Kesalahan membuat Andin tak sengaja menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan kekasihnya dan terpaksa berpisah dengan kekasihnya. Namun kesalah pahaman dengan lelaki itu membuat Andin berpikir bahwa dia hanyalah selingkuhan lelaki yang mulai dia cintai tanpa sengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan bohongan
Kosentrasinya benar-benar kacau hari ini, entahlah, Bahkan pembahasan Dosen dindepan kelas sama sekali tidak masuk di otaknya.
Seperti biasa Andin memilih membenamkan diri di ruang perpustakaan, berkutat dengan tumpukan buku-buku.
Dimas mengedarkan pamdangan matanya kesudut ruangan, tempat pavorit Andin sudah di isi orang lain, jadi di mana Andin.
Tatapan dimas tertuju pada sosok yang dia cari, sedang berkutat dengan tumpukan buku yang tak mungkin dia baca semua.
"Kehilangan tempat pavorit?" bisik Dimas saat sudah duduk di depan Andin, Andin menatapnya sekejab lalu kembali beralih kebuku.
"Iya," sahut Andin singkat.
Dimas mengeluarkan buku yang di ambilnya tadi kemudian ikut larut dalam bacaan masing-masing.
"Din, pulang kuliah kemana?"
"Gak ada rencana kemana-mana, kenapa?"
"Nanya aja," sahut Dimas dengan santainya.
"Is gak jelas," dengus Andin kesal.
"Andai aku ajak kamu jalan, apa kamu mau?" ucap Dimas seraya menatap intens wajah Andin.
"Maulah, apa lagi kalau di traktir makan," sahut Andin dengan senyum.
"Bosen ngajak kamu makan Din, pengenya ngajak kamu kencan," ucapnya tanpa menatap lawan bicaranya, manik hitamnya fokus ke buku di tangannya, sementara Andin menatapnya dengan senyum di bibirnya, benar kata orang, persahabatan laki-laki dan perempuan tidak akan tulus sebagai sahabat tanpa di bumbui rasa cinta salah satu dari mereka.
"Dim,"
"Hemm"
"Pulang kuliah, kamu boleh ajak aku kencan,"
"Bener?"
"Iya, gunakan waktu kencan mu sebaik mungkin, mungkin itu kencan kita yang pertama dan terakahir." ujar Andin, lalu beranjak bangkit dengan membawa buku-buku di meja meletakkannya kembali di tempat semula.
Dimas tersenyum simpul, Dia faham perasaan Andin padanya hanya sebagai sahabat, tapi dengan memberinya kesempatan mengutarakan perasaannya, itu sudah membuatnya bahagia.
Dimas membawa Andin kebioskop, Dimas sendiri dilema akan membawa Andin kemana tapi Akhirnya dia memilih bioskop sebagai tempat kencan mereka.
"Kau bawa aku kesini?" tanya Andin.
"Kenapa, aku salah tempat?"
"Gak juga, udah lama aku gak ke bioskop" sahut Andin.
"Film apa yang kita tonton Din?"
"Apa aja, hari ini keputusan ada di tanganmu, aku ngikut aja." sahut Andin seraya menyesap minuman dingin di tangannya.
"Oke baiklah Nona, jangan protes padaku kalau tidak sesuai dengan seleramu," ujar Dimas menatap Andin yang menanggapi ucapan Dimas dengan senyum.
"Sudah aku bilang, ini harimu," ujar Andin seraya mengedipkan sebelah matanya.
Andin menatap tak berkedip layar lebar di depannya, sementara tangannya tak berhenti menyuap popcorn kemulutnya.
Film Action yang dia tonton menyita perhatian Andin, membuatnya melupakan Dimas di sampingnya yang sedari tadi tak lepas dari menatapnya.
Mereka sudah sering bersama, tapi kata kencan yang di sematkan Andin membuat suasana jadi berbeda dirasa Dimas.
Andin beralih menatap Dimas, dia yang baru sadar ini adalah kencan mereka, mengalihkan pehatiannya ke Dimas.
"Kamu salah pilih film, aku jadi fokus ke film gak ke kamu." bisik Andin pada Dimas yang tengah menatapnya intens.
"Ponselmu sedari tadi bergetar, apa tidak berniat untuk mengangkatnya." ujar Dimas yang menyadari ponsel Andin bergetar berulang kali.
"Cuekin aja, kalau di angkat kencan Kita bisa berantakan." ujar Andin dengan senyum di bibirnya.
"Pergilah keluar, angkat telponmu, jangan buat orang yang menanti kabarmu khawatir," ujar Dimas.
