Bagas Sanjaya, dipertemukan dengan seorang gadis yang cantik dan jelita bernama Deliana. Gadis itu ia selamatkan setelah tertabrak oleh mobil yang ditumpanginya. Ternyata Deliana adalah anak dari Jonathan Zabeth, sahabat baik dari keluarga Sanjaya.
Pertemuan itulah yang kemudian menjadi jawaban sekaligus penyelesaian dari sebuah permasalahan yang mencekik kehidupan Jonathan dan keluarganya.
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, atau pun tempat, itu semua diluar pengetahuan penulis. Mohon untuk tidak memberikan komentar burik, karena itu akan berakibat buruk. Sekian dan terima gaji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juan Atma Wikarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : JAVANESE MAFIA
Ruchnam beserta anak buahnya langsung bergegas pergi ke asrama Elisa dengan mobilnya. Dia begitu terburu-buru karena takut terjadi sesuatu kepada Elisa. Dia tidak mengetahui apa masalahnya. Yang jelas, kalau Elisa meminta pulang ke Indonesia dengan cara berbicara yang panik seperti itu,
sudah pasti Elisa sedang dalam keadaan bahaya.
"Bagus Elisa. Sekarang tunggu disana dan gunakan pistolmu. Kokang pistolnya dan tetaplah waspada. Jangan takut sayang. Anak ayah bukanlah penakut. Oke?" Ucap Markus menenangkan Elisa yang masih menangis.
"Ja Papa."
(lya ayah.)
Elisa tetap berada dalam panggilan, agar Markus dan istrinya tahu jika ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi kepada anak mereka. Elisa menunggu dan tetap menunggu kedatangan Ruchnam. Dia duduk di dekat ranjangnya, dan mengarahkan pistol itu ke arah pintu.
Walau pun tangannya masih gemetar, Elisa mencoba untuk tetap tenang, karena bahaya bisa saja masih mengintainya saat ini. Tak berapa lama kemudian, seseorang menggedor pintu kamarnya. Dari suaranya, itu adalah suara Ruchnam.
"Miss Elisa! Es ist mir! Ruchnam. Offne die Tur! Wir mussen bald gehen."
(Nona Elisa! lni aku! Ruchnam. Buka pintunya! Kita harus segera pergi)
Elisa bangun dan langsung membuka pintunya yang dia kunci.
"Du bist okay, Mliss Elisa?" Tanya Ruchnam sembari memeriksa
tubuh Elisa.
(Kamu baikbaik saja, Nona Elisa?)
"Ja. Ich bin okay. Es ist mein Vater. Sprich mit ihm."
(Ya. Aku tidak apa-apa. Ini ayahku. Bicaralah dengannya)
Elisa menyerahkan telephonenya kepada Ruchnam. Markus dan Riana yang mendegar suara Ruchnam pun merasa lega, karena dia datang dengan cepat untuk menyelamatkan Elisa, dari seseorang yang sampai saat ini belum mereka ketahui.
Markus memerintahkan Ruchnam untuk segera membawa Elisa dari sana, karena
khawatir kalau sampai si peneror itu masih berada disana.
"Horen Sie Ruchnam! Meine Tochter bekommt ein Fingerstuck meiner Truppen. Ich weibr nicht, dass es sich wohl bin. Das wichtigste ist jetzt, du musst ihn nach Indonesien zurucknehmen. Verstehne?"
(Dengar Ruchnam! Putriku mendapatkan potongan jari milik anak buahku. Aku tidak tahu dari mana. Yang terpenting sekarang adalah, kamu harus membawanya pulang ke Indonesia. Paham?!
"Guten Mein Herr! Ich werde sicherstellen, dass alles sicher und kontrolliert ist."
(Baik Tuan! Saya akan memastikan semuanya aman dan terkendali.)
"Noch mehr! Vergiss nicht die Stucke seines fingers!"
(Satu lagil Jangan lupakan potongan jarinyal)
"Naturlich Mein Herr!"
(Tentu saja tuanku!)
Dibantu dengan sembilan orang anak buahnya, Ruchnam membereskan semua barang-barang Elisa yang harus dibawa. Dia juga membungkus kotak berisi potongan ibu jari milik Liam dengan jaketnya.
"Komm schnel! Wir verlassen diesen Ort!"
(Ayo cepat! Kita tinggalkan tempat ini!)
Mereka semua langsung bergegas pergi dari asrama itu. Di luar ada beberapa orang penghuni asrama yang melihat mereka keluar, karena sedari tadi kamar Elisa terdengar sangat berisik, sehingga membangunkan
penghuni asrama yang lain.
Mereka semua heran melihat ada banyak
orang yang membawa Elisa keluar dari sana. Tapi mereka tidak berani menegur, karena melihat penampilan Ruchnam dan anak buahnya, itu adalah ciri khas pakaian gangster di Jerman. Jadi mereka hanya bisa
melihat tanpa melakukan apa-apa.
......................
Setelah Elisa sampai di Indonesia, Elisa langsung dijemput di bandara oleh anak buah ayahnya dengan pengawalan super ketat. Lima mobil sudah terparkir disana beberapa menit sebelum Elisa sampai.
Ruchnam dan anak buahnya tidak jadi ikut mengawal sampai ke Indonesia, karena dia
mendapatkan tugas baru dari Markus untuk mencari tahu siapa orang yang mengirimkan potongan jari Liam kepada anaknya.
izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta
tp q suka karya'a bagus ...
semngt sukses selalu
klo tiap hari crazy up aku suka thor
semangat ya thor terus berkarya