Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Ujung kipas lipat di tangan Wu Jun bergetar halus. Wajahnya yang rupawan sempat berganti warna dari putih menjadi merah padam, sebelum akhirnya ia buru-buru memaksakan sebuah senyuman kaku. Kata-kata Wu Tian barusan bukan sekadar kritikan biasa; itu adalah sebuah hantaman telak yang meremukkan harga diri Wu Jun sebagai salah satu jenius teratas Klan Wu.
‘Lima celah mematikan? Mati lima kali di Shenzhou?!’ Benak Wu Jun menjerit berang.
Sebagai kultivator yang selalu dipuji oleh para tetua dan dipuja oleh para murid perempuan, baru kali ini ada seorang pemuda sebaya—yang penampilannya bahkan lebih tampan dari dirinya—mengatakan teknik pedangnya seperti lelucon. Wu Jun ingin sekali mengamuk dan menghajar pemuda udik ini. Namun, ia melirik Wu Lin yang berdiri di samping mereka. Demi menjaga citra dirinya sebagai pria yang anggun, berwibawa, dan karismatik di depan gadis itu, Wu Jun menelan bulat-bulat amarahnya.
Di sisi lain meja, Wu Lin, Wu Chen, dan Wu Ao serentak menepuk jidat mereka sendiri. Mereka hanya bisa menghela napas panjang dalam hati, meratapi kepolosan Wu Tian yang terlampau mematikan. Mereka tahu betul Wu Tian tidak berniat mengejek; monster dari Shenzhou itu hanya mengatakan kebenaran absolut berdasarkan insting bertarungnya. Tapi bagi Wu Jun, kebenaran jujur itu rasanya lebih menyakitkan daripada tebasan pedang Li Peng.
"Haha... Saudara Tian tampaknya suka bercanda," ucap Wu Jun, suaranya terdengar agak dipaksakan saat ia kembali mengibaskan kipasnya dengan sok keren. Ia melangkah mendekat, sengaja berdiri membelakangi Wu Lin agar bisa menatap Wu Tian dari atas dengan penuh percaya diri.
"Mungkin di cabang terpencil tempatmu berasal, gaya bertarung kalian lebih... kasar?" Wu Jun mulai menaikkan nada suaranya, sengaja berlagak protektif dan hebat demi mendapatkan perhatian Wu Lin. "Di kota besar seperti ini, teknik pedang bukan hanya soal membunuh, tapi juga soal seni dan keagungan. Wajar saja jika kultivasi levelmu belum bisa menangkap keindahan dari gerakan Ranah Pemurnian Qi tingkat puncak milikku."
Sembari berbicara dengan penuh percaya diri, Wu Jun secara terselubung mulai mengalirkan energi spiritualnya. Ia ingin memberi pelajaran halus pada Wu Tian. Dari tubuh Wu Jun, gelombang hawa panas yang cukup kuat mulai mengintimidasi ruangan, sebuah tekanan spiritual khas Ranah Puncak yang biasanya sanggup membuat lutut kultivator biasa gemetar menahan napas. Wu Jun tersennyum sinis, menanti reaksi panik atau sesak napas dari pemuda di depannya.
Namun, Wu Tian sama sekali tidak bergeming.
Tekanan spiritual yang dibangga-banggakan oleh Wu Jun itu mengalir melewati tubuh Wu Tian layaknya embusan angin sepoi-sepoi yang tidak berarti. Jangankan gemetar, berkedip pun tidak. Dengan wajah yang tetap datar tanpa ekspresi, Wu Tian justru meraih cangkir tehnya yang tinggal setengah, lalu meminumnya hingga tandas seolah tidak terjadi apa-apa. Bagi Wu Tian yang terbiasa menyerap badai energi kematian di altar Shenzhou, riak energi Wu Jun ini tidak lebih kuat dari kehangatan uap air.
Melihat targetnya sama sekali tidak terpengaruh, Wu Jun mulai berkeringat dingin di balik jubah mewahnya. Ia buru-buru menarik kembali energinya sebelum Wu Lin menyadarinya.
"Bagaimana, Saudara Tian?" tanya Wu Jun lagi, mencoba menutupi kegagalannya dengan sindiran halus. "Apakah kultivator di tempat asalmu pernah merasakan kehangatan energi murni seratus persen seperti yang baru saja lewat?"
Wu Tian meletakkan kembali cangkir tehnya yang kosong dengan enteng. Ia menatap Wu Jun dengan tatapan polos yang menusuk. "Energi yang tadi itu... terasa sangat tipis. Seperti hawa panas dari api kompor di dapur kedai ini. Tidak ada gunanya untuk bertarung."
JLEB.
Wu Jun bersumpah ia mendengar suara harga dirinya yang retak untuk kedua kalinya. Wu Lin yang berada di belakangnya terpaksa menutup mulut dengan lengan jubahnya agar tidak kelepasan tertawa terbahak-bahak, sementara Wu Chen dan Wu Ao hanya bisa memandang lantai, berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
"K-Kamu..." Wu Jun kehabisan kata-kata. Ego narsismenya benar-benar hancur lebur menghadapi ketahanan absolut Wu Tian. Demi memotong pembicaraan yang merugikan harga dirinya ini, Wu Jun langsung berbalik ke arah kasir dengan gaya orang kaya yang angkuh. "Pelayan! Hitung semua makanan di meja ini! Biar aku yang bayar semuanya!"
Wu Jun sengaja menekankan kata 'aku yang bayar' sambil melirik Wu Lin, berharap tindakan royalnya bisa memulihkan nama baiknya. Namun, ketika pelayan datang dan menyerahkan nota berisi belasan porsi makanan yang dihabiskan Wu Tian sendirian, mata Wu Jun hampir melompat keluar melihat nominal batu spiritual yang harus ia keluarkan. Dengan hati yang menangis dan dompet yang terkuras, Wu Jun terpaksa membayar semuanya demi gengsi.
Setelah urusan kedai selesai, mereka berlima akhirnya melanjutkan perjalanan keluar dari Kota Fajar menuju markas utama Klan Wu. Wu Jun berjalan paling depan dengan langkah yang dihentak-hentakkan penuh dongkol, bersumpah dalam hati bahwa ia akan membuat pemuda udik bernama Wu Tian itu melongo tak berdaya saat melihat kemegahan dan kerasnya kompetisi di kediaman utama nanti.
Wu Tian sendiri berjalan paling belakang bersama Wu Lin. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun orang yang menyadari atau merasakan seberapa besar kekuatan asli yang disembunyikan di balik tatapan tenangnya. Bagi Wu Jun dan dunia luar, Wu Tian hanyalah seorang pemuda berwajah tampan yang aneh, memiliki ketahanan fisik yang lumayan, dan berasal dari cabang klan terpencil yang tidak punya tata krama. Mereka menganggapnya remeh, mengira dia hanyalah penonton yang beruntung bisa ikut rombongan.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa monster sesungguhnya berjalan di antara mereka dalam diam.
Sementara itu, jauh di atas langit perbatasan, seekor burung merpati spiritual dengan bulu seputih salju melesat cepat meninggalkan wilayah Kota Fajar. Merpati itu membawa gulungan surat kecil dari Li Peng yang ditujukan langsung ke markas utama Klan Li. Surat itu berisi laporan tentang bentrokan di kedai, sekaligus sebuah peringatan rahasia untuk menyelidiki identitas pemuda misterius berbaju biru tua yang bepergian bersama Wu Lin. Benih-benih konflik besar di Kompetisi Klan telah resmi tertanam, menunggu waktu untuk meledak di Daratan Yunzhou.