Melati dan Rayan sudah 5 tahun menikah, tapi mereka belum di karuniai keturunan. Di usia 5 tahun pernikahan mereka melakukan pemeriksaan kesehatan, dan hasil nya Rayan yang bermasalah.
Dokter Silvi, sahabat nya Melati memberi saran pada Melati agar Melati mengatakan bahwa diri nya yang mandul. Maka Melati akan melihat seperti apa wajah asli mereka, dan Melati pun menerima saran itu.
Setelah mengatakan hal itu, Melati di perlakukan bak pembantu. Rayan datang dengan membawa wanita hamil yang diakui sebagai anak nya.
Di hari syukuran kelahiran anak nya, Rayan mengundang Melati dan menghina nya di depan banyak orang. Melati lalu memberikan surat hasil pemeriksaan yang asli, Rayan dan kekuarga nya tidak percaya dengan hal itu.
Tapi setelah memeriksa keaslian surat itu, dan melakukan tes DNA maka mereka baru tahu bahwa anak itu bukan anak nya Rayan. Dan saat itu juga Rayan juga sudah di tipu oleh istri baru nya, harta nya sudah di bawa lari oleh wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Arini mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju rumah orang tua Andin, saat ini diri nya dan juga Bu Arum sedang begitu kesal nya pada orang tua Andin.
"Mereka sangat keterlaluan sekali, padahal sepeser pun mereka tidak mau mengeluarkan uang untuk biaya pernikahan ini. Enak saja mereka mengambil semua amplop itu!" Bu Arum berkata dengan kesal nya.
"Bisa - bisa nya mereka mengambil nya saat acara baru saja selesai, dan seperti nya Andin mengetahui jika orang tua nya yang mengambil semua amplop tadi. Ibu bisa lihat sendiri kan, tadi Andin terlihat gugup!" Ujar Arini dengan kesal nya.
"Iya, tapi dia berpura - pura tidak tahu. Masa orang kaya kelakuan nya gitu, memalukan sampai mengambil semua iang amplop!" Omel bu Arum lagi.
Mobil yang di kendarai oleh Arini memasuki halaman rumah orang tua Andin, rumah sebesar dan semegah ini tidak punya satpam. Sungguh mengherankan, tapi Arini dan bu Arum tidak perduli. Yang terpenting bagi mereka, mereka harus mendapatkan uang itu kembali.
"Mereka kemana bu? Sepi banget!" Arini bertanya pada ibu nya.
"Kita gelar aja!" Jawab Bu Arum sambil berjalan mendekati pintu.
Bu Arum langsung menekan bel demgan tidak sabar, dia kembali mengulangi hal itu berkali - kali.
"Jangan - jangan mereka sudah menghabiskan uang nya, bu?" Tebak Arini.
"Tidak mungkin Rin, acara resepsi itu selesai nya sudah larut malam. Mereka pasti masih tidur saat ini!" Tebak bu Arum lagi.
Arini pun ikut menekan bel berkali - kali, tidak hanya itu, dia pun menggedor pintu dengan kencang. Untung saja ruma ini di kelilingi oleh pagar yang menjulang tinggi, sehingga suara berisik pada gedoran daun pintu tidak sampai ke luar.
Sementara itu di dalam kamar nya, bu Salma dan pak Gunawan merasa terganggu dengan suara bel yang terus berbunyi. Mereka masih mengantuk, tapi suara bel di pintu depan membuat mereka merasa terganggu.
"Siapa sih gangguin orang tidur saja?" Omel bu Saa dengan kesal.
"Ma, coba Mama lihat siapa yang datang, berisik banget!" Perintah pak Gunawan sambil menutup telinga nya dengan bantal.
Mau tidak mau akhir nya bu Salma pun bangun, dengan langkah kesal dan mulut yang tidk berhenti menggerutu dia pun akhir nya pergi ke depan.
"Dasar tidak punya otak, pagi - pagi udah gangguin orang tidur saja!" Omel bu Salma.
Bel di pintu depan kembi berbunyi dan di serta dengan gedoran yang cukup kencang pada daun pintu, suara yang sangat berisik membuat bu Salma semakin geram.
"Awas saja, akan ku hajar orang yang membuat keributan itu!" Omel Bu Salma.
Ceklek.
Pintu pun terbuka, bu Salma bersiap mengeluarkan kata - kata kasar nya. Tapi mendadak dia membeku dengan mulut yang masih terbuka, kata - kata itu seakan berhenti di kerongkongan saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Bu,,, bu Besan,,, Saya kira siapa!" Bu Salma berkata dengan nada gugup.
"Lama banget buka pintu nya, saya udah jamuran menunggu di sini!" Omel bu Arum.
