NovelToon NovelToon
Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk

Status: tamat
Genre:Obsesi / Identitas Tersembunyi / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:32.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Austin 'tak peduli. Dia mencintai Jasmine. Walaupun perut wanita itu membuncit di usia hampir trimester tiga kehamilannya. Tidak ada yang salah dengan hubungan keduanya. Jasmine tak bersuami. Kehamilannya adalah hasil tragedi penculikan yang justru menimbulkan simpati di hati Austin.

Tapi bagaimana jika suatu waktu, pria yang melakukan penculikan itu tiba-tiba datang.
Akan bagaimana hubungan mereka ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Grung-grung suara Ninja Austin langsung senyap ketika gadis berseragam SMA yang mengaku bernama Cindy itu, menyetopnya di depan gerbang menjulang sebuah rumah.

"Ini rumah lu?" tanya Austin dengan suara seperti orang dibekap, karena terhalang helm yang ia kenakan.

"Iya," jawab Cindy. Menurunkan lambat satu demi satu kaki ke paving block yang menjadi alas pijaknya, gadis itu nampak ragu juga takut.

Austin membuka helm yang lalu ia letakkan di badan atas dekat kepala motor. Rambut pirang sedikit gondrong itu nampak semrawut tak dirapikannya.

Jarum jam di pergelangan tangan Cindy menanjak angka 01.23. Sudah sangat larut, bahkan menjelang pagi. Dan jalanan juga telah sepenuhnya sepi, selain satpam yang tadi berjaga di pos paling depan perumahan elite itu.

Melihat gemingnya Cindy, Austin mengambil kebijakannya sendiri. Tanpa menunggu pendapat gadis itu, ditekannya bell yang menonjol di kiri atas tembok yang mengapit gerbang.

"Eh! Ngapa lu teken bell-nya, Kak?!" seru Cindy. Tak berhasil meraih tubuh Austin yang lebih cepat dengan pergerakannya.

"Emang lu mau molor di bak sampah?" sarkas Austin. "Atau mau gantung diri di puncak gerbang rumah lu?!"

Cindy mendengus. Memajukan bibir bawahnya yang lalu digunakan untuk meniup poni lurus yang berjajar di seluruh kening. Mata bulatnya mencuat ke atas.

"Cindy! Itu kamu?!"

Panggilan terdengar cukup keras dari dalam rumah. Pintu terbuka dan menampilkan siluet seorang pria dengan kimono hitam yang kini mulai berjalan ke arah Austin dan juga Cindy.

"Mampus gue! Itu abang gue, Kak!" Seolah ia jadikan tameng, Cindy menyusupkan diri di balik punggung Austin--bersembunyi.

"Ngapain ngumpet lu?!" Austin menggoyang-goyangkan badannya bergeliat-geliut dengan kepala menyamping--mengusik Cindy.

Cindy sendiri kukuh berdiam di punggung kekar Austin dengan mencengkram jaket yang dikenakan pria itu, dari belakang tentu saja. Dan di sanalah ketakutannya berganti rona konyol yang memblo'onkan. Ia mendapat sesuatu yang manis di posisinya. "Gila! Wangi banget," gumam Cindy pelan sekali. Disesapnya dalam-dalam aroma parfum Austin melalui punggung tegap yang disenderinya itu.

Malah mesem-mesem gak jelas anak itu.

"Eh, ngapain lu?!" hardik Austin ketika telapak tangan Cindy semakin rekat mencengkram sweater-nya.

"Cindy!" Di saat bersamaan, sosok itu telah berdiri tepat di balik gerbang setelah mengumpat kesal pada seorang satpam yang terlelap di dalam pos.

Dilihat dari gesturnya kini, ia masih nampak menelisik--tak terlihat akan membuka gerbangnya sama sekali.

"Iya, ini adek lu, nih! Ngumpet di belakang punggung gua!" Austin menyergah jawaban untuk Cindy, meskipun jarak pandangnya belum begitu jelas menangkap orang itu.

Cindy kelabakan, setelah Austin menggamit bagian belakang kerah bajunya, persis menangkap seekor kucing dan menggeser gadis itu ke posisi di sampingnya.

"Adadadada, buset! Baju gue!" Cindy meronta kesal.

"Kamu!" Pria di balik gerbang menggeram menatap Cindy. Cahaya kekuningan dari lampu bulat yang berdiri di pinggir jalan di belakang Austin, tak cukup jelas untuk saling menangkap wajah masing-masing, selain Cindy dan abangnya yang memang jelas saling memahami postur tubuh juga suara satu sama lain.

"Abang ...." Cindy mulai ketar-ketir.

