"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.
Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.
"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."
Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.
"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.
"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.
"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."
"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.
Plak Plak Plak
"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.
Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Eva semakin membaik
Jose menyeka tangan dan wajah Eva dengan kain basah. Dirinya benar-benar tersiksa melihat wanita yang biasanya melayaninya kini terbaring tak berdaya. Setiap siksaan yang ia berikan kepada Eva masih teringat jelas.
Sisa luka lebam dan memar masih ada walau hampir menghilang dari tubuh istrinya. Tanpa sadar bulir bening kembali menetes, namun kali ini air mata itu mengenai punggung tangan Eva. Jari telunjuk Eva bergerak pelan.
Jose membeku. Ia menatap tangan Eva tanpa berkedip. Jari telunjuk Eva kembali bergerak. Kali ini lebih jelas daripada sebelumnya.
"Eva!"
Jose segera menggenggam tangan istrinya dengan hati-hati
"Eva, apa kau bisa mendengar ku?"
Hening. Tidak ada jawaban. Namun beberapa detik kemudian, jari Eva kembali bergerak, seolah berusaha membalas genggaman tangan Jose. Mata Jose langsung membulat.
"Dokter! Dokter! Cepat kemari!" teriaknya penuh harap.
Tak lama kemudian, dokter dan dua orang perawat bergegas memasuki ruangan.
"Ada apa, Tuan?"
"Jarinya bergerak! Eva menggerakkan jarinya!"
Dokter segera memeriksa kondisi Eva. Ia memperhatikan monitor jantung yang kini berdetak lebih stabil, lalu memeriksa refleks mata dan respons pada tangan Eva.
"Nyonya Eva, kalau Anda bisa mendengar saya, coba gerakkan jari Anda sekali lagi."
Ruangan mendadak hening. Semua orang menahan napas. Beberapa detik berlalu. Hingga akhirnya jari telunjuk Eva bergerak sangat pelan. Perawat menutup mulutnya karena terkejut.
"Dok... dia merespons."
Dokter mengangguk pelan dengan senyum tipis.
"Ini perkembangan yang sangat baik."
Jose langsung menatap dokter penuh harap.
"Apakah... Eva akan sadar?"
Dokter tersenyum tipis, "Saya belum bisa memastikannya. Namun, kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran pasien mulai meningkat."
Air mata Jose kembali jatuh. Ia mengecup perlahan punggung tangan Eva.
"Terima kasih... Terima kasih karena kau masih berjuang."
Jose mendekat ke telinga Eva. Dengan suara lirih ia berbisik.
"Eva... aku tau permintaan maafku tidak akan mengembalikan anak kita. Aku juga tahu... aku tidak pantas untuk di maafkan. Tapi aku mohon... bukalah matamu. Kalau setelah itu kau ingin meninggalkanku... aku akan menerimanya. Asalkan kau hidup."
Setetes bulir bening kembali mengalir dari sudut mata Eva yang masih terpejam. Melihat itu, Jose tak lagi mampu membendung tangisnya. Ia menundukkan kepala di samping ranjang, menggenggam erat tangan istrinya sambil terus menangis dalam diam.
Sementara itu di balik pintu yang sedikit terbuka, Luna menyaksikan semuanya dengan wajah pucat. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Kenapa... Kenapa kau belum mati juga, Eva? Bahkan saat begini pun kau masih saja membuat Jose berpaling dariku!"
Tatapannya kini berubah dingin. Ia sadar, jika Eva terus menunjukkan perkembangan seperti ini, cepat atau lambat wanita itu akan membuka mata. Dan saat itu tiba, semua akan berubah. Jose tidak akan pernah lagi mempedulikannya bahkan kemungkinan terbesarnya semua kebohongan yang selama ini ia bangun di hadapan Jose, bisa runtuh dalam sekejap.
***
Malam tiba... Jose beranjak dari sofa. Setelah Beberapa saat ia hanya duduk dan menatap Eva yang masih belum membuka matanya. Langkahnya kembali menuju ranjang di mana Eva terbaring. Perlahan Jose meraih tangan itu, tangan yang sebelumnya bergerak karena mendengar suaranya.
Jose mengecup punggung tangan Eva. Pelan tapi penuh dengan makna.
"Aku keluar sebentar. Tetaplah di sini... aku akan kembali."