"Maaf bu Besan, kami masih tidur. Bu besan sih, datang nya pagi - pagi banget!" Jawab bu Salma sambil menunjuk kan sikap ramah nya.
"Kamu bilang pagi? Memang nya kau tidak lihat ini udah jam berapa?" Tanya Bu Arum dengan nada yang sedikit kasar.
Bu Salma melihat jam besar yang ada di salah satu sudut rumah nya, dia menggaruk kepala nya yang tidak gatal saat menyadari ini sudah lewat tengah hari.
"Semalam itu rasa nya capek banget bu, jadi kami tidur sampai siang!" Jawab Bu Salma sambil nyengir.
Bi Arum dan Arini langsung melangkah masuk, bahkan sebelum bu Salma mempersilahkan mereka untuk masuk. Bu Arum dan Arini pun duduk di ruang tamu sambil menyerang kaki.
Pada saat yang bersamaan, pak Gunawan pun yang merasa penasaran keluar dari dalam kamar nya.
"Siapa Ma yang udah gangguin tidur kita?" Tanya pak Gunawan.
Seperti nya dia belum menyadari kehadiran bu Arum dan Arini di rumah ini, dia berjalan sambil mengucek mata nya yang masih ngantuk.
"Eh, bu besan,,, maaf ya saya kira siapa!" Pak Gunawan cukup terkejut saat menyadari siapa yang datang ke rumah nya.
"Kebetulan pak Gunawan dan bu Salma sudah bangun, kami datang untuk menanyakan di mana uang amplop dari kotak yang tadi malam kalian ambil?" Tanya bu Arum tanpa basa - basi.
Pak Gunawan dan bu Salma saling melirik, mereka terkejut karena bu Arum menanyakan perihal uang itu.
"Uang yang mana yang ibu maksud? Kami tidak tahu!" Pak Gunawan berpura - pura tidak tahu.
"Iya bu, kami tidak mengerti maksud bu Arum!" Bu Salma ikut berkata untuk mendukung kebohongan suami nya.
"Pak Gunawan, bu Salma jangan berpura - pura tidak tahu. Kalian yang mengambil semua amplop yang di berikan para tamu undangan, yang ada di dalam kotak amplop itu!" Bu Arum mulai terpancing emosi dengan sikap besan nya.
"Kami gak mengambil nya bu, jangan menuduh sembarangan!" Bu Salma mengelak semua itu.
"Bu Salma, pak Gunawan jangan mengelak lagi. Kalian yang mengambil nya, kami sudah memeriksa rekaman cctv. Kami punya bukti nya, kalian mau kami bawa kasus ini ke pihak yang berwajah!" Arini ikut geram dengan sikap kedua nya.
Pak Gunawan dan bu Salma terkejut mendengar kata tentang rekaman cctv, bagai mana mereka bisa melupakan hal itu. Hotel itu adalah hotel bintang 5, jadi jelas semua sudut nya pasti di awasi dengan kamera pengawas.
"Nak Arini,,,, Bu Arum,,, i,, itu,,,!" Bu Salma tampak gugup.
Dia melihat ke arah suami nya, meminta agar suami nya bicara. Tapi pak Gunawan juga kehilangan kata - kata, lidah nya terasa kelu karena saat ini mereka sudah ketahuan mencuri oleh besan mereka.
"Bu Salma, cepat kembalikan semua itu!" Kembali bu Arum berkata.
"Loh, kok ibu minta semua nya. Kan ini juga pernikahan nya anak kami, jadi kami berhak dong atas uang itu juga!" Bu Salma menolak untuk mengembalikan nya.
"Apa maksud bu Salma? Kami yang mengeluarkan uang untuk semua biaya pernikahan ini, kalian sepeser pun tidak membantu dana nya. Jadi kalian tidak berhak atas semua uang itu!" Bu Arum sanga marah mendengar ucapan besan nya barusan.
"Itu kan memang sudah menjadi kewajiban kalian, sebagai orang tua dari pihak laki - laki. Kenapa malah meminta pada kami!" Pak Gunawan pun tak mau kalah.
"Apa kalian tidak malu, kalian orang kaya tapi mengambil milik orang lain. Kalian juga tidak ada kontribusi nya dalam pernikahan ini, jadi cepat kembalikan semua nya. Atau kalian akan kamj laporkan dengan kasus pencurian!" Arini mengancam kedua orang tua Andin.
Mendengar ancaman Arini, nyali kedua nya langsung menciut. Tidak lucu jika mereka masuk penjara hanya karena uang yang ada di dalam amplop itu, bisa ketahuan kalau mereka sebenar nya bukan lah orang kaya. Bu Salma menyenggol suami nya, dengan menggunakan siku nya, sebagai tanda apa yang harus mereka lakukan.
terus sehat dan semangat 😍💪