"Wahono! Buka kunci gerbangnya!" Pria itu berteriak pada satpamnya yang gemar tidur di jam-jam krusial.

"Iya, Den!" Langkah tergopoh pria setengah baya berseragam satpam telah sampai di titik pusat. Dibuka dan digesernya gerbang tak cukup lebar. Topi yang ia kenakan menempel sembarang di atas kepala.

Pria berkimono itu mulai melangkah keluar menghampiri adiknya. Terdengar napas memburu karena jengkel.

"Dari mana ka--" Belum sempat kalimatnya ia tuntaskan, pandangannya telah membeku menatap Austin yang kini duduk di atas motor. "Be-Bennedict," gumamnya terperanjat.

Dan Austin .... "Ternyata elu abangnya ni anak terong.” Dia cukup terkejut sebenarnya, tapi berhasil mengatur sikap. Cepat kembali memasang ekspresi ringan sesaat kemudian. Ia sudah bangkit dari posisi, bersidekap tangan seraya melangkah mendekat ke arah kakak beradik yang berdiri beberapa jarak di depan sana. "Akhirnya kita ketemu lagi ... Bastian Sigi.” Austin memasang senyuman manis yang berisi makna kecut--aslinya.

Urat-urat di wajah Bastian Sigi--atau lebih singkat panggil saja dia Sigi, tiba-tiba saja menegang. Pria ini adalah rival paling setan Austin ketika masih sama-sama bergelut di lintasan balap beberapa bulan silam.

"Ngapain lu sama adek gua?!" tanya Sigi mencoba fokus saja pada teori malam ini. Menggeser seteru dinginnya dengan pria itu di waktu yang lalu.

"Gua ...?" Austin terkekeh seraya membuang wajah. "Sayangnya banyak hal yang udah gua laluin sama adek lu malem ini!" kelakarnya kembali menatap Sigi. Wajah santai terpampang tanpa dosa.

"Apa maksud lu?!" Sigi mulai terpancing. Nadanya cukup tinggi untuk ukuran melawan kekonyolan Austin. Lalu mengalihkan pandangnya pada Cindy yang menggeleng-geleng menatapnya dengan wajah seperti orang susah B.A.B.

"Nggak, Bang! Aku nggak ....”

"Nggak salah lagi 'kan, Cindy?" Austin menyerobot. Lalu dengan santainya merangkulkan lengan di pundak gadis itu beriring senyuman sinting. "Kita abis seneng-seneng tadi. Mobil lu aja ada di tempat gua 'kan sekarang?!"

Lalu Sigi ....

"Jangan sentuh-sentuh adek gua!" Sekali tarikan, tubuh Austin langsung terhuyung ke samping. "Kalo lu macem-macem sama adek gua ... mati lu!" Sigi jelas sedang mengancam.

Deru napasnya terdengar kasar, juga kilat tajam mata yang memancarkan kebencian yang tak sembarang.

Dengan gerak slow motion, Austin kembali menegakkan tubuh. Seringai setan masih nampak membasuh wajahnya yang tegas. Dua langkah Austin maju mendekat ke arah Sigi, mengambil posisi berdiri tepat di hadapan pria itu.

"Lu pikir gua gak tahu? Kalo lu yang udah oprek motor balap gua, ampe gua oleng di lintasan, trus kecelakaan, dan berakhir gua amnesia gegara pala gua niban aspal sekeras-kerasnya?"

Selain Sigi, Cindy juga turut membelalakan mata mendengar ungkapan yang baru saja dilontarkan Austin.

"Jadi ... dia ini ... Austin Bennedict, si pembalap keren itu?" tanya hatinya tak percaya, "Pantesan aja gantengnya sama, padahal mereka emang orang yang sama." Mulutnya sudah pasti menganga lebar, mungkin mampu menampung ratusan lalat di dalamnya--mungkin ya.

"Apa maksud lu?" tanya Sigi, entah itu raut ingin tahu, atau merasa terancam.

Austin tersenyum kecut. "Kadang gua ngerasa gua ini terlalu baek biarin lu keliaran bebas," katanya. "Gara-gara lu, gua harus nunggu setaun, buat bisa balapan lagi! Harusnya gua bikin lu ngerasain apa yang gua rasain!" Nada bicara Austin sangat pelan, namun cukup menekan. "Atau lebih ringannya ...." Kepalanya ia majukan ke dekat telinga Sigi, lalu berbisik, "Gua obrak-abrik adek manis lu ini, ampe mencar kek telor orak-arik."

Sepasang mata Sigi membulat seketika. Deru jantungnya memacu cepat. Ia bahkan masih tak bergerak ketika Austin berbalik badan, memakai helm-nya, lalu pergi menunggangi ninja-nya dengan pautan gas memekakkan telinga.

Saat itulah Sigi mengerjap.

Kalimat terakhir yang dipaparkan Austin, seperti suntikan sebesar linggis yang dalam sekejap membuat tubuhnya mati terpental.

Kini tatapannya ia alihkan pada Cindy yang masih menunduk, tak ingin mengangkat wajah. Lantas dicengkramnya kedua bahu gadis tomboy adiknya itu penuh emosi. "Kamu ngapain aja sama Bennedict, huh?! Kenapa kamu bisa sama dia?!" Ia meradang ketakutan. "Jawab Abang, Cindy!"

1
engkoz83
harus kahhhhh..seperti ini thor...
engkoz83
tuhhhh..ketemu Andrew dehhh... kacauuuuuuu
engkoz83
ihhh...bakalan amburadullll deh klu ketemu Andrew
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe..biar gk flat, Kak.

btw, mkasih udah maraton baca karya2 aku.
sehat selalu, Kak🥰
total 1 replies
Yudith Lahay
Good
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: makasih, Kak.
kaget aku, novel sepi ini tiba2 ada yg baca😄
total 1 replies
Emak Femes
𝚠𝚊𝚊𝚊𝚑 𝚐𝚊𝚔 𝚛𝚎𝚕𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚘 𝚜𝚒 𝚊𝚞𝚜𝚝𝚒𝚗 𝚝𝚊𝚖𝚊𝚝 𝚖𝚊𝚔
𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚒𝚗 𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚋𝚘𝚗𝚞𝚜2 𝚗𝚐𝚊𝚙𝚊𝚊𝚊𝚊
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Kgk, Mak.
mengcapek
total 1 replies
🌺💐H@5#🌺💐
hari di hafal luar kepada ya ozt bahwa Sanya perempuan itu maha benar 😃 walaupun salah tetap maha benar karena bakalan garing hari² Lo kalo mode ngambek nya udah keluar
Emak Femes
entah kenapa masih kebayangnya si ozt sama.jasmine dah mak
Emak Femes
satu kata
yasalaaaaaaammmmm
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Wkwkwk.

kenapa, Emak?
total 1 replies
🌺💐H@5#🌺💐
dasar bule songong tak ada romantis² nya ngelamar anak orang sejam yang lalu aja udah hampir buka paha artinya kalo jebol tadi tuh gawang sembilan bulan kedepannya udah punya adek tu si Lily versi Deddy songong
🌺💐H@5#🌺💐: 🤭🤭🤭🙈🙈🙈🙈
total 2 replies
🌺💐H@5#🌺💐
udah kentang harus banyak ngeles lagi gimana gk lapar coba?🤭😃😃 ngeles juga butuh tenaga kaliii wkwkkkk
Emak Femes
sepertinya elu kena karma Le...
skrg jan celap celup lagi
halalin satu Le trus elu celup smp mampus 🤣🤣🤣
Emak Femes
hadeeeeh
tobat napa Le Le
kok malah khilap
pusing eke
Emak Femes
hahahaha dunia nya selebar daun kelor
🌺💐H@5#🌺💐
menang banyak di bule songong adek rival mo di embat juga
🌺💐H@5#🌺💐
udah baca nya tegang tegang eh . malah next 😔😔kentang kentang
🌺💐H@5#🌺💐
hilal bahagia dah hampir muncul seperti nya 😊 berdamai dengan diri dengan keadaan memaafkan takdir menjalani hidup seperti air yang mengalir pasti bahagia sudah menanti
🌺💐H@5#🌺💐
sebetulnya damai itu indah tapi beda pemikiran yang kadang membuat nya menjadi rumit semoga Jasmine juga sepemikiran dengan niat ozt
🌺💐H@5#🌺💐
wiihhh bisa eror otak nya Jasmine njalani takdir hidup nya...oh tidak!!! jika kita yang dihadapkan dengan masalah seperti ini bisa apa coba... jangan ditanya tentang sabar tentang ikhlas entah lh
..
🌺💐H@5#🌺💐
da ellahh....apa musti Jasmine pindah lagi ke pelukan pria lain ape ya...aku rasa cinta yg udah di patri Ke Ben gak akan sama kwalitas nya dengan ke Andrew kalo Ben menolak Jasmine ...yg ada Jasmine bisa gila beneran kalo tau yg niduri waktu di enggres itu malah pria yang pernah nyulik dia
🌺💐H@5#🌺💐
inget Ben Abang Lo baru tiba tengah malam dari enggres.. kapan Lo terakhir vc ame jas mikir pura2 aja tanya ke resepsionis mana tau ada nm Andrew sebagai tamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!