NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Penyerangan 1

Waktu sepekan tidaklah lama jika diisi dengan banyak kegiatan. Hari hari berlalu dengan cepat.

Selama satu pekan. Barak prajurit khusus, Pasukan Macan Perak diisi dengan kegiatan pelatihan dan pertarungan.

Bagaga Alam memacu kemampuan semua anggota Pasukan Macan Perak. Sehingga kemampuan perseorangan dan kemampuan atau daya tempur kelompok meningkat secara signifikan.

Dalam satu pekan itu. Bagaga juga memberi petunjuk dan bimbingan kepada Danang Wesi dan Ni Kirana. Sehingga sepasang kakak beradik itu meningkat banyak.

Danang Wesi yang memiliki jurus tempeling wesi dan jurus keris kedaton merasakan peningkatan luar biasa. Danang Wesi merasa jurus tempeling wesi bisa meremuk seekor gajah dengan satu pukulan. Sedangkan jurus keris kedaton  kini terasa lebih mengalir.

Disamping itu dengan menelan dua butir pil yang diberikan oleh Bagaga Alam. Kekuatan energi mendalam Danang Wesi naik dari tingkat bumi tengah menjadi tingkat langit awal. Namun selama sepekan itu, nyaris tidak ada waktu istirahat bagi Danang Wesi. Siang diisi dengan latihan kanuragan, siang dilewati dalam meditasi untuk menghimpun energi alam.

Tidak berbeda dengan Danang Wesi. Ni Kirana yang menggunakan pedang. Juga mendapat porsi latihan yang menakutkan. Jurus pedang pedhang maot kini menjadi jurus pedang yang sangat mengerikan. Bagaga juga mengajarkan tahap dasar dari jurus dua belas langkah ajaib. Sehingga gerakan Ni Kirana jadi lebih cepat, licin dan tidak terduga.

Selain itu Bagaga Alam juga memberi dua pil khusus kepada Ni Kirana. Sehingga gadis itu juga naik tingkat menjadi pendekar bumi puncak akhir.

Danang Wesi menjadi sangat hormat kepada Bagaga Alam. Bahkan pemuda gagah itu ngotot merubah panggilannya dari saudara menjadi Tuan kepada Bagaga.

Lain lagi dengan Ni Kirana. Dia menjadi semakin dekat dan lebih berani. Gadis itu tetap memanggil kang mas pada Bagaga. Namun perhatian dan perlakuan nya pada Bagaga Alam kini lebih berlebih.

Siang itu Bagaga berbicara dengan jelas pada Adipati Muncak Gede, Pati Maung Sakti, Pati Muda Rajung Malapir dan semua anggota Pasukan Macan Perak. Tentu saja disitu ada Danang Wesi dan Ni Kirana.

"Besok pagi sekali. Ketika buana baru terang tanah. Kita berangkat menuju kawasan rawa Belong.

Sore hari ketika sampai. Kita akan mengawasi area markas Gerombolan Rawa Belong."

Kemudian Bagaga Alam menjelaskan rencana penyerangan secara garis besar.

"Baiklah... Sisa hari ini kalian semua pulang. Temui orang tua, istri dan anak, atau kekasih kalian. Mintalah restu mereka. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita. Apakah tewas atau kita akan meraih kemenangan gilang gemilang.

Apakah ka guci semua siap ?!"

"Siap Pahlawan besar. Kami akan meraih kemenangan gilang gemilang bersama Pahlawan Besar. Atau... Kami akan tewas tanpa kubur...!!!"

Gegap gempita suara penuh semangat dari semua anggota Pasukan Macan Perak. Pati Muda Rajung Malapir kemudian menjura dalam dan berkata.

"Pahlawan Besar, terimakasih atas bimbingan Anda. Kami akan membuat Anda bangga dengan kami." Pati Muda Rajung Malapir berseru dengan sikap gagah dan tangan teracung.

Suara gemuruh seluruh Pasukan Macan Perak bersipongang membelah udara. Kami akan membuat Pahlawan Besar bangga dengan Pasukan Macan Perak...!!!

Danang Wesi dan Ni Kirana ikut mengepal kedua tangan mereka. Semangat juang anggota Pasukan Macan Perak ikut memacu semangat dan adrenalin mereka.

 

Pagi buta, puluhan kuda kuda yang gagah perkasa berlari kencang meninggalkan kota Jayagiri. Mereka adalah Pasukan Macan Perak. Dibagian depan terlihat Bagaga Alam dan pangeran Muncak Gede. Dibarisan kedua adalah Pati Maung Sakti, Pati Muda Rajung Malapir serta Danang Wesi dan Ni Kirana.

Selanjutnya adalah lima puluh orang Pasukan Macan Perak.

Mereka semua memacu kuda kuda tunggangan mereka dengan kencang. Semua menuju wilayah Rawa Belong.

Derap kaki kuda menghujam tanah terdengar menderu. Tanah berderak bergetar. Membuat berapa warga terbangun.

Disalah satu rumah penduduk terdengar rengekan. Seorang bocah laki-laki bertanya pada ibunya. "Emak... Itu suara apa ?"

"Sssssttt.... Emak tidak tahu itu suara apa. Sini dekat dekat ke emak." Wanita itu memeluk bocah lelaki, yang segera memeluk ibunya dengan kuat.

