NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sial yang Berjilid-jilid

Jika ada kompetisi manusia paling sial di SMA Wijaya hari ini, Callista yakin dirinya akan keluar sebagai juara umum tanpa perlu bersusah payah.

Setelah insiden tumpahnya es kopi susu di kemeja Kenzo, suasana hati Callista terjun bebas ke inti bumi. Dia berjalan masuk ke kelas Sepuluh-Tiga dengan bibir mengerucut panjang, sementara Sean berjalan di sampingnya sambil menahan tawa yang sedari tadi sudah di ujung tenggorokan.

"Jangan ketawa ya, Sean! Awas lo!" ancam Callista sambil menunjuk muka sahabatnya itu dengan sisa cup es kopi yang sudah kosong.

"Kagak, Cal, kagak," sahut Sean, meskipun matanya menyipit menahan tawa.

"Gue cuma ngebayangin gimana rasanya hari pertama sekolah langsung dapet musuh anak pemilik yayasan. Mana ganteng, pinter lagi. Kurang dramatis apa coba hidup lo?"

"Ganteng dari mana? Sok cool iya! Mulutnya itu lho, titisan cabai rawit, pedes banget!" Callista menghentakkan kakinya kesal, lalu memilih bangku di barisan ketiga dekat jendela. Dia langsung melempar tas ranselnya ke atas meja.

Sean mengambil posisi duduk di sebelah Callista. Sebagai sahabat sejak kecil yang selalu satu Vihara, Sean sudah hafal luar kepala semua tabiat Callista. Kalau cewek ini sudah marah-marah heboh seperti ini, artinya dia sebenarnya juga merasa malu.

"Udah, gak usah dipikirin. Lagian belum tentu dia sekelas sama kita, kan? Anak kelas sepuluh ada delapan kelas, peluang dia masuk sini kecil," hibur Sean sambil mengeluarkan ponselnya untuk mengajak Callista berfoto bersama—ritual wajib hari pertama sekolah yang tertunda.

"Ayo foto dulu, mukanya jangan ditekuk gitu. Jelek amat."

Callista mendengus, tapi tetap refleks berpose saat kamera depan ponsel Sean menyala. Baru saja Sean menekan tombol jepret, pintu kelas Sepuluh-Tiga terbuka lebar.

Seluruh atensi anak-anak di dalam kelas langsung tersedot ke arah pintu. Callista pun ikut menoleh, dan sedetik kemudian, senyum yang sempat terukir di wajahnya langsung membeku.

Di ambang pintu, berdirilah sang "korban kopi". Kemeja putih Kenzo sudah tidak ada noda cokelat lagi—sepertinya dia menggantinya dengan kemeja cadangan dari koperasi sekolah—tapi auranya tetap sama: dingin dan tidak bersahabat. Langkah kakinya terdengar tegas saat memasuki kelas.

Mata Kenzo menyapu seluruh penjuru kelas yang sudah hampir penuh. Dan entah karena takdir sedang ingin bercanda, mata tajam itu langsung mengunci pandangan ke arah bangku barisan ketiga dekat jendela. Tepat di mana Callista sedang melotot ke arahnya.

Kenzo mendengus pelan, lalu berjalan lurus ke arah mereka.

Callista menahan napas. Jangan bilang dia mau duduk di depan gue? Atau belakang gue? batinnya panik.

Namun, kenyataan justru jauh lebih mengerikan. Di kelas Sepuluh-Tiga, meja-meja diatur secara berpasangan, tetapi ada satu baris di paling belakang dekat jendela yang mejanya disusun untuk tiga orang karena jumlah murid yang ganjil. Dan tepat di belakang meja Callista dan Sean, hanya ada satu kursi kosong yang tersisa.

Kenzo berhenti tepat di samping meja Callista. Dia menurunkan tasnya dengan gerakan pelan, lalu menatap Callista datar.

"Ketemu lagi, si Ceroboh," ucap Kenzo pendek dengan suara beratnya yang menyebalkan.

"Lo... lo ngapain di sini?!" tanya Callista dengan nada defensif, setengah berbisik agar tidak memicu perhatian satu kelas.

"Sekolah. Menurut lo gue mau jualan siomay di sini?" balas Kenzo sarkastik. Dia lalu menggeser kursi di baris belakang Callista dan duduk di sana dengan tenang, melipat kedua tangannya di dada.

Sean yang duduk di sebelah Callista hanya bisa menyikut lengan sahabatnya itu sambil berbisik,

"Cal, doa lo kurang kenceng tadi pagi di altar. Fix, ini namanya jodoh... eh, maksud gue musuh bebuyutan."

"Diem lo, Sean!" ketus Callista, wajahnya memerah menahan dongkol.

Hari pertama SMA yang dia impikan penuh dengan cowok-cowok ramah dan petualangan seru, seketika berubah menjadi medan perang dingin. Callista bersumpah dalam hati, dia tidak akan pernah mau berurusan lagi dengan cowok bernama Kenzo itu. Mulai detik ini, Kenzo adalah daftar hitam nomor satu dalam hidupnya.

Namun, Callista belum tahu, bahwa takdir di SMA Wijaya punya seribu satu cara untuk terus mempertemukan mereka berdua, memicu percikan-percikan aneh yang kelak akan melibatkan perasaan Sean juga di dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!