NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Malam itu Lukas sengaja berjalan sebentar di kawasan pasar malam tua di pinggiran kota—tempat yang dulu sering ia lewati sendirian saat hati sedang gundah, tempat di mana lampu-lampu warung tampak hangat dan suara tawar-menawar orang terasa akrab di telinga. Ia hanya ingin sejenak melepaskan beban pikiran yang menumpuk: ancaman yang terus mengintai, berkas identitas yang baru ditemukan, serta tekanan harus selalu tampak tegar di hadapan semua orang. Kirana mengizinkannya pergi dengan syarat ia tetap berhati-hati dan segera pulang jika sudah lelah.

Udara malam terasa sejuk, berbau aroma jagung bakar, gorengan, dan asap rokok yang bercampur menjadi satu. Lukas berjalan perlahan di antara kerumunan, membiarkan matanya menyapu sekeliling tanpa tujuan khusus. Namun saat ia hendak berbelok menuju jalan pulang, suara tawa keras dan tidak jelas terdengar dari bangku panjang di depan sebuah kedai minuman pinggir jalan.

Seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh duduk miring di sana, botol minuman keras di tangannya sudah hampir kosong. Wajahnya merah padam, matanya melirik ke sana kemari dengan pandangan yang tidak fokus. Lukas mengenali pria itu seketika: Pak Haris, kerabat jauh keluarga Chandra yang dulu sering datang berkunjung ke rumah. Ia adalah orang yang paling jarang berbicara padanya, namun tatapannya selalu penuh rasa iba—seolah ia tahu sesuatu yang tidak boleh diucapkan.

Saat Lukas hendak berjalan memutar agar tidak berpapasan, Pak Haris justru menunjuk ke arahnya dengan jari gemetar, lalu tertawa serak.

“Hei… bukankah itu si anak misterius?” serunya keras, membuat beberapa orang yang lewat menoleh sebentar sebelum berlalu kembali. “Anak yang disimpan di dalam rumah besar itu seperti harta karun yang terkunci rapat!”

Lukas berhenti di tempat. Ia tahu pria itu sedang mabuk berat, namun ada nada yang berbeda dalam suaranya—bukan ejekan, melainkan keluhan yang sudah lama tertahan. Ia mendekat perlahan, berusaha tetap tenang.

“Pak Haris, pulanglah. Sudah larut,” ucapnya pelan.

Pria itu mendongak, menatap Lukas dengan mata yang berair. Ia menepuk-nepuk bangku di sebelahnya, memberi isyarat agar Lukas duduk. Tanpa sadar Lukas menuruti isyarat itu, hatinya berdebar karena firasat kuat bahwa pria ini akan mengucapkan sesuatu yang penting.

“Kau pikir mereka mengangkatmu jadi anak karena kasihan?” gumam Pak Haris, lalu tertawa sinis yang berubah menjadi batuk kering. “Kau pikir mereka menyekolahkanmu, memberimu makan, memberimu tempat tidur—semua itu karena kebaikan hati? Bodoh sekali kau… kau dikirim ke sana hanya untuk disembunyikan, bukan diangkat jadi anak!”

Kata-kata itu menghantam dada Lukas seperti pukulan keras. Selama ini ia sempat berpikir bahwa mungkin di awal ada niat tulus dari keluarga Chandra, namun kemudian berubah karena ketakutan. Namun kenyataannya jauh lebih dingin: ia tidak pernah dianggap sebagai anak, hanya sebagai barang yang harus disimpan di tempat aman agar tidak ditemukan orang lain.

“Siapa yang menyuruh mereka menyembunyikan saya?” tanyanya hati-hati, suaranya bergetar namun ia berusaha menahannya. “Apa yang sebenarnya terjadi saat saya dibawa ke rumah itu?”

Pak Haris meneguk sisa cairan di botolnya, lalu meletakkannya dengan kasar di lantai. Ia menunduk lama, seolah sedang berjuang melawan mabuknya agar bisa menyusun kata-kata yang benar.

“Saat itu… aku datang ke rumah Chandra tak lama setelah kau dibawa masuk,” ceritanya pelan, matanya menatap kosong ke arah jalanan yang sepi. “Aku mendengar Tuan Chandra berbicara lewat telepon dengan orang yang namanya tidak pernah ia sebutkan jelas. Ia berkata: ‘Anak itu sudah ada di sini. Kami menjaganya dengan baik, tidak ada yang tahu keberadaannya. Sesuai janji, kami tidak akan membiarkan dia keluar dari pengawasan kami sampai waktunya tiba.’ Lalu ia menambahkan dengan suara gemetar: ‘Tolong jangan sakiti keluarga kami seperti yang kau lakukan pada Wijaya.’”