Andin tak menyahut, dia memang tak ingin bicara pada si penelpon, tidak untuk saat ini. Hatinya sakit mengingatnya, hari ini dia benar-benar ingin melupakan sosok itu.
Andin mengambil ponselnya yang masih berdering dari dalam tasnya. me-non aktifkan ponselnya mungkin keputusan yang tepat saat ini, lalu kembali dia masukkan ke dalam tas miliknya.
"Kok malah gak di aktifkan ponsel mu Din?"
"Biar gak ganggu."Sahut Andin cuek.
Dimas mengedikkan bahunya tak ambil pusing, Andin benar, ini kencan pertama mereka dan mungkin yang terakhir seperti yang di katakan Andin padanya.
"Siap-siap, film kedua bisa bikin baper." bisik Dimas pada Andin Saat film kedua sudah mulai di putar.
"Asal jangan kamu aja yang baper, aku gak tanggung jawab." balas Andin dengan berbisik. Dimas terkekeh pelan, Andin benar takutnya hanya dia yang terbawa suasana Andin biasa saja.
Film mulai di putar, benar saja, kali ini film bernuansa romantis terpampang di layar lebar, kisah cinta yang awalnya begitu manis tak di sangka malah berakhir tragis, dari senyum-senyum sendiri, hingga nangis-nangis di lakoni Andin akibat adegan di layar lebar.
"Nih, cuma film aja kenapa sampai nangis gini sih?" gumam Dimas pelan tapi masih terdengar oleh Andin, seraya memberikan selembar tisu guna menyeka air matanya.
"Sedih tau," ujarnya di sela tangisnya.
"Sedihan aku lagi Din, niatnya bawa kamu kencan romantis, eh kamunya malah nangis-nangis lihat adegan film, gak tau kapan dapet romantisnya." keluh Dimas.
Andin seketika mengalihkan tatapannya ke Dimas dengan pasang muka cemberut, di sertai pukulan di bahu Dimas.
"Apaan sih," dengus Andin kesal, ucapan Dimas terdengar meledeki dirinya.
Benar saja, mendapat pukulan itu membuat Dimas terkekeh pelan.
Sssstttt
Terdengar desisan penonton lain yang terusik oleh aktivitas mereka, seketika mereka terdiam dan saling tatap.
Andin terlihat tenang kembali tangisnya tadi sudah tak terdengar lagi, Dimas meraih jemari Andin membawanya ke pangkuannya. Andin melirik sekila, dia cuma diam tak berusaha menolak perlakuan Dimas.
"Din,"
"Hemm"
"Apa tidak bisa merubah hatimu agar kita memiliki rasa yang sama," bisiknya, manik hitamnya menatap lekat ke Andin.
"Aku ingin Dim, tapi tak mampu, hatiku sedang tak berpihak padaku."
"Maaf, aku tak mampu menjaga persahabatan Kita, aku mengotorinya dengan menyukai mu." desah Dimas merasa bersalah.
"Menyukaiku itu hak mu Dim, tapi sayangnya hati ku telah terkunci, aku hanya bisa menganggapmu sebagai sahabat." ujar Andin lirih, dia tau bagaimana perasaan Dimas saat ini, tapi itulah adanya.
"Tidak apa, terimakasih sudah memberiku kesempatan berharga ini, anggaplah aku tak pernah mengutarakan isi hatiku padamu, agar kita masih bisa terus bersahabat." bisik Dimas, dia tau hati Andin sudah berlabuh pada orang lain tak mungkin ada kesempatan baginya.
"Kau yakin kita masih bisa bersahabat dengan perasaanmu sekarang?"
"Tentu, tidak apa memilikimu sebagai sahabat, asal kau masih terus di sisiku."
"Ohh, so suite," ujar Andin dengan mimik manja.
"Hhhh, jangan menyiksaku dengan ekspresi seperti itu"
"Tidak apa bukankah ini kencan kita" ujar Andin dengan senyum menghiasi bibirnya.
Lampu bioskop kembali nyala film kedua sudah habis di putar, Dimas membawa Andin keluar ruangan.
"Makan di mana kita?" tanya Dimas saat sudah keluar dari bioskop.
"Terserah aku ngikut aja" sahut Andin.
"Andin sedang apa kau disini?" terdengar suara berat menyapa Andin. Dimas dan Andin menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
"Mas Bagas," gumam Andin lirih, menatap wajah kaku penuh emosi yang juga tengah menatap tajam ke arahnya.
Bersambung