NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan Terakhir

Udara pagi masih terasa menusuk. Kabut tipis belum sepenuhnya terangkat dari lereng bukit saat Keiko dan ibunya berjalan menuju pemakaman keluarga di balik kuil desa. Jalan setapak yang mereka lalui diapit oleh deretan pohon cedar tua yang rindang.

Keiko berjongkok di depan makam neneknya, mengganti bunga yang sudah layu dengan lili putih yang mereka bawa. Batu nisan itu tampak bersih, pertanda masih ada warga yang sesekali datang merawatnya. Lumut tipis tumbuh di bagian bawah, sementara vas bambu di samping makam masih terisi air jernih.

Keiko menepuk kedua tangannya pelan setelah selesai membersihkan dedaunan yang gugur. "Sudah lama sekali ya..."

Angin gunung berembus lembut, menggoyangkan ranting-ranting cedar di atas kepala mereka. Beberapa helai daun kering berputar perlahan sebelum jatuh di jalan setapak. Keiko menatap sekeliling pemakaman yang begitu tenang.

"Di sini tidak banyak berubah."

Ibunya berdiri di samping sambil merapikan dupa yang mulai padam. Setelah menundukkan kepala sejenak untuk berdoa, mereka pun beranjak meninggalkan area pemakaman.

Dalam perjalanan pulang, Keiko menyadari ada banyak kucing yang berkeliaran di desa. Ada yang tidur meringkuk di beranda rumah, ada yang duduk santai di depan toko, bahkan seekor kucing oranye tampak asyik bermain dengan anak-anak di dekat balai desa.

"Aneh," gumam Keiko sambil memperhatikan seekor kucing belang yang sedang makan di depan warung.

"Apa yang aneh?" tanya ibunya.

"Kucing di sini banyak sekali. Tapi aku belum melihat tikus satu pun."

Seekor anak kucing putih tiba-tiba menghampiri kaki Keiko. Dengan santai ia menggesekkan tubuh kecilnya ke betis Keiko sebelum kembali berlari mengejar kupu-kupu.

Keiko tertawa kecil. "Lucu juga."

Tak jauh dari sana, seorang nenek tua sedang menuangkan air ke dalam beberapa mangkuk kecil yang berjajar di depan rumahnya. Dua ekor kucing langsung menghampiri seolah sudah hafal jadwal makan mereka.

"Mereka benar-benar dimanja di sini."

Ibunya mengulas senyum samar. "Warga di sini sangat menyayangi kucing. Mereka dibiarkan hidup bebas, jadi tikus pun jarang terlihat."

"Nikmati saja. karena Belum tentu setelah festival besok masih sebanyak ini."

"emm...gitu" sahut Keiko mengangguk.

Menjelang siang, ibunya mulai membereskan barang-barang. Ia hanya bisa mengantar Keiko sampai desa sebelum kembali ke Tokyo untuk urusan pekerjaan. Keiko membantu memasukkan koper ke bagasi mobil yang akan mengantar ibunya ke stasiun.

"Sebenarnya Ibu masih khawatir meninggalkanmu sendirian," ujar ibunya sambil menatap rumah tua peninggalan nenek.

"Aku sudah dewasa, Bu. Lagi pula cuma beberapa hari."

Ibunya mengangguk pelan, namun raut wajahnya belum terlihat tenang. Ibunya membuka pintu mobil, tetapi belum juga masuk, Pandangannya kembali beralih kepada Keiko yang berdiri di halaman rumah. Seolah masih ada sesuatu yang ingin diucapkan

"Ada apa Bu?"

Ibunya tersenyum tipis lalu menggeleng. "Tidak apa-apa, Jangan lupa menelepon setiap malam."

"Dan..." Ia kembali melirik jimat merah di saku jaket putrinya. "Jangan sampai hilang."

Keiko mengangkat kedua tangannya menyerah. "Iya iya, Bu."

"Keiko..." ibu menahan sebentar ucapan nya "Ada dua hal yang harus kau ingat selama di Tsukimori."

Keiko menghela napas pendek. "Soal jimat lagi?"

Ibunya menarik jimat bersulam kepala kucing dari saku jaket Keiko, memastikan benda itu terpasang dengan baik. "Jangan pernah melepasnya."

"Iya, aku pakai kok."

"Bukan hanya dipakai. Jangan sampai hilang."

Keiko menanggapi dengan senyum yang tak mencapai matanya. "Ibu terlalu khawatir."

