Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Target Kedua
Matahari pagi menyingsing membelah langit Madiun yang berselimut abu-abu tipis, namun hangatnya pendar surya tak sedikit pun sanggup menembus hawa dingin yang merayap di dalam kamar belakang keluarga Broto.
Di atas kasur busa kusam yang tergelar di lantai, Pertiwi terbaring pasrah. Suara napasnya terdengar berat, pendek-pendek dan tersengal, seolah-olah ada beban tak kasat mata yang sangat berat sedang menindih rongga dadanya.
Galang berlutut di samping tempat tidur, mengompres dahi Pertiwi dengan kain basah yang berulang kali ia celupkan ke dalam mangkuk seng berisi air dingin.
Setiap kali kain basah itu menyentuh kulit Pertiwi, uap tipis mendadak menguar samar—suhu tubuh anak gadis itu begitu tinggi hingga menembus batas kewajaran manusia.
"Mas ... Galang ...," bisik Pertiwi dengan suara parau yang hampir tenggelam oleh deru angin luar. Matanya yang biasa berbinar jujur kini tampak sayu, tertutup selaput merah tipis yang menyipit ketakutan. "Panas banget, Mas .... Dada Tiwi serasa dibakar dari dalam."
Galang meremas jemari Pertiwi yang teramat dingin—kontras yang mengerikan dengan dahinya yang membara.
"Sabar ya, Tiwi. Mas di sini. Mas nggak akan ke mana-mana."
Galang perlahan menyibak lengan kemeja tidur Pertiwi. Di balik kain kusam itu, jantung Galang serasa dihantam godam besar.
Ruam kehitaman yang semalam hanya menyerupai pendar samar di sekitar leher, kini telah menyebar ganas hingga ke pergelangan tangan.
Ruam itu tidak menimbul seperti alergi biasa, melainkan meresap di bawah lapisan kulit paling luar—membentuk pola sulur-sulur hitam mengerikan yang menyerupai rajah atau guratan akar pohon tua yang membusuk.
Saat Galang meneliti lebih dekat, guratan-guratan hitam itu tampak hidup, seolah-olah darah hitam pekat sedang merayap lambat di dalam pembuluh darah Pertiwi.
"Ini bukan penyakit biasa ...," gumam Galang, giginya gemetaran menahan amarah yang menyayat dada.
Ia tahu betul apa yang sedang terjadi. Ini adalah bentuk manifestasi dari racun ghaib pesugihan yang ditanam Pak Sapta di bawah meja kasir.
Setelah nama Bayu dicoret dengan garis darah di atas kertas merang, energi pesugihan itu kini secara aktif menyedot daya hidup Pertiwi—anak kedua biologis almarhum Pak Broto—untuk dijadikan bahan bakar kesuksesan warung berikutnya.
Dari luar kamar, suara hingar-bingar Warung Nasi Broto sudah memecah kesunyian pagi. Suara klakson mobil, teriakan pembeli yang tak sabar, dan denting sendok yang beradu nyaring di atas mangkuk porselen memantul di dinding-dinding kayu.
Pintu kamar mendadak terdorong terbuka. Mia dan Rian—dua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar—berdiri di ambang pintu dengan pakaian seragam yang rapi dan bersih. Di tangan mereka menggenggam tas sekolah baru bermerek mahal, hadiah dari Pak Sapta.
"Mas Galang, Mbak Tiwi kenapa?" tanya Mia polos, matanya menatap cemas ke arah Pertiwi yang terbaring lemah. "Tadi kata Ibu, Mbak Tiwi cuma capek habis melayani pembeli kemarin. Tapi kok mukanya pucat banget?"
Galang memutar tubuhnya, mencoba menutupi ruam hitam di tangan Pertiwi agar adik-adiknya yang kecil tidak ketakutan.
"Mbak Tiwi cuma demam biasa, Mia. Kalian berangkat sekolah saja ya. Biar Mas Galang yang jaga Mbak Tiwi."
Rian merogoh sakunya, mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribuan yang masih licin.
"Kata Pak Sapta, ini uang jajan kita buat seminggu, Mas. Pak Sapta baik banget ya? Tadi di depan warung rame banget, uangnya banyak sekali!"
Melihat lembaran uang licin di tangan Rian, dada Galang makin bergejolak. Uang itu dipetik dari darah Bayu yang belum mengering di rel kereta api, dan kini dibayarkan dengan demam tinggi yang sedang menggerogoti tubuh Pertiwi.
Mia dan Rian tidak bersalah—mereka terlalu muda untuk memahami bahwa kepalsuan kejayaan ini dibangun di atas bangkai saudara kandung mereka sendiri.
"Simpan uang itu, Rian. Jangan dipamerkan," ucap Galang penuh penekanan, menatap kedua adiknya dengan lembut walau hatinya hancur. "Kalian berangkat sekolah sekarang. Hati-hati di jalan, ya."
Setelah Mia dan Rian pergi diantar oleh salah satu pengawal Pak Sapta, suasana kamar kembali hening. Galang kembali memeras kain basah, mengusap leher Pertiwi yang kian menghitam oleh ruam mistis.
