NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

   Mereka saling pandang sejenak, Tian berdiri untuk membukakan pintu. Siapa yang mengetuk pintu ruang Osis disaat jam pulang sekolah sudah lama berlalu.

"Hai Tian,, belum pulang?" ucap Shela lembut, tersenyum manis. Tian menaruh curiga padanya, dia memang baik tapi ada aura yang tak biasa ketika menatap matanya. Membuatnya tidak nyaman dan menangkap radar bahaya ketika Shela terpantau dalam jaraknya.

"ya, mau apa?"

"em,,, cuma mau tanya, siapa perempuan berkerudung itu? Tadi pagi aku lihat lho diparkiran mobil,"selorohnya.

"Bukan urusanmu!" ucap Tian dingin. "Udah kan, pulang sono!" tangannya hendak menutup pintu tapi ditahan Shela.

"Apa sih, aku mau cari Hasby, ada kan?"

"pergi!"

"ok, aku pergi, salam aja buat Hasby,"

Tian terlihat hendak menelan Shela hidup-hidup. Tian tahu kalau Shela ada maksud terselubung. Dia selalu mencari Hasby. Ingin selalu dekat dengannya. Tapi terhalang Tian. Hasby sudah selalu diperingatkan tapi Shela selalu ada cara untuk mendekat.

Tian kembali duduk dengan muka dinginnya dan bete.

"Dapat salam dari pacarmu,"

"Aku gak punya pacar bro," jujur Hasby mengetahui siapa yang dimaksud oleh Tian, melirik temannya sekilas. "Aku tahu yang berada diparkiran tadi pagi. Kamu melihat Hawa keluar dari mobilku kan?"

Mereka saling pandang dalam diam.

"Apa dia ngadu sama kamu?" menatap sinis Hasby.

"Dia nggak pernah ngadu, dia anak yang mandiri dan keras kepala, jangan selalu berpikiran buruk tentang Hawa bro," jawabnya kalem

"Jangan terus-terusan membela dia By,,, dia orang baru yang nggak tahu apa-apa tentang kamu,keluarga,teman,,,semua yang berhubungan tentang kamu dia nggak tahu. Kalau bisa pisah aja," seloroh Tian tegas.

"Jaga bicaramu Tian!" sentak Hasby keras. "aku tidak akan pernah pisah sama Hawa. Cukup sekali aku mengucap ijab kabul." tatapannya dingin menusuk Tian.

"Aku belum bisa terima kamu dengan perempuan lain, sedangkan hatimu pernah terluka begitu dalam oleh perempuan. Aku nggak tega kalau harus melihat dirimu yang depresi seperti dulu." jelas Tian, tatapan matanya meredup penuh luka.

Hasby mengeraskan rahangnya, ia tahu masa lalu yang ia kubur. Hanya ketiga temannya yang tahu. Hasby mengubur dalam-dalam, sesuatu yang menyakitkan tidak perlu disimpan. Biarlah tenggelam bersama waktu .

"Jangan sekali-kali kamu ungkit masa laluku itu!" ucapnya dingin menatap Tian.

"Maaf By, bukan mau membuka luka lama. Hanya ingin menjaga kamu dari luka yang serupa,"

"Terimakasih atas perhatianmu bro, maaf sempat marah tadi. Aku pulang dulu, Hawa sudah sampai dirumah," Hasby memberitahu Tian.

"Iya pulanglah, jaga batasanmu jangan sampai terulang lagi," mengingatkan Hasby lagi.

Hasby memarkirkan mobilnya digarasi samping rumah. Berjalan dengan langkah tegas memasuki rumah. Terlihat Hawa duduk di atas karpet ruang tv sambil memegang buku. Terlihat seperti PR. Hawa terlihat kusut sekali.

"Assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam, eeh kak Hasby," Hawa menolehkan kepalanya cepat.

"Ngerjain apa?"

"Tugas kak,, em kakak pergi mandi sana. Bau tahu," menutup hidungnya, pura-pura kebauan.

"Kamu yang bau," nyelonong pergi ke kamar. Entah kenapa kalau bersama Hawa ia tidak bisa mempertahankan sikap dingin dan datarnya. Hawa mengerucutkan bibirnya, jengkel atas ucapan Hasby.

     Hasby menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin. Melihat Hawa yang masih setia sibuk dengan tugasnya. Membuat Hasby tertarik mendekatinya lagi. Duduk disofa samping Hawa.

"Belum selesai?"

"Belum kak,susah,"

" Boleh lihat?"

"Boleh," Hawa menggeser tugasnya kearah Hasby.

Hasby membaca tugas dengan serius. Terkadang mengernyitkan dahinya dan kembali datar lagi.

Hawa memandang Hasby yang terlihat ganteng banget, penampilannya biasa hanya mengenakan kaos putih dan celana kargo pendek, rambutnya belum disisir, tapi terlihat aura ketampanannya membuat Hawa tidak berkedip.

"Ini bisa dikerjakan sepertinya ini," Hasby menunjukkan cara yang ia tahu. Menoleh karena Hawa tidak segera menyahutinya.

"I,, iya kak," Hawa gelagapan ketahuan memandang suaminya terlalu lama. Pipinya seketika memerah.

"Fokus!"

"Iya kak, maaf, gimana tadi kak, tolong ulangi lagi,"

Hasby dengan sabar mengulangi mengajari Hawa. Hawa senang karena tugasnya selesai dengan baik.

Mereka makan malam hanya berdua.

"Tadi kemakam ibu?"

"iya kak, tapi terus pulang kok," terangnya tenang. "oiya kak, boleh nggak besok pagi boleh nggak aku pergi ke CFD?" memandang penuh pada Hasby, menunggu jawabannya.

Hasby menelisik wajah Hawa, mempertimbangkan sesuatu.

"Bareng aku kalau mau," Hasby melanjutkan makan malamnya yang terinterupsi.

"Tapi kak,, aku janjian sama teman, nanti kalau ketahuan gimana?" Hawa panik karena perginya harus sama Hasby.

"Siapa?"

"Asrina kak,"

"Nggak apa-apa, aku akan jaga jarak,"

"Nanti kalau curiga gimana?"

"Santai aja, kan CFD buat umum, jadi siapa aja bisa kesana,"

"iya kak," Hawa menghela napas berat "semoga Asrina nggak curiga,"gumamnya pelan.

Tanpa Hawa tahu, Hasby menghubungi teman-temannya untuk menemaninya ke CFD besok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!