Maretta anggraini, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai manager sebuah perusahaan garment. Dia bercerai dari suaminya lantaran suaminya ketahuan sudah menikah lagi.
Kemudian dia bertemu dengan seorang Dokter muda yang bernama Didi rangga dinata. Ternyata, Dokter itu langsung jatuh cinta sama Maretta.
Bagaimana perjalanan kisah cinta antara Maretta dan Didi.
Ikuti dalam novel yang berjudul KAU YANG SELALU ADA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 23 (Vina semakin nekat)
Akhirnya Ayah Ibunya Satrio masuk kembali kerumah. Mereka senang sekali dengan lingkungan rumah barunya Satrio. Pasti anaknya akan kerasan tinggal disini.
.
.
.
Diwaktu yang sama dan tempat yang berbeda, sore itu setibanya dirumah sakit Vina langsung menuju ruangan Didi. Tak dihiraukannya anak rambut berhamburan kemukanya yang ayu. Memang Vina wanita yang ayu. Kulitnya yang kuning langsat dan badannya yang langsing semakin menambah ke ayuannya. Memang seorang model harus mempunyai modal yang seperti itu. Tak salah saat itu Didi jatuh cinta padanya.
"Tok..tok.." terdengar pintu diketuk.
"Masuk,!" sahut Didi.
"Selamat siang Pak Dokter yang tampan" ucap Vina.
Didi tak langsung mengangkat wajahnya karena dia masih fokus dengan laptop dihadapannya. Tapi, seketika Didi menghentikan aktivitasnya dan mendongakkan kepalanya.,
"Kamu..,!! Ada apa kamu kesini?" tanya Didi dengan wajah kurang senang.
"Sabar dong. Muka jangan sewot gitu kenapa?" ucap Vina sambil tangannya menggelayut dipundak Didi.
Seketika itu Didi beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu yang sopan.! Kamu ada apa kesini?" ucap Didi sambil wajahnya memerah menahan amarah.
"Aku kesini sudah dapat ijin dari tante Utari. Aku mau balikkan sama kamu, Di." ucap Vina tiba-tiba.
"Apa.,! Kamu sudah gila? Kita sudah gak ada hubungan apa-apa lagi. Lagian kemarin Mama juga sudah nggak setuju, kenapa sekarang kamu bilang kalau Mama mengijinkan?" tanya Didi penasaran.
"Iya, sebelum kesini aku telpon Mama kamu, katanya terserah kamu,!" jawab Vina bohong.
"Nggak mungkin, lagian kamu sendiri yang menyebabkan kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Apa kamu gak ingat?" ucap Didi dengan wajah yang serius.
"Aku minta maaf Di. Waktu itu aku memang yang salah. Tolong, kasih kesempatan sekali lagi." ucap Vina sambil berlutut.
"Eh., apa-apa'an kamu ini. Tolong, kendalikan dirimu Vin. Aku nggak suka seperti ini." ucap Didi sambil membantu Vina bangun.
"Kamu mau kan, Di?" ucap Vina lirih. Gadis itu terus menangis dihadapan Didi.
"Maaf, aku tidak bisa.!" sahut Didi tegas.
"Kenapa, Di. Apa karena Janda cantik kemarin itu,!" ucap Vina lantang.
"Apa,! coba kamu ulangi sekali lagi. Meskipun dia Janda, tapi dia jauh lebih baik daripada kamu,!" sahut Didi.
"Segitunya kamu membelanya, jangan-jangan kamu sudah kena guna-guna dia!" cerocos Vina.
"Diam kamu! sekali lagi kamu bicara yang nggak-nggak tentang dia, kamu akan berurusan denganku." jawab Didi.
"Tapi, Di. Dulu kamu begitu mencintaiku, masa sekarang nggak tersisa sedikitpun." ucap Vina.
Pikiran Didi tambah kacau. Bingung harus gimana padahal sore ini dia mau kerumah Retta. Dia mengangkat tangan kirinya diliatnya jam sudah menujukkan pukul setengah lima sore. Pasti Retta sudah pulang. Batinnya.
"Kenapa Di, kamu ada janji?" tanya Vina.
"Bukan urusan kamu!" sahutnya ketus.
Tak selang beberapa menit kemudian ponsel Didi yang tergelatak dimeja berdering. Ada nama RETTA CANTIK. Seketika Vina juga melihatnya.
"Jadi wanita kemarin itu namanya, Retta?" tanya Vina sewot.
"Bukan urusan kamu. Aku tadi kan sudah bilang. Bawel amat sih,!" jawab Didi.
Belum sempet Didi mengangkat telefon. Tiba-tiba Vina menyambar ponsel yang ada ditangan Didi.
["Hallo.," jawab Vina seketika. ]
Wajah Didi semakin memerah karena dari tadi menahan amarah. Seketika Didi menyambar ponsel yang ditangan Vina.
"Kamu apa-apan ini Vina.!! Kamu sudah keterlaluan. Sudah kubilang kita sudah gak ada hubungan apa-apa lagi, tapi kamu masih aja ngotot." Ucap Didi keras.
Tak dihiraukannya ponsel yang digenggamnya itu masih menyala. Setelah sadar buru-buru dia meletakkan benda itu ketelinganya.
["Maaf sayaang. Tadi ada kejadian kurang mengenakkan. Nanti aku jelaskan"]
["Okey..."]
Didi buru-buru merapikan meja kerjanya. Setelah itu dia menyambar tas kerja yang tergeletak diatas meja.
"Maaf Vin. Aku buru-buru. Tolong, tinggalkan ruanganku" ucap Didi.
"Tapi Di. Aku pulang sama siapa." Sahut Vina.
"Kamu tadi kesini sendiri. ya pulang sendiri lah." jawab Didi ketus.
"Tega kamu ya Di" ucap Vina lagi.
Didi tak menghiraukan gadis itu. Setelah Vina keluar dia buru-buru menutup pintu ruangannya. Dengan berjalan tergesa Didi langsung menuju parkiran. Dilajukannya mobil sedan miliknya itu dengan cepat. Pikirannya sekarang tertuju pada Retta. Takut wanita pujaannya itu keburu salah faham.
.
.
.
Kini di kediaman Retta, dia sudah memarkirkan mobilnya, Retta masuk ke dalam rumahnya. Dia masih penasaran siapa wanita yang mengangkat telpon Didi. Kok suara perempuan. Masa Vina, batinnya.
"Non Retta, tadi siang ada teman Non kesini mencari Non Retta." ucap Bi Sila.
"Siapa namanya, Bi?" tanya Retta.
"Satrio namanya, Non. Katanya dia mengundang Non Retta untuk acara syukuran rumah barunya" jawab Bi Sila.
"Oh iya, dia membeli rumah diseberang jalan depan rumah kita ini, Bi." jawab Retta.
"Oh gitu. Dia gagah sekali, Non." ucap Bi Sila lirih.
"Ish., Bibi kok genit, sih?" ucap Retta.
"Tapi, bener kan, Non? ucap Bi Sila.
"Udah ah, Bi. Retta mandi dulu." jawab Retta.
Setelah mandi, Retta duduk diruang tengah sambil menunggu Didi.
"Ting..tong..,!" suara bel didepan.
Retta langsung kedepan untuk membukanya. Ternyata Didi sudah berdiri didepan pintu.
"Maaf, sayang tadi di rumah sakit ada Vina. Pusing aku lihat anak itu.!" ucap Didi tiba-tiba sambil mendengus kesal.
Kemudian dia duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Retta hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu.
"Kamu, kok malah senyum-senyum?" tanya Didi heran melihat sikap Retta.
"Apa aku harus nangis. Nggak lucu, kan?" jawab Retta.
"Kamu, nggak cemburu?" tanya Didi.
"Nggak lah, aku percaya sama kamu, kok. Aku yakin tadi dirumah sakit kamu pasti juga nggak suka kalau ada Vina" ucap Retta sambil memegang tangan Didi.
"Iya, sayang. Jengkel aku lihat dia." jawabnya.
"Sudah, jangan diambil pusing. Aku percaya sama kamu, kok" ucap Retta.
"Hei kamu kok rapi amat, mau kemana?" tanya Didi sambil mengamati Retta dari atas sampai bawah.
"Ini diundang tentangga baru. Itu rumahnya diseberang jalan pas depan rumahku." jawab Retta.
"Terus, aku gimana?" ucap Didi bingung.
"Ya sudah, kamu disini aja sama Bi Sila, hehehe,!" ledek Retta.
"Kok gitu, sih sayang!" jawab Didi.
"Ya jelas kamu aku ajak lah." ucap Retta.
"Tapi, aku pakai baju gini?" tanya Didi
"Nggak apa-apa, kok. Masih cakep dan masih wangi juga." jawab Retta sambil hidungnya didekatkan ke tubuh Didi.
Didi mengerucutkan mulutnya, kemudian mereka langsung berangkat ke rumahnya Satrio. Maunya Retta mengajak jalan kaki aja karena dekat meskipun harus menerobos pembatas jalan yang ada tanamannya. Tapi, Didi nggak mau karena ribet, Didi mau naik mobil saja meskipun harus putar balik.