Tiba-tiba, derap langkah kaki berdetuk teratur di atas lantai semen luar kamar.
Tuk ... tuk ... tuk.
Pak Sapta melangkah masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Pria itu mengenakan kemeja batik sutra berwarna merah marun yang anggun, tongkat kayu berkepala naganya digenggam santai.
Di sampingnya, Bu Retno berjalan dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Wajah ibunya tetap kaku, mata sayunya menatap tubuh Pertiwi tanpa menyuarakan satu pun kehangatan naluri seorang ibu.
"Bagaimana keadaan anak gadis kita, Galang?" tanya Pak Sapta dengan suara beludrunya yang mengalun tenang, seolah-olah ia adalah seorang ayah yang penuh kasih sayang.
Galang berdiri dengan cepat, menempatkan tubuhnya di antara Pak Sapta dan tempat tidur Pertiwi. Matanya menyalang merah memancarkan kebencian liar.
"Bapak sengaja, kan?! Bapak mengguna-guna Pertiwi lewat bungkusan kain kafan di bawah kasir itu!"
Pak Sapta tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan penuh rasa iba yang amat palsu.
"Kamu selalu menuduh hal-hal mistis yang berlebihan, Galang. Anak ini cuma kelelahan. Warung kita sedang berada di puncak kejayaan, masuk akal kalau fisiknya yang lemah tidak kuat menahan ritme kerja."
Pak Sapta melangkah maju satu tapak. Galang tidak bergeming, dadanya membusung menahan pergerakan pria paruh baya itu. Pak Sapta menghentikan langkahnya, lalu melirik ke arah Bu Retno yang berdiri mematung di sampingnya.
"Bu Retno ...," panggil Pak Sapta halus. "Lihatlah putri kandungmu. Dia butuh perawatan. Apakah menurutmu kita harus membawanya ke rumah sakit?"
Bu Retno mengangkat kepalanya lambat-lambat. Matanya yang kosong menatap lurus ke arah Pertiwi, lalu beranjak menatap Pak Sapta. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala mengukir senyum kaku yang mengerikan.
"Tidak usah ke rumah sakit, Pak Sapta ...," jawab Bu Retno dengan suara datar tanpa intonasi. "Pertiwi cuma butuh istirahat. Warung di depan sangat ramai. Kita kekurangan tenaga untuk meracik bumbu."
Jantung Galang rasanya mau copot mendengar ucapan ibunya sendiri.
"Ibu! Ini Pertiwi, Bu! Anak perempuan Ibu sendiri! Tubuhnya panas, lehernya hitam semua! Bagaimana bisa Ibu bilang dia cuma butuh istirahat?!"
Bu Retno tidak menjawab gertakan Galang. Wanita itu seolah-olah telah menjadi cangkang kosong yang telah disusupi oleh kehendak ghaib pesugihan.
Di matanya, keberadaan anak-anaknya bukan lagi buah hati yang harus dilindungi, melainkan deretan komoditas yang siap ditukarkan demi melanggengkan kuali rawon yang terus mendidih di dapur belakang.
Pak Sapta tertawa pelan—sebuah tawa dingin yang merambat hingga ke tulang sumsum Galang.
"Dengarkan ibumu, Galang," bisik Pak Sapta seraya mendekatkan wajahnya. "Seorang ibu selalu tau apa yang terbaik untuk anaknya. Kamu hanyalah anak angkat ... jangan merasa lebih tau dari wanita yang melahirkannya."
Pak Sapta merogoh saku kemejanya, mengeluarkan selembar uang kertas seratus ribu yang baru dan tebal. Ia menyisipkan uang itu ke dalam lipatan kain sarung Pertiwi yang terbaring lemas.
"Demam ini ... adalah demam keberkahan," kata Pak Sapta lembut, namun matanya memancarkan ancaman yang teramat pekat. "Semakin tinggi suhu tubuh Pertiwi ... semakin pekat dan gurih kuah rawon yang kita sajikan di depan. Hari ini, target penjualan kita harus dua kali lipat dari kemarin."
"Iblisss!!!" desis Galang, jarinya mengepal kencang hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri, mengeluarkan setetes darah segar.
Pak Sapta mengabaikan cacian Galang. Ia berbalik dan melangkah keluar kamar, diiringi oleh Bu Retno yang mengekor kaku di belakangnya bagaikan bayangan tanpa nyawa.
Saat pintu kamar kembali tertutup, Galang berlutut kembali di samping Pertiwi. Tubuh adiknya mendadak kejang-kejang kecil. Dari sudut bibir Pertiwi yang kering dan pecah-pecah, merembes keluar segaris cairan kental berwarna kehitaman yang berbau tanah basah.
Lingkaran setan pesugihan ini telah mencengkeram leher Pertiwi dengan amat erat, dan jika Galang tidak menemukan cara untuk mematahkan jalinan ghaib ini dalam hitungan hari, maka Pertiwi akan segera menyusul Bayu ke dalam liang kubur.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya