Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Obat Tanpa Resep
Pagi setelah Lebaran, Bu Sari meletakkan botol kecil itu di atas meja kamar belakang.
Nara dan Raka berdiri di sampingnya. Tidak ada anak di ruangan tersebut. Pintu ditutup agar Bima dan Bayu tidak mendengar pembicaraan orang dewasa.
“Ibu menemukannya di lemari ini,” kata Bu Sari. “Di belakang tumpukan kain.”
Ia menunjukkan saputangan dan petunjuk sobek yang berada di dekat botol. Raka memotret semuanya dalam posisi terpisah setelah lokasi awal didokumentasikan. Setiap benda diberi nomor sementara agar tidak tercampur.
“Apakah Ibu pernah membuka botol?” tanya Raka.
“Tidak.”
“Memindahkan sebelum tadi malam?”
“Tidak pernah melihatnya.”
Nara menulis jawaban itu. Mereka tidak bisa mengetahui siapa yang menaruh benda di lemari, tetapi setidaknya cara penemuan tidak berubah setiap kali diceritakan.
Raka tidak langsung mengambil botol. Ia memotret letaknya di meja, lalu meminta Bu Sari mengulangi dari rak mana benda itu jatuh. Mereka kembali ke lemari dan memotret ruang kosong di belakang kain.
Label obat menyebut bahan yang dapat berkaitan dengan rangsangan kontraksi, tetapi tulisan dosisnya tidak lagi jelas.
“Jangan buka tutupnya,” kata Nara.
Raka mengangguk. Ia tidak mengendus, menyentuh isi, atau mencoba menentukan apakah botol pernah dipakai.
Nara menelepon Puskesmas Bergas dan meminta berbicara dengan dr. Laila. Ia menjelaskan bahwa mereka menemukan botol lama, membaca nama pada label, dan ingin memahami batas maknanya.
“Saya tidak bisa memastikan isi botol melalui telepon,” kata dr. Laila. “Label hanya menunjukkan produk yang seharusnya ada di dalamnya. Keberadaan obat juga tidak membuktikan kepada siapa, kapan, atau apakah obat itu diberikan.”
“Apakah obat seperti ini dapat dipakai untuk memulai persalinan?”
“Ada obat yang digunakan dalam pelayanan kebidanan dengan indikasi, dosis, pemantauan, dan pencatatan tertentu. Jangan gunakan temuan itu untuk membuat diagnosis atau tuduhan sendiri.”
Dokter menyarankan agar botol tidak diubah keadaannya. Jika berkaitan dengan laporan resmi, penyerahan dilakukan melalui pihak yang berwenang agar sumber dan penanganannya tercatat.
Nara bertanya apakah tanggal kedaluwarsa dapat menunjukkan kapan obat dibeli. dr. Laila menjelaskan bahwa tanggal itu hanya memberi batas penggunaan produk, bukan tanggal pembelian atau pemberian. Nomor produksi mungkin dapat membantu mengidentifikasi jalur distribusi jika pihak berwenang meminta kepada produsen, tetapi keluarga tidak boleh menganggapnya sebagai resep atas nama seseorang.
“Kalau tidak ada nama pasien, kita tidak tahu obat ini untuk siapa,” simpul Nara.
“Benar,” jawab dokter.
Raka menulis inti penjelasan, waktu panggilan, dan siapa yang mendengar. “Jadi kita punya benda, bukan jawaban.”
“Dan lokasi penemuan,” tambah Nara.
“Lokasi di rumah keluarga yang bisa diakses banyak orang,” kata Raka. “Itu juga harus dicatat.”
Bu Sari menunduk. “Ibu ingin ini langsung membuktikan semuanya.”
“Kita tidak boleh membuatnya lebih kuat daripada kenyataan,” jawab Nara.
Suara langkah terdengar di lorong. Bu Rini membuka pintu tanpa mengetuk dan melihat botol di atas meja.
Wajahnya berubah sesaat, lalu kembali datar.
“Kalian menggeledah rumah?”
“Botol ini jatuh saat Ibu mengambil kain,” kata Bu Sari.
“Itu barang lama. Bisa milik siapa saja.”
“Kenapa ada di lemari belakang?”
“Karena orang meninggalkan barang.”
Nara bertanya, “Apakah Ibu pernah menggunakan atau memberikan obat ini pada malam aku dan Siska melahirkan?”
Bu Rini menatapnya. “Kamu datang saat Lebaran, makan di rumah keluarga, lalu menuduh ibu mertuamu?”
