Glek
Pelayan itu menelan ludahnya susah payah, lehernya terasa sangat kering mendengar nada bicara Aura yang menekan.
"Itu... itu adalah rahasia terbesar istana yang selama ini ditutupi rapat-rapat," jawab pelayan itu terbata-bata dengan suara bergetar.
Aura melangkah maju selangkah, menatap gulungan surat di tangan pria itu dengan rasa penasaran yang mulai membakar rasa ingin tahunya.
"Cepat jelaskan detailnya, jangan bertele-tele!" perintah Aura tegas.
"P-pangeran Luis sebenarnya bukan anak kandung Kaisar Zane..." bisik pelayan itu makin gemetar, takut rahasia besar itu terdengar oleh orang lain.
"Pangeran Luis... dia adalah anak dari seorang wanita simpanan dari kalangan bangsawan rendahan," bisik pelayan itu gemetar.
"Wanita licik itu dulunya sengaja masuk ke istana, lalu berteriak histeris dan mengaku di hadapan seluruh dewan kalau kesuciannya telah direbut paksa oleh Kaisar Zane!" lanjut pelayan itu menceritakan masa lalu yang kelam.
Sora yang baru saja kembali menuruni tangga sambil membawa sekantong koin emas langsung menghentikan langkahnya, matanya membelalak lebar mendengar cerita tersebut.
"Hah?! Mengaku direbut paksa oleh Kaisar?!" seru Sora tanpa sadar, hampir menjatuhkan kantong koin di tangannya.
Aura terdiam sejenak, butuh beberapa detik bagi dirinya untuk mencerna sandiwara murahan yang dilakukan ibu Luis di masa lalu.
"Jadi... wanita itu memanfaatkan skandal palsu demi memaksa Kaisar bertanggung jawab?" tebak Aura dengan senyuman sinis yang teramat tajam.
"B-benar, Lady!" jawab pelayan itu mengangguk-angguk ketakutan.
"Kaisar Zane yang tidak peduli pada gosip murahan dan muak dengan drama itu dan juga tuntutan dari mendiang Raja tua, akhirnya terpaksa membiarkan anak itu tinggal di istana demi meredam desakan para menteri, tapi Kaisar tidak pernah sekalipun mengakui Luis sebagai darah dagingnya!" ucap pelayan itu membongkar rahasia terdalam kerajaan.
Aura mendengus pelan, tertawa hampa menyadari betapa bodoh dan halu nya keluarga Velis.
"Pantas saja Kaisar terlihat jijik setiap kali melihat wajah Luis..." gumam Aura pelan, menemukan jawaban atas sikap dingin sang penguasa selama ini.
"Pria tua itu terpaksa menahan duri di istananya sendiri selama bertahun-tahun," lanjut Aura menyunggingkan senyum miring penuh kemenangan.
Aura merampas kantong koin emas dari tangan Sora, lalu melemparkannya tepat ke pangkuan pelayan yang masih berlutut di lantai.
"Ini bagianmu," ucap Aura dingin.
"Sekarang, pergilah dari ibu kota, dan pastikan kamu tidak pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku," usir Aura tegas.
Pelayan itu memeluk kantong koin emas dengan erat, lalu bersujud berkali-kali saking senangnya.
"Terima kasih, Lady Aura! Terima kasih!" ucap pelayan itu buru-buru bangkit dan berlari kencang meninggalkan kediaman Duke Luminar.
Sora melangkah mendekati majikannya dengan raut wajah masih syok, dengan kenyataan yang baru saja dirinya dengar.
"Nona... cerita itu benar-benar di luar nalar... Berarti selama ini Pangeran Luis itu cuma anak haram yang numpang hidup di istana?" tanya Sora melongo.
Aura memasukkan gulungan surat bukti rahasia itu ke dalam sakunya, lalu menatap lurus ke arah gerbang luar dengan sorot mata yang menyala-nyala.
karna tak yg nandingi nya
selalu aku karya mu thor
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