Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana pembalasan
Vivian duduk termangu di tepi tempat tidur kamarnya yang baru. Ia tak beranjak, sekedar melihat-lihat isi ruangan yang begitu indah itu.
Matanya hanya memandang udara kosong di depan, pikirannya melayang tanpa arah, memikirkan nasibnya yang entah akan dibawa ke mana.
Dan lagi-lagi, bayangan wajah Satria bersama wanita lain melintas tajam di benaknya, seolah menyambar-nyambar ketenangan yang baru saja ia temukan. Kenangan menyakitkan itu kembali menyeruak, mengacaukan segalanya.
"Bajingan..." umpatnya pelan namun penuh amarah, kuku jari menancap lemah ke telapak tangan. Dadanya sesak, berdebar tak tenang.
Bagaimana bisa tadi ia hampir terbuai senyum manis pria itu, padahal lukanya belum benar-benar kering? Bagaimana bisa ia percaya lagi pada janji yang dulu pernah diingkari?
Ia memejamkan mata rapat, berusaha menepis wajah itu. Namun di tengah gelapnya kelopak mata, bayangan lain muncul, wajah dingin dengan tatapan teduh milik Raynor. Yang tadi lewat tanpa banyak bicara, namun seolah tahu apa yang baru saja terjadi.
Vivian menghela napas panjang, lalu jatuh terbaring telentang menatap langit-langit kamar yang megah namun terasa sepi. Di rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaungnya, ia justru merasa terjebak di antara dua perasaan yang sama-sama menguras jiwa.
Namun seketika sebuah ide terlintas di kepalanya, ia tersenyum konyol, baru bisa tenang melanjutkan hatinya.
"Sekarang waktunya rasa sakit itu kembali ke tuannya" ucapnya, nadanya seperti menekan perasaan.
Belum lama senyum itu tersungging, ponsel di sampingnya bergetar pelan. Layar menyala, menampilkan nomor tak dikenal tanpa nama.
"Siapa yang menghubungi ku?" dahinya berkerut samar, tak banyak orang yang menyimpan nomornya.
Ia menatapnya ragu, namun tangannya tetap bergerak menyentuh tombol hijau. Siapa tahu ada hal penting.
"Halo? Siapa ya?" tanyanya hati-hati.
Di seberang sana terdengar hening sejenak, lalu suara berat, dingin, dan tenang menyapa telinganya.
"Kamu sibuk?"
Hati Vivian seketika berdebar. Meski singkat, ia langsung mengenali suara itu. Raynor...
"Enggak," jawabnya pelan, entah kenapa jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Antarkan berkas yang ada di atas meja kamarku. Di bawah sudah ada supir menunggumu."
Kalimat itu selesai begitu saja, lalu sambungan terputus seketika. Terdengar nada sibuk yang berulang.
Vivian menatap layar ponsel yang gelap, lalu senyum kecil kembali merekah di bibirnya. Matanya berbinar cerah.
"Ini kesempatan... kesempatan bagiku untuk lebih dekat dengan Kak Raynor."
Ia segera bangkit berdiri, melangkah cepat menuju lemari pakaian yang luas di sudut ruangan.
Pintu lemari terbuka lebar, memperlihatkan deretan gaun dan pakaian indah yang tertata rapi, seolah menunggu untuk dipakai.
Vivian memilih gaun merah muda yang terlihat sangat manis, lalu berdiri di depan cermin. Jemarinya merapikan pakaian dan rambutnya perlahan, berusaha tampil sebaik mungkin walau tanpa riasan di wajah. Bukan untuk orang lain, kali ini hanya untuk pria yang baru saja menelponnya.
"Ternyata aku secantik ini kalo pake baju bener, bukan kaos over size yang warnanya udah luntur, kaya baju-baju aku di kampung. Hihihi..."
Setelah merasa cukup, ia melangkah menuju kamar sebelah, mengambil berkas tebal yang tergeletak di sana.
Pelukannya erat, seolah membawa sesuatu yang sangat berharga. Dengan napas yang diatur perlahan, Vivian melangkah keluar kamar, menuruni tangga, menuju sebuah pertemuan yang entah akan membawanya ke mana.
Vivian melangkah keluar kamar, menutup pintu perlahan. Baru beberapa langkah, pintu kamar sebelah terbuka, dan sosok Satria muncul dengan pakaian kerjanya.
Wajahnya tersenyum manis, semanis dulu ketika hari-hari ia rindu. Semua masih sama, tak berubah. Tangannya terangkat sedikit, hendak menyapa dengan lembut.
"Tenang Vivian, dia... Bukan kekasihmu yang dulu"
Vivian tak menoleh sedikit pun. Langkahnya justru semakin cepat, tatapan matanya lurus ke depan seolah tak melihat siapa pun di hadapannya.
Ia berpura-pura sibuk memeluk berkas, serta menempelkan ponsel di telinga, membiarkan senyum yang dipaksakan Satria meluruh begitu saja di lorong yang sunyi, dingin, dan menyesakkan.
Satria terdiam membisu. Tangannya menggantung di udara, menatap punggung gadis itu yang berjalan menjauh dengan wajah acuh.
"Kamu kenapa Vi? Apa dia merajuk? karena akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Sepertinya aku harus minta maaf dan kasih hadiah kecil kesukaannya seperti biasa" ia melanjutkan langkah, senyum kecil tersungging manis atas pemikirannya sendiri.
Sedangkan di depan, Vivian terus melangkah tanpa menengok ke belakang. Hatinya berdebar kencang, bukan karena cinta, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia tak lagi membiarkan dirinya terbuai senyum manis itu, walau rasa sakit membelenggu.