“Aku bertanya.”
“Kamu selalu merusak suasana. Sejak melahirkan, semua hal kamu jadikan bukti.”
Raka berdiri di sisi Nara. “Jawabannya boleh tidak tahu atau tidak pernah. Tidak perlu menyerang istri saya.”
“Kamu membela dia di rumah keluarga sendiri?”
“Saya sedang memastikan percakapan tetap pada pertanyaan.”
Bu Rini mengambil satu langkah menuju meja. Raka mengangkat tangan, bukan untuk menyentuhnya, melainkan menghentikan siapa pun mendekati botol sebelum keadaan dicatat.
“Jangan pindahkan dulu.”
“Itu rumahku.”
“Dan barang ini baru ditemukan. Kalau Ibu ingin membuangnya, penolakan itu akan kami catat.”
Bu Rini mencibir. “Catat sesukamu.”
Ia keluar dan membanting pintu.
Bu Sari duduk di tepi ranjang. “Malam persalinan itu, Ibu sempat bertanya kenapa Siska melahirkan begitu cepat. Bu Rini bilang tubuh perempuan berbeda-beda. Ibu menerima saja.”
“Ibu tidak punya informasi lain,” kata Nara.
“Ada darah di lengan bajunya. Ada tas yang dia larang Ibu sentuh. Lalu dia berkata dua bayi sama-sama selamat, jadi jangan membuat masalah. Ibu merasa ada yang salah, tapi Ibu takut keluarga pecah.”
Air mata Bu Sari jatuh. “Ibu memilih diam supaya rumah terlihat utuh.”
Nara menggenggam tangannya. “Sekarang Ibu bicara. Itu yang bisa kita pakai.”
Bu Sari kemudian menceritakan urutan malam itu dari awal. Ia tiba setelah menerima kabar terlambat, melihat Bu Rini keluar dari area persalinan, dan diminta menunggu jauh dari Nara. Ia tidak melihat obat diberikan dan tidak menyaksikan bayi dipindahkan.
Raka menuliskan batas kesaksiannya dengan jelas. “Ibu melihat darah dan tas. Ibu mendengar kalimat itu. Ibu tidak melihat tindakan lain.”
“Ya.”
Pengakuan tentang apa yang tidak dilihat sama pentingnya dengan ingatan yang ada. Bu Sari tidak lagi mencoba menutup celah dengan rasa bersalah.
Raka memasukkan botol ke kantong transparan baru tanpa membersihkannya. Ia menulis tanggal, waktu, lokasi, penemu, dan orang yang hadir. Bu Sari membaca lalu menandatangani sebagai penemu. Nara menandatangani sebagai saksi penyerahan. Foto disimpan dengan nomor yang sama.
Mereka tidak membawa botol ke kantor Raka. Setelah kembali ke kota, benda itu akan diserahkan melalui Nadia dengan tanda terima dan permintaan arahan resmi.
Sebelum disimpan, Raka menutup kantong dengan segel bernomor yang dibeli untuk arsip keluarga, bukan segel kepolisian. Nomornya dicatat dan difoto. Kantong diletakkan dalam kotak terkunci yang dibawa langsung oleh Nara dan Bu Sari sampai dapat diterima Nadia.
Siang hari, Bu Rini tidak ikut makan. Kamarnya terkunci.
Bu Sari mengetuk sekali dan mengatakan bahwa ia bersedia mendengar penjelasan tanpa orang lain. Tidak ada jawaban. Ia tidak mendobrak pintu atau mengambil barang pribadi lain.
Nara meminta semua kerabat tidak menyebarkan kabar tentang obat ke desa. Jika Bu Rini merasa dikejar oleh kerumunan, benda dan saksi justru lebih mudah diperdebatkan. Raka menyimpan nama orang yang mengetahui penemuan hanya pada catatan penyerahan.
Mereka juga menelepon Nadia dan menjelaskan rencana perjalanan pulang. Nadia meminta mereka membawa kotak langsung ke kantor, tidak singgah di tempat ramai, serta tidak mengirim foto melalui pesan yang dapat diteruskan.
Menjelang malam, seorang kerabat menemukan pintu belakang terbuka. Beberapa pakaian Bu Rini sudah tidak ada, begitu pula tas yang biasa ia bawa.
Tidak seorang pun melihat kendaraan yang digunakannya.
Malam itu, Bu Rini meninggalkan Kampung Sumberrejo.