Ibunya menggenggam tangan Keiko erat. "Dan satu lagi... jaga ucapanmu."

"Maksud Ibu?"

"Kalau tidak perlu, jangan asal bicara. Terutama saat Festival Dewa Kucing nanti malam."

Keiko terkekeh. "Ibu masih percaya legenda itu?"

"Aku tidak memintamu percaya."

"Lalu?"

"Aku hanya ingin kau berhati-hati."

Keiko menatap wajah ibunya cukup lama. Jarang sekali ia melihat ibunya seserius ini hanya karena sebuah festival. "Aku mengerti, Bu."

"Janji?"

"Janji."

Ibunya akhirnya menyunggingkan senyum lega. Mobil pun perlahan menjauh, Debu tipis beterbangan saat mobil perlahan meninggalkan halaman rumah. Keiko masih berdiri sambil melambaikan tangan, meski kendaraan itu sudah menghilang di balik tikungan.

Baru ketika suasana benar-benar kembali sunyi, ia menurunkan tangannya. Tak terdengar lagi suara mesin.

Hanya desir angin dan kicau burung dari arah hutan.

"Hmm..."

Ia mengembuskan napas panjang. "Sendirian lagi." gumamnya sambil melirik jam di tangan. "Masih banyak waktu sebelum festival, berjalan-jalan sebentar tidak masalah, kan?"

Sepanjang jalan utama, warga tampak sibuk mempersiapkan festival. Lampion merah sudah terpasang di depan rumah-rumah, sementara beberapa pemuda menggantung hiasan kepala kucing di sepanjang jalan.

Aroma kecap asin yang dipanggang bersama dango terbawa angin hingga ke tengah jalan. Seorang pedagang sedang membolak-balik ikan ayu di atas bara arang, sementara anak-anak berlarian membawa balon berbentuk kepala kucing.

Dari kejauhan terdengar suara tabuhan taiko yang sedang dicoba oleh para pemuda desa.

Festival bahkan belum dimulai, tetapi suasananya sudah terasa meriah.

Keiko kembali melangkah di tengah keramaian. Hampir setiap beberapa langkah, ia berpapasan dengan orang-orang yang mengenakan topeng kucing. Ada yang berwarna putih dengan garis merah, ada pula yang hitam legam dengan mata keemasan.

Awalnya ia mengira itu hanya bagian dari kostum festival. Namun, entah mengapa, beberapa orang bertopeng itu tidak terlihat menikmati suasana. Mereka hanya berdiri diam di pinggir jalan, menghadap ke arah keramaian seolah sedang mengamati sesuatu.

Keiko menoleh pada seorang pria bertopeng putih yang berdiri di bawah lampion. Sikapnya begitu tenang hingga sulit menebak usianya. Saat Keiko menoleh kembali beberapa detik kemudian, pria itu sudah hilang.

Keiko mengerutkan dahi. Jalan itu tidak terlalu ramai. Rasanya mustahil seseorang menghilang begitu saja hanya dalam hitungan detik. Ia sempat melirik ke gang kecil di samping toko, tetapi tak menemukan siapa pun.

"Cepat sekali..." Ia mengangkat bahu. "Mungkin masuk ke toko." gumamnya, mencoba mencari logika yang paling masuk akal.

Ia terus berjalan santai. Di depan sebuah toko manisan, beberapa perempuan tampak cantik mengenakan yukata bermotif bunga, dan aroma dango panggang memenuhi udara. Tak jauh dari sana, panggung kayu sedang dipersiapkan.

Keiko menghampiri warga yang tengah menata kursi. "Permisi, Pak. Nanti malam ada pertunjukan apa?"

Pria paruh baya itu berhenti sejenak. "Oh, nanti malam ada pertunjukan boneka, Nona."

"Wah, pasti seru. Cerita tentang apa?"

"Kisah legenda Bakeneko," ucap pria itu sambil merapikan barisan kursi.

Keiko membalas dengan senyum yang tertahan. "Lagi?"

Pria itu ikut tersenyum. "Memang itu yang selalu kami ceritakan setiap festival. Jangan sampai kau melewatkannya, ya."

"Tentu, Pak. Saya pasti datang!"

Keiko mengangguk sopan lalu pamit untuk melanjutkan jalan. "Sepertinya seluruh desa benar-benar terobsesi dengan legenda itu," gumamnya pelan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!