Nama itu—Wijaya—diucapkannya dengan nada takut yang mendalam. Lukas merasakan bulu kuduknya berdiri. Jadi keluarga Chandra sejak awal tahu persis siapa dirinya, tahu siapa orang tuanya, dan tahu bahwa mereka sedang melaksanakan perintah orang lain.

“Lalu kenapa mereka mengusir saya sekarang?” tanya Lukas lagi. “Kenapa tidak menyembunyikan saya sampai selesai?”

Pak Haris menggeleng pelan, air mata mulai menetes di pipinya yang kasar.

“Karena orang yang memberi perintah itu akhirnya tidak percaya lagi pada Chandra. Mereka mendengar ada orang lain yang mulai mencarimu—seorang wanita kaya raya katanya. Mereka mengancam akan menghapus seluruh kekayaan keluarga Chandra jika kau masih berada di sana. Jadi… mereka memilih melepaskanmu, berharap dengan begitu nyawa mereka selamat. Mereka tidak berani melindungimu, tapi juga tidak berani menyakitimu. Itulah sebabnya mereka hanya membuangmu begitu saja tanpa memberi tahu apa-apa.”

Pria itu diam sejenak, lalu menatap Lukas dengan tatapan yang penuh penyesalan.

“Aku sudah ingin berbicara sejak lama. Tapi aku takut… takut berakhir sama seperti orang-orang yang berani membuka mulut soal hal ini. Kau harus tahu, Nak—mereka yang menyembunyikanmu bukanlah orang yang bisa diajak berkompromi. Mereka tidak segan membunuh demi menjaga rahasia ini.”

Belum sempat Lukas bertanya lebih lanjut, Pak Haris tiba-tiba berdiri dengan sempoyongan. Ia menoleh ke belakang beberapa kali, seolah merasa ada yang mengawasi mereka dari kegelapan.

“Aku harus pergi. Jangan pernah beritahu siapa pun aku yang bilang ini,” bisiknya tergesa-gesa. Tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan cepat menghilang di antara kerumunan pasar malam, meninggalkan Lukas yang masih duduk terpaku di bangku panjang itu.

Angin malam berhembus lebih kencang, membawa serta debu jalanan. Lukas merenung lama di sana, menyusun semua potongan cerita yang baru didengarnya. Ia bukan anak yatim yang beruntung diadopsi—ia adalah anak yang diserahkan kepada orang lain untuk dijadikan rahasia. Keluarga Chandra bukan orang tua angkat, melainkan penjaga yang ketakutan. Dan di balik semuanya masih ada satu bayangan besar yang mengendalikan semua benang—Bima Surya Atmaja.

Ia berdiri perlahan, melangkah pulang dengan langkah yang lebih mantap. Pertemuan tak terduga ini justru memberinya kepastian yang selama ini ia cari: ia bukan korban kebetulan, ia adalah sasaran utama dari rencana jahat yang dirancang sejak lama. Dan semakin mereka berusaha menyembunyikannya, semakin jelas bahwa keberadaannya adalah ancaman terbesar bagi kekuasaan yang mereka bangun di atas kebohongan.

Sesampainya di apartemen, Lukas langsung menceritakan semuanya kepada Kirana. Wanita itu mendengarkan dengan saksama, wajahnya serius namun matanya menyiratkan harapan.

“Ini bukti terkuat sejauh ini,” ucapnya setelah Lukas selesai bercerita. “Bukti bahwa keluarga Chandra hanyalah alat, dan bahwa Bima adalah dalang yang mengatur semuanya. Sekarang kita tahu persis mengapa mereka begitu takut padamu—karena selama kau ada, kebenaran tidak akan pernah mati.”

Malam itu mereka berdua duduk lama di depan jendela kaca, menatap kota yang mulai tenang. Di kejauhan, cahaya lampu gedung milik Bima tampak berkilau angkuh, namun bagi Lukas cahaya itu kini terlihat rapuh. Ia tahu jalan ke depan masih penuh bahaya, namun ia tidak lagi berjalan dalam kegelapan tanpa arah. Kini ia memegang kunci yang bisa membuka pintu rahasia terakhir—siapa orang yang selama ini menyembunyikan kebenaran, dan bagaimana cara mengembalikannya kepada tempat yang seharusnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!