Ini tentang Elza, wanita lumpuh yang dinikahi Alvian sebagai pertanggung jawaban pria tersebut yang menjadi penyebab Elza harus mengalami kelumpuhan seumur hidupnya.
Alvian Pramana hanya bisa pasrah meski sebelumnya menolak mentah-mentah atas permintaan orang tua Elza yang menginginkan pertanggung jawaban dengan menikahi Elza. Karna orang tua Elza yakin tidak ada pria manapun mau menikahi putrinya yang cacat.
Alvian yang sempurna bersanding dengan Elza, wanita cacat.
Jangan lupa mampir ke:
Instagram: Khazana_va
Tik tok: Khazana_va
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak
Elza langsung mendorong Haris ketika bibir mereka berdua hampir bersentuhan. Ia bangkit dari pangkuan pria tersebut dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Elza...!!" Haris berteriak memanggil wanita itu. Ia benar-benar terbawa suasana dan perasaan yang sulit dikendalikan. Pasti Elza berpikiran buruk dengan apa yang ia lakukan tadi.
Sedangkan Elza menyandarkan punggungnya di pintu yang sudah ia kunci. Badannya bergetar, apa yang Haris lakukan tadi membuat ia takut. Apa ia harus pergi saja dari sini? Tapi bagaimana? Uangnya sudah habis tanpa sisa sedikitpun setelah di rampas oleh dua preman tadi. Perlahan Elza melangkahkan kakinya ke kasur dan membuka isi koper yang di letakkan di dekat kasur. Ia mengambil ponselnya di dalam koper tersebut.
Wanita itu mulai menyalakan ponselnya yang sengaja ia nonaktifkan dan tidak lama setelah ponsel itu aktif puluhan notifikasi pesan langsung masuk dan beberapa panggilan tak terjawab dari Alvian juga cukup banyak.
"Alvian..." gumamnya lirih.
Pandangan mata Elza bergulir. Bibirnya bergetar ketika membaca beberapa pesan dari suaminya.
Elza, kau di mana sayang?
Maafkan aku
Kau di mana sekarang? Aku akan segera menjemputmu.
Mendadak hawa panas mulai menyelimuti kedua mata Elza. Sebrengsek dan sebanyak apapun luka yang Alvian berikan padanya tidak bisa menghapus cinta yang entah sejak kapan tumbuh di hatinya. Air mata tak terbendung dari pelupuk matanya dan perih yang menjalar di dalam hatinya.
Tok! Tok!
"Elza! Bukan pintunya!"
Suara gedoran pintu dari luar tidak membuat Elza menoleh. Pikirannya saat ini adalah agar secepatnya pergi dari sini. Sangat salah posisinya sekarang karna berada dalam rumah pria yang nyatanya memiliki perasaan lebih padanya.
"Elza! Bukan pintunya atau aku dobrak!"
Ancaman yang Haris lontarkan membuat Elza menoleh. Apa ia harus membuka pintu itu? Tapi jika Haris benar-benar mendobraknya? Elza membuang napas kasar dan melangkah mendekati pintu. Dengan ragu dan penuh was-was ia membuka pintu sedikit hanya memperlihatkan setengah dari wajahnya.
Haris yang melihat pintu terbuka langsung tersenyum." Aku ingin minta maaf. Aku janji tidak akan berbuat seperti itu," ucap Haris dengan tatapan sendunya.
Sedangkan Elza tak langsung menelan mentah-mentah ucapan yang pria itu lontarkan. Ia masih takut dan ia masih punya harga diri sebagai wanita, pantang baginya di sentuh apalagi harus melakukan perbuatan yang sudah membuat ia ketakutan.
"Aku ingin pergi dari sini," ucap Elza dengan suara yang bergetar.
Raut wajah Haris mendadak berubah. Senyuman di wajah pria itu langsung hilang bagai tersapu angin."Kau tidak boleh pergi dari sini!"
Elza menggeleng."Tidak. Tinggal satu atap denganmu sudah salah, aku tidak ingin menarik fitnah orang-orang pada kita berdua." Deru napas Elza memburu dan percikan emosi terlihat dari raut wajahnya.
"Elza..." Haris melembutkan suaranya dan menarik tangan kanan wanita itu lembut."Bagaimana kita menikah saja?" ucap Haris tanpa beban.
Sementara Elza membulatkan matanya. Ia langsung menghempaskan tangan Haris."Kau gila Haris! Aku masih berstatus istri Alvian!" tekannya.
"Ooh ya, jika kau masih istri Alvian kenapa kabur?"
Elza langsung terdiam dan meneguk ludahnya susah payah mendengar ucapan Haris yang membuat wanita itu skakmat.
"A-aku hanya ingin menenangkan diri saja." Elza berucap tersendat-sendat.
Haris terkekeh pelan."Menenangkan diri? Elza, Elza, apa kau bodoh. Menenangkan diri itu ketika kau meminta Alvian untuk meninggalkan mu seorang sendiri dalam waktu tertentu sampai kau benar-benar sudah tenang. Tapi posisimu sekarang sedang kabur!"
"Jadi?" Haris mendorong pintu cukup kuat membuat Elza hampir jatuh terjungkal ke lantai.
"Kau tidak mempunyai hubungan apapun dengan Alvian!" Wajah Haris menyeringai dan melangkah mendekat pada Elza yang mundur dengan raut wajah penuh ketakutan.
_______
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. See you di part selanjutnya:)
wkwkwk
Hiiii 🙈