Jose merapikan selimut Eva lalu mengecup keningnya dengan lembut. Ia melangkah keluar ruangan itu lalu menutup pintu dengan hati-hati. Namun, tanpa ia sadari Luna memperhatikan gerak geriknya dari kejauhan.
"Bagus! Pergilah Jose... ini kesempatan ku untuk menghabisi wanita jalang itu," gerutunya.
Luna memperhatikan Jose yang semakin menjauh dari ruangan. Dengan langkah pelan dan hati-hati Luna berjalan menuju ruangan Eva. Namun, langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Nona Luna!"
Langkah Luna terhenti sejenak. Ia menoleh tepat di belakangnya.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Erick pelan.
Luna mencoba tenang walau sebenarnya ia merasa gugup dan terkejut.
"Aku... ingin menjenguk Kak Eva. Sudah lama sekali aku tidak mengunjunginya."
Erick menatap Luna penuh curiga. Namun sebisa mungkin Erick mencoba menutupi kecurigaan tersebut.
"Kalau begitu, tunggu sebentar. Anda boleh masuk jika Tuan Jose mengizinkan."
Luna tersenyum kecil dan getir, "Ah... baiklah. Aku akan menunggu."
Luna segera duduk di kursi lorong, sementara Erick masih menatap Luna dengan tatapan penuh curiga.
"Sial! Erick benar-benar mengawasi ku. Kalau begini, aku tidak akan bisa masuk." batin Luna.
Erick berdiri beberapa meter dari kamar Eva. Tangannya terlipat di depan dada, tetapi matanya tak pernah lepas dari gerak-gerik Luna. Beberapa menit kemudian Jose muncul dari ujung lorong. Ia berjalan pelan, namun langkahnya tetap dingin dan penuh perhitungan.
Jose mengerutkan dahinya sekilas begitu melihat Luna tengah duduk di kursi tunggu. Lalu pandangannya beralih menatap Erick yang menunduk hormat begitu melihat kehadirannya.
"Luna? Kau di sini?" ucap Jose pelan.
Luna langsung bangkit dengan senyum kecil penuh sandiwara dan kepura-puraan.
"Iya. Aku ingin menjenguk Kak Eva. Sudah lama aku tak melihatmu... maksudku melihat Kak Eva."
Jose mengangguk pelan, lalu meminta Erick untuk meletakkan sebuah kantong plastik putih ke dalam kamar.
"Sebaiknya kau pulang. Ini sudah malam... aku tak ingin kau lelah karena pulang terlalu larut."
"Tapi... aku benar-benar ingin..."
"Sudahlah Luna. Kau harus dengar kata-kataku. Kau masih belum sembuh. Kau masih harus beristirahat."
Luna tak bisa membantah lagi, dengan penuh rasa kecewa Luna akhirnya memilih menuruti kata-kata Jose.
"Baiklah Jose... jika itu yang kau inginkan."
"Kau memang yang terbaik Luna," ucap Jose sambil menepuk bahu Luna pelan.
Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Luna merasa Jose masih memiliki perhatian untuknya. Harapan yang tadi hampir padam kembali menyala.
"Benar... Jose masih peduli padaku. Dia hanya sedang kasihan pada Eva," batinnya berusaha meyakinkan diri.
Luna pun tersenyum manis, "Kalau begitu aku pulang dulu. Jangan lupa jaga kesehatanmu juga, Jose."
"Aku baik-baik saja."
Luna mengangguk pelan sebelum berbalik meninggalkan lorong rumah sakit. Namun, tepat ketika pintu lift tertutup, senyum di wajahnya lenyap seketika. Sorot matanya berubah tajam.
"Aku memang pulang malam ini, Eva. Tapi jangan senang dulu. Besok... aku akan kembali."
Sementara itu, Jose masuk ke dalam kamar Eva. Ruangan kembali dipenuhi kesunyian. Hanya ada Erick di sana, berdiri menunggu kehadirannya.
"Ada apa kau kemari?"
Erick menunduk pelan sebagai sebuah tanda hormat sebelum akhirnya berbicara.
"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan."
"Katakan!"
Erick mengatakan sesuatu yang membuat Jose terdiam. Matanya melebar, tajam dan rahangnya mengeras.
"Kau yakin?"
"Anda bisa melihatnya sendiri, Tuan. Kebetulan sekali cctv yang berada di sana tidak ikut mati seperti di ruangan lain, Tuan."
Jose melihat flashdisk ditangannya.
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣
pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.
mudah banget dikibulin
nggak kayak bosmu