Sesampainya dirumah Satrio, mereka memarkirkan mobilnya dihalaman. Sudah ada beberapa orang yang datang. Mungkin Satrio disini masih baru jadi belum begitu banyak temannya. Hanya teman-teman yang notabene karyawannya di Hotel.
Satrio melihat kedatangan Retta dan Didi langsung menghampirinya untuk memyambutnya. Dengan antusias Satrio lamgsung mempersilahkan untuk bergabung dengan yang lainnya.
"Makasih, Ta. Kamu sudah mau datang." ucap Satrio seraya menyalami Retta.
"Iya, Mas Satrio. Aku datang sama dia" jawab Retta seraya menoleh ke arah Didi.
"Iya, nggak apa-apa. Oh ya kenalin, saya Satrio." ucap Satrio sembari menyalami Didi.
"Didi," jawab Didi sambil membalas tangan Satrio.
"Oke, silahkan dinikmati hidangannya. Maaf, seadanya" ucap Satrio.
Retta dan Didi kemudian bergabung dengan yang lainnya. Mereka ngobrol-ngobrol membicarakan apa saja yang menjadi aktivitasnya masing-masing. Tak selang lama Ibunya Satrio datang memanggil Satrio.
"Sat, dipanggil Ayahmu sebentar!" seru Ibunya sambil tersenyum sama tamu yang hadir.
"Oh iya, Bu. Kenalin ini Retta dan ini Didi pacarnya Retta. Dia itu tetangga kita yang rumahnya diseberang jalan depan rumah kita." jelas Satrio pada Ibunya.
Retta dan Didi tersenyum sambil menyalami Ibunya Satrio. Ibunya Satrio membalas senyuman mereka. Dia memandangi Retta tanpa kedip dari atas sampai bawah. Lalu berganti memandangi Didi, kemudian dia menyebutkan namanya.
"Panggil saja Bu Ayu. Satrio ini anak Ibu satu-satunya. Dia nggak punya saudara. Jadi kalau dia disini Ibu sekalian titip-titip dia, ya Nak?" ucap Bu Ayu polos.
"Apaan sih, Bu. Pake dititipin segala, memangnya Satrio anak TK pakai dititipin segala." sahut Satrio.
"Hehe, nggak apa-apa, Mas. Anggap saja aku adik kamu. Aku kan disini juga sendiri nggak ada keluarga." jawab Retta.
"Tuh, kan. Bener apa yang dikatakan Nak Retta, Sat. Kalian saling menjaga satu sama lain. Jare wong jowo iku, wong liyo iso dadi dulur, dulur iso dadi wong liyo. (kata orang jawa itu, orang lain bisa jadi saudara, dan saudara bisa jadi orang lain)" jelas Bu Ayu.
Didi hanya bengong saja ketika Ibunya Satrio berbicara pakai bahasa jawa. Retta melihat Didi kebingungan, langsung dia tersenyum sama Kekasihnya itu.
"Sayang, Bu Ayu itu tadi bicara bahasa jawa. Yang artinya 'Orang lain bisa jadi saudara, sedangkan saudara bisa jadi orang lain' gitu, sayang. Aku dan Mas Satrio kan sama-sama orang Jawa, jadi mengerti" ucap Retta sambil memegang lengan Didi.
"Oh gitu, aku faham sekarang. Iya, memang. Jaman sekarang itu menjalin persaudaraan itu tak harus dari keluaraga yang ada ikatan darah." jawab Didi.
"Oh iya, Nak Didi, Ibu pinjem Retta nya sebentar, ya. Kalian lanjutin aja ngobrolnya."sahut Bu Ayu.
Didi mengangguk sambil tersenyum ke arah Bu Ayu. Kini dia hanya berdua dengan Satrio. Didi masih diam nggak tahu mau ngobrolin apa. Akhirnya Satrio yang duluan bicara.
"Oh iya, kalian sudah lama pacarannya?" tanya Satrio tiba-tiba.
"Kita baru aja, belum ada satu tahun, kok." jawab Didi.
"Aku kenal dia saat di Jogja dan kebetulan menginap di Hotelku. Lalu kita ketemu lagi di Jakarta saat aku belanja dan dia ada kunjungan kerja di salah satu Mall disini." jelas Satrio.
"Oh iya, Retta pernah cerita itu ke aku." jawab Didi.
Nggak butuh waktu lama akhirnya Satrio dan Didi menampakan keakrabannya. Akhirnya Retta sudah balik bergabung dengan Satrio dan Didi. Setelah mereka ngobrol-ngobrol kemudian dilanjut makan bersama.
Tak lama kemudian salah satu teman Satrio mendekat dan memberitahukan kalau ada tamu didepan yang mencari Satrio.
----------Bersambung----------
.retta
.