Esoknya, menjelang siang. Rombongan pasukan Macan Perak memperlambat lari kuda mereka.

Sekitar dua ribu tombak sebelum area rawa payau. Pasukan kuda berhenti di tengah hutan yang ada sedikit lapangan terbuka.

Mereka segera mendirikan tiga tenda besar. Lima orang pengurus kuda, segera mengatur untuk menambatkan kuda kuda tempur Pasukan Macan Perak.

Petugas perbekalan segera mengatur persiapan konsumsi semua orang.

"Atur penjagaan berlapis. Aku akan pergi untuk melihat situasi lebih dulu." Bagaga Alam berkata kepada Adipati Muncak Gede dan Pati Maung Sakti serta Pati Muda Rajung Malapir.

"Aku ikut. Aku akan menemanimu kang mas Bagaga."

"Aku juga ikut Pahlawan Besar." Pati Muda Rajung Malapir juga menyatakan niat untuk ikut.

"Baik, hanya kalian berdua. Danang, kamu bantu Patih Maung Sakti untuk mengatur penjagaan."

"Baik Tuan." Bagaga Alam melirik Danang Wesi. Dia sudah berulang kali minta Danang Wesi bersikap seperti biasa. Tapi pemuda itu, Danang Wesi tetap saja kekeuh dengan prinsipnya.

Bagaga Alam, Ni Kirana dan Pati Muda Rajung Malapir segera meninggalkan area istirahat mereka dengan ilmu meringankan tubuh.

Baru saja meninggalkan area tenda mereka. Mereka menemukan dua orang berpakaian serba hitam dan sabuk khas Gerombolan Rawa Belong terlihat mendekati area tenda mereka.

"Kalian berdua hendak kemana ?"

Kedua pria yang tengah berjalan mengendap-endap diam terpaku di tempat mereka. Perlahan mereka berputar. Namun keraguan dan rasa takut yang tadi memenuhi rongga dada mereka langsung terasa plong.

"Oh, ternyata hanya seorang pemuda bodoh. Aku kira siapa." Salah seorang dari mereka berkata dengan nada suara lega.

"Siapa kau. Kenapa kau tiba-tiba muncul di sini ?" Rekannya langsung membentak Bagaga Alam.

"Ringkus dulu. Baru setelah itu kita tanyai." Rekannya yang pertama berkata sambil bergerak menuju Bagaga Alam.

Tiba-tiba dua orang itu terdiam. Wajahnya yang tadi garang kini berubah pucat.

Energi besar tidak kasat mata muncul dan langsung menekan mereka. Wajah yang tadinya angkuh dan garang. Sekarang jadi pucat dan keriyut miyut.

Bagaga Alam tersenyum dingin. Lalu meningkatkan pancaran aura energi mendalam untuk menekan dua orang itu.

Duk...!  Duuk...!!

Keduanya langsung jatuh berlutut. Wajah mereka berdua semakin pucat.

Mereka berdua menatap Bagaga Alam dengan sorot mata kesal dan jengkel. Bagaga Alam langsung mengambil suling perak dari ruang hampa.

Tanpa banyak bicara. Bagaga Alam langsung saja menotok pusat energi mendalam kedua pria itu. Kedua pria itu ternganga dan wajah mereka pucat. Tiba-tiba saja energi mendalam mereka terkunci. Kedua anggota Gerombolan Rawa Belong itu coba untuk mengalirkan energi mendalam mereka.

Namun tidak bisa. Meski mereka mencoba beberapa kali, namun energi mendalam mereka benar benar terkunci. Tidak bisa dialirkan sedikitpun juga.

Kedua orang itu melihat kepadaBagaga Alam dengan tidak percaya.

"Jelaskan tentang markas kalian ?"

Dua orang itu tiba-tiba menatap tajam kepada Bagaga Alam. Sangat terlihat pandangan meremehkan, bahkan mereka bisa tersenyum.

"Kalian tidak mau bicara ?"

"Ha haa... Anak muda. Aku tidak tahu siapa engkau. Tapi siapapun adanya engkau. Apakah kau pikir bahwa kami akan dengan senang hati menjelaskan kepada mu ?"

"Oh begitu ?  Kalian berdua tidak pantas untuk mengetahui siapa aku.

Aku beritahu kalian berdua. Aku bukanlah orang yang sabar terhadap para penjahat.

Jadi... Terakhir kali aku katakan. Jelaskan tentang markas kalian."

Kedua orang itu saling bertukar pandang. Lalu bersamaan kedua pria itu tertawa terbahak bahak.

"Mimpi lu..."

Bagaga Alam tersenyum ringan. Dia menunjuk pria yang baru bicara dengan suling perak nya. Pria itu tiba-tiba tertegun lalu dia mulai menggaruk tengkuknya. Kemudian beralih kepada, perut, leher dan terus saja menggaruk bagian bagian tubuhnya yang lain.

Celakanya, semakin digaruk. Bagian tubuh yang digaruk terasa semakin gatal. Dia mulai meringis dan menggaruk semakin kuat, semakin kuat dan semakin kuat.

Namun bukannya berkurang. Rasa gatal itu semakin menggila. Kulit pria itu mulai merah.

\=\=\=\=\=***